The Valkyrie

The Valkyrie
KETEGANGAN MELANDA


__ADS_3

Pagi menjelang. Matahari terlihat malu-malu keluar dari ufuk timur. Udara pagi terasa sejuk, membuat perasaan resah Fu sedikit terobati.


Fu meregangkan badannya sambil menonton matahari terbit. Tak jauh darinya, ada Dahlia yang sibuk dengan teh paginya.


"Bagaimana? Perasaanmu sedikit lega, 'kan?" tanya Dahlia seraya menyeruput tehnya.


Fu mengangguk sebelum ikut duduk bersama Dahlia. "Kau benar. Jika aku lebih lama di dalam sana, dadaku terasa sesak. Mungkin karena Seraphine belum sadar," katanya.


Dahlia menatap langit gelap yang perlahan berubah menjadi terang. "Tinggal berapa hari menuju ujian Valkyrie, Fu? Jika hari ini Seraphine tak kunjung sadar, kita terpaksa tak mengikutkannya dalam ujian," ucap Dahlia.


Fu menghitung jari. "Kurasa tinggal 7 hari lagi. Hari ini hari terakhir dia bisa menaklukkan rasa takutnya. Lebih dari itu, latihannya dengan kami akan berjalan seperti biasa," jawab Fu sambil mengambil cangkir tehnya yang baru datang.


Fu menyeruput teh paginya pelan, menikmati rasa hangat yang mengalir dalam tubuhnya.


"Kau benar-benar harus istirahat, Fu. Penampilanmu terlihat kacau karena sedikit tidur selama menjaga Seraphine," usul Dahlia.


Fu menggeleng. "Aku tak bisa tidur sebelum Seraphine terbangun. Menikmati pagi bersamamu sekarang ini hanya sesaat. Setelahnya, aku akan kembali berjaga di sampingnya," tolaknya.


Dahlia mengembuskan napas, terkekeh pelan. "Tak kusangka kau sangat perhatian padanya. Walau dia yang membangunkanmu dan Chia, tapi jika dia bukan Valkyrie selanjutnya, apa kau sanggup meninggalkannya?"


Mendengar pertanyaan gurunya itu, Fu mengusap wajahnya pias. "Itu yang aku takutkan, Dahlia. Tujuan awalku dan Chia hanya mengawasinya dari jauh, atau menjahilinya bila perlu. Namun, dia terasa berbeda. Aku nyaman di dekatnya. Rasanya selalu ingin melindunginya. Entah itu karena sifatnya atau kelakuannya."


"Susah juga kalau begitu. Tak mungkin kau sanggup meninggalkannya, tapi sangat tak mungkin kau berpaling dari sisi Yang Mulia Valkyrie," ujar Dahlia, kembali menyeruput tehnya.


Fu tertawa kaku seraya mengusap tengkuknya pelan. Dalam hati, dia benar-benar berharap kalau Seraphine-lah yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya. Jika itu terjadi, dirinya pasti tak akan kebingungan seperti ini.


"Nona, sarapan sudah siap." Pelayan Dahlia tiba-tiba menginterupsi.


Dahlia menatap cangkir tehnya yang kosong. "Baiklah, aku akan ke sana. Tehku sudah habis," sahutnya sambil berdiri, "Fu, ayo sarapan. Kau pasti tak memasukkan asupan dengan benar ke tubuhmu sejak kemarin."


Fu berdeham mengiyakan. Setelah meminum habis teh miliknya, kembarannya Chia itu bangkit, lantas mengikuti langkah Dahlia.


Namun, begitu keduanya baru bersiap untuk menyantap makanan, seorang pelayan datang tergesa-gesa.


"No-Nona! Nona!" Pelayan itu menunduk dengan napas terengah.


Fu dan Dahlia kompak menoleh. "Ada apa? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Dahlia.


"I-Itu ... Nona Seraphine ...." Tubuh pelayan itu bergetar.


Mendengar Seraphine disebut-sebut, Fu langsung berlari menuju kamar tamu tempat Seraphine terbaring. Dahlia menyusul tak jauh di belakangnya.


Pagi hari, tapi kerusuhan sudah terjadi di kediaman Aquarius Dahlia itu.


"Nona! Kau baik-baik saja?!" seru Fu begitu membuka kasar pintu kamar.


DEG!


"Nona ...?"


"Hiks ... hiks ... jangan tinggalkan aku lagi .... Fu, Rain ... keluarkan aku dari tempat ini ...."


Di sana, di ranjang tempat Seraphine terduduk itu, gadis berambut cokelat itu tersedu sedan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.


"He-Hei! Ada apa, Nona?!" Fu menghampiri dengan panik, hendak menggenggam tangan Seraphine.


"Tidak ... jangan lakukan itu lagi! Hentikan tindakan kejammu itu! Kumohon, jangan sakiti anak ini lagi!" Seraphine menjerit begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit Fu.


Fu tersentak bukan main. Apa yang terjadi? Kenapa Seraphine bisa seperti ini? Jangan-jangan, memori kelamnya ....


"Menepilah, Fu. Biar aku periksa," perintah Dahlia yang mulai mengalirkan kekuatannya melalui buku.


Fu melangkah mundur teratur. Dirinya masih tak percaya akibat tolakan Seraphine. Matanya menatap sendu pada wajah Seraphine yang pucat pasi.


"Sepertinya Seraphine melihat sendiri kilas balik memorinya. Aku yakin ... itu hal yang buruk karena membuatnya sampai seperti ini," kata Dahlia. Wanita berambut biru itu menggunakan kekuatannya untuk menidurkan Seraphine.

__ADS_1


"La-Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


Dahlia mengembuskan napas lelah. "Tak ada. Hanya dia dan orang terdekatnya yang bisa mengatasinya. Fu, yang terdekat dengan Seraphine adalah Sylph itu, 'kan?"


Fu mengangguk. "Iya, Rain yang paling lama bersamanya. Apa kita akan membawanya ke tempat Rain?"


"Harus! Jika lebih lama dalam kondisi seperti ini, bukan mentalnya saja yang rusak, tapi juga fisiknya. Pelayan! Siapkan kereta kuda sekarang!"


"Tidak perlu!" Fu mencegah sambil mendekat ke ranjang. "Aku yang akan menggendongnya! Ini lebih cepat daripada menunggu kereta kudamu siap!"


"Baiklah. Aku akan ikut bersamamu!"


Dibantu Dahlia, Fu memosisikan Seraphine yang tertidur di punggungnya. Walau tubuhnya seperti anak kecil, tapi kekuatannya layaknya orang dewasa. Jika ditambah elemen angin, maka menggendong Seraphine akan lebih mudah.


"Cepat! Gunakan kecepatan penuhmu, Fu!"


Wuuush!


Keduanya sama-sama mengeluarkan elemen angin, lalu melesat meninggalkan kediaman Aquarius Dahlia.


Fu melirik wajah pucat Seraphine. "Bertahanlah sebentar lagi, Nona!"


--o0o--


Sementara itu, di tempat Rain, Mil, dan Chia ...


"Ini sarapanmu. Makan yang banyak, Chia. Kau butuh asupan energi."


Chia yang tersadar begitu matahari terbit itu mengangguk sambil menerima makanan dari Rain. Tangannya yang sebelah merapatkan mantel putihnya karena udara pagi masih terbilang dingin.


"Huh, kau lama sekali sadar, Chia!" sindir Mil sambil menyuapkan makanannya. "Tega sekali kau membuatku berpikir kalau kau tak akan bangun."


Chia tertawa pelan. "Itu bukan salahku, 'kan? Luka ini yang membuat pemulihanku lambat, Mil."


Mil dan Chia berdeham, melanjutkan makan dalam diam. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan sarapan mereka.


"Jadi, ke mana Seraphine dan kembaranku itu, Rain?" tanya Chia setelah meneguk minumannya.


"Ke tempat guru kalian, Chia. Sera menganggap dirinya lemah karena selalu dilindungi. Dia tak mau ada yang terluka lagi di antara kita. Karena itulah, dia sangat berkeinginan lebih kuat lagi," jawab makhluk kecil bersayap itu.


Mil menimpali, "Bocah Fu itu yang menyarankan. Untuk menjadi kuat, Seraphine harus menaklukkan ketakutannya dulu. Aku berjanji akan memberinya latihan lebih keras jika berhasil, tapi waktu yang kuberi hanya dua hari. Ujian sudah di depan mata, kita tak punya waktu lagi."


"Jadi begitu .... Lalu, ini hari ke berapa?"


"Hari kedua. Begitu hari berganti tanpa perkembangan berarti pada Seraphine, aku terpaksa akan melatihnya seperti biasa," jawab Mil.


Chia terkekeh pelan. "Kuharap dia berhasil. Dahlia itu sulit ditebak, kadang tegas, terkadang lembut."


Rain saling pandang dengan Mil.


"Sebenarnya, Chia ... kami mengkhawatirkan kondisi mereka, terutama Sera. Kemarin, Mil merasakan firasat buruk. Tubuhnya panas dingin dan kesakitan. Katanya, yang bisa membuatnya seperti itu hanya jika Sera dalam bahaya," tutur Rain pelan.


Chia mengusap dagunya pelan. "Tenang saja. Kalau kalian mau, sekarang juga aku bisa merasakan suasana hati Fu. Ingin mencobanya?" tawarnya.


Mata Mil dan Rain berbinar.


"Ah, coba kau sadar dari kemarin, aku tak akan menjalani hari dengan khawatir seperti ini! Cepat rasakan emosi Bocah Fu itu!" omel Mil.


"Hahaha, kalau begitu maafkan aku." Chia meletakkan sebelah tangannya di dada, lalu memejamkan mata.


"Bagaimana?"


"Hm ... ada rasa takut? Fu juga sepertinya merasa khawatir," gumam Chia, membuat Mil sontak berdiri.


"Apa yang kau katakan?! Kita harus menyusul mereka, Rain! Pasti terjadi sesuatu!" seru si Tuan Pedang itu.

__ADS_1


DEG!


"Tunggu!" Chia membuka matanya cepat. Mendadak keringat dinginnya keluar. Napasnya pun terengah-engah.


"Chia?"


Chia menahan tangan Mil kuat. "Tunggu, jangan menyusul mereka, Mil! Fu dalam perjalanan ke sini. Lalu ... lalu, dia bersama Dahlia!"


"Apa? Bagaimana dengan Seraphine?!"


"Itu dia yang membuatku kaget! Seraphine ada di gendongan Fu, sedang tak sadarkan diri. Aura sekitarnya menggelap, tapi aku tak tahu itu apa!" Chia bangkit perlahan dari duduknya.


Si Gadis Gemini itu bertumpu pada bahu Mil. "Bisakah kita mendekat ke arah mereka? Walau mereka berada dalam kecepatan penuh, lebih baik kita juga mendekat. Kurasa Seraphine dalam kondisi buruk."


Tanpa basa-basi, Mil menggendong Chia sambil mengikuti arahannya. Namun, belum jauh berlari, Fu dan Dahlia mulai terlihat.


"Fu! Cepat!" seru Chia.


"Rain! Di mana Rain?!" Fu balas berteriak. Langkahnya semakin cepat tanpa memedulikan napasnya yang pendek-pendek.


Di sebelahnya ada Dahlia yang melompat, mendarat di sebelah Mil. "Tak ada waktu menjelaskan. Di mana Sylph itu?! Seraphine dalam bahaya!"


Begitu dirinya dipanggil-panggil, Rain terbang ke tempat Fu membaringkan Seraphine. Makhluk kecil bersayap itu terperanjat melihatnya.


"... Apa-apaan ini?" Emosi Mil yang sudah menurunkan Chia seketika meningkat. "Apa yang terjadi padanya, hei Bocah Fu?!"


"Seraphine terkena dampak dari mengingat masa kecilnya. Dia tak sadarkan diri sejak kemarin, tapi sempat bangun sebelum perjalanan kemari!" Fu menjelaskan cepat.


Rahang Mil mengeras. "Dan saat itu, di mana kau, hah?! Selama aku tak ada, aku percaya kau bisa menjaga tuanku! Tapi apa yang kudapat?! Kau!"


Dahlia menahan tangan Mil yang hendak meninju Fu. "Tahan emosimu dulu. Kita harus mengutamakan Seraphine," desisnya sambil menatap ke arah Rain yang mengusap pelan pipi Seraphine.


"Cih!" Mil menyentak tangannya dari genggaman Dahlia. Pandangannya juga tertuju pada Rain.


"Sera ...." Rain merasa sesak. Kenapa sahabatnya bisa seperti ini? Seraphine terlihat sangat kesakitan.


"Bagaimana, Rain? Dahlia berkata kalau hanya orang terdekatnya yang bisa menyelamatkannya," tanya Fu sambil berlutut di sebelah Seraphine.


Rain menatap Fu, lalu Dahlia yang juga menatapnya. Sylph itu mengangguk mengerti maksud tatapan Dahlia.


"Akan kucoba, Fu. Sekarang, aku akan masuk ke memori Sera, membantunya di dalam sana. Selama aku pergi, bisakah kalian menyalurkan energi kalian pada kami?" jawab Rain sambil menatap satu per satu yang di sana.


"Baiklah. Kami mengerti." Dahlia yang pertama menyahut, disusul anggukan yang lain.


Rain kembali mengangguk, lantas memejamkan mata, bersiap memasuki ingatan Seraphine.


Sedetik kemudian, sinar biru menyelimuti tubuh Rain dan Seraphine. Detik berikutnya, tubuh Rain yang melayang terjatuh. Fu menangkapnya, meletakkannya di sebelah Seraphine.


"Kalau begitu, kita mulai menyalurkan energi pada mereka. Chia, wajahmu masih pucat. Kalau tidak kuat, segera hentikan," intruksi Dahlia.


Chia mengangguk. "Aku tahu batasanku, Dahlia."


Chia dan Mil mengambil posisi berlutut di sebelah kanan Seraphine, sedangkan Fu dan Dahlia sudah berlutut di sebelah kiri Rain.


Siiing!


Kekuatan keempatnya menyatu. Karena mereka sama-sama berelemen angin, sinar yang dihasilkan berpendar putih. Sinar itu kemudian menyelimuti tubuh Seraphine dan Rain.


"Selesai ini, kau berutang penjelasan padaku, Bocah Fu." Mil melemparkan tatapan sinis.


"... ya, aku tahu." Fu mengangguk takzim sembari kembali fokus pada penyaluran energinya. Matanya menatap sendu wajah Seraphine.


"Kumohon ... selamatkan Seraphine, Rain ...."


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2