
Ukh ... di mana ini?
Seraphine mengerjapkan matanya pelan. Mulutnya mendadak mengerang, merasakan perih di sekujur tubuhnya.
"Aku di mana?" Seraphine menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi hanya kegelapan yang ditemuinya. Bahkan tangannya sendiri pun tak dapat dilihatnya.
"Aduh ... kenapa tubuhku sakit semua?" ringis gadis itu sambil bangkit dari posisi tidur. Tangannya memijat pelan bagian tubuhnya yang terasa sakit.
Lama memijat, akhirnya Seraphine mulai meraba-raba sambil melangkahkan kakinya tak tentu arah. Sayangnya, hal itu tak berguna. Dia tetap tak menemukan apa pun, seperti berada di tempat yang hampa.
"Fu? Apa kau mendengarku?" Seraphine mulai berseru. "Kak Dahlia! Fu! Kalian di mana?"
Hasilnya nihil. Mau sekeras apa pun dia berteriak, suaranya hanya menggema. Apakah hanya aku yang ada di sini? Ke mana semua orang? Kenapa di sini gelap? Sebenarnya di mana ini?
"Rain! Fu! Siapa pun! Ayolah, jika kalian mendengarku, jawablah!" Tubuh Seraphine mulai gemetar. Tempat kosong yang gelap dengan suara menggema adalah hal terakhir yang diinginkannya.
CTAS! PLAK!
"Hm?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Seraphine memicingkan mata, berusaha menangkap cahaya sekecil apa pun.
"Huhu ... sakit ...."
Kali ini terdengar suara tangisan. Gadis itu mengangkat alis bingung. Suara siapa itu? Seperti ... suara anak kecil?
CTAS! CTAS!
"Siapa di sana?!" seru Seraphine sambil mulai melangkah menuju sumber suara.
"Tolong ... tolong ... ini sakit sekali ...."
Seraphine memeluk tubuhnya sendiri. Mendadak hawa dingin menusuknya, membuat giginya bergeletuk. Ditambah suara-suara aneh itu, gadis itu sontak mengambil kesimpulan bahwa dia terdampar di suatu tempat asing.
"Tutup mulutmu! Jangan sampai lidahmu itu kupotong!"
Seraphine terlonjak mendengar suara serak seorang wanita itu, disusul kembali dengan tangisan si anak kecil.
Gadis itu mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Napasnya sudah terengah, jantungnya pun berdetak dengan cepat. Dia seakan merasakan darah yang mengalir deras di tubuhnya.
"Hmph! Hmph!" Suara anak kecil itu tertahan, entah karena apa.
"Rasakan ini! Dasar pembawa kutukan! Hya!"
"HMPH!"
Tes ... tes ....
Seraphine mengusap kasar air matanya. Dalam hati, dia mengumpat siapa pun yang terdengar sedang menyiksa anak kecil itu.
Kakinya terus berlari hingga titik putih kecil mulai terlihat. Seraphine semakin mempercepat lariannya sambil menutup mulut karena suara siksaan itu terus terdengar.
Hiks ... sebenarnya aku di mana? Siapa orang kejam yang menyiksa itu?
"Sa-Sakit ... tolong jangan lagi ... Ibu ...."
Hah?! Ibu?! Penyiksaan ibu-anak?!
Rasa mual mendadak menderanya, tapi diabaikan karena tempat sudah berganti. Tempat kosong yang gelap itu tergantikan menjadi sebuah ruangan dengan cahaya minim.
Dindingnya dari kayu dengan debu di mana-mana. Hanya ada sebuah kursi di ruangan ini. Kursi itu diduduki oleh seorang anak kecil dengan kondisi terluka sana-sini. Di depan anak kecil itu, ada seorang wanita yang memegang cambuk.
Seraphine menutup mulutnya tak percaya. Air mata yang berusaha ditahannya sontak tumpah.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Dia hanya anak kecil, tapi kenapa terluka separah itu?
Seraphine memelotot melihat bekas tamparan yang membiru di pipi anak itu. Rambut cokelat anak itu berantakan dengan beberapa anak rambut masuk ke mulutnya yang sobek.
"Bagaimana, hm? Mau lagi?!" Wanita kejam itu membentak.
Seraphine semakin gemetar. "Hei! He-Hentikan ini!"
Namun, seolah telinga wanita itu tuli, seruan Seraphine tak terdengar. Wanita itu memegang kasar dagu anak kecil di depannya.
"JAWAB! Lidahmu itu belum kupotong, jadi cepat jawab!"
Anak kecil itu terisak. "Kumohon ... Ibu, hentikan ini .... Hiks ... sakit ...."
Wanita itu menyentak kasar dagu anaknya. Dia membentangkan cambuk, lalu mengangkatnya.
CTAS! CTAS!
"ARGH!"
Seraphine seketika terduduk. Kakinya mendadak lemas, padahal dia ingin menghentikan perbuatan wanita itu.
"Be-Berhenti ...," lirih Seraphine. Tangannya terarah pada wanita dan anak kecil itu. "Kumohon ... jangan sakiti dia lebih dari ini ...."
Seraphine tersedu sambil berusaha bangkit, tapi sia-sia. Gadis itu terlalu gemetar dan lemas untuk berdiri.
"Kalau saja ... KALAU SAJA KAU TAK LAHIR, HIDUPKU TAK AKAN BEGINI!" Dengan penuh emosi, wanita itu menjambak rambut cokelat anaknya.
"HENTIKAN!" Seraphine menjerit frustrasi.
"Seandainya kau mati, seandainya kau!"
Sayangnya, sampai beberapa menit kemudian, barulah tindakan kejam wanita itu berhenti. Cambuknya sudah rusak, ditambah tangannya sangat merah karena wanita itu juga menampar.
"Hiks .... Di mana ini? Rain ... Fu ... keluarkan aku dari tempat kejam ini ...." Seraphine menutup wajahnya dengan tangan, tak tahan melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Sedangkan anak kecil itu, suara isakannya terdengar mengecil. Entah suaranya sudah serak atau apa, yang jelas, anak kecil itu hanya menunduk dengan kondisi mengerikan itu.
"Ibu ... maafkan aku ...," lirih anak itu pelan. Tangannya yang terluka sana-sini gemetar menggapai tubuh wanita itu.
Wanita itu menatap tajam. "Singkirkan tangan kotormu dariku! Dan jangan panggil aku ibu! Aku bukan ibumu!"
"Hiks ... hiks ...." Anak kecil itu kembali terisak.
Seraphine masih gemetar di tempatnya, tapi gadis itu memberanikan diri untuk berdiri. Kakinya masih lemas, tapi tetap dipaksakan untuk melangkah.
"Jangan siksa anak ini lagi ...," lirih Seraphine sambil menepuk pundak wanita itu.
Ajaibnya, kali ini wanita itu meresponnya. Matanya seketika memelotot, tak percaya kalau ada orang lain di dekatnya.
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk?!"
"Tak penting siapa aku .... Aku hanya ingin menghentikanmu menyiksa anak ini lagi ...." Seraphine memeluk anak kecil yang terluka itu.
"BUKAN URUSANMU! PERGI!"
Seraphine menahan napas sambil memejamkan mata saat mendengar bentakan itu. Dari dekat, suara wanita itu terdengar mengerikan.
"Kak ... pergi dari sini .... Nanti Kakak terluka ...." Anak kecil itu meronta pelan.
Seraphine menggeleng kuat. "Aku tak sanggup melihatmu terluka lagi!"
__ADS_1
"KUBILANG PERGI!"
CTAS!
Dengan cambuk yang rusak sekali pun, wanita itu tetap melayangkannya kembali. Kali ini Seraphine-lah yang kena.
Seraphine meringis, berusaha untuk tak mengeluarkan isakannya. Tatapannya bergetar menatap wanita itu. "Kenapa ... kau tega berbuat kejam seperti ini?"
"Hah?! Untuk apa aku memedulikan anak terkutuk ini?! Dia sudah menghancurkan hidupku!"
"Hiks ...." Anak kecil itu kembali menangis.
"Ck! Jangan perdengarkan suaramu! Dan kau!" Wanita itu menunjuk Seraphine, menatapnya tajam. "Jangan ikut campur urusan kami! Pergi, sebelum aku melayangkan ini!"
"Kubilang tidak! Anak ini sudah cukup terluka! Ibu macam apa yang menyiksa anaknya seperti ini, hah?! Karena dia terkutuk? Alasan tak masuk akal apa itu?!"
Baik wanita itu maupun anak kecil di pelukan Seraphine, keduanya terkejut mendengar seruan gadis itu.
"Kak ... jangan membelaku terus .... Hiks ... ibuku tak akan suka ...."
"Heh! Kau hanya orang asing yang tiba-tiba masuk! Tahu apa kau tentang kami?! Jangan mengetes kesabaranku! Aku sudah peringatkan, tapi kau tak dengar! Rasakan ini!"
CTAS!
"AAAA!"
Bukan, bukan Seraphine yang berteriak, tapi anak kecil itu. Begitu ibunya mengangkat cambuk rusak itu, dia langsung melepas pelukan Seraphine dan berdiri menghadapnya. Alhasil, punggungnya yang terkena cambukan.
Seraphine gemetar menatap anak kecil yang kini meringkuk dengan punggung berdarah. Sementara wanita itu, dia menyeringai sambil menginjak-injak punggung anaknya.
"Bagus! Kau tahu diri rupanya, anak terkutuk! Seharusnya kau yang menerima semua luka dariku! Hahaha!" Kakinya diangkat, lalu dengan keras menginjak punggung berdarah itu.
BUK! BUK! BUK!
Seraphine terduduk gemetar. "Tidak ...."
"Lihat ini, orang luar! Inilah akibatnya kau melindungi anak ini! Hahaha!"
"Berhenti ...."
"Hah, aku tak puas dengan kakiku!" Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Mata Seraphine melebar melihat pisau yang baru keluar itu. Berbagai pikiran buruk menerpanya. Bagaimana kondisi anak ini kalau terkena pisau itu?
Tidak, tidak boleh! Tak ada seorang pun yang boleh mati di sini!
"Nah, anak terkutuk." Wanita itu berjongkok sambil mengangkat pisaunya. "Ada kata-kata terakhir?"
"Hiks ... hiks ... maafkan aku, Ibu ...."
"Jangan lakukan ...." Seraphine merangkak mendekati anak itu.
"Itu saja? Heh, baiklah. Kalau begitu, rasakan ini!"
Seraphine berusaha menarik tubuh lemah anak itu. "JANGAN ... LAKUKAN!"
JLEB!
"AKH!"
To be continue ...
__ADS_1