The Valkyrie

The Valkyrie
RENCANA BINTANG HITAM


__ADS_3

Malam semakin larut. Suara hewan-hewan malam mulai terdengar, menemani langkah seorang laki-laki berjubah berambut merah di padang rumput itu.


"Ck! Gadis Angin itu di mana sih?! Membuat seorang Mil mencarinya ke mana-mana," omel laki-laki itu.


Ya, dialah Mil yang menawarkan dirinya untuk mencari Seraphine. Namun, Mil tak mengetahui kalau gadis yang dicarinya sudah kembali lebih dulu.


"Gadis Angin! Hoi! Di mana kau?!" seru Mil sambil mengeratkan jubahnya karena udara malam semakin menusuk.


Mil terus berjalan. Matanya nyalang menembus kegelapan malam. Walau ada sinar bulan, tetap saja pandangan pada malam hari terbatas.


"Cih!"


Langkah Mil sampai di perbatasan antara hutan dan padang rumput. Laki-laki itu mengenal hutan di depannya. Hutan itulah tempatnya mencari buah-buahan pagi tadi, juga tempat Bintang Hitam berada.


"Apa memang harus mencarinya ke sana?" gumamnya, "Ah! Yang penting cari! Awas saja kalau aku menemukannya, akan kuberi dia latihan ekstra!"


Laki-laki berambut merah itu melangkahkan kakinya menuju hutan. Dia hanya tidak tahu. Kedatangannya ke hutan itu akan membawa masalah baru bagi kelompoknya.


--o0o--


"Mil! Kau bisa mendengarku?! Di mana kau?! Aku sudah kembali, pulanglah!" Seraphine berteriak tanpa memedulikan sekitarnya.


Fu yang tak jauh darinya juga berteriak, "Hei, Tuan Pedang! Jawab aku! Nona sudah kembali!"


Seraphine berdeham menetralkan suaranya yang sedari tadi berteriak. "Ini tak bagus, Fu. Kita sudah mencari ke mana-mana, tapi Mil tetap tak ketemu. Kau benar-benar tak bisa melacaknya, Fu? Mungkin dengan anginmu."


Fu menggeleng. "Tuan Pedang itu adalah jiwa, jadi tak mudah melacak keberadaannya. Nona, apa kau tak mau mencoba melacak juga? Dia kan sudah bersumpah untuk menjadi pedangmu," jawab Fu seraya menghampiri Seraphine.


"Aku sudah memanggilnya sesuai dengan ajarannya, tapi tak ada jawaban. Padahal sewaktu latihan tak seperti ini," ujar Seraphine khawatir, "Apa mungkin terjadi sesuatu padanya?"


Fu mengepalkan tangannya kuat. "Tidak. Aku tahu kemampuannya. Nona, malam sudah larut. Kita kembali saja," balasnya.


Seraphine memandang ragu. "Tapi Mil?"


Fu mendorong punggung Seraphine agar gadis itu berjalan. Mau tak mau gadis itu melangkahkan kakinya.


"Jika sampai besok dia tak kembali, nanti kita pikirkan caranya. Kasihan Chia yang menjaga barang-barang kita dan Rain sendirian. Ayo, Nona," jawab Fu, masih mendorong punggung Seraphine.


Seraphine hanya mengangguk.


Pagi pun datang dengan cepat. Rain terbangun lebih awal. Makhluk kecil bersayap itu mendapati Seraphine di sebelahnya.


"Dia kelihatan lelah ...," lirih Rain sambil menyingkirkan anak rambut dari wajah Seraphine.


"Tentu dia lelah, Rain. Semalaman dia mencari Tuan Pedang bersamaku." Itu suara Fu.


Rain mengerutkan dahi. "Mencari Mil? Memangnya dia ke mana? Dan kenapa kau masih bangun?"


Fu yang memegang tongkatnya itu mendengus. "Aku berjaga semalaman. Si Tuan Pedang itu mencari Seraphine, tapi ternyata Seraphine kembali sendirian. Kami mencarinya ke mana pun tetap tak ketemu," jelasnya.


Fu pun bangkit dari duduknya. "Aku berjaga karena situasinya berbahaya. Tuan Pedang itu saja menghilang, bagaimana kalau yang lain juga menghilang?"


Rain tertegun. "Bukannya kalau tak menemui Seraphine dia akan kembali dengan sendirinya?"


"Itu juga alasanku berjaga. Mungkin dia kembali saat semua tertidur. Aku pun pura-pura tidur sambil bersandar di pohon ini, tapi tetap saja tak ada yang datang," jawab Fu.


Kemudian, kembarannya Chia itu melangkah ke dekat kembarannya, lalu berbaring. "Bisa gantikan aku, Rain? Aku tak kuat lagi. Staminaku tak seperti Tuan Pedang yang bisa tidak tidur beberapa hari," katanya, lantas memejamkan mata.


Rain mengangguk, lalu berbalik hendak berkeliling.


"Oh iya, satu lagi, Sylph!"


"Ya?"


Fu mengulas senyumnya. "Seraphine ... sudah mengerti."

__ADS_1


Rain tersentak. "Benarkah?"


Fu mengangguk. "Berikan dia pelukan saat dia terbangun. Hehe, aku yakin kalau Seraphine akan menangis nanti."


Rain mengangguk semangat. Lega menyeruak ke hatinya. Pertengkaran dan amarah Seraphine membuatnya terus gelisah. Syukurlah kalau gadis itu sudah mengerti.


Rain menatap Fu yang kini tertidur. "Aduh, Gemini saja sampai begini karena Seraphine. Mil bahkan menghilang. Aku harus minta maaf nanti," gumamnya.


"Baiklah. Dengan apa aku mencari Mil?"


--o0o--


"Master, sampai kapan Anda membiarkan laki-laki berambut merah itu berkeliaran di sekitar kita?" Seorang lelaki berambut hitam bertanya pada orang di depannya.


"Hahaha, biarkan saja. Aku belum memutuskan hukuman untuknya. Biarkan dia menikmati hidupnya yang sebentar lagi akan hilang!" jawab si Master.


"Master Haku!" Seorang lelaki lainnya datang. Lelaki itu menggunakan pedang yang diletakkan di pinggangnya.


Haku si Master menoleh. "Ada apa? Kenapa wajahmu terkejut begitu?"


"Sa-Saya melihat hal tak terduga, Master! Sylph bersayap biru ada di kota sekarang!"


Haku melotot. "Sylph bersayap biru katamu?! Omong kosong! Seharusnya mereka tak ada lagi! Aku sendiri yang memenggal kepala mereka beberapa tahun lalu."


Ya. Sylph bersayap biru adalah tangan kanan Valkyrie. Oleh karena itu, Haku yang adalah pemimpin Bintang Hitam sudah menghabisi mereka agar Valkyrie tak memiliki tangan kanan yang kuat.


Jika Sylph bersayap biru datang ke ujian Valkyrie membawa kandidat pilihannya, maka kandidat itu akan menjadi kandidat terbaik. Otomatis kandidat lain akan kehilangan poin pentingnya.


Haku mengepalkan tangannya kuat. Ia menghampiri lelaki berpedang itu, lalu mencengkeram kerah bajunya. "Katakan padaku. Apa dia bersama seseorang? Apa ada gadis di dekatnya?!"


Lelaki berpedang mengangguk cepat. "Dia bersama tiga orang lainnya. Dua di antaranya kembar, tapi saya lihat mereka anak-anak. Satunya adalah gadis berambut cokelat--"


"Gadis?!"


Haku menguatkan cengkeramannya, lalu memajukan wajahnya. "Jika informasi ini salah, aku akan memenggal kepalamu."


BRAK!


Lelaki berpedang meringis. Tubuhnya dihempas Haku, lalu mengenai salah satu pohon.


Haku melangkah melewati laki-laki berambut hitam yang dari awal bersamanya. "Kumpulkan semua anggota, termasuk mata-mata kita dari pihak Dewi Cinta itu. Kita akan menemui Sylph bersayap biru 15 menit dari sekarang!"


Lelaki berambut hitam berlutut. "Perintah Anda siap saya laksanakan!"


Tap! Tap! Tap!


Haku melenggang pergi menuju bagian hutan yang lebih gelap.


"Uukh, Master Haku tak tanggung-tanggung. Punggungku sakit. Viro, bantu aku!" suara lelaki berpedang itu.


Viro, lelaki berambut hitam itu mendengus kasar. "Baru begitu saja sudah tumbang. Sepertinya latihanmu selama ini sia-sia, ya?" ejeknya.


Walau begitu, Viro tetap mengulurkan tangannya pada lelaki berpedang itu.


"Ck! Kau kan kesayangan Master Haku! Pasti kau tak pernah dihempas seperti tadi!" protes lelaki berpedang.


"Berhenti merengek, Ao! Cepatlah! Setelah ini kau bantu aku mengumpulkan semua."


"Iya, iya!"


Setelah itu, Viro dan Ao, lelaki berpedang itu, melaksanakan perintah sang master. Walau sulit, mereka tetap bisa mengumpulkan seluruh anggota Bintang Hitam di depan Haku.


Haku menyeringai puas. Kalau melawan anggotanya seperti ini, Sylph beserta gadis itu pasti mati, pikirnya.


Viro berlutut. "Master, semua sudah berkumpul."

__ADS_1


Haku mengangguk. "Kita berangkat sekarang juga! Targetnya adalah Sylph bersayap biru dan gadis berambut cokelat!"


"Baik, Master!"


Kelompok Bintang Hitam pun beraksi.


--o0o--


"Sial, aku harus keluar dari hutan ini!"


Mil berlari menjauhi tempat berkumpulnya kelompok Bintang Hitam itu. Ya, dia mendengar seluruh rencana Bintang Hitam.


"Jika dugaanku benar, Sylph yang dimaksud pasti Rain. Dan gadis berambut cokelat itu ...." Mil mengepalkan tangannya kuat.


"Gadis Angin, tunggu aku!"


"Wow, wow, wow! Mau lari ke mana kau?"


Mil menghentikan larinya. Ada dua orang yang menghadang di depannya dan dia tahu siapa mereka. Mereka dari Bintang Hitam!


"Master, apa rencana Anda?" tanya Viro.


Haku menyeringai. "Hei, perhatikan dia baik-baik. Aku menyadari kehadirannya sebelum kita berangkat tadi. Setelah mendengar rencana kita, orang ini langsung berlari. Kau tahu apa artinya, Viro?"


Rahang Mil mengeras. "Biarkan aku lewat!"


Haku tertawa kencang. "Sepertinya kau mengenal Sylph dan gadis rambut cokelat itu, hai jiwa yang bisa mewujudkan dirinya."


Mil tersentak. Bagaimana pemimpin Bintang Hitam itu tahu identitasnya? Jangan-jangan ...


Seakan tahu pikiran Mil, Haku mengangguk. "Yang ada di pikiranmu itu benar. Bagaimana aku mengetahuinya? Hahaha! Tentu saja! Itu karena Viro juga sepertimu!" katanya.


Varo mengangguk takzim. "Master Haku benar. Elemenku adalah api. Aku bersumpah pada Master sejak lama," timpalnya.


Mil mengumpat dalam hati. Api adalah kelemahan angin, elemennya. Seandainya ia bertarung, sudah dipastikan kalau dirinya akan kalah.


Haku mendekati Mil sambil berkata, "Apa kau tak punya rasa takut? Aku kan sudah memperingatimu, jangan tunjukkan wajahmu lagi di depanku. Sekarang nyawamu adalah milikku."


Mil berdecih. "Nyawaku bukan milikmu, tapi milik tuanku!"


"Oh, apa tuanmu adalah gadis berambut cokelat itu, hm?"


Mil berseru marah. Tangannya siap meninju pemimpin Bintang Hitam itu. "Kau! Jangan sebut dia dengan mulut kotormu!"


"Wah, aku benar, ya? Hahaha! Padahal aku asal menebak, tapi terima kasih. Aku jadi tahu hukuman yang pantas untukmu!"


Berbagai pikiran buruk merasuki kepala Mil. "Jangan katakan kalau kau--"


Haku tertawa puas. "Sayang sekali, ya? Hidupmu harus berakhir dengan kau yang melawan tuanmu sendiri," sindirnya.


"Jangan melawan. Jika kau ingin gadis itu hidup, turuti perintahku! Viro, kita bawa dia!" lanjutnya.


Viro menepuk pundak Mil. "Ikut aku. Akan aku perkenalkan dengan anggota kami."


Mil terpaksa melangkahkan kakinya. Sekarang, dia harus memikirkan rencana agar tak membahayakan kelompoknya, terutama Seraphine.


Viro melirik Mil. "Percuma memberontak. Kini kau ada di pihak kami."


"Cih!" Mil membuang muka.


Lihat saja, aku tak akan sudi berada di kelompok kalian! Gadis Angin, aku sudah bersumpah padamu. Aku tak akan menghunuskan pedangku ke lehermu!


Matahari semakin meninggi. Sinarnya menembus sela-sela daun di pohon. Tinggal beberapa saat sebelum pertumpahan darah terjadi.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2