
Sejak pagi, Zeus, Athena, dan Poseidon disibukkan dengan pematangan ujian Valkyrie yang dimulai dua hari lagi. Mereka mendiskusikannya di ruang kerja Zeus.
Yang membantu mereka adalah Hermes dan Artemis. Hermes dengan sejuta informasinya, Artemis dengan kemampuan ramalannya.
Zeus mondar-mandir di depan meja kerjanya. Tatapannya sesekali terarah ke Hermes yang fokus mencari informasi melalui pendar hijau di depannya.
"Bagaimana, Hermes? Ada informasi terbaru dari pergerakan tangan kanan Haku?" Zeus bertanya sembari tangannya mengambil salah satu perkamen.
Hermes yang ditugaskan untuk mencari informasi terkait Bintang Hitam itu menggeleng. Sewaktu Artemis memberantas mereka, hanya Viro dan pasukannya saja yang tak ditemukan.
Di sinilah tugas Artemis dimulai. Dengan sesekali terhubung oleh Aphrodite, sang Dewi Bulan itu berusaha memunculkan ramalan yang akan terjadi pada Viro ini.
"Tak ada yang mencurigakan. Pasukanku juga sudah mencarinya, tapi tidak ada yang melaporkan hal baik padaku," jawab Hermes, masih fokus pada pendar hijau di depannya.
"Harus dicari ke mana lagi dia?" Poseidon menghela napas kasar. "Semakin dekat dari ujian Valkyrie, semakin besar rasa khawatirku."
"Aku setuju. Jika kita tidak memberantas semua, Bintang Hitam bisa mengacaukan jalannya ujian walau hanya oleh satu orang. Saat ini tersisa Asha, Viro, dan pasukannya selain pemimpin mereka," timpal Athena.
Zeus menghela napas, berjalan ke kursi kebanggaannya. Dewa Petir dan Langit itu melepas jubah dewanya, lalu menyampirkannya di belakang kursinya.
"Teruskan pencarianmu, Hermes," katanya, lalu beralih ke Poseidon. "Poseidon, kau tidak melupakan tugasmu, 'kan? Kaum dari pelayan Yang Mulia sudah kau beri penjelasan tentang ujian formalitas ini?"
"Tenang saja, Zeus. Aku sudah membereskannya," jawab Poseidon, "Selain kaum Sylph, mereka sepakat menarik kembali kandidat pilihan mereka. Jadi hanya tersisa kandidat dari kita saja."
Benar. Karena para dewa-dewi sudah mengambil keputusan bahwa Seraphine-lah yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya, keputusan itu diberitahukan ke kaum Dryad, Neiad, Nereid, dan Oread. Sedangkan kaum Sylph dirasa tak perlu karena Rain sendiri menjadi perwakilan dari kaumnya.
Hal ini bertujuan agar pelayan Valkyrie bisa bersiap dari sekarang untuk menyambut Seraphine sebagai tuan mereka. Karena itulah, empat kaum selain kaum Sylph itu sepakat menarik kandidat pilihan mereka dari ujian Valkyrie.
"Ah, aku lupa mengatakannya. Aku menarik kandidat pilihanku juga. Mendadak keluarganya memaksa kandidatku agar tidak ikut ujian Valkyrie. Sepertinya rakyat kita menyebar rumor bahwa ujian kali ini lebih berat," sahut Hermes sambil terkekeh.
"Jika Seraphine dan murid Hades tidak dihitung, hanya tersisa 8 kandidat. Bagaimana sistem pembagian yang tepat menurut kalian?" Zeus bertanya sambil menghempaskan dirinya di kursinya.
Athena terlihat berpikir. "Setiap ujian berlangsung, biasanya kita memasangkan tiga orang dalam satu kelompok. Apa kali ini seperti itu juga?"
"Kalau begitu, akan ada satu kelompok yang beranggotakan 4 orang," ucap Zeus.
"Jika seperti itu, Seraphine kita pisahkan dengan Asha. Sebaliknya, An akan satu kelompok dengan Asha agar bisa mengawasinya. Bagaimana?" usul Artemis.
__ADS_1
"Tidak, menurutku kita gabung mereka dalam satu kelompok. Kupikir pergerakan Asha lebih mudah terlihat saat dia lebih dekat dengan targetnya," ungkap Poseidon.
Artemis manggut-manggut sambil mengusap dagunya. "Benar juga, Poseidon, tapi kalau kita memasangkan mereka dalam satu kelompok, risiko penyelamatan Seraphine yang gagal juga besar. Aphrodite mengatakan bahwa Asha adalah gadis licik, 'kan?"
"Itu--"
BRAK!
"Wah, wah, sedang sibuk merapatkan pembagian kelompok? Athena, aku punya usul. Boleh aku katakan?"
Athena menatap tak minat pada Ares yang tiba-tiba masuk itu.
"Hei, sebelumnya, penampilan macam apa itu?" Hermes menahan tawa melihat wajah Ares yang kotor.
Ares mengangkat bahu tak peduli. "Jangan menertawaiku, Hermes. Ini hasil latihan Yien. Dia berkembang lebih cepat dari dugaanku. Yah, walau sekarang dia tengah tak sadarkan diri karena aku kelepasan, hahaha!"
Zeus dan dewa-dewi lainnya memelotot. Athena bahkan mengembuskan napas kasar sambil melemparkan tatapan mengejek.
Ares yang melihatnya terlihat tersinggung. "Kenapa wajahmu begitu, Athena?"
Ares melipat tangannya di depan dada. Tatapannya mendadak serius. "Ketiga muridku sudah sampai di sini. Mereka sudah kuminta diam di kamar mereka saja. Setelah dari sini, aku berencana mengungkapkan tentang ujian formalitas ini," katanya yang langsung membuat semua terkejut.
Zeus sontak berdiri. "Hanya kita dan kaum dari pelayan Yang Mulia yang boleh mengetahuinya, Ares. Nona Yien dan muridnya Hades adalah pengecualian, tapi muridmu? Apa tujuanmu?"
Athena mendengus. "Apa kau sebodoh itu, Ares? Bagaimana kalau muridmu membocorkan yang sebenarnya?"
"Hei, dengar dulu penjelasanku, Zeus, Athena," sela Ares sambil berdecak. Tatapannya yang biasanya terlihat meremehkan dan jahil kini terganti dengan keseriusan.
Sang Dewa Perang itu menatap satu per satu dewa-dewi di depannya. "Aku setuju dengan Artemis untuk memisahkan Seraphine dengan Asha. Jika satu kelompok terdiri dari tiga orang, bagaimana kalau aku menempatkan salah satu muridku di kelompok Asha?"
Ares mengetuk meja kerja Zeus, membuat cahaya merah berpendar, menampilkan profil Asha, An, dan muridnya. Di sebelah profil itu ada diagram yang menunjukkan peluang keberhasilan.
"Aku berpikir seperti ini. Muridku dan murid Hades memiliki kekuatan yang unik. Belum lagi, murid yang akan aku tempatkan di kelompok Asha sangat berpengalaman di lapangan. Aku sering membawanya ke medan perang, membantuku dari belakang. Jadi pergerakan Asha bisa kita awasi ketat."
Ares kembali mengetuk meja kerja Zeus. Kali ini yang terlihat adalah profil muridnya yang lain dan Seraphine. "Selanjutnya, aku mengusulkan dua muridku untuk satu kelompok dengan Seraphine. Artemis, kau pernah berkata kalau Seraphine tak bisa menyalurkan kekuatannya dengan penuh, 'kan? Tenang saja, mereka bisa mengatasinya. Ditambah pula dengan kehadiran Yien yang akan menjaganya, Seraphine akan selamat hingga ujian berakhir."
Ares kembali mengetuk, membuat pendar merah itu menghilang. "Ada pertanyaan?"
__ADS_1
Athena terbengong-bengong melihatnya. Bukan Athena saja, tapi juga Zeus, Poseidon, Artemis, dan Hermes. Kelimanya tak menyangka bahwa ada sisi yang serius seperti itu dalam diri Ares.
Hermes bahkan menempelkan punggung tangannya di dahi Ares. "Hei, kau tidak demam, 'kan? Atau mungkin kepalamu terantuk sesuatu?" tanyanya tak percaya.
Ares menepis tangan Hermes. "Aku serius, Hermes. Apa sangat mengejutkan melihatku seperti ini? Aku ini Dewa Perang, wajar jika memiliki strategi jitu seperti Athena," kesalnya sambil memberikan pelototan pada Hermes.
"Jika itu Athena, aku tidak akan heran. Apa kau memakan sesuatu yang aneh tadi?" Poseidon memicingkan mata.
Ares berdecak. "Sudahlah. Bagaimana menurut kalian tentang usulanku? Zeus? Kenapa kau diam saja?" tanya Dewa Perang itu saat melihat Zeus yang masih tertegun.
Yang ditegur tersadar. Zeus terkekeh. "Maafkan aku, aku hanya berpikir, Ares. Apa perdebatanmu dengan Athena akhirnya membuahkan hasil baik seperti tadi?"
Ares menghela napas.
"Baik, baik. Kita lupakan perubahan mengejutkan Ares yang tidak selamanya seperti tadi." Zeus mengangkat kedua tangannya layaknya orang yang menyerah. "Aku kagum denganmu, Ares. Strategi itu tak terpikirkan olehku sebelumnya," lanjutnya.
Athena mengangguk, menatap Ares dengan tatapan penuh arti. "Sepertinya kau sudah terlihat layaknya Dewa Perang, Ares. Aku setuju dengan usulanmu. Bagaimana yang lain?"
Artemis mengacungkan jempol, Hermes mengangguk-angguk, sementara Poseidon bergumam setuju.
Ares tersenyum puas melihat usulannya diterima. "Kalau begitu, aku pergi dulu menemui murid-muridku. Akan kujamin mereka tak akan berkhianat," ujarnya sambil berbalik menuju pintu.
BLAM!
"Nah, kita ke pembahasan selanjutnya. Artemis, ada kabar dari Apollo?" Zeus bertanya begitu pintu ruang kerjanya tertutup.
Artemis tersenyum. "Kabar baik, Apollo menghubungiku dengan telepati semalam. Dia berhasil menyegel Haku di dimensinya, tapi katanya tidak dalam waktu lama. Apollo hanya bisa bertahan 14 hari," jawabnya.
Zeus berdiri sambil menatap serius dewa-dewi lain. Ia memerintah, "Kalau begitu, kita tak bisa berlama-lama melangsungkan ujian. Jika Haku berhasil keluar, dia pasti menargetkan Seraphine. Asha dan Viro yang belum kita ketahui keberadaannya juga pasti bergabung dengan Haku. Untuk itu, Poseidon, bisa kau susun ulang penempatan waktu ujian?"
Poseidon langsung mengangguk. "Serahkan padaku. Athena, aku memerlukan data-datamu tentang Bintang Hitam, bisa bantu aku nanti?" katanya disusul anggukan Athena.
"Hermes, tetap cari informasi pergerakan tangan kanan Haku. Artemis, tetap terhubung dengan Apollo, tanyakan apa pun yang berkaitan dengan Haku di dimensinya. Poseidon, kutunggu hasil kerjamu malam ini. Dan Athena ...." Zeus menyampirkan jubah dewanya, menyunggingkan senyum.
"Aku ada urusan dengan para Kesatria Valkyrie yang sudah tiba. Ikutlah denganku."
To be continue ...
__ADS_1