
Siang hari, di perbatasan padang rumput dan hutan.
"Fu, kau tak apa?" Chia bertanya khawatir.
Fu yang jatuh terduduk meringis. "Aku tak apa, hanya tergores saja," jawabnya, lalu menatap panah yang tadi mengincarnya.
"Kau baik-baik saja, Fu?" Seraphine berlutut, menatap Fu khawatir. Pandangannya tertuju pada luka gores yang tertoreh di lengan kanan Fu.
"Aku baik, Nona. Ini hanya luka gores, tak perlu membesar-besarkannya," jawab Fu sekali lagi.
"Tetap saja kau terluka. Sebentar, aku akan membersihkannya," balas Seraphine sambil merobek paksa bagian bawah pakaiannya.
"Kalau begitu, aku akan mencari air," sahut Rain sambil berbalik. Seraphine mengangguk, telaten membersihkan darah yang keluar.
Sementara itu, Chia memungut anak panah yang terdapat jejak darah Fu di sana. Emosinya seketika memuncak. Dia menatap nyalang orang-orang bertudung itu.
"Apa ini?! Kenapa tiba-tiba menyerang kami?!" berang Chia sambil mengacungkan anak panah berdarah itu.
Wanita tua yang mengantar mereka tadi terkekeh. "Bukan salah kami, gadis kecil. Kau dan saudaramu itu tak bisa diperingatkan. Hanya Sylph dan Nona Rambut Cokelat itu yang diperbolehkan memasuki hutan, fufufu," katanya.
"Hah?!"
KRAK!
Anak panah itu hancur seketika oleh Chia. "Hanya karena itu kalian berani melukai saudaraku?!" Suaranya meninggi.
"Chia! Jangan terpancing emosi! Kita tak boleh sampai bertarung dengan mereka!" cegah Seraphine yang sempat menunda pekerjaannya.
Kerutan kesal muncul di dahi Chia. "Maaf, Nona! Aku harus membalas darah yang tertumpah di sini," sahut Chia sambil mengeluarkan tongkatnya.
"Lihat saja, yang pertama habis di tanganku adalah--"
CTAR!
Kilatan petir tiba-tiba menyambar, mengenai tanah di depan Chia. Si Gadis Gemini itu terlonjak, memandang horor tanah gosong di depannya.
Seraphine dan Fu juga terdiam. Keduanya langsung menoleh pada wanita tua yang mengangkat tangannya ke depan itu.
"Masukkan tongkatmu, gadis kecil. Jika tidak, kami terpaksa membunuhmu," kata wanita tua itu. Suaranya terkesan dingin, berbeda dengan suara nenek-nenek lemah sebelumnya.
Para orang bertudung juga mengacungkan pedang mereka sambil memasang kuda-kuda.
"Ha-Haha! Ingin mengancam, Nek?" Chia menyeringai, melambaikan tongkatnya. "Maafkan aku jika hanya jasadmu yang tertinggal nantinya."
Langit seketika menggelap. Embusan angin pun menerpa kuat. Wanita tua itu mengangkat tangannya ke langit. Sementara Chia sudah siap dengan posisinya sedari tadi.
"Hentikan ini!" Seraphine masih berusaha mencegah. Namun, ketika gadis itu bangkit, para orang bertudung bergerak melingkarinya dan Fu.
"Ck!" Fu berdecak, lalu mengeluarkan tongkatnya. Ia bangkit sambil memosisikan dirinya di depan Seraphine.
"Fu!"
"Diamlah, Nona. Ini tak bisa dicegah lagi. Kalau Chia sampai membuat angin sekuat ini, itu artinya dia sangat serius," kata Fu, lantas menoleh, "Nona, mereka mengincarmu, tapi aku tak akan membiarkanmu disentuh!"
**BUM!
CTAR**!
Pertarungan pun pecah begitu petir dari wanita tua itu turun. Chia gesit menghindari petirnya, sementara tangannya terus melambaikan tongkatnya, mengirim serangan.
"Heh! Apa hanya ini kemampuanmu, Nek?!" sindir si Gadis Gemini.
Wanita tua itu menyeringai. "Aku suka gadis semangat sepertimu!" Wanita tua itu mulai bergerak ke sana-sini, juga menghindari serangan angin Chia.
"Aku juga menyukaimu, Nek! Tak pernah ada yang bisa membuatku serius secepat ini!" Chia memindahkan tongkatnya ke tangan lain, lantas berjongkok sambil menyentuh tanah.
Wanita tua itu menatap Chia. "Hooo, kalau kau diam seperti itu, aku tak akan bertanggung jawab, gadis kecil!"
__ADS_1
"Heh!" Chia mencemooh, menatap sengit lawannya. "Aku hanya ingin mengirimkan ini!"
DUAR!
Tanah di sekeliling wanita tua itu terangkat cepat, menggores beberapa bagian tubuhnya. "Ukh! Apa ini?! Elemen tanah?!"
Chia menyeringai. Sedetik kemudian, dia melesatkan dirinya sampai ke depan wanita tua itu. "Hehe, bagaimana, Nek? Aku hanya mencobanya tadi," katanya.
Wanita tua itu menutup wajahnya cepat begitu Chia meninjunya. "Sejak kapan kau menguasai elemen tanah, gadis kecil?!" tanyanya sambil terus berlindung.
"Elemen tanah? Hahaha! Kau salah, Nek! Anginku hanya menembus tanah di sekelilingmu!"
BUAK!
"Ukh!" Wanita tua itu terpental terkena tendangan si Gadis Gemini. Dia mengusap pelipis kirinya yang mengeluarkan darah.
"Aku tak akan bisa menang dengan caraku yang biasa, Nek!" Chia berjalan mantap ke arah wanita tua itu.
"Jadi maksudmu, kau mengirim angin melalui tanah, lalu melepaskannya begitu saja di sekelilingku?"
"Tepat." Si Gadis Gemini berjongkok, menatap kasihan akan kondisi wanita tua itu.
"Chia!" Rain tiba-tiba datang. "Apa kau baik-baik sa .... Eh? Nenek ini kalah?"
"Sialan!" Si Nenek mengumpat kesal, mengundang tawa Chia.
"Dia belum kalah, Rain. Aku hanya memukulnya mundur," jawab Chia lugas, "Bagaimana dengan Fu? Lukanya membaik?"
Rain mengangguk. "Setidaknya kita sudah melakukan pertolongan pertama. Sera sudah membalutnya," jawabnya.
Chia tersenyum. "Nah, bagaimana kalau kita menghabisi lawan kita sekarang juga? Aku harus memastikan kondisi Fu," katanya sambil kembali berdiri.
"Oh? Jangan meremehkanku, gadis kecil," sahut wanita tua itu menyeringai. Telapak tangannya teracungkan ke arah Chia.
Chia sontak memasang kuda-kuda, juga Rain.
"Aku tak sudi menerima ucapan terima kasih darimu, Nek! Tunjukkan saja kekuatan--"
Bzzzt!
"ARGH!" Chia menjerit, sementara tubuh Rain terlempar jauh. "A-Apa ini?!"
"Aku kenalkan petir kesayanganku padamu, anak manis. Bagaimana rasanya disengat olehnya, hm?"
--o0o--
"Dewa, apa Anda akan langsung kembali?" Seorang prajurit bertanya pada laki-laki berpakaian dewa yang duduk di kereta kudanya.
Apollo, laki-laki itu hanya mengangguk sekilas. "Berangkatlah sekarang. Aku ingin cepat mengerjakan sesuatu di istana," perintahnya.
Prajurit tadi mengangguk takzim, lantas menutup pintu kereta kuda khusus Dewa Matahari itu.
Tak lama kemudian, kereta kuda itu berangkat menembus awan. Benar, kereta kuda setiap dewa-dewi dibuat khusus agar mereka nyaman memakainya.
Contohnya Apollo. Laki-laki itu sengaja meminta agar kereta kudanya bisa terbang, tentu dengan kekuatan matahari. Dibutuhkan waktu yang cukup lama agar kuda dengan kekuatan miliknya menyatu.
Contoh lain adalah kereta kuda Artemis. Konsepnya sama dengan milik saudaranya, tapi Artemis menggunakan cahaya bulan.
Gluduk ... gluduk ...
Apollo mengerutkan dahinya. "Hei, di depan sana ada apa? Aku mendengar suara gemuruh," tanyanya pada prajurit yang mengendalikan kereta kuda.
"Dewa, sepertinya kita tak bisa melalui jalur ini. Awan di depan sana menggelap. Saya juga melihat kilatan petir sekilas. Mungkin akan terjadi badai," jawab prajurit itu.
Apollo semakin mengerutkan dahinya. Jika ada badai atau hujan yang melanda suatu wilayah pada siang hari, tentu dia akan merasakannya. Atau pasti Zeus akan memberitahukannya melalui telepati.
Namun, mengapa tiba-tiba ada badai di depan sana?
__ADS_1
Apollo bangun dari duduknya. "Aku akan memeriksanya sebentar. Di depan sana pasti ada sesuatu yang tidak aku tahu," ucapnya sambil membuka pintu kereta kuda.
Angin kuat langsung menerpanya, menerbangkan helaian rambut juga pakaiannya. Apollo pun melangkah keluar.
"Dewa, apa tidak masalah Anda ke sana sendiri?"
Laki-laki itu menggeleng. "Tak masalah. Kalian kan tak bisa menggunakan aliran kekuatan untuk terbang," tolaknya.
Benar. Hanya dewa-dewi yang bisa mengendalikan aliran kekuatannya untuk terbang, lebih tepatnya mengambang di udara. Selain mereka, tak ada makhluk yang bisa terbang, kecuali jika memiliki sayap.
Apollo pun memelesatkan tubuhnya menuju awan hitam itu.
"Hmm ... prajuritku benar. Ada kilatan petir di sini. Ini ...." Apollo menjulurkan tangannya, ke arah awan gelap itu. "Ini bukan petir alami, atau petir milik Zeus. Apa ini kekuatan seseorang?" gumamnya.
Kepalanya menunduk. Matanya berusaha menembus berkilo-kilo meter ke arah bawah. Sedetik kemudian, laki-laki itu berdecak.
"Ck! Ada saja pertarungan tak berguna di zaman ini. Anak kecil? Seorang nenek tua? Huh, tapi kenapa anak kecil itu terlihat familiar di mataku?"
Apollo mengedarkan pandangannya ke arah lain. "Eh? Di situ juga ada anak kecil? Apa aku tak salah lihat kalau dia sedang melindungi seorang gadis?" gumamnya.
Mata sang Dewa Matahari itu memicing, berusaha mempertajam lagi penglihatannya. "Tapi tetap saja, aku merasa tak asing dengan pakaian dua anak kecil itu. Bukankah mereka terlihat seperti--"
"Gemini, 'kan? Aku juga merasa mereka seperti itu, Apollo."
DEG!
Apollo tersentak mendengar suara yang dikenalinya itu. "Kak?! Sedang apa kau di sini?!"
Ya, suara itu milik Artemis sang Dewi Bulan. Artemis juga melihat ke arah pertarungan di bawah sana.
"Kak, kau keluar dari istanamu?! Ta-Tapi, ini masih siang, Kak!"
"Ck! Seandainya aku tak merasa ada sesuatu yang terjadi, aku tak mungkin keluar seperti ini, Apollo. Setelah kepergianmu, aku merasakan energi tak biasa dari tanah, juga dari langit. Aku pun ke sini untuk memastikannya," jelas Artemis.
"Petir di awan ini bukan petir alami, juga bukan milik Zeus. Kurasa ini kekuatan dari nenek itu, Kak," sahut Apollo menunjuk nenek yang kini mengacungkan tangannya ke depan.
Artemis memicingkan mata begitu menangkap sinar biru di dekat anak kecil dan nenek itu. Begitu menangkap ada makhluk kecil bersayap di sana, sontak tubuh Artemis terasa dialiri listrik.
"Apollo, ayo kita ke bawah. Kita hentikan pertarungan mereka!"
"Itu kan tidak diperbolehkan! Kenapa--"
"Lihat baik-baik!" Artemis menarik tangan Apollo, lalu meluncur ke bawah. "Ada Sylph di sana! Dia bersayap biru!"
Giliran Apollo yang tersentak. "Oh tidak, sepertinya nenek itu mau melancarkan listrik ke arah mereka!"
Artemis menggigit bibir bawahnya. "Aku akan menangkap Sylph itu. Apollo, kau selamatkan anak kecil itu!"
Apollo mengangguk tegas, lantas mempercepat peluncurannya.
Bzzzt!
Terlambat. Nenek itu sudah melancarkan serangannya. "Sial!" Laki-laki itu melambaikan tangannya, mengumpulkan cahaya matahari.
"Aku kenalkan petir kesayanganku padamu, anak manis. Bagaimana rasanya disengat olehnya, hm?"
BUM!
"Fuh ...." Apollo mendarat di antara anak kecil dan nenek itu. Kedatangannya membuat keduanya terperanjat.
"Siapa kau?!" seru nenek itu.
Sementara anak kecil itu jatuh terduduk lemas. Sepertinya sengatan tadi menyerangnya kuat.
"Kau tidak apa, Nak?"
"... Dewa Apollo?"
__ADS_1
To be continue ...