The Valkyrie

The Valkyrie
... KENAPA?


__ADS_3

"Tuan, persiapan akhir sudah selesai," lapor seorang prajurit pada lelaki tampan yang duduk di sofanya.


"Begitu?" Lelaki itu pun bangkit, lantas berjalan melewati prajurit yang melapor tadi. "Kita berangkat sekarang! Menuju istana Dewa Zeus!"


"Baik, Tuan Garbera!"


Ya. Lelaki tampan itu adalah Libra Garbera. Siang itu, ia memutuskan untuk menghadiri ujian Valkyrie. Alasannya hanya satu, keberadaan Seraphine.


"Permisi, Tuan. Saya pakaikan mantel Anda," kata salah satu pelayan yang berdiri di pintu utama.


Garbera mengangguk dan berhenti sejenak. Setelah pelayan itu mengaitkan tali mantelnya, Garbera kembali berjalan menuju kereta kudanya.


"Sepertinya Tuan Garbera senang sekali," bisik pelayan yang memakaikan mantel tadi.


Pelayan di sebelahnya mengangguk. "Sejak hari di mana Tuan Garbera tiba-tiba menghilang, beliau selalu memasang senyuman. Bukankah itu mengerikan?"


Keduanya menatap punggung tegap majikan mereka, lantas merinding.


"Ehem!" Kepala pelayan berdeham, membuat kedua pelayan itu terlonjak. "Tidak sopan membicarakan Tuan Garbera saat beliau masih di depan mata kita. Nanti saja lanjutkan!"


Kedua pelayan itu melongo. Mereka berpikir, apa kepala pelayan juga membicarakan perilaku aneh majikan mereka?


"Buka gerbangnya!" Itu suara prajurit.


Gerbang kediaman sang Libra terbuka, lalu disusul oleh kereta kuda yang melesat cepat.


Seluruh pelayan dan prajurit yang tetap tinggal membungkuk hormat.


"Nah, sampai mana pembicaraan kalian tadi? Sekarang kita bebas membicarakan tuan."


Kepala pelayan sungguh tak terduga!


--o0o--


"Berapa semuanya, Bibi?"


"Hanya 3 Drachma, Nona."


Chia mengambil kepingan Drachma, lalu memberikannya pada penjual minuman berwadah itu.


Gadis kecil Gemini itu pun kembali ke tempat Rain berada. Ah, bukan hanya tempat Rain. Kini Yien juga ada di sana.


"Rain, Yien! Maaf lama menunggu!" seru Chia begitu ia sampai di tempat keduanya duduk.


Baik Rain maupun Yien, keduanya tetap menunduk tanpa memedulikan kedatangan Chia.


Chia menghela napas lelah. "Mau sampai kapan kalian diam seperti ini? Bukankah kalian seharusnya bahagia karena dipertemukan kembali?" kesalnya.


Rain takut-takut mengangkat kepalanya. "Ha-Hai ... Yien?"


Pletak!


"Aduh! Apa masalahmu, Chia?! Kenapa aku dijitak?! Jarimu itu besar tahu!" protes makhluk kecil itu.


Chia memajukan wajahnya. "Aku yang harus bertanya. Ada apa dengan nada tanya itu? Tak percaya kalau di depanmu ini ada Yien?" balas Chia sengit.

__ADS_1


"Bukan tak percaya, tapi--"


"Maafkan aku, Rain!"


Ucapan Rain terhenti mendengarnya. Dia menatap Yien yang kini menundukkan kepalanya lebih dalam.


"Aku tak seharusnya menghilang seperti itu, jadi kau tak akan mencariku! Maafkan aku! Aku hanya terlalu sedih karena saudariku meninggal!" kata Yien lagi.


Mendengarnya membuat Rain menghela napas. "Jangan tundukkan kepalamu, Yien. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tak bisa menjagamu dengan baik. Padahal Yang Mulia Valkyrie sebelumnya sudah menitipkanmu padaku," balas Rain tersenyum getir.


Yien mengangkat kepalanya. "Tidak! Ini salahku! Aku begitu lama memendam kesedihan sampai tak memikirkanmu, Rain! Setahun yang lalu, saat aku kembali, yang kutemukan hanya perkamen usang berisikan tulisanmu. Karena itulah aku mencarimu, Rain!" jelas gadis pemburu itu.


Rain mengingat perkamen usang yang dikatakan Yien itu. Isinya adalah kata-kata Rain yang hendak mencari Yien. Namun, Yien yang tiba-tiba kembali membuatnya sedih. Bagaimana dengan nasib Seraphine nantinya jika Rain juga kembali bersama Yien?


"Rain, kumohon ... kembalilah bersamaku ...."


Rain memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat kesedihan di wajah Yien. "Ma-Maaf, Yien. Aku tak bisa," cicitnya.


Yien terperangah. "Kenapa tak bisa? Apa ada hal yang menahanmu?"


"Tidak." Rain menatap Chia, lalu Yien yang juga menatapnya. Jarinya menunjuk Chia. "Aku ... menemukan tempat baruku, Yien. Bersama dia dan tiga orang lainnya."


"... apa?"


"Maafkan aku, Yien. Aku tak bisa bersamamu lagi. Aku akan membimbing kandidat pilihanku menuju ujian Valkyrie," lanjut Rain sambil bangkit dan berbalik.


Yien menggigit bibir bawahnya pelan, juga mengepalkan tangan. "Tak bisakah kau memilihku? Aku muridmu, 'kan?! Tak ada larangan jika aku ingin mengikuti ujian itu, Rain!" bentak Yien.


Rain berbalik cepat, ikut membentak, "Yien, jangan paksa aku! Kau pikir aku tak keberatan meninggalkanmu, hah?! Kau teman pertamaku, murid pertamaku, tak mungkin aku rela begitu saja menolakmu!"


Mata Yien terbelalak menyaksikan Rain yang menangis. "Ra-Rain ...."


"Ada pertengkaran?"


"Sepertinya begitu. Lihat gadis berambut panjang itu, dia menangis sambil menutup mulutnya."


"Apa gadis kecil berbaju putih itu yang bertengkar dengannya?"


"Hei, lihat! Di balik gadis kecil itu, ada Sylph bersayap biru!"


"Apa? Sayap biru?! Tangan kanan Valkyrie! Aku mau lihat!"


Chia terpaksa mengeluarkan tongkatnya, lalu menggunakan angin untuk menahan mereka yang ingin merangsek maju.


"Kalian! Cepat selesaikan ini!" seru Chia.


Yien sadar bahwa dirinya dan Rain menjadi pusat perhatian. Ditatapnya Rain yang kembali terduduk sambil menangis.


"Rain, kau benar-benar tak bisa kembali?"


Rain menggeleng keras. "Ta-tak bisa ... hiks .... Sera membutuhkanku, Yien ... maaf ...," isak Rain.


Yien menghela napas. Dadanya terasa ditusuki ribuan pisau. Sahabat baiknya, gurunya, kini tak bisa bersamanya.


"Rain! Aku tak bisa menahan lebih lama lagi!" jerit Chia begitu ada yang bisa melangkah lebih jauh.

__ADS_1


Rain mengusap air matanya, lalu mengepakkan sayapnya menuju wajah Yien.


Tepat di depan wajah Yien, ia berkata, "Aku memang tak bisa bersamamu, Yien, karena aku sudah memilih orang lain. Namanya Seraphine. Kekuatannya terletak pada tarian dan nyanyiannya. Beberapa hari lalu, dia sudah berhasil menguasai satu segel elemen. Yien ...."


Rain tersenyum. "Jika kau bisa menjadi Valkyrie dengan usahamu sendiri, aku siap melayanimu. Kejarlah Seraphine. Dia begitu banyak memiliki guru. Aku, Tuan Mil, gadis kecil di sana, dan kembarannya. Apa kau menyanggupinya?"


Yien menatap kosong begitu Rain menceritakan Seraphine.


Rain mengangguk maklum. "Apa pun jawabanmu, aku mendukungnya. Yien, sampai bertemu di tempat ujian, ya?"


Yien menggeleng-gelengkan kepalanya. "... kenapa?"


"Ya?"


"Kenapa kau memilih gadis itu?"


Rain kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. "Seraphine itu terlalu lembut, Yien. Tak sepertimu, dia bahkan tak berani membunuh hewan, kau tahu!"


"...."


Rain menunduk singkat. "Sudah dulu, oke? Aku ... harus kembali."


Sedetik kemudian, Rain terbang cepat menuju Chia. Makhluk kecil itu mengeluarkan kekuatan anginnya melingkupi Chia dan dirinya.


Wuuush!


Tubuh Chia terangkat ke udara. Rain memegang Chia, lalu terbang menuju padang rumput tempat mereka singgah.


"Kau sudah selesai?!" Chia berteriak mengalahkan angin.


"Tentu! Aku sudah putuskan, Chia!"


"Apa?!"


Rain menyengir lebar. "Seraphine harus tahu tentangku dengan Yien!"


--o0o--


"Ah, itu dia! Yien!" Suara perempuan memanggil Yien yang masih menatap langit. Siapa lagi kalau bukan An.


"Yien, maafkan aku. Aku sudah menemukan kipasku di tempat wanita penjual daging itu. Kau ingat? Saat pertama kali kita di kota ini."


An menoleh, lalu tersadar dengan air mata yang mengaliri pipi Yien. "Yien? Kau kenapa?"


Yien spontan memeluk An. "Aku hanya mengingat sesuatu yang menyedihkan, An. Syukurlah kalau kipasmu sudah ketemu," lirihnya.


An memiringkan kepalanya, merasa aneh dengan sikap Yien. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Yien menggeleng lemah. "Tak ada. Aku serius. Aku hanya mengingat hal menyedihkan."


Menghela napas, An menepuk-nepuk punggung Yien, lalu menundukkan wajahnya. "Baiklah. Aku kalah. Menangislah sepuasmu, Yien. Tak akan ada yang melihat," bisik An.


Saat itu siang hari. Yien yang terkenal dengan sebutannya sebagai saudari Valkyrie sebelumnya, kini menumpahkan tangisannya di pelukan An.


Saat itu siang hari. Untuk pertama kalinya, Seraphine mendapatkan berita mengejutkan dari Rain.

__ADS_1


Saat itu siang hari. 10 hari menuju ujian Valkyrie.


To be continue ...


__ADS_2