
Sinar kemerahan mulai terlihat di ufuk barat, menembus sela-sela jendela kamar tamu di kediaman Dahlia. Terlihatlah seorang anak laki-laki yang duduk menghadap ranjang. Tatapannya sendu, pun raut bersalah juga terlihat.
“Hah ... apa ini salahku? Aku yang menyarankan bertemu Dahlia, tapi hasilnya malah seperti ini. Nona, maafkan aku ....” Fu menunduk. Tangannya meremas tangan gadis yang terbaring lemah di ranjang itu.
Sudah dua jam lamanya Seraphine tak sadarkan diri. Begitu Dahlia mengatakan kondisi Seraphine yang memburuk, Fu seketika merasa bersalah. Bukan karena Seraphine yang akan ketakutan setiap saat saja, tapi juga karena tujuan awal mereka melenceng jauh.
“Bagaimana aku menghadap Rain nanti?” lirih Fu, “Tuan Pedang pasti mengomeliku. Kali ini ... aku akan menerimanya.”
“Ck! Mau sampai kapan kau bermonolog seperti itu, Fu?” Dahlia tiba-tiba menepuk pundak muridnya itu. Tatapannya mengarah pada Seraphine. “Jangan merasa bersalah. Gadis ini pasti tak suka melihatmu seperti ini,” hiburnya.
Fu kembali menghela napas. “Kenapa efek membuka ingatannya malah berdampak buruk, Dahlia? Apa masa kecilnya itu juga sangat buruk?”
“... kemungkinan, Seraphine memiliki masa kelam saat dia kecil. Mungkin itu juga alasannya bisa tiba-tiba terbangun di hutan tempatmu dan Chia tertidur.”
--o0o--
Keadaan Fu yang kacau rupanya terjadi juga pada si Tuan Pedang.
“Sial! Apa yang terjadi padanya?!” umpat Mil. Kakinya menendang pohon di depannya dengan kuat, sedang tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
“Kenapa, Mil? Kau sudah seperti itu sejak aku meninggalkanmu untuk membeli daging di kota,” tanya Rain yang baru pulang dan langsung menyiapkan api unggun. Sylph itu heran melihat Mil yang emosi.
Mil berdecak sebelum menjawab, “Ada sesuatu yang terjadi pada Gadis Angin. Entah apa, aku tak tahu. Ck! Firasatku tidak enak!”
Beberapa menit setelah Rain pergi ke kota, tubuh Mil mendadak panas dingin. Rasa sakit seperti luka sayat juga menderanya. Hanya satu alasan yang bisa membuatnya begini, yaitu Seraphine.
Jika sesuatu terjadi pada gadis itu, maka Mil yang sudah bersumpah padanya akan merasa kesakitan.
“Mungkin itu hanya firasatmu, Mil? Ada Fu yang menjaganya, ‘kan? Apalagi aku yakin kalau mereka ada di tempat Aquarius.” Rain bertanya khawatir. Daging yang hendak dibakarnya itu bahkan hampir terjatuh tadi.
Mil berdecak kembali. “Bagaimana kalau mereka diserang Bintang Hitam yang berhasil kabur kemarin, Rain? Aku juga tak tenang mengetahui si Vario sialan itu hilang tiba-tiba.”
Rain terdiam. Benar juga, pikirnya. Artemis memberitahu mereka saat kembali dari memeriksa sekitar setelah pertarungan kemarin, mayat Viro tak ditemukan, pun sepertinya beberapa dari mereka berhasil melarikan diri.
“Aku ingin menyusul mereka, tapi keselamatan kalian tanggunganku,” desis Mil.
Pandangan Rain jatuh pada Chia yang belum sadar. Sylph itu menghela napas. “Kita berharap saja, Mil. Sera dan Fu akan baik-baik saja.”
--o0o--
Artemis menjentikkan jari untuk mengeluarkan panahnya, juga mulai mengaliri energinya untuk terbang.
Zeus menatap Dewi Bulan yang bersiap kembali itu. “Ingat, Artemis. Para Bintang Hitam yang kau katakan melarikan diri itu harus kau temukan. Walau Haku bersama Apollo, kita tak bisa tenang sebelum meringkus semuanya,” peringatnya.
Artemis mengangguk. “Mereka tak mungkin terlalu jauh dari wilayahku, Zeus. Selain Asha, mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, entah berpencar atau berkumpul. Mengenai busur Yien yang hilang itu ... akan kucoba bertanya ke penduduk Kota Bulan Sabit,” ucapnya.
“Maafkan kami yang memberikan tugas ini untukmu, Artemis. Mencari Bintang Hitam dan busur Yien akan memakan waktu. Mungkin ... kau tak punya waktu memikirkan keadaan Apollo.”
__ADS_1
Artemis terkekeh pelan, lalu berkata, “Justru aku melakukan ini karena mereka ada di wilayahku. Aku memang khawatir pada adikku itu, tapi dia pasti juga sedang berjuang di dimensinya.”
“Ehem! Maaf mengganggu pembicaraan kalian, tapi aku harus mengatakan ini.” Suara berat laki-laki membuat kedua dewa-dewi itu menoleh.
Seorang Libra Garbera menginterupsi.
“Oh, bukankah kau ...?”
Garbera menyeringai. “Seperti yang kalian lihat, aku Libra. Tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian tentang busur Yien. Apa yang terjadi?”
Artemis menjawab, “Yien terpaksa menukar busurnya saat singgah di wilayahku, Kota Bulan Sabit. Kau tahu, ‘kan, kalau busur itu sangat berharga karena merupakan pemberian Yang Mulia? Jika jatuh pada tangan yang salah, busur itu akan menghancurkan kita.”
“Yah ... kau benar juga. Dalam kayu mahoni yang membentuknya, ada kekuatan Yang Mulia mengalir. Kalau begitu, boleh aku mencarinya juga? Aku kasihan melihat Yien belum terbiasa dengan busur barunya. Haha, sasarannya selalu tak kena,” tawar Garbera.
Zeus memicingkan mata. “Kami akan sangat terbantu, Libra, tapi Artemis bisa mengatasinya. Lagipula, bukankah kau harus berkumpul bersama Kesatria Valkyrie lainnya sebelum ujian?”
Garbera mengangkat bahu santai. “Mereka yang tertidur saja belum tentu sudah bangun. Hanya aku, Aquarius, dan Gemini yang siap. Kalaupun ada yang memutuskan tinggal di tempat terpencil sepertiku, dia akan datang tepat saat ujian dimulai.”
Laki-laki itu menghampiri Artemis, melempar seringai. “Hei, kau kenal Seraphine, ‘kan? Hades memberitahuku kesimpulan kalian tentangnya. Dia memiliki sayap? Ya ampun, aku tak percaya jika tak melihatnya sendiri. Di mana dia sekarang?”
“Aphrodite melihatnya bersama salah satu Gemini di tempat Aquarius. Kenapa?”
“Haha, entahlah? Aku merasa si Kembar Gemini sedang tak baik-baik saja. Emosi Aquarius yang biasanya sulit dibaca juga tergoyahkan, entah karena apa. Kupikir ... terjadi sesuatu pada Seraphine si Pemilik Aura Emas, hm?”
Artemis tertegun mendengar perkataan Garbera.
Garbera membalikkan badan, berjalan menjauh. Laki-laki itu melambaikan tangan. “Aku akan mencari busur Yien sambil ke tempat Seraphine. Itu akan meringankan tugasmu. Bukan begitu, Dewi Bulan? Fokuslah pada Bintang Hitam saja, serahkan yang lain padaku. Kau tahu ... aku merasa konyol karena khawatir pada gadis itu.”
Wuuush!
Angin mendadak mengelilingi salah satu Kesatria Valkyrie itu, disusul seberkas sinar biru menguar dari tubuhnya. “Aku duluan, Artemis! Titip salam untuk Bintang Hitam!”
Zeus dan Artemis menatap tempat berpijak Garbera semula. Hanya ada udara kosong dengan percikan biru.
“Apa aku tak salah dengar, Zeus? Libra berkata kalau dia khawatir! Libra yang bersikap manis hanya pada Yang Mulia dan Yien berubah! Wah ... Seraphine luar biasa bisa membuatnya begitu!” Artemis berbisik semangat.
“Itu bagus, ‘kan? Calon pemimpin kita diterima baik olehnya. Yang lebih penting, kau harus berangkat sekarang, Artemis. Bulan mulai terlihat.”
Artemis mengangguk, lantas memejamkan mata. Tak lama, pendar keperakan terlihat begitu dia membuka mata, pertanda sang Dewi Bulan sedang memakai kekuatan sinar bulan. Tubuhnya mulai mengambang, lalu terbang menjauhi istana Dewa Zeus.
Udara malam menerpa pipinya. Artemis menghirup napas dalam, lalu mengembuskannya pelan.
“Hah ... memang lebih baik beraksi pada malam hari, ya .... Baiklah! Tunggu saja, Bintang Hitam!”
--o0o--
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
“Yien? Kau baik-baik saja?” An bertanya sambil mengetuk pintu kamar Yien yang disediakan Zeus. Kamarnya sendiri ada di sebelah kamar Yien.
“Yien?” panggil An sekali lagi.
Pasalnya, dipanggil berapa kali pun, saudari Valkyrie sebelumnya itu tak menjawab. Pintu kamarnya juga terkunci, jadi An tak tahu apa yang dilakukan Yien di dalam sana.
“Hm? Bukankah kau murid Hades?” Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi.
An menoleh, mendapati wanita berparas rupawan yang menghampirinya. “Ah, Dewi Aphrodite! Hormatku untukmu.”
An membungkuk sekilas sebelum bertanya, “Ada apa kemari?”
Aphrodite menatap pintu yang terkunci itu. “Hanya memastikan keadaan Yien. Sepertinya dia cukup terkejut mendengar permintaan kami, ya? Atau Hades tak memilih kata-katanya?”
“Mmm ... sepertinya begitu, Dewi. Tuan Hades menyampaikannya hati-hati, tapi tetap saja membuatnya tiba-tiba mengunci diri. Jika itu aku, reaksiku pasti akan sama dengannya, hehe,” jawab An seraya mengusap tengkuknya pelan.
“Yah ... reaksi yang wajar, menurutku. Jika kau tiba-tiba dimintai untuk mengawal sainganmu, apalagi kau adalah keluarga Valkyrie, posisi itu pasti sulit,” lirih Aphrodite.
An hanya mengangguk. Gadis itu menunduk menatap lantai marmer di bawahnya.
“Aku memahami perasaannya, Dewi. Walau baru beberapa hari bersamanya, aku tahu seberapa besar tekadnya untuk mengalahkan Seraphine. Aku tahu seberapa besar kemauannya membawa Rain kembali.”
Gadis itu merasakan panas di matanya. Hatinya terenyuh mengingat Yien yang seperti itu.
“Jika aku boleh menyatakan keberatan pada kalian, para dewa-dewi, akan aku lakukan! Yien baru saja menerima tolakan untuk ikut ujian, tapi kalian malah meminta bantuannya untuk melindungi Seraphine! Apa-apaan ... kalian? Bahkan aku kecewa dengan Tuan Hades ....”
Aphrodite menatap iba pada An. “Maafkan aku. Ini berawal dari muridku, Asha. Dia adalah mata-mata Bintang Hitam. Jika dia tiba-tiba dihapus dari daftar kandidat, semuanya akan merasa aneh. Asha pasti sudah melihat wajah targetnya saat penyerangan tempo hari. Kami yakin kalau dia akan menargetkan hal buruk pada Seraphine saat ujian nanti. Saat itu terjadi ....”
Aphrodite mengeluarkan mawarnya, memberikannya pada An. “An, bisa aku meminta sesuatu?”
An mengangguk patah-patah.
“Kau adalah salah satu kandidat, tapi sudah mengetahui kalau Seraphine yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya. Pasti berat untukmu, juga bagi Yien. Saat ujian dimulai, Yien akan mengawal Seraphine, tapi gadis itu pasti merasa berat menjalaninya. Untuk itu, bisakah kau menggantikan memenggal kepala Asha dengan kekuatanmu?”
“Apa?” An melangkah mundur, menggeleng cepat. “Bukankah dari kalian ada yang diberi tugas seperti itu? Kenapa harus aku?”
Sorot mata Aphrodite menajam. “Memang benar. Kami menugaskan Ares untuk mengawasi Asha bersamaku hingga ujian selesai. Namun, jika hal buruk terjadi saat ujian berlangsung, kekuatan kami tak dapat mengganggu jalannya ujian. Hanya yang dalam lingkup wilayah ujianlah yang bisa mencegahnya. Bisakah kau mengemban permintaanku ini?”
“Tapi ... kenapa harus aku?”
Sang Dewi Cinta mengulas senyum. “Hades yang merekomendasikanmu. Saat Athena memperkirakan hal-hal yang mungkin akan terjadi, Yien tak cocok mengembannya karena dia akan disibukkan melindungi Seraphine. Pilihan pun jatuh padamu.”
An terdiam. Dia memang senang karena ternyata Hades merekomendasikan dirinya, tapi ketimbang senang, rasanya berat harus membawa tugas itu di pundaknya.
“Bagaimana, An? Apa kau bersedia menerimanya?”
To be continue ...
__ADS_1