
"Aah! Kenyangnya!" seru An puas. Gadis itu bangkit, lalu merenggangkan tubuhnya. "Terima kasih makanannya, Yien."
Si Gadis Pemburu itu masih asyik dengan daging rusa bakarnya. Dia hanya berdeham untuk menjawabnya.
An berbalik dan mengambil air di sungai. Jika Yien menyiapkan makanan, maka An akan menyiapkan minumannya.
Sebelum turun ke sungai, An mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, memperlihatkan celana selutut berwarna senada dengan gaunnya.
"Kau tak lelah mengangkat gaunmu itu? Kenapa tak memakai kekuatanmu?" tanya Yien yang memperhatikan gerak-gerik An.
An mendengus kesal. "Aku lelah! Tapi aku malas menggunakan kekuatanku. Tiap kali aku menggunakannya, tenagaku akan terkuras banyak, jadi akan kusimpan hingga kita sampai di istana Dewa Zeus," jelasnya sambil mengomel.
"Kita masih 7 hari sampai istana, apa kau tahan?" tanya Yien lagi, "Jika ada situasi antara hidup dan mati, apa kau tetap memakai gaun menyebalkan itu?"
An terlonjak, menolehkan kepalanya. Wajahnya pias. "Si-situasi apa yang kau maksud?"
Yien tertawa mengejek. "Aku tak akan membantumu jika kita terjebak di antara binatang buas. Apalagi jika kita dikepung oleh Kelompok Bintang Hitam di tengah jalan, An," sindirnya.
"Bi-Bi-Bintang Hitam? Hiii!" Refleks An mengeluarkan kipasnya.
Seketika tubuh An bersinar begitu sang empu kipas mengibaskan barangnya. Yien yang melihatnya spontan tertawa keras.
Beberapa detik ketika cahaya itu redup, tampak An dengan penampilan barunya. Tak ada gaun, tak ada sepatu hak, tak ada hiasan mewah. Hanya tampilan selayaknya pemburu dengan topi cokelatnya.
"Yien!" An tergesa menghampiri si Gadis Pemburu. "Kau keterlaluan! Beraninya ... be-beraninya kau menyebut nama kelompok mengerikan itu!" protesnya.
"Memangnya ada apa dengan Bintang Hitam?" Yien menggoda An.
An meremas kipasnya, memukul pundak Yien cukup kencang. "Kalau mereka benar-benar mengepung kita gimana? Aku masih sayang nyawa!"
Bintang Hitam, satu-satunya kelompok penjahat yang ada di dunia ini. Kelompok ini sudah ada sejak era Valkyrie sebelumnya. Anggotanya dianggap sebagai makhluk terbengis dan terkejam yang pernah ada.
Pernah suatu ketika, Bintang Hitam berhadapan dengan dewa-dewi. Dikabarkan pertarungan mereka hampir seimbang, membuat seluruh dunia takut pada mereka.
Anggota Bintang Hitam berasal dari berbagai kaum yang merasa haus akan kejahatan. Tiap kali ada yang bertemu dengan mereka, maka pembantaian akan terjadi.
Namun, keberadaan mereka hilang begitu Valkyrie sebelumnya meninggalkan dunia, seolah mereka ikut mendekam dalam kegelapan.
"Tenang saja, aku lebih dari cukup untuk menghadapi mereka," ujar Yien santai.
"Uuh, kau ini ... apa kekuatanmu sebenarnya? Kenapa kau terlihat sangat percaya diri?"
"Aku?" Yien menunjuk dirinya. "Ah, kekuatanku hanya sebatas mengendalikan dua elemen saja. Tidak lebih, tidak kurang," jawabnya.
Mata An melebar. "Dua kau bilang?! Itu sangat hebat! Satu saja serasa mustahil mengendalikannya! Wah, aku menemukan rekan terkuat nih!" seru An semangat.
"Rekan apanya? Kau kan cuma menumpang ikut denganku. Siapa ya yang tiba-tiba jatuh dari langit dengan tampilan ala orang hebat, tapi tak ada luka?" sindir Yien.
Ya. Hanya beberapa jam lalu keduanya bertemu. Saat itu masih pagi buta. Yien yang tertidur bersandar di pohon harus dikejutkan oleh teriakan An yang tiba-tiba jatuh dari langit.
Bahkan An dengan kurang ajarnya mendarat di perut Yien.
An mengusap tengkuknya. "Hehe, itu ... bukan rencanaku. Itu salah tuanku," kata An melemparkan cengirannya.
"Tuan? Kau pelayan?"
An menggeleng. "Bukan. Aku memanggilnya 'Tuan', tapi beliau lebih tepat dipanggil guruku. Mmm ... kau tahu Dewa Hades?"
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kau pagi buta tadi dibawa terbang oleh Dewa Hades, lalu dibuang begitu saja ke tempatku," terka Yien dengan tatapan menyelidik.
An menunduk. "Iya."
Yien tak habis pikir. Apa yang menyebabkan Dewa Hades yang tenang itu sampai tanpa pandang bulu melempar An dari langit?
"Tapi Tuan Hades bilang itu salahku!" An sontak meninju pohon di sebelahnya, membuat beberapa daun langsung berguguran.
"Kau tahu Yien." An menggenggam tangan Yien, meletakkannya di pipinya sendiri.
"Saat itu aku bertanya pada Tuan Hades, apakah aku terlihat cantik? Tapi bukannya menjawab, Tuan Hades malah berkata, 'Apa kau tak punya cermin di kamarmu? Aku menunggu hampir satu jam dan mendapati gadis yang bukan muridku.' Lalu dia melemparku begitu saja. Tuan Hades kejam, 'kan?" An mengadu pada Yien.
Yien tertawa dalam hati. Tentu saja Dewa Hades begitu. Kupikir kau penghibur jalanan tadi begitu melihat riasan tebalmu.
Namun, Yien berkata, "Entahlah. Aku kan tak tahu apa yang dipikirkan dewa-dewi. Atau mungkin Dewa Hades bosan padamu? Ah, aku jadi kasihan, mungkin Dewa Hades tak menganggapmu muridnya lagi," ledek Yien memanas-manasi.
Dahi An mengedut kesal. "Yien! Mana mungkin Tuan Hades seperti itu! Pasti beliau hanya mengujiku agar aku mandiri pergi ke istana Dewa Zeus! Hmph!"
An menyentak tangan Yien kasar, lantas kembali mengambil air di sungai yang sempat tertunda tadi.
Sedangkan Yien, gadis pemburu itu tak bisa menahan tawanya lagi. Walau baru sebentar bersama An, mereka sudah terasa dekat. Mungkin karena sifat Yien yang mudah bergaul.
--o0o--
"Apa kau siap, Sera?"
Sore itu, sesuai perkataan Rain, Seraphine akan dibuka segel elemen angin pada tubuhnya. Mereka kini sudah berpindah tempat dari hutan menuju padang rumput. Agar lebih leluasa, katanya si Kembar.
Selama perjalanan menuju padang rumput, Seraphine diminta terus bernyanyi tanpa menari. Walau begitu, Seraphine tetap menggerakkan tubuhnya dengan melompat-lompat kecil.
"Aku tak percaya sebelum melihatnya dari dekat, tapi sekarang aku percaya dengan kekuatan Seraphine," bisik Chia pada Fu yang berjalan di belakang Seraphine.
"Lihat, bunga ini tak rusak, hancur, ataupun layu. Bukankah itu hebat?" lanjut Fu.
Chia diam tanpa membalas sambil memperhatikan jalan penuh bunga yang dibuat oleh Seraphine.
Memang benar. Walau bunga-bunga ini diinjak, atau bahkan dihancurkan, ajaibnya penghancuran itu tak terjadi. Bunga yang tumbuh dari tanah yang dipijak Seraphine seolah memiliki penguat.
Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di padang rumput. Rain pun meminta Seraphine menghentikan nyanyiannya dan beristirahat sejenak.
"Aku penasaran dengan bunga-bunga ini," gumam Fu yang masih memegang bunga yang dipetiknya tadi.
Chia mengangguk. "Yang aku pikirkan, apa di bunga-bunga ini energi milik Seraphine mengalir?" tanyanya.
"Itu tak mungkin, Chia," balas Fu, "Kau pikir berapa banyak energi nona itu sampai bisa terus mengalirkan energi pada bunga?"
"Hm, benar juga."
"Dari tadi aku penasaran, apa yang kalian bicarakan, Fu, Chia?" Seraphine tiba-tiba menimpali. Gadis itu duduk di sebelah Chia.
"Eh? Kau sadar kami berbicara?"
"Tentu saja aku sadar. Aku kan memperhatikan sekitar juga," kata Seraphine tersenyum. Matanya tertuju pada tangan Fu. "Eh, apa itu bunga yang tumbuh karenaku, Fu?"
Fu menyerahkan bunga itu. "Aku memetiknya karena penasaran, Nona. Bagaimana bisa bunga ini tak hancur walau aku menggunakan kekuatanku?" tanyanya.
Seraphine mengambil bunganya. "Wajar jika ada yang penasaran. Rain saja begitu," tunjuknya pada Rain.
__ADS_1
"Lalu? Apa sebabnya?"
Sempat terdiam beberapa detik, Seraphine mengusap tengkuknya. "Maaf, aku juga tak tahu," katanya.
"Eh?!"
Seraphine menatap si Kembar Gemini dengan sendu. "Aku tak tahu. Tentu kalian ingat kalau aku sama sekali lupa pada masa kecilku. Ingatanku dimulai saat aku terbangun di hutan itu. Mungkin ... masa kecilku itulah kunci kekuatanku," jelas Seraphine.
"La-lalu, kenapa kau bisa tahu kalau kekuatanmu ada dalam nyanyian dan tarianmu?"
Seraphine mengangkat kedua bahunya. "Bukan aku yang tahu sendiri. Aku diberitahu." Seraphine kemudian memperlihatkan gelang manik pink dan batu ruby di tengahnya.
"Suara. Jika kalian perhatikan, itu yang tertulis di batu ruby ini," lanjut Seraphine.
Chia menyambar gelang Seraphine itu, menatapnya lekat. "Benar! Itu jelas tertulis di sini!"
Seraphine tersenyum mendengarnya. "Dari situ aku simpulkan kalau aku harus menyanyi," katanya.
Si Kembar Gemini menatap tak percaya pada gadis itu. Fu lalu bertanya cepat, "Lalu tarian? Bagaimana dengan kekuatan tarianmu?"
Seraphine menyentuh rambutnya yang selama ini terikat, lalu menguraikannya. Begitu Seraphine menyodorkan tangannya, seutas pita merah langsung disambar oleh Fu.
"Jangan bilang kalau ...."
"Benar." Seraphine mengangguk. "Tarian berasal dari pita itu. Sebenarnya tulisannya bukan tarian, melainkan gerakan."
"Tapi, bisa jadi suara mengartikan kau membaca mantra, atau mengendalikan sesuatu dengan menyebutkannya, atau--"
"Bukan seperti itu. Awalnya, aku berpikiran seperti itu, tapi begitu menggabungkan kedua kata, 'suara' dan 'gerakan', kupikir itu maksudnya. Dan benar saja, begitu aku mencoba keduanya, kekuatanku yang seperti ini muncul," potong Seraphine.
"...."
Tak bisa berkata-kata, si Kembar Gemini memilih untuk mengembalikan gelang dan pita merah itu. Seraphine tentu langsung memakai gelang dan mengikat rambutnya kembali dengan pita merah.
Seraphine bangkit dari duduknya sebelum berkata, "Kalau begitu, aku harus ke tempat Rain. Mau ikut?"
Keduanya kompak menggeleng. "Kami tunggu di sini saja. Jika segel anginmu sudah terbuka, kau bisa menemui kami di sini," cetus Fu.
"Baiklah."
Sepeninggal Seraphine, Fu kembali berbisik, "Menurutmu, siapa yang memberikan gelang dan pita itu pada Seraphine?"
Chia menggeleng. "Aku tak punya pikiran tentang orangnya. Apa orang tuanya? Mungkin keluarganya?"
"Chia, jika itu benar, apa alasan mereka meninggalkan gadis itu di hutan?"
"Agar dia ... kuat bertahan hidup sendiri?"
Fu memukul pundak kembarannya pelan. "Kuat apanya? Melihat serigala saja takut sampai gemetaran begitu, membunuh hewan juga tak pernah, dari mana Seraphine dikatakan kuat?"
Chia mengusap pundaknya yang dipukul Fu. "Mana aku tahu! Aku bukan keluarganya, juga bukan orang yang sudah beranak!"
"Huh! Begitu saja marah!"
Chia memelototi kembarannya. Yang dipelototi malah balik menatap tajam.
"KYAAA!"
__ADS_1
"Suara apa itu?!"
To be continue ...