
Di dalam hutan, tepatnya pada posisi Mil.
"Hei! Kenapa jalanmu lambat sekali?" sindir Viro sambil mendorong keras punggung Mil.
Mil yang masih terikat itu mengerutkan dahi kesal. "Salah siapa aku jadi begini, hah?! Kalau saja kekuatanku kembali, sudah dari tadi kita sampai! Cih!"
"Kalau itu terjadi, tentu kau sudah kabur, Mil! Ayo jalan lebih cepat! Berani sekali kau membuat master menunggu!" Viro kembali mendorong keras punggung si Tuan Pedang.
Decakan kembali terdengar dari mulut Mil. Laki-laki itu meringis pelan, merasakan perih di tangannya yang bergesekan dengan rantai.
Ao yang jalan di depan sontak tertawa. "Apa kalian tak lelah berdebat seperti itu terus? Sepertinya kalian cocok," sindirnya.
"Cocok? Dengan Vario ini?" Mil melirik Viro, memasang tampang jijik.
Viro menghela napas kesal. "Siapa juga yang mau dipasangkan oleh orang sepertimu? Mengingat nama saja tak pernah," balasnya sinis.
Mil memelototkan matanya. "Kata siapa aku tak bisa mengingat nama?! Namamu memang Vario, 'kan?"
Ao kembali tertawa, kali ini lebih kencang. "Aku penasaran, dari mana kau mendapat inspirasi nama 'Vario' itu? Namanya Viro, bukan Vario."
Mil mengalihkan pandangannya. "Nama orang sepertinya bukan urusanku. Buat apa aku mengingat nama musuh yang licik seperti ini?" balasnya.
Viro mendengus kesal. "Ao, hentikan membahas namaku. Lebih baik kau bantu aku untuk memaksanya jalan lebih cepat," sahutnya sambil menatap tajam.
Viro menyerahkan rantai yang dipegangnya kepada Ao, lalu menendang punggung Mil. "Kalau kau terlalu lama, saat ini juga aku akan--"
BUM!
"A-apa ini?" Ao menutup matanya dengan tangan begitu banyak debu dari tanah beterbangan ke arah mereka.
Begitu pula dengan Viro dan Mil. Mil bahkan sampai terbatuk-batuk karena telat melindungi diri.
"Master ...." Viro bergumam, merasa ada sesuatu yang terjadi di depan sana. "Master Haku!"
"Viro?! Hei! Mau ke mana kau?!" Ao menarik rantai yang tersambung pada tubuh Mil dengan cepat. "Kau! Cepat ikut!"
Mil terseok-seok mengikuti langkah Ao yang berlari. Laki-laki itu masih terbatuk, tapi penglihatannya sudah mulai normal.
Punggung Viro sudah tak terlihat. Ao berdecak, menoleh pada Mil di belakangnya. "Jangan berontak dengan apa yang akan aku lakukan sekarang!"
"A-Apa? Maksudmu apa ... HUWAAA! Hei! Apa yang kau lakukan?!" Mil berteriak panik begitu tubuhnya diangkat oleh Ao layaknya karung.
"Diamlah! Larimu itu lebih lambat dari kura-kura!"
"Ck!" Walau terpaksa mengakuinya, Mil membenarkan perkataan Ao. Dirinya yang saat ini terantai dan tak dialiri kekuatan bagaikan makhluk yang lemah.
BUM!
Suara memekakkan telinga itu terdengar kembali, kali ini lebih keras.
"Siapa sih yang mengeluarkan kekuatannya sebesar ini?!" Ao berteriak kesal.
Sementara Mil tersentak begitu merasakan angin kuat yang berembus. Bukankah ini kekuatan si Kembar? Sebenarnya apa yang terjadi di depan sana?
"Master!" Itu suara Viro yang menutup sedikit penglihatannya dengan lengan.
Mil memicingkan mata ke arah kumpulan debu tebal yang beterbangan itu. Siluet dua orang yang saling menebaskan pedangnya terlihat di baliknya.
"Fu! Tenangkan dirimu! Jangan mengamuk jika lawanmu adalah Haku!"
DEG!
Mil dengan cepat menoleh ke sumber suara. "Rain?"
"Sylph, Gemini sudah tak mendengarkan ssekitarnya lagi. Kita harus menghentikannya sebelum hal buruk terjadi," kata laki-laki di sebelah Rain.
Rain terlihat mengangguk, lantas pendar biru keluar dari tangannya.
"RAIN!"
"Ck! Hei!" Ao buru-buru membekap mulut Mil, lalu bersembunyi di balik pohon. "Kau gila?! Kau itu sandera, jadi jangan sampai temanmu mengetahui keberadaanmu!" bentak Ao setengah berbisik.
"Mmph! Mmph!" Mil meronta sekuat tenaga, berusaha melepas bekapan kuat dari Ao.
"Jangan berontak atau kubunuh kau!"
KRAK!
__ADS_1
"ARGH!"
Mil berlari sekencang mungkin begitu tubuhnya terlepas dari Ao. Ia tak memedulikan teriakan amarah dari laki-laki itu.
"Rain! Kenapa bisa ada pertarungan di sini?!"
"Eh? MIL?!" Rain ternganga, tapi dengan cepat membuat Mil menunduk.
Syuuut!
Sebuah anak panah melesat melewati atas kepala Mil. Beberapa meter di belakangnya, ada laki-laki dengan wajah memerah yang mengacungkan anak panah.
"Akh! Sialan! Ao, kau mau membunuhku, hah?!" berang Mil sambil berbalik.
Ao dengan tatapan tajamnya meludah ke kiri. "Cuih! Nyawamu tak berharga bagiku!" Ao memantapkan kuda-kudanya bersiap melepaskan anak panah.
Namun, begitu anak panah kedua melesat, sang Dewa Matahari menghanguskannya sebelum mencapai tempat mereka.
"Cih! Siapa kau?!" Giliran Apollo yang ditatap tajam.
Apollo menurunkan tangannya yang digunakan untuk menghanguskan anak panah tadi. "Apa kau bagian dari Bintang Hitam?"
"Benar! Si Kurang Ajar itu salah satu bawahan yang terdekat dengan pemimpin mereka! Aku melihatnya sendiri!" Mil yang menjawab.
"Apa itu benar, Mil?" tanya Rain memastikan.
Mil berdecak. "Seharusnya kau melepaskan rantaiku daripada bertanya hal yang sudah pasti, Rain!"
Ao menggeram melihat sikap Mil. Begitu laki-laki itu berkumpul kembali dengan kelompoknya, Ao yakin sekali kalau rencana sang master akan gagal.
"Minggir kalian! Urusanku hanya dengan Mil!" sinis Ao, lantas menatap Apollo, "Aku tak tahu siapa kau, tapi jika kau mengganggu, akan kubunuh dengan tanganku sendiri!"
Apollo menyeringai. Harga dirinya sedikit terusik mendengar anggota Bintang Hitam meremehkannya.
"Jangan! Fu lebih penting dari ini, Apollo," cegah Rain begitu Apollo hendak mengumpulkan kekuatannya lagi.
"Biar aku yang urus orang satu itu! Rain, kenapa lama sekali membuka rantaiku?!" sahut Mil sambil berusaha melepas rantainya.
Apollo menatap Mil lama sebelum tersenyum. "Baiklah. Aku akan ke tempat Gemini," putusnya sambil berbalik, lalu melesat menuju posisi Fu.
"Rantai apa ini? Aku kesulitan membukanya, Mil!"
"Heh!" Ao menyeringai. "Kau pikir semudah itu melepas rantai yang dialiri kekuatan jiwa?"
"Jiwa?"
Mil mengangguk malas. "Vario sama sepertiku. Dia adalah jiwa yang bisa mewujudkan dirinya."
Ao tertawa kencang. "Sama? Kau terlalu percaya diri, Mil! Viro itu posisinya lebih tinggi darimu yang baru keluar dari dunia sana! Sekali pun Sylph itu bersayap biru, tak mudah untuk mematahkan kekuatan--"
KLANG!
"...."
"Aku sudah mematahkan rantainya, Mil. Apa kekuatanmu sudah kembali?" Rain melemparkan senyuman.
Mil yang terbengong-bengong segera mengibaskan tangannya. "Ukh, rasanya lebih baik. Kau hebat bisa mematahkan rantai yang katanya sulit dipatahkan ini, Rain," sindirnya sambil melirik Ao.
Sementara Ao, laki-laki itu menatap Rain tak percaya. Seringai lebar pun terlihat di mulutnya. "Menarik! Sylph benar-benar makhluk yang paling menarik! Hahaha!"
Mil memandang jijik. "Ugh, dia sudah tak waras."
Ao yang tetap dengan seringainya membuang busur panah ke segala arah, lalu mencabut pedangnya. "Ayo kita mulai saja, Mil."
Mil tersenyum sinis. "Kau bawa pedangku, 'kan, Rain?"
Rain menjentikkan jarinya sebelum sinar biru mendadak muncul di sebelah Mil. Mil menggapai sinar itu, lantas menghentakkan tangannya pelan.
Sebilah pedang kini digenggam oleh tangan kanan Mil.
"Cepat selesaikan ini, Mil. Aku percaya pada kekuatanmu. Setelah ini, kita harus ke tempat Sera," kata Rain serius.
Mil menatap tajam lawan di depannya. "Pasti ada kejadian buruk menimpa kelompok kita. Bukan begitu?"
Rain mengangguk. "Chia dikalahkan. Terakhir kali aku melihatnya, Sera berkata bahwa lukanya sangat parah," lirihnya.
"Wah, wah ...." Mil memasang kuda-kudanya, begitu pun dengan Ao. "Aku harus melihatnya sendiri. Kita selesaikan ini dengan cepat, Ao."
__ADS_1
"Sombong sekali kau."
CRANG!
Benturan bilah pedang keduanya sampai terdengar. Mil gesit menebas dengan tajam sambil menghindari serangan Ao.
"Heh, lumayan juga kau!"
Ao tersenyum meremehkan. "Tidak, ini tak seberapa dibandingkan latihanku!"
Mil menyeringai, memindahkan pedangnya ke tangan kiri, lantas membuat pedang dari angin yang dipadatkan di tangan kanan.
"A-Apa?! Kau dua aliran?" Dua aliran adalah sebutan untuk pengguna dua pedang.
"Aku hanya mencobanya, Ao. Ini ide salah satu lawan tandingku."
DUAK!
Ao terpental begitu Mil menyerangnya dengan dua pedang sekaligus. Bagian depan tubuhnya tergores cukup dalam sampai-sampai darah segar langsung membasahi pakaiannya.
"Kau tak pernah mengatakan kalau memakai dua aliran!"
"Oh ya? Kau juga tak mengatakan kalau kau mahir menggunakan panah."
Mil menghentak pedangnya kuat, menyebabkan darah Ao yang tertinggal seketika mengenai tanah. Laki-laki itu berjalan santai walau ada beberapa goresan di tubuhnya.
"Bangun." Mil mengangkat dagu Ao dengan ujung pedangnya. "Aku belum puas melukaimu, sialan."
"Kalau begitu, aku akan mulai serius," kata Ao yang mengusap darahnya yang keluar, lantas melumuri pedangnya dengan itu. "Pedang yang agung, aku persembahkan darahku untukmu," gumamnya.
Mil mengerutkan dahi. "Apa yang kau laku--"
Sing!
Seketika pedang milik Ao menggores bagian samping tubuh Mil.
"Akh!" Mil memuntahkan darahnya, lantas terduduk sambil menekan lukanya. "A-Apa yang kau lakukan, sialan?! Hanya goresan ... hanya goresan, tapi bisa membuatku begini?!"
Ao menatap dingin. "Ada racunnya. Seluruh seranganku ada racunnya karena itu adalah kekuatanku. Semakin banyak aku mengeluarkan darah, maka racunnya akan semakin kuat," jawabnya.
"Si-Sialan! Argh!"
"Bangun. Kau berkata kalau kau belum puas melukaiku, 'kan?"
Tatapan tajam Ao itu membuat rahang Mil mengeras. Sial! Kenapa aku ceroboh sekali melawannya? Ukh, racun ini membuatku tak bisa bergerak! Apa yang bisa menghilangkannya?
Mil memukul tanah sekuat tenaga, lantas mendongakkan kepalanya menatap Ao. "Kau ... menyebalkan!"
"Mil? Kau ... bebas?"
DEG!
"Hm? Siapa itu? Sepertinya aku pernah melihatnya." Ao memicingkan mata.
Napas Mil seketika memburu. "Ja-Jangan mendekat! Pergi! Segera pergi dari sini!"
"Hei! Kejam sekali menyuruhku pergi, padahal kau sudah bebas begini!"
"Ukh ... KUBILANG PERGI!"
"Ah! Aku ingat!" Ao berseru, lantas menyeringai pada Mil. "Sepertinya bagus melihatnya terbunuh saat ini juga. Iya, 'kan, Mil?"
"Tidak! Pergi dari sini! Cepat!" Mil berteriak frustrasi. Tubuhnya tak bisa digerakkan, menyebabkan rasa takut menghinggapinya.
Ao berjongkok, lalu berbisik di telinga Mil, "Mil, akan kuberi hadiah manis untukmu. Jadi, diam dan saksikan saja. Oke?"
"Sialan! Jangan sentuh dia! AO!"
Wuuush!
Ao melesat sambil melumuri pedangnya dengan darahnya lagi.
"JANGAN! JANGAN BUNUH DIA!"
"Hahaha! Ucapkan selamat tinggal padanya, Mil!"
JLEB!
__ADS_1
"TIDAAAK! SERAPHINE!"
To be continue ...