
"Hari ini berlatih dengan siapa, Sera?" tanya Rain saat selesai membersihkan tempat makan mereka.
Seraphine yang masih mengunyah gigitan terakhirnya menunjuk Mil di kejauhan. Terlihat kalau Mil lagi-lagi berdebat dengan Fu.
"Menurutmu, kemampuan berpedang siapa yang lebih baik? Fu atau Mil?" tanya Rain lagi.
Seraphine meneguk airnya sebelum menjawab, "Dilihat dari tekniknya, Fu yang lebih baik, tapi jika dilihat dari kecepatan dan akurasinya, aku akan memilih Mil. Keduanya sama-sama hebat."
"Lalu, bagaimana dengan Chia? Sudah sejauh mana kau bisa menghilangkan rasa takut membunuhmu?"
Seraphine tersenyum kecut, kembali membayangkan sesi latihannya dengan Chia. Gadis kecil pemakai tongkat itu tak tanggung-tanggung melatihnya.
"Kita akan selalu berburu, Nona. Jika aku atau mungkin kau membunuh hewan, jangan menghindar. Tantang rasa takutmu," kata Chia saat sesi latihan pertama mereka.
Tujuan pelatihan Chia berbeda dengan tujuan pelatihan Mil dan kembarannya. Jika latihan Chia untuk mengurangi rasa takut membunuh, maka berlatih tanding dengan Fu dan Mil bertujuan untuk membentuk pondasi kekuatannya.
Fu dengan teknik, Mil dengan kecepatan dan akurasi. Jika Seraphine berhasil menyerap pengajaran mereka, pastilah dia akan menjadi pribadi yang kuat.
"Sera?"
"Ah, iya." Seraphine tersadar dari lamunannya. "Hari ini tak ada latihan di hutan dengan Chia. Katanya, dia mau mengajari cara lain memadukan kekuatanku dengan segel angin," jawab gadis itu.
Rain manggut-manggut. "Tetap saja, Sera. Selama tiga hari ini, kurasa kemampuanmu meningkat, baik dalam bertarung maupun mengatasi ketakutan membunuh."
"Hei, Gadis Angin!" Mil tiba-tiba berteriak. Laki-laki itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Sampai kapan mau bergosip dengan Sylph itu?! Aku lama menunggu!"
"Ba-baik! Aku segera ke sana!" Seraphine segera bangkit, lalu melemparkan senyumannya pada Rain. "Maaf, ya. Guruku yang satu itu terlalu galak," katanya.
Rain terkikik. "Hati-hati, Sera. Kalau Mil mendengarnya, pasti kau tak diberi istirahat hari ini," balas Rain.
Sontak gadis itu tertawa, kemudian berbalik dan berlari kecil ke tempat Mil.
Tanpa sadar, Rain tersenyum melihat betapa semangatnya Seraphine berlatih. Rain tahu, walau tiap malam sesekali terdengar rintihan dari mulutnya, tapi Seraphine bisa menahannya.
"Oh iya, kalau dipikir-pikir ...." Rain menatap Seraphine yang sudah bergerak ke sana-sini melawan Mil. "Seraphine selalu memakai baju itu. Hm ... untuk ujian Valkyrie, rasanya baju itu menyusahkan. Apa aku belikan pakaian baru di kota saja, ya?"
"Sedang apa, Rain?"
Rain menoleh ke arah Chia yang baru datang. "Chia, aku berpikir untuk pergi ke kota. Seraphine membutuhkan pakaian baru untuk ujian Valkyrie nanti. Bagaimana?" ungkapnya.
Chia langsung melihat Seraphine, lebih tepatnya pada pakaiannya. Gadis kecil itu lantas mengangguk. "Setuju. Setidaknya pakaian baru tak akan menyusahkan Seraphine."
"Iya, 'kan? Kalau begitu, aku bersiap dulu. Mau ikut denganku, Chia?"
"Baiklah. Daripada aku mati kebosanan di sini."
--o0o--
__ADS_1
"Apa harganya tak bisa lagi diturunkan, Tuan? Kami sudah mencari banyak penginapan, tapi di sini yang termurah," pinta An.
"Tidak bisa, Nona. Nona harus membayar 30 Drachma untuk satu kamar," tolak si Pemilik Penginapan. Sebut saja Tuan Pemilik.
"Huh, kalau begitu, saya permisi, Tuan!" An dengan kesal meninggalkan Tuan Pemilik itu, lalu menghampiri Yien yang berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana?"
An menggelengkan kepala. "Tuan itu keras kepala. Padahal kita hanya beberapa jam di penginapannya," sungut An.
Yien terdiam sejenak menatap gadis itu, lantas melangkahkan kakinya mendekati Tuan Pemilik.
"Eh, Yien! Percuma kau mencobanya!" cegah An.
Yien tak menggubris teriakan An. Tangannya mengambil busur panah di punggungnya.
"Tak bisa, Nona. Saya hanya akan menerima 30 Drachma untuk satu kamar," kata Tuan Pemilik begitu melihat Yien seakan tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Tuan, izinkan kami menempati satu kamar untuk beberapa jam. Kami janji akan meninggalkan tempat Tuan begitu matahari terbenam," pinta Yien sambil menyodorkan busurnya.
Tuan Pemilik menatap Yien sejenak, lalu busur panahnya. "Terbuat dari ... apa?" tanyanya.
Yien menyeringai. "Ini kayu mahoni, Tuan. Saya jamin kualitasnya," sahut Yien.
Tuan Pemilik mengambil busur itu, lalu menekan, mengusap, dan mengangkatnya. "Sepertinya kau tak berbohong, Nona," kata Tuan Pemilik, lalu menyodorkan sebuah kunci. "Kamar paling ujung di lantai dua. Semoga kalian betah."
An melongo tak percaya dengan tindakan Yien. Gadis itu sangat paham. Yien sangat menyayangi busurnya lebih dari barangnya yang lain.
"Apa tak apa menukarkan busurmu dengan kamar kita?" An bertanya begitu ia mendudukkan diri di ranjang.
Yien meletakkan barang-barangnya di sudut kamar, lalu merebahkan diri. "Aku benar-benar harus tidur di ranjang, An. Busur itu memang berharga, tapi kesehatanku lebih berharga."
"... kalau kau berkata seperti itu, aku malah merasa bersalah, Yien. Drachma yang kubawa lebih sedikit dibandingkan denganmu. Seharusnya aku yang menukarkan barangku dengan kamar ini," tukas An menunduk.
"Memangnya, barang apa yang akan kau tukar? Kau kan hanya punya kipas," sindir gadis pemburu itu.
Entah kenapa, An merasa kesal. "Huh! Aku bisa menukarkan gantungan di kipasku! Itu pemberian Tuan Hades, pasti lebih berharga!"
"Oh ya? Coba kulihat!"
An dengan raut wajah kesal merogoh kantongnya. Sedangkan Yien memperhatikan dengan seringai lebar.
Namun, hal tak terduga terjadi.
"Kipasku hilang! Tidaaak!"
Yien refleks terbangun. "Kau itu bagaimana sih?! Jika kipasmu tak ada, kekuatanmu tak akan keluar!"
__ADS_1
"Huhu, maafkan aku ...," sesal An sambil terus memeriksa seluruh tubuhnya. "Aku tak tahu, mungkin kipasku terjatuh ...."
Yien menghela napas kasar. Dengan apa mereka bertarung nantinya? Busurnya sudah ditukarkan, sekarang malah kipas An yang hilang?
Walau segel elemen di tubuhnya sudah terbuka, Yien tak bisa menggunakannya terus-menerus. Tenaganya akan terkuras habis. Jika bertarung dengan tangan kosong, Yien tak yakin kalau An bisa mengatasinya.
Tap! Tap! Tap!
An berlari menuju pintu. "Aku keluar dulu, Yien! Aku pasti menemukan kipasku jika aku menelusuri jalur kita tadi!" serunya sambil membuka pintu.
"Tu-tunggu, An!"
"Kau diam saja di sini. Aku segera kembali!"
Punggung An menghilang dari balik pintu. Yien mengacak rambutnya, lantas mengambil kunci kamar, lalu melesat keluar setelah mengunci pintunya.
"Tuan! Apa Anda lihat teman saya yang tadi?!" tanya Yien begitu sampai di lantai bawah.
Tuan Pemilik menunjuk pintu penginapannya. "Nona itu berlari sangat cepat. Sepertinya belok kanan," jawabnya.
Tanpa berlama-lama, Yien berlari mengikuti petunjuk dari Tuan Pemilik. Ditolehkannya kepalanya kanan-kiri, mencari An di tengah hiruk pikuk perbincangan penduduk kota.
"Sial! Aku kehilangan jejaknya!" Yien mengumpat pelan sambil mengatur napasnya yang terengah.
Kali ini Yien berjalan walau tetap menengok kanan-kiri. Otaknya berusaha mengingat setiap jalur yang mereka lewati. "Ke mana gadis aneh itu lari? Cepat sekali dia!" gumam Yien kesal.
Kalau tak salah, An tadi memakai baju putih. Begitu si Gadis Pemburu itu menangkap sosok gadis berbaju putih yang tak jauh darinya, Yien langsung berlari.
Baju putih, sedikit pendek, rambut sebahu. Dia pasti An!
Yien mencekal pergelangan tangannya. "An! Jangan tiba-tiba lari begitu! Ayo kita cari kipasmu--"
Sret!
Gadis yang pergelangan tangannya dicekal itu berbalik. "Kau ...."
Bukan An!
Yien malu setengah mati. Dia refleks melepas cekalannya, lantas menunduk-nunduk. "Maafkan aku! Aku salah orang! Kupikir kau temanku tadi, jadi--"
"Chia! Aku menemukan pakaian yang bagus di sebelah sana! Ayo kita ke sana!" Seorang makhluk kecil bersayap biru tiba-tiba datang, lalu menarik pakaian Chia tanpa menyadari keberadaan Yien.
"Eh? Iya, sebentar." Chia mengangguk pelan sambil menunjuk Yien.
Rain menoleh. "Ada apa? Siapa dia--"
"... Rain?"
__ADS_1
To be continue ...