
Ruang pertemuan dewa-dewi itu lengang. Bukan karena mereka sibuk memikirkan tentang Bintang Hitam, melainkan karena kedatangan Yien yang tiba-tiba itu.
Athena bahkan sampai berdiri saking terkejutnya. Menurut informasi, saudari kandung Valkyrie sebelumnya itu dikabari menghilang. Karena lamanya tak ditemukan, akhirnya Yien dinyatakan meninggal.
"Tak mungkin .... Aku sudah mencarinya ke mana pun. Pasukanku pun sudah kusebar untuk menemukannya." Poseidon gemetar di tempatnya.
Ares yang masih menghunus pedangnya kini mendekatkan wajahnya ke arah Yien. "Apa kau benar-benar Yien yang sangat disayangi Zeus itu? Maaf saja, aku tak mengenalimu," katanya.
Yien terkekeh pelan seraya tangannya mendorong wajah Ares yang terlalu dekat. "Berhentilah mencurigai aku, Dewa Ares. Mungkin kita sudah lama tak bertemu, tapi bukankah auraku masih sama? Aku sedih melihat Dewa Zeus saja yang mengenaliku," tukasnya sambil melirik Zeus.
"Sepertinya kali ini aku setuju pada Ares, Yien. Penampilanmu sudah sangat berubah. Wajar jika kami tak mengenalimu," timpal Athena, "Daripada itu, hal yang paling membuatku penasaran adalah kau yang muncul setelah sekian lama ini."
"Mmm ...." Yien menoleh pada Aphrodite dengan mawar melayang di tangannya itu. "Dewi Aphrodite, kaulah yang bisa menjelaskan situasiku saat ini, bukan? Kupikir kau yang mengawasiku belakangan ini."
Aphrodite melemparkan tatapan selidik pada Yien. "Memang benar kalau aku mengawasimu. Aku pun sudah tahu kalau kau akan ke istana Zeus dengan gadis di belakangmu itu, tapi tak kusangka akan secepat ini. Apa rencanamu, Yien?"
Yien menyeringai. "Pertanyaan bagus, Dewi. Aku ke tempat ini hanya untuk meminta sesuatu. Ini menyangkut ujian Valkyrie."
"Oh? Apa itu?" tanya Zeus.
"Bolehkah aku mengikuti ujian Valkyrie?"
Zeus dan Athena saling pandang, lantas Zeus bertanya, "Apa ada tujuan tertentu sampai kau ingin ikut di ujian kali ini?"
Yien mengangguk tegas. "Kalian masih ingat Rain? Aku memiliki janji padanya ... tidak, bukan janji, lebih tepatnya tantangan. Rain akan kembali bersamaku jika aku berhasil mengalahkan kandidat yang dipilihnya di ujian Valkyrie," lanjut Yien.
Artemis menyela, "Sebentar, Yien. Rain yang kau maksud ini bukannya anak dari tangan kanan Valkyrie sebelumnya? Lalu, apa dia adalah Rain yang aku kenal dalam kelompok Seraphine?"
"Seraphine? Ah! Benar! Rain memilih gadis bernama Seraphine! Kau sudah bertemu dengannya juga, Dewi Artemis?"
Artemis mengibaskan tangannya pelan. "Bukan hanya Rain, tapi juga Seraphine dan anggota kelompoknya yang lain. Kupikir Rain yang kau maksud berbeda dengan Rain yang kutemui. Aku sempat membantu kelompoknya saat pertarungan kemarin, Yien."
"Eh? Pertarungan?" Yien mengerutkan dahi. "Aku bertemu Rain dua hari yang lalu. Bagaimana mungkin ada pertarungan? Siapa lawannya?"
Artemis menatap sinar keunguan dari mawar Aphrodite yang masih ada di tengah meja besar. "Percayalah, Yien. Pertarungan itulah yang sedang kami bahas. Rain dan Seraphine diincar oleh Bintang Hitam."
"Bintang Hitam?!"
Bukan Yien saja yang memekik kaget, tapi juga An yang sedari tadi diam memperhatikan. Hades yang memicingkan mata berdecak. Ia baru sadar kalau gadis yang bersama Yien adalah An, murid anehnya.
"Kau tak mengetahuinya? Padahal di hari yang sama saat kau bertemu Rain, salah satu anggota mereka sempat bertemu dengan Bintang Hitam. Anggota inilah yang dijadikan sandera agar Rain dan Seraphine mau berbincang dengan Bintang Hitam, tapi malah berujung pertarungan. Rain tak bercerita padamu?"
Yien menggeleng lemah mendengar pertanyaan Artemis. "Saat itu, aku dan Rain terlibat pertengkaran kecil. Aku tak terima jika dia menolak kembali bersamaku, padahal aku sudah mencarinya ke mana pun. Lebih mengejutkan lagi, ternyata alasannya karena dia memilih bersama yang lain," terang Yien sambil tersenyum getir.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat. "Aku merasa tersakiti saat itu, tapi Rain berkata bahwa jika aku berhasil mengalahkan Seraphine, dia akan kembali bersamaku. Karena itulah aku ingin mengikuti ujian Valkyrie kali ini," lanjutnya.
Zeus, Artemis, serta dewa-dewi lainnya menatap iba pada saudari kandung Valkyrie sebelumnya itu.
Mereka semua tahu, hanya Rain yang menjadi orang terdekat Yien. Hanya Rain alasan Yien bertahan saat Valkyrie sebelumnya tiada. Hanya Rain yang selalu di samping Yien. Mendengar kabar bahwa Rain memilih yang lain, tak ada yang bisa membayangkan bagaimana perasaan Yien saat itu.
Zeus menghela napas lelah. Topik di rapat dadakan mereka telah melenceng sejak kedatangan Yien. Namun, tak disangka kalau Yien sudah bertemu dengan Rain dan mengalami kejadian itu.
__ADS_1
"Kumohon, izinkan aku untuk mengikuti ujian Valkyrie ini, Dewa Zeus!" Yien tiba-tiba membungkukkan badan. "Aku rela melepas semua, rela mengorbankan semua, rela melakukan apa pun demi Rain!"
Zeus kembali menghela napas. "Angkat kepalamu, Nona Yien," pintanya.
"Tidak! Sebelum aku diizinkan ikut! Lagipula, tak ada larangannya, 'kan, kalau keluarga Valkyrie ikut ujian?"
"Tapi--"
"Biar aku saja, Zeus." Athena memotong ucapan Zeus.
"Athena ...."
Dewi Perang itu berjalan melewati Zeus hingga tepat di depan Yien, lantas memegang pundak gadis itu untuk kembali ke posisi berdirinya.
"Begini, Yien. Benar bahwa tak ada aturan yang melarang keluarga Valkyrie sebelumnya untuk mengikuti ujian ini, tapi coba bayangkan. Bagaimana perasaan kandidat lain saat tahu ada saingan dari keluarga Valkyrie sebelumnya?" Athena menatap lekat mata Yien.
"I-Itu ...." Yien melirik An di belakangnya.
"Mereka akan merasa kalah sebelum ujian dimulai, 'kan? Zeus bisa saja langsung memasukkan namamu dalam daftar kandidat, tapi itu tidak adil," lanjut Athena, lalu menunjuk Yien dengan telunjuknya, "Intinya, aku hanya ingin berkata kalau kau tak terpilih, Yien. Tak ada dewa, dewi, atau pelayan Valkyrie yang memilihmu. Bukankah sangat tidak adil jika kami mengizinkanmu ikut?"
"He-Hei, Athena. Jangan terlalu keras padanya," sahut Zeus yang merasa tak enak. Yien adalah orang yang disayanginya setelah Valkyrie sebelumnya. Ia tak ingin perasaan Yien dilukai, bahkan oleh Athena.
Athena mendengus geli. "Kau terlalu memanjakannya, Zeus. Aku menghormati Yien karena dia adalah keluarga Yang Mulia Valkyrie sebelumnya, bukan karena dia adalah seorang Yien. Jika kita memberikan perilaku spesial hanya karena gadis ini keluarga Valkyrie, itu sangat tak patut, 'kan?"
"Haha, aku setuju denganmu, Athena." Ares yang sudah menyarungkan pedangnya menyeringai.
Laki-laki itu berdecih menatap wajah Yien. "Merelakan segalanya demi Rain, katamu? Yien, kau terlalu naif. Hidupmu tak seharusnya bergantung pada seseorang saja. Kuberi nasihat, jika Rain memintamu untuk melampaui Seraphine itu, lampaui dengan caramu sendiri, bukan dengan cara menginjak-injak arti suci ujian Valkyrie ini. Paham?"
"Tak apa, Dewa Zeus." Yien mengulas senyum. "Aku tersadarkan oleh kata-kata Dewa dan Dewi Perang ini. Benar kata mereka, aku tak seharusnya meminta diizinkan ikut ujian Valkyrie. Mengalahkan Seraphine tidak sebatas ujian saja, tapi bisa juga dengan cara lain."
Zeus terdiam mendengarnya. Dalam hatinya, pria itu membenarkan kata-kata Athena dan Ares, tapi rasa sayangnya pada Yien lebih mendominasi.
"Maafkan aku karena telah mengganggu pertemuan penting ini, Dewa-dewi sekalian. An, ayo kita balik," kata Yien sambil membalikkan badan.
An hanya mengangguk saat Yien melewatinya dan prajurit yang menghalangi mereka tadi. Gadis itu lebih dulu meninggalkan ruang pertemuan tanpa menunggu langkah An di belakangnya.
"Hah ... Yien pasti sedih. Sudah bertengkar dengan Rain, kehilangan busur panahnya, dan sekarang tak bisa mengalahkan Seraphine itu di ujian Valkyrie," sungut An sedikit berbisik.
Namun, pendengaran dewa-dewi itu tajam, mereka mendengar yang dikatakan An. Ares mengangkat sebelah alisnya. "Apa aku salah dengar kalau busur Yien hilang?"
An mengusap tengkuknya pelan. "Tidak, tidak. Bukan menghilang, tapi ditukar dengan kamar penginapan kami di Kota Bulan Sabit, hehehe."
"Haha ... Artemis, sepertinya pekerjaanmu bertambah," tawa Ares kaku.
Artemis mengangguk takzim. "Kota Bulan Sabit, ya? Sepulang dari sini, akan kucari busur itu."
"Eh?" An mengerjapkan mata bingung. "Kenapa busur Yien harus dicari lagi?" tanyanya.
Hades yang sedari tadi duduk kini bangkit dan menghampiri An dengan tampang masamnya. "Bukan urusanmu, murid aneh. Sini, ikut aku. Kau harus menjawab semua pertanyaanku," ketus sang Dewa Kematian itu sambil menyeret An keluar.
"Eh? Eh?! Tuan Hades, aku belum siap, belum siap!"
__ADS_1
BLAM!
Pintu pun tertutup, menyisakan dewa-dewi yang kembali duduk di tempat masing-masing.
Zeus menyesap anggurnya yang tinggal sedikit itu. "Baiklah, kurasa kita akan membiarkan Hades mengeruk informasi dari muridnya itu. Sekarang kita lanjutkan rapat kita. Athena, bagaimana tanggapanmu?"
"Menurutku, kita harus mengawasi Asha lebih dekat dari sekarang. Dia berbahaya, tapi jika tiba-tiba mengeluarkannya dari daftar kandidat karena dia mata-mata Bintang Hitam, banyak yang akan merasa aneh," jawab Athena.
Aphrodite menyimpan mawar merahnya kembali. "Tentang mengawasi, biar aku yang melakukannya. Bagaimanapun juga, Asha adalah muridku. Aku yang bertanggung jawab," timpalnya.
Zeus mengusap dagunya, lantas melirik Ares yang sibuk dengan jamuan. "Bawa Ares bersamamu, Aphrodite."
"Hah?!" Ares tersedak. "Oi, oi! Kenapa aku? Bukannya ini masalah Aphrodite untuk mengawasi muridnya itu?"
"Tentu saja kau ikut, Ares!" Athena menyahut ketus. "Jika Asha bertindak melewati batas, kau yang harus menghentikannya. Bukannya kami meragukan kekuatan Aphrodite, tapi itu karena kau yang paling kuat menghadapi Bintang Hitam saat ini. Benar, 'kan, Zeus?"
"Athena benar, Ares. Asha adalah Bintang Hitam dan Bintang Hitam adalah kelompok paling berbahaya. Jika dia dikirim untuk merusak jalannya ujian Valkyrie, kita harus menghentikannya. Kau yang paling tepat untuk tugas ini," jelas Dewa Petir itu.
"Sudahlah, Ares. Terima saja tugasmu. Dengan begitu, urusan kita jadi cepat selesai." Hephaestus angkat bicara dengan nada malasnya.
"Bukannya kau yang selama ini ingin menonjok wajah Bintang Hitam?" Demeter mengerling, disusul anggukan dewa-dewi lain.
"Ck!" Ares membuang wajah, terpaksa menerima karena kalah suara.
Kemudian, Poseidon mengetuk meja besar itu. "Kalau begitu, tak ada yang keberatan jika aku membahas Seraphine, 'kan?"
Mendadak, air berkumpul di tengah meja besar, menampilkan wajah Seraphine dengan Fu di sebelahnya.
"Gemini, Libra, dan sekarang Aquarius. Belum seminggu perjalanannya, Seraphine sudah bertemu tiga di antara 12 Kesatria Valkyrie. Rain bersamanya, juga jiwa yang bisa mewujudkan diri sudah bersumpah padanya. Bukankah terlihat jelas kalau dia yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya?"
"Aku tak yakin, Poseidon. Kemarin aku bermimpi setelah sekian lama. Ada sesuatu yang berbeda dengan Valkyrie kali ini," sahut Artemis seraya mengetuk kepalanya pelan, "Maafkan aku yang baru mengatakannya. Valkyrie kali ini akan memiliki sayap."
"... apa?"
Artemis mengangguk. "Bukan kalian saja yang terkejut, aku juga begitu. Senjatanya juga tak hanya pedang, tapi juga tombak."
Poseidon kembali mengetuk meja. "Kalau begitu, coba lihat ini. Aku mendapatkan gambaran ini dari Aphrodite."
Air yang berkumpul kembali memberikan gambaran. Kali ini saat Seraphine menarikan Tarian Jiwa.
Baik Zeus, Athena, juga dewa-dewi lainnya, mereka terperanjat melihat gambaran itu. Bukan karena kekuatan Seraphine yang tidak biasa, bukan karena tarian indahnya, bukan pula karena segel angin.
Artemis berdiri, menatap Poseidon tak percaya. "Benarkah kalau dia adalah ... Seraphine yang kutemui kemarin?"
Ares menyeringai. "Heh! Kalau mengaitkan mimpi Artemis dengan gambaran ini, bukankah ujian Valkyrie jadi tak berguna? Lihat, kita sudah menemukan Valkyrie selanjutnya!"
Poseidon mengangguk. "Aku juga berpikir sepertimu, Ares." Dewa Laut itu menatap lekat gambaran di airnya.
"Walau tak sepenuhnya terlihat, tapi Seraphine memiliki sayap, bukti nyata Valkyrie selanjutnya."
To be continue ...
__ADS_1