The Valkyrie

The Valkyrie
TARIAN JIWA


__ADS_3

Sratt! Sratt!


Seraphine mengikat pita merahnya di lengan yang tak memakai gelang. Gadis itu mengikat dengan sesekali bersenandung kecil.


Hal itu sepertinya membuat jiwa di pedang terheran.


"Apa yang akan kau lakukan, gadis kecil?"


Seraphine tersenyum. "Aku akan menari dengan menyanyikan lagu kesukaanku," jawabnya.


"Hoho, menggunakan segel angin untuk menari?"


"Tak ada salahnya, 'kan?" Seraphine mengerlingkan mata. "Tuan Pedang hanya mengatakan untuk memakai segel anginku," lanjutnya.


Suara si Tuan Pedang tertawa. "Lelucon yang konyol, tapi menarik. Baik! Perlihatkanlah kekuatan dari segel angin!"


"Oh, jangan terburu-buru, Tuan. Aku tak akan melakukannya sebelum kau menghilangkan pusaran angin ini," tolak Seraphine, masih tersenyum.


"Lalu, apa jaminan kalau temanmu tak akan ke sini?"


Seraphine menelan ludahnya susah payah. Walau berat, gadis itu merasa harus mengatakannya. "Jika mereka ke sini ... Tuan boleh melakukan apa saja padaku. Termasuk mencuri kekuatanku mungkin?"


"Hahaha! Tak ada untungnya kalau kekuatanmu ada pada diri ini. Bagaimana kalau kau menjadi budakku saja, gadis kecil?"


Seraphine menegang. "I-itu ...."


"Apa kau takut sekarang?"


Gadis yang rambutnya sudah terurai itu mengepalkan tangannya kuat. "Baik. Aku akan menjadi budakmu jika temanku ke sini," putusnya.


Lagi-lagi suara tawa si Tuan Pedang terdengar. Entah mengapa, Seraphine merasa merinding mendengarnya.


Wuuush!


Si Tuan Pedang mengabulkan permintaan Seraphine. Perlahan, pusaran angin yang memisahkan Seraphine dengan yang lainnya lenyap terhisap ke dalam pedang melayang itu.


"Sera? Apa itu kau?" Itu suara Rain.


"Oh, akhirnya! Nona, kami akan ke sana, jangan khawatir!" seru Chia bersiap lari.


Seraphine tak berbalik menghadap temannya. Si Tuan Pedang sudah mengabulkan permintaannya agar pusaran angin itu tak melukai mereka. Gadis itu sedang bersiap, bersiap untuk tariannya.


Tentu Seraphine berharap kalau mereka tak akan ke tempatnya.


Chia sudah mengeluarkan tongkatnya sedari tadi, begitu pun dengan Fu. Keduanya menatap tajam pedang melayang yang tak jauh dari mereka.


"Awas saja kau, jiwa pedang kurang ajar!"


"Tunggu!" Rain menghadang si Kembar yang sudah siap berlari. "Kita tak boleh ke sana, Gemini!"


"A-Apa maksudmu?!"


"Coba perhatikan," kata Rain sambil menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Seraphine yang masih memunggungi mereka.


"Pusaran angin sudah hilang, tapi Sera tetap di sana. Apa itu tak aneh? Dan juga, Sera tak membalikkan badannya. Kalian tahu artinya?" tukas Rain serius.


"Benar juga. Nona tetap di sana, bahkan tak merespon teriakan kita," timpal Chia.

__ADS_1


Fu mengusap dagunya, lantas sedetik kemudian memasukkan kembali tongkatnya. Melihatnya membuat Chia langsung berteriak marah.


"Kenapa kau memasukkan tongkatmu, Fu?!"


"Chia, gunakan pikiranmu. Seraphine pasti memiliki alasan untuk tetap seperti itu. Kita tunggu saja di sini," kata Fu.


"Tapi .... Hah, baiklah." Chia menghela napas sembari memasukkan tongkatnya.


Seraphine yang sedari tadi mendengar percakapan mereka lantas tersenyum. Beruntungnya dia, Rain mengerti maksud tindakannya.


Seraphine memosisikan dirinya dengan posisi awal tarian. Oke, ayo kita lakukan.


"Maaf membuatmu menunggu, Tuan Pedang." Seraphine tersenyum. "Aku persembahkan padamu sebuah tarian yang akan menggetarkan jiwamu."


Dengan kaki yang mulai melompat-lompat kecil, Seraphine mulai bersenandung. Dahi tempat segel angin terbuka tiba-tiba bersinar terang. Sinar itu melingkupi tubuh Seraphine.


"Inilah Tarian Jiwa. Selamat menikmati."


Hari itu, sore itu, Seraphine meliuk-liukkan tubuhnya sambil bernyanyi. Tubuhnya yang dilingkupi sinar itu terlihat indah. Bunga-bunga mulai bermunculan, bukan di tempat yang dipijak Seraphine saja, tapi juga di padang rumput itu.


Padang bunga. Itulah nama yang cocok sekarang untuk padang rumput itu. Awalnya, Seraphine menari dan bernyanyi seperti biasa. Namun ...


"Diri ini tak menyangka akan menyaksikan pemandangan indah darimu, gadis kecil. Tidak, bukan gadis kecil. Kau lebih tepat disebut ...."


Wuuush!



"... Si Gadis Angin."


Matahari terbenam, bersamaan dengan berakhirnya tarian Seraphine. Gadis itu menunduk dengan kakinya yang menyilang seolah memberikan penghormatan. Kedua tangannya juga mengangkat sedikit pakaiannya.


Seraphine menangkap pedang itu, bersamaan dengan Rain dan si Kembar yang menubruk tubuhnya.


"Kau luar biasa, Nona! Tadi kau menapaki angin, 'kan?" Chia bertanya antusias.


Rain ikut bertanya, "Sera, dari mana kau mempelajari tarian itu? Dan hei! Bagaimana rasanya menari di atas angin? Pasti hebat, 'kan?"


"Segel anginmu! Nona, kau berbakat! Bahkan sebelum mengetahui cara penggunaannya, kau bahkan bisa mengontrolnya! Apa rahasianya?!" Ini Fu yang berseru sambil menggoyang-goyangkan tubuh Seraphine.


"Uukh, kalian!" Seraphine berteriak kesal. "Menyingkirlah! Kalian menindihku, apa kalian pikir aku kuat menahannya?!"


Serempak, ketiganya bangkit sambil tertawa. "Maafkan kami. Hanya saja, yang kau lakukan luar biasa, Sera," sesal Rain mewakili.


Seraphine mengangguk-angguk. "Ya, ya. Itu luar biasa jika kalian tak menindihku tadi," sindirnya.


"Jadi? Kau belum menjawab pertanyaan kami," potong Chia.


Seraphine memainkan bunga yang tumbuh akibat tariannya tadi. Dia melirik teman-temannya yang memandangnya serius.


Tanpa sadar, Seraphine tertawa. "Kalian, jangan menatapku seperti itu. Aku hanya memenuhi permintaan Tuan Pedang yang ingin melihat--"


"Tunggu, siapa Tuan Pedang yang kau maksud?"


"Uuh, tentu saja jiwa yang ada di dalam pedang ini." Seraphine menatap pedang di tangannya.


"Aku tak tahu namanya, makanya kupanggil dia Tuan Pedang. Tuan Pedang hanya ingin menguji kekuatan segel anginku. Jika aku memenuhi syarat, maka ia akan menjadi pedangku," lanjut Seraphine, "Jika aku gagal, aku tak tahu, mungkin nyawaku akan melayang di tangannya."

__ADS_1


"Lalu, kapan kau mempelajari tarian itu, Sera?"


"Ah, aku belum pernah menceritakannya padamu, Rain. Tarian itu, juga lagu yang aku nyanyikan tadi adalah yang pertama kupelajari. Aku menyebutnya Tarian Jiwa," jelas Seraphine.


"Wow, kenapa kau menyebutnya seperti itu? Apa karena berhubungan dengan jiwa?" Fu bertanya.


Seraphine mengangguk. "Itu bisa memengaruhi setiap yang melihat tarian ini. Aku tak pernah menggunakannya karena dulu aku tak bisa mengendalikannya. Kekuatanku akan meluap begitu saja, yang kalian sebut menundukkan alam, dan itu akan membahayakanku."


"Tapi sekarang kau bisa menarikannya, Sera. Kutebak, karena segel angin, 'kan?"


"Itu benar. Kau mengerti juga, Rain."


"Oh, oh! Apa kau bisa menapaki angin karena kau memadukan kekuatanmu dengan segel angin?" cerocos Chia, masih dengan antusiasnya.


Seraphine memejamkan matanya. Dia sadar, saat menari tadi, tanda segel angin sudah terukir di lengan kanannya tempat gelangnya berada.


Seraphine membuka telapak tangan kanannya, menyebabkan embusan angin terkumpul. "Benar. Terima kasih, semua. Segel anginku sudah terbuka. Aku bisa mengontrolnya."


Seraphine menatap si Kembar. "Itu terjadi begitu saja. Aku hanya mengikuti perkataan hatiku. Dan untuk menapaki angin, sejujurnya aku tak ingat. Karena aku terlalu menikmati tarianku ... mungkin?"


Chia melongo, lantas tertawa sambil meninju pelan pundak Seraphine. "Kau sudah berubah, Nona. Aku suka gayamu," katanya.


"Tambahan, kau tak memerlukan kami sebagai guru lagi, 'kan?" Fu menyela, "Lihat, segel angin kan sudah dalam genggamanmu."


"Huh! Aku tetap membutuhkan kalian kok," cetus Seraphine sambil memajukan pedangnya, "Ajari aku berpedang, tapi aku tak janji bisa mengatasi ketakutanku membunuh makhluk hidup. Bagaimana?"


Si Kembar saling pandang, lantas tersenyum. "Kau pemimpinnya, Nona. Persiapkan diri untuk berlatih. Kalau berat, jangan salahkan kami, ya?"


Seraphine mengangguk mantap.


"Wah, wah, teganya tuanku mengabaikanku?"


Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi mereka. Seraphine tersentak, merasa bahwa dia kenal suara itu.


"Siapa kau?" Fu lebih dulu berdiri menatap laki-laki di belakang Seraphine. Matanya tajam mengawasi tiap gerak-geriknya.


"Hentikan, Fu. Dia Tuan Pedang," cegah Seraphine seraya berdiri.


"Senang sekali rasanya dikenali olehmu, si Gadis Angin," kata si Tuan Pedang. "Oh, apa aku harus memanggilmu Nona seperti kedua anak kecil itu?"


"A-anak kecil?!"


"Tenangkan diri kalian, Fu, Chia! Hei, Tuan Pedang, aku tak masalah dipanggil apa olehmu."


Seraphine harus menghalangi si Kembar yang tak terima disebut anak kecil. Dirasa cukup tenang, Seraphine kembali menatap si Tuan Pedang.


"Aku tak tahu kalau kau bisa berwujud seperti ini, Tuan Pedang. Bukankah hanya jiwa?"


Si Tuan Pedang mengendikkan bahu. "Kalau aku mau, aku akan berwujud seperti ini, tapi jangan memanggilku 'Tuan Pedang' lagi, itu bukan namaku," katanya.


"Aku tahu. Sebelum kau memberitahu kami namamu, izinkan aku mengatakan satu hal," balas Seraphine.


"Hoo, apa itu, Gadis Angin?"


Seraphine menempatkan dirinya di antara Rain dan si Kembar Gemini. Tersenyum, gadis itu mengulurkan tangannya.


"Selamat bergabung di kelompok kami, Tuan Pedang."

__ADS_1


Si Tuan Pedang mengacak-acak rambutnya sambil terkekeh. "Ck! Sudah kubilang, namaku bukan Tuan Pedang!"


To be continue ...


__ADS_2