
"Namamu Seraphine, benar?"
Seraphine mengangguk sambil tetap memperhatikan pekerjaan Artemis yang mengobati Chia.
Artemis menoleh sekilas. "Boleh aku tahu sejak kapan kau bertemu dengan mereka?" tanyanya.
"Mereka?" Seraphine mengerutkan dahi. "Apa maksud Anda adalah Fu dan Chia?"
Artemis terkekeh pelan. "Ah, jangan terlalu formal denganku. Panggil sesukamu saja, Ser," katanya, lalu menoleh pada pertarungan Fu dengan pemimpin Bintang Hitam di kejauhan.
Seraphine mengusap tengkuknya. "Kalau begitu, apa tak masalah jika kupanggil Artemis saja?"
"Iya, tak masalah. Jadi, sejak kapan kau bertemu mereka? Bukan hanya Gemini, tapi juga anggota kelompokmu yang lain," sahut Artemis yang kembali fokus pada Chia.
Seraphine tersenyum mendengarnya. "Untuk Rain, sahabatku dari kaum Sylph itu, aku bertemu dengannya tiga tahun lalu. Fu dan Chia, juga Mil, mereka baru-baru ini ada di kelompokku, Artemis," jelasnya.
"Lalu, kenapa bisa kalian berurusan dengan Bintang Hitam?"
"Ah, itu ... itu karena salahku ...." Seraphine menunduk. "Jika saja waktu itu aku tak bertengkar dengan Rain, pasti Mil tak akan menjadi sandera. Kelompokku pun--"
ZRASSH!
"Oh, tidak!" Tangan Artemis semakin mengeluarkan cahayanya. "Lukanya melebar! Sepertinya efek kekuatan pemimpin Bintang Hitam itu lebih kuat dari dugaanku."
Seraphine memandang takut. "La-lalu bagaimana--"
Artemis mengulas senyumnya. "Aku hanya memerlukan air dan beberapa tanaman obat. Maaf, Ser. Ceritamu menyenangkan, tapi terpaksa harus kita tunda dulu. Bisakah mengambilkan semua yang aku butuhkan?"
Seraphine mengangguk cepat. Artemis pun menjentikkan jarinya, lalu sebuah perkamen muncul yang langsung disambar Seraphine.
Seraphine lantas berlari sekencang mungkin menuju hutan sambil sesekali melihat daftar tanaman obat yang harus dia temukan.
Aku harus cepat! Chia, tunggulah sebentar lagi!
"Bangun. Kau berkata kalau kau belum puas melukaiku, 'kan?"
DEG!
Langkah Seraphine refleks terhenti. Di sana, di sebelah kanannya, teman yang mau diselamatkannya sedang terduduk dengan bilah pedang menempel di lehernya.
Mil!
Tergesa-gesa, Seraphine melangkah mendekati Mil. Rasa sesak, juga bahagia karena dia tak menjadi sandera lagi membuat matanya panas.
"Kau ... menyebalkan!"
"Mil? Kau ... bebas?" Seraphine melemparkan senyuman.
Dapat dia lihat bagaimana raut terkejut Mil. Namun, Seraphine tak mengerti, kenapa raut ketakutan juga terlukis di wajah laki-laki itu?
"Hm? Siapa itu? Sepertinya aku pernah melihatnya." Si pemilik pedang yang bilahnya tertempel di leher Mil menatap Seraphine lekat.
"Ja-Jangan mendekat! Pergi! Segera pergi dari sini!"
Seraphine tertawa pelan. "Hei! Kejam sekali menyuruhku pergi, padahal kau sudah bebas begini!"
Langkahnya semakin dekat, tapi wajah Mil terlihat frustrasi. Kenapa wajahmu seperti itu, Mil?
"Ukh ... KUBILANG PERGI!"
Seraphine tersentak begitu melihat seringai di wajah si Pemilik Pedang. Ini ... sepertinya ini bahaya. Aku harus cepat pergi!
"Mil, akan kuberi hadiah manis untukmu. Jadi, diam dan saksikan saja. Oke?"
Seraphine gemetar. Tidak! Kakiku ... kakiku tak mau digerakkan!
"Sialan! Jangan sentuh dia! AO!"
Jangan mendekat! Tidak ... jangan bunuh aku! Seraphine menatap si Pemilik Pedang yang kini melesat ke arahnya dengan pedang berlumuran darah.
"JANGAN! JANGAN BUNUH DIA!"
__ADS_1
Tidak!
Seraphine memejamkan matanya kuat. Napasnya memburu. Keringat dingin sudah membanjiri wajahnya sejak tadi.
"Berlindung di belakangku, Ser."
Eh? Siapa--
JLEB!
"TIDAAAK! SERAPHINE!"
Bukan aku! Ada seseorang di depanku! Siapa?
"Ser, kau baik-baik saja? Bukalah matamu." Suara lembut itu membuat Seraphine membuka matanya.
"ARTEMIS!"
"Hah?! Siapa kau tiba-tiba datang?!" Ao melompat mundur begitu sadar kalau targetnya tak terluka.
Artemis memeluk tubuh gemetar Seraphine. "Tak apa. Aku ada di sini. Untuk sementara, Gemini sudah terselamatkan, tapi kita harus tetap mencari tanaman obat."
"Ta-tapi ...."
"Beraninya kau mengabaikanku, wanita sialan!"
"Hah?!" Dahi Artemis berkedut kesal, lantas menoleh pada si Pemilik Pedang. "Aku belum memaafkanmu karena menargetkan Seraphine, tapi sekarang kau mengataiku?!"
"Ar-Artemis ... lukamu ...." Seraphine gemetar melihat luka tusuk di perut Artemis.
Artemis melepas pelukan, lalu tersenyum. "Luka begini tidak ada apa-apanya bagiku yang seorang Dewi, Ser," katanya santai.
"Tidak." Mil bersuara. Kini wajahnya terlihat lega. "Walaupun kau seorang Dewi, apa kau punya kekebalan terhadap racun? Dan racunnya ... bukan main-main!"
"Apa?" Artemis menyentuh lukanya, lalu melihat darahnya sendiri.
"Hahaha!" Ao tertawa kencang, lantas kembali melumuri pedangnya dengan darah. "Tadi aku salah menargetkan korban, tapi kali ini tidak akan lagi! Hei, Nona! Penyelamatmu akan tumbang seperti Mil di sana, jadi persiapkan dirimu!"
Ao kembali melesat, kali ini lebih cepat.
CRANG!
"Artemis!" Seraphine terperangah melihat Artemis menahan pedang Ao dengan busur panah yang entah datang dari mana.
"Ukh, temanmu sepertinya benar. Racun ini sangat kuat, tapi aku tak akan membiarkannya melukaimu, Ser! Aku yang seorang dewi saja menjadi susah begini, bagaimana denganmu?"
"Huh! Dewi keras kepala," umpat Ao, lantas semakin mendorong pedangnya.
"Kau hanya beruntung karena telah melukaiku, tapi kekuatanku tak selemah itu!"
DUAK!
Tubuh Ao terpental begitu Artemis mengaliri busurnya dengan kekuatannya. Namun, bersamaan dengan itu, Artemis tak dapat menopang tubuhnya lagi.
"Ukh ... racunnya lebih cepat bekerja dari dugaanku," kesal Artemis sambil menekan lukanya.
Seraphine menggigit bibir bawahnya kuat. Melihat begitu banyak orang yang melindunginya membuatnya sedih. Kenapa harus dirinya yang dilindungi? Apa karena lemah?
Seraphine berlutut di sebelah Artemis, mengulas senyumnya. "Maafkan aku yang ... lemah ini ...," lirih Seraphine, "Tapi Artemis, mulai sekarang, serahkan musuh padaku. Aku akan melawannya dengan seluruh kemampuanku."
"Kau tak akan bisa melawanku, Nona!" teriak Ao yang sudah bangkit, lantas tertatih menuju tempat Mil.
"Sialan! Apa yang akan kau lakukan, hah?!" Mil mengepalkan tangannya kuat.
"Jangan-jangan ...." Seraphine membelalakkan matanya.
Ao tertawa kencang, lalu menarik paksa tubuh Mil hingga berdiri. "Master hanya ingin kau lenyap, Nona. Keberadaanmu dan Sylph itu membuat rencana master jadi berantakan. Nah, jika kau tak mau teman tersayangmu ini mati, bunuh dirimu sendiri!"
"Apa? Jangan dengarkan dia, Ser!"
"Diam kau, Dewi sialan! Aku bisa meningkatkan efek racunku sesukaku!"
__ADS_1
"Ukh!" Artemis membungkuk. Seketika dia tak bisa merasakan tubuhnya. Lumpuh?
Seraphine menggeleng kuat. "Tidak! Jangan sakiti mereka lebih dari ini! Kumohon!"
"Ck! Jangan ikuti perintahnya, Gadis Angin! Dia hanya menggertak karena kekuatannya melemah! Jika kau melawannya sekarang, aku yakin--"
"Tutup mulutmu!" Ao memukul perut Mil dengan gagang pedangnya.
"UHUK!" Seketika Mil memuntahkan darah dari mulutnya.
Seraphine gemetar melihat situasi ini. Chia yang selalu melindunginya bersama Fu kini terluka parah. Artemis, satu-satunya yang bisa menyembuhkan Chia kini terkena racun. Bahkan Mil yang ingin dia selamatkan harus terluka seperti itu.
Seraphine merasa dirinya hanya beban.
"Cepat gunakan senjatamu untuk membunuh dirimu sendiri! Pedang, panah, apa pun itu! Kalau tidak, aku akan ...."
"ARGH!" Itu teriakan kesakitan Artemis dan Mil.
"Hentikan! Aku akan menurutimu! Jangan sakiti mereka!" Seraphine gemetar menarik pedangnya, lalu memosisikan ujungnya tepat ke arah jantungnya.
"Si ... sialan ... jangan lakukan ... itu ...!" Lelehan air mata keluar dari tempatnya begitu melihat Seraphine akan bunuh diri. Mil menjerit frustrasi dalam hati. Ia benci tak dapat melakukan apa-apa seperti ini.
"Hahaha! Bagus! Lakukan sekarang!"
"Maafkan aku, Mil! Maafkan aku, Rain! Maafkan aku, semua!"
"Se ... Seraphine ...!"
"Benar! Ucapkan selamat tinggal pada teman dan duniamu! HAHAHA!"
Mil memalingkan wajah, sementara Artemis memukul-mukul tanah pelan. Keduanya tak ingin melihat nyawa Seraphine melayang di sini. Namun, mereka bisa apa?
Andaikan .... Seandainya tak ada racun ini ...!
"Selamat tinggal ... semua ...."
JLEB!
"HAHAHA! AKU MENANG! AKU AKAN DIPUJI OLEH MASTER! AKU--!"
"Menang? Kata siapa?"
"AKH! Uhuk! Da-dari mana kalian datang?"
"Itu tak penting, 'kan?"
"Haha! Tak kusangka akan menemukan pandangan ini. Musuh yang terlalu percaya diri, berani-beraninya kau membuat nona hendak membunuh dirinya sendiri!"
"Ka-kalian ...."
"Hah ... untung kita datang tepat waktu. Iya, 'kan, Fu?"
"Tepat sekali! Aku jadi puas sudah membunuh musuh sialan seperti dia."
Seraphine terduduk seketika. Pedangnya sudah terlepas begitu Rain tiba-tiba muncul menahan tangannya.
Gadis itu menatap haru pada Fu yang pedangnya masih menancap di jantung Ao. Air matanya seketika keluar, rasa sesaknya mengalir bersamanya.
"Sera, maaf membuatmu menunggu. Kau tidak apa-apa?" Rain tersenyum manis.
"Aaaa!" Seraphine menangis kencang.
Fu menghela napas melihat tangisan Seraphine. Ia mengeluarkan pedangnya dari tubuh Ao yang kini tak bernyawa, lantas menopang Mil yang hampir terjatuh.
"Heh! Tuan Pedang, kau cengeng juga rupanya."
Mil tertawa pelan. "Berisik. Kau terlambat, Bocah."
"Fufufu, aku tahu. Selamat datang kembali."
"Ya ... aku pulang."
__ADS_1
To be continue ...