The Valkyrie

The Valkyrie
RAPAT DADAKAN


__ADS_3

Pagi datang dengan cepat. Langit biru nan cerah itu memayungi perjalanan seorang gadis dengan pakaian layaknya petarung itu.


"Ukh, padahal aku belum membunuh seorang pun, kenapa master menyuruhku kembali?" Gadis yang menyampirkan busur panah di pundaknya itu menggerutu.


Ingatan gadis itu melayang pada kejadian saat dia mengintai dari atas pohon. "Bocah sialan itu ... pintar sekali dia menghindar dari panahku! Huh! Siapa katanya? Gemini?! Cih! Seandainya master tak menyuruhku kembali, sudah kubunuh dia!"


Langkah gadis terhenti sejenak begitu melihat sebuah istana dengan nuansa elegan di depan sana. Pada gerbangnya, terdapat tulisan 'Aphrodite' yang diukir emas.


"Nona Asha telah kembali! Nona Asha telah kembali!"


Itu suara prajurit yang menjaga gerbang istana. Begitu melihat gadis itu, para prajurit penjaga gerbang menegakkan tubuhnya serempak.


Asha si Gadis Ajaib, itulah julukannya di seantero wilayah kekuasaan Aphrodite sang Dewi Cinta. Dikatakan Gadis Ajaib karena Aphrodite sendiri yang membawanya ke istana untuk dijadikan murid.


Para dewa-dewi tak sembarangan dalam memilih murid karena merekalah yang akan menerima sebagian kekuatan dewa-dewi. Apalagi Aphrodite yang memiliki kekuatan menerawang, dewi satu ini harus menemukan orang tepat untuk mewariskan kekuatannya.


Namun, tak ada yang mengetahui identitas asli Asha sebagai mata-mata dari Bintang Hitam, bahkan sang Dewi Cinta pun berhasil dikelabuinya.


"Nona Asha, apa yang Anda bawa dari perburuan?"


"Pasti sesuatu yang besar, 'kan, Nona?"


Asha tak menggubris pertanyaan pelayan itu, terus melangkah. Orang-orang istana tak ada yang tahu kebenarannya. Gadis itu keluar istana dengan alasan berburu, padahal dia dipanggil oleh pemimpin Bintang Hitam.


"Asha, kaukah itu?"


Suara lembut itu membuat semua pelayan dan prajurit menunduk, termasuk Asha. Di sana, di depan pintu yang paling besar berwarna emas itu, berdirilah seorang wanita berparas rupawan.


Dialah Aphrodite sang Dewi Cinta.


"Dewi, saya kembali," kata Asha, masih menunduk.


"Katanya kau berburu, lantas di mana hasil buruanmu itu? Aku tak melihatnya di mana pun," tanya Aphrodite sambil melihat mawar merah yang melayang di atas tangannya.


Asha menatap dewi itu. "Maafkan saya, Dewi. Tak ada buruan yang berhasil saya bawa pulang."


"Ooh? Kenapa?"


"Saya bertemu dengan kelompok Bintang Hitam. Mereka mengambil paksa buruan saya," jawab Asha berbohong.


"Begitu?" Aphrodite menatap Asha lekat, tak menemukan luka di mana pun.


"Yang lebih penting, Dewi, hendak ke manakah Anda? Penampilan Anda sudah siap untuk bepergian," tanya Asha sambil menatap pakaian Aphrodite yang rapi.


Aphrodite menyelipkan mawarnya ke telinga. "Zeus memanggil kami ke istananya. Itu terkait Bintang Hitam yang kau temui, Asha. Mereka mulai bergerak, otomatis kami akan menyusun rencana."


Asha mengangguk, paham tentang 'kami' yang dimaksud. "Kalau begitu, saya akan menemani perjalanan Anda."


"Tidak perlu." Aphrodite menggeleng sambil berjalan melewati Asha. "Kau baru kembali, Asha. Istirahatlah. Aku akan baik-baik saja dengan prajuritku," tolaknya.


"Saya mengerti. Mohon Anda menjaga diri Anda selama saya tak dapat mendampingi," sahut Asha sambil menunduk dalam.


Aphrodite hanya melirik sekilas sambil terus melangkah menuju kereta kuda yang sudah menunggunya.


Asha, aku kecewa padamu. Dugaan Athena benar, kau mata-mata dari Bintang Hitam. Tak mungkin kau tak terluka saat bertemu dengan mereka. Maafkan aku, aku harus menjauhkanmu dari pihakku.


"Berangkat sekarang."

__ADS_1


"Baik, Dewi!"


--o0o--


"Sudah aku katakan, 'kan?! Aku terpaksa membantu mereka! Lawannya Bintang Hitam, Zeus! Bintang Hitam yang selalu menyusahkan kita!"


Artemis menggebrak meja besar yang sudah diisi beberapa dewa-dewi itu. Emosinya meledak begitu Zeus menyalahkan dirinya karena membantu kelompok Seraphine.


"Tenangkan dirimu, Artemis. Kita sedang dalam rapat. Lihat, kau membuat pelayan ketakutan," tegur Athena sambil melirik pelayan yang ada di ruangan itu.


Artemis mengepalkan tangannya, mencoba mengatur emosinya. "Aku tak habis pikir karenamu, Zeus. Dari mana kau mengambil kesimpulan kalau tindakanku bersalah?"


Zeus menyesap anggurnya, lalu menjawab santai, "Sudah tertulis dalam aturan kita, 'kan? Kita tak boleh mencampuri urusan rakyat. Seharusnya kau hanya mengawasi mereka. Bukankah kau sendiri yang berkata kalau Sylph bersayap biru ada di sana?"


"Aku tak mengerti maksudmu, Zeus. Menurutku, tindakan Artemis sudah tepat, juga Apollo yang sekarang menyegel dirinya bersama Haku," timpal Hades.


Poseidon ikut mengangguk. "Bintang Hitam tak bisa kita remehkan. Walau di sana ada Sylph bersayap biru, tentu kekuatannya tak sebanding dengan mereka," sahutnya menambahkan.


Zeus melipat tangannya di depan dada. "Lalu, bukankah kelompok itu memiliki si Kembar Gemini? Juga jiwa yang bisa mewujudkan dirinya."


"Zeus benar. Gadis pilihan Sylph bersayap biru itu memiliki anggota kelompok yang kuat. Tak mungkin mereka kalah semudah itu, Artemis," sahut Hera yang baru saja duduk di tempatnya.


Artemis berdecak kesal. "Kalian hanya tak tahu kekuatan Bintang Hitam yang sekarang. Aku yang seorang dewi pun tak bisa mengelak dari racun mereka," desisnya.


Ares tertawa mengejek. "Hei, bukankah itu karena dirimu yang sudah karatan, Artemis?"


"Ares! Jaga ucapanmu!" tegur Athena, "Kita di sini bukan untuk saling merendahkan!"


"Hoo ... kalau begitu, bagaimana menurutmu, Athena? Otakmu itu kau gunakan untuk memikirkan apa sekarang?" sindir Ares menyeringai.


Kerutan kesal muncul di dahi Athena. "Aku tak bisa menilai dari sisi Artemis saja, kita harus menunggu Aphrodite. Dia bisa memperlihatkan pertarungan kemarin," katanya.


"Aku setuju. Apa aku menempa saja, Zeus?" Hephaestus yang memakan hidangan di meja bertanya.


"Kau jarang menghadiri rapat kita, Hepha. Duduk dan berpikirlah di tempatmu," ujar Zeus, kembali menyesap anggurnya.


Tap! Tap! Tap!


Langkah kaki yang mendekat ke ruang pertemuan itu mengalihkan perhatian mereka. Begitu pintu terbuka, Zeus dan Artemis serempak menghela napas.


Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.


"Maafkan kedatanganku yang terlambat. Ah, rupanya aku yang terakhir, ya," sapa Aphrodite sambil berjalan ke tempat duduknya.


"Langsung saja, Aphrodite. Bisa perlihatkan pada kami terkait pertarungan kemarin?" sahut Athena.


Aphrodite mengangguk, lalu mengambil mawar yang tadi diselipkan di telinganya. Bibirnya meniup mawar itu pelan. Seberkas cahaya keunguan memenuhi meja besar di ruang pertemuan itu.


"Aku sudah melihatnya sekilas saat perjalanan tadi. Ini dia pertarungannya," kata Aphrodite sambil menjentikkan jarinya.


Bagai tayangan film, pertarungan antar kelompok Seraphine, Artemis, dan Apollo dengan Bintang Hitam diperlihatkan. Mulai dari diserangnya Fu hingga penyelamatan Seraphine yang hendak bunuh diri.


Diperlihatkan pula saat Apollo bertarung dengan Haku. Pada pertengahan pertarungan mereka, ada dua orang yang tiba-tiba membantunya, seorang laki-laki dan seorang gadis.


"Siapa mereka?" Hermes menunjuk dua orang itu.


Artemis menjawab, "Aku mengenal yang laki-laki dari Mil, salah satu temannya Seraphine. Namanya Viro, jiwa yang dapat mewujudkan dirinya. Keberadaannya saat ini tidak diketahui."

__ADS_1


Zeus mengerutkan dahi. "Tidak diketahui?"


"Benar. Begitu Apollo tiba-tiba menarik sang pemimpin ke dimensinya, Viro juga menghilang entah ke mana," lanjut Artemis.


"Lalu, yang satu lagi?"


Artemis hanya menggeleng pertanda tidak tahu.


"Hei, bukankah wajah gadis itu familier?" Hades memicingkan matanya. "Aku merasa seperti mengenalnya," tambahnya.


Athena melirik Aphrodite. "Dia salah satu kandidat pilihan dewa-dewi. Benar begitu, 'kan, Aphrodite?"


Aphrodite mengetuk mawarnya sekali, membuat sinar keunguan itu menampilkan profil salah satu kandidat.


"Asha .... Kenapa anggota Bintang Hitam bisa menjadi kandidat Valkyrie?" protes Ares.


Hephaestus ikut melirik Aphrodite. "Apalagi dia salah satu yang dipilih dewa-dewi. Aphrodite, apa penjelasanmu? Gadis itu muridmu, 'kan?"


Semua pasang mata menatap Dewi Cinta itu. Aphrodite menghela napas.


"Aku juga baru mengetahuinya. Kupikir dia hanya gadis biasa, tapi begitu Athena mengatakan kecurigaannya saat bertemu Asha pertama kali, aku mulai menyelidikinya. Identitasnya sebagai mata-mata Bintang Hitam pun aku ketahui sebelum berangkat ke sini," jelas Aphrodite.


Zeus mengurut dahinya. "Bagaimana mungkin Bintang Hitam bisa menyusupkan mata-mata sampai seperti ini?"


"Sudah aku katakan, Zeus. Bintang Hitam kali ini sangat berbeda. Mereka penuh perhitungan, kekuatan mereka juga bertambah," sahut Artemis.


Poseidon menghela napas lelah sambil berkata, "Kalau anggotanya saja seperti ini, bagaimana dengan pemimpinnya? Apa Apollo akan baik-baik saja?"


Zeus menumpukan dagunya dengan tangan. "Aku lebih mengkhawatirkan ujian Valkyrie kali ini. Bintang Hitam sudah bergerak, bahkan salah satu anggotanya adalah murid Aphrodite. Keamanan kandidat lain harus diperketat. Lalu--"


BRAK!


Pintu ruang pertemuan tiba-tiba terbanting keras, mengagetkan para dewa-dewi yang sedang dilanda kecemasan itu.


"Selamat pagi, para dewa-dewi! Oh, seharusnya ini sudah siang, ya? Haha, itu tak penting." Seorang gadis tiba-tiba masuk dengan prajurit yang menahan kedua pundaknya.


"Hei! Dasar tidak tahu sopan santun! Tunjukkan hormatmu pada dewa-dewi!" pekik prajurit itu.


Di belakang mereka, ada lagi seorang gadis yang menarik-narik rambut temannya. "Aduh, kubilang juga apa! Tunggu sampai mereka selesai!"


"Aku bosan menunggu!"


Para dewa-dewi terbengong menyaksikan adegan tarik-menarik itu. Ares yang lebih dulu tersadar langsung menghunus pedangnya.


"Siapa kau?! Beraninya mengganggu rapat kami!" seru Ares galak.


"Huh, apa Anda tak mengenaliku, Dewa Ares? Aku--"


"Turunkan pedangmu, Ares." Zeus tiba-tiba bersuara, lantas menghampiri gadis itu.


"Hei! Siapa gadis ini, Zeus?! Kau mengenalnya?!" Ares kembali berseru dengan emosinya.


Zeus tertawa pelan. "Kita mengenalnya, Ares. Sangat mengenalnya. Beberapa tahun telah berlalu, aku tak menyangka akan bertemu dengannya seperti ini. Kupikir gadis ini sudah pergi untuk selamanya, tapi ternyata sesehat ini."


Zeus menghentikan langkahnya di depan gadis yang mengulas senyum itu. Sang Dewa Petir ikut tersenyum, lantas menunduk sekilas.


"Tak kusangka kita bertemu di tempat seperti ini. Bukan begitu, Nona Yien?"

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2