
Embusan angin malam menerpa kulit Seraphine yang kini menemani Chia. Gadis itu merapatkan mantelnya. Wajahnya sedari tadi sendu memandang si Gadis Gemini yang masih terlelap.
"Sera?" Rain memanggil. "Kenapa belum tidur? Kau harus mengisi kembali energimu, Sera."
Seraphine menoleh, lantas tersenyum. "Aku hanya ingin menikmati malam ini, Rain. Aku ... merindukan Chia," katanya pelan.
Rain menghela napas. Sudah beberapa jam berlalu sejak pertarungan mereka dengan Bintang Hitam berakhir. Yah, belum benar-benar berakhir karena Haku sang pemimpin entah dibawa ke mana oleh Apollo.
"Kami para dewa-dewi memiliki dimensi sendiri. Hanya kami yang bisa keluar, hanya kami yang bisa masuk. Apollo pasti membuka dimensi miliknya dan masuk bersama Haku," jelas Artemis saat ditanya keberadaan Apollo.
Kelompok Seraphine menang untuk sementara karena tindakan Apollo itu. Sementara Apollo menyegel dirinya dan Haku, Artemis mengobati mereka yang terluka, terutama Chia.
"Kondisinya sudah stabil. Tinggal menunggu waktu sampai dia terbangun," tukas Artemis begitu selesai mengobati Chia.
Efek racun dari Ao pun sudah menghilang sepenuhnya berkat penyembuhan Dewi Bulan itu. Saat ini, Mil sudah bisa bergerak, bahkan laki-laki itu diajak Fu entah ke mana.
Seraphine mengusap-usap tangannya, berusaha mengusir rasa dingin dari angin malam.
"Sera, minumlah dulu. Ini lumayan menghangatkan badanmu," ucap Rain sambil menyodorkan minuman.
Seraphine menerimanya, lantas segera meminumnya. "Rain, tinggal berapa hari ujian Valkyrie dimulai?"
"Emm ... kurasa tinggal 8 hari, Sera. Kenapa?"
Seraphine mengambil pedangnya yang diletakkan di sampingnya. "Rain, aku perlu serius berlatih!"
Rain mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Aku ingin menjadi kuat. Aku tak ingin rasa takut selalu menguasaiku. Aku tak ingin menjadi beban bagi kalian," kata Seraphine tegas. Dia mengusap pedang di pangkuannya itu.
Seraphine memeluk dirinya sendiri. "Bagaimana caranya agar aku tidak lemah, Rain? Aku benci diriku yang seperti ini. Selalu dilindungi, selalu di belakang kalian ...."
Rain tersentak melihat lelehan bening dari mata sahabatnya itu. "Sera, jangan membenci dirimu sendiri. Kau tidak lemah, Sera. Wajar jika kami melindungimu karena sebelumnya kau tak pandai bertarung, bahkan tak berani melukai siapa pun," tutur Rain lembut.
"Tapi, kita sampai melawan Bintang Hitam itu karena aku, Rain! Seandainya malam itu aku tak bertengkar denganmu, seandainya aku tak menyendiri sehingga Mil tak akan mencariku, seandainya ... seandainya aku memiliki kekuatan untuk melindungi kalian--"
"Gadis Angin, aku tak suka dirimu yang seperti itu." Mil tiba-tiba menimpali.
Fu di sebelahnya pun duduk dekat Chia. "Aku setuju dengan Tuan Pedang. Kejadian tadi bukan sepenuhnya salahmu, Nona. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini kelompok kita, tanggung jawab kita semua," sahut Fu yang menatap sendu wajah Chia.
Seraphine terisak pelan. "Maafkan aku ... aku merasa kalau keberadaanku adalah beban bagi kalian. Lihatlah! Chia sampai terluka separah ini. Mil, kau menjadi sandera dan terkena racun. Fu, walau kau terluka, tapi kau tetap melindungiku," ucapnya sambil menunduk.
Seraphine meremas kuat rumput liar di bawahnya. "Aku tak bisa begini terus! Aku ingin lebih kuat lagi! Lagi! Lagi! Sampai aku bisa melindungi diriku sendiri! Sampai aku sanggup melindungi kalian! Sampai aku ...."
Seraphine memandang wajah Chia. "Sampai aku tak pernah melihat kalian terluka lagi di depanku ...."
__ADS_1
"Sera ...." Rain terenyuh mendengar ledakan keluh kesah sahabatnya itu.
Beberapa menit diisi oleh isakan Seraphine, Mil kemudian berlutut, membuat pandangannya sejajar dengan netra gadis itu. "Gadis Angin, kau ingin menjadi lebih kuat, 'kan? Sebelum aku melatihmu kembali, bisakah kau taklukkan rasa takutmu itu?"
"Rasa ... takut ...."
"Benar, rasa takut. Semua usahamu akan sia-sia jika kau tak bisa mengendalikan perasaan itu," jelas Mil dengan raut wajah serius.
Mil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. "Dua hari. Akan kuberi waktu dua hari untukmu menaklukkan rasa takut itu. Jika sampai dua hari kau masih seperti ini, Gadis Angin, aku terpaksa tak melatihmu lebih keras."
"Mil! Dua hari itu keterlaluan! Tak mungkin Sera--"
"Tak masalah!" Seraphine menjawab mantap. "Akan kulakukan selama dua hari ... tidak, kalau aku bisa, satu hari pun sudah cukup, Mil!"
"Apa kau yakin, Nona?" tanya Fu.
"Jika itu salah satu jalan untukku menjadi kuat, aku yakin, Fu."
"Tapi, bagaimana caranya kau menaklukkan rasa takutmu tanpa Chia, Sera? Kau tahu ... Chia tak mungkin langsung melatihmu jika kondisinya belum pulih," tanya Rain sambil memandang ke arah Chia.
Seraphine menggigit bibir. "Itu .... Aku tidak tahu ...."
"Hah ...." Rain menghela napas pelan. Semangat yang sekilas terlihat di mata Seraphine kembali meredup.
"Aku tahu siapa orangnya." Fu tiba-tiba berdiri.
"Aku tahu siapa yang bisa membantu kita di situasi ini, tapi aku tak menjamin kalau orang itu mau melatihmu, Nona," jelas Fu sambil mengeluarkan tongkatnya.
Mil mengerutkan dahi. "Hei, apa maksudmu, Bocah? Kenapa tiba-tiba mengeluarkan tongkat?"
"Huh! Aku harus merasakan keberadaannya, Tuan Pedang. Posisi Dahlia sangat sulit ditemukan. Terkadang dia berpindah tempat," jawab Fu sambil melambaikan tongkatnya.
Angin lembut langsung menerpa mereka. Seraphine mengusap sisa-sisa air matanya, lalu menatap Fu bingung. "Dahlia ini siapa, Fu? Apa dia kenalanmu?"
Fu spontan tertawa. "Bukan sekadar kenalan, Nona. Dahlia adalah guru pertamaku dan Chia. Dialah yang saat itu meminta kami untuk mengisi posisi Gemini."
"Ah! Aku ingat! Dahlia menduduki posisi Aquarius, 'kan?" Rain berseru antusias. "Menurut kabar, memang benar kalau posisi Aquarius sangat sulit ditemukan, kecuali oleh kesatria yang lain."
Seraphine memiringkan kepalanya. "Jadi, Dahlia yang akan membantuku menaklukkan rasa takut?"
Fu mengangguk. "Dia memang guru yang hebat, tapi tak segan-segan dalam mengajar. Kau harus memiliki tujuan yang jelas, juga tekad yang kuat untuk diterima olehnya. Karena itulah aku tak bisa menjamin apakah kau akan diterima atau tidak, Nona," jelasnya panjang lebar.
"Lalu? Di mana guru pertamamu itu?" Mil mengangkat sebelah alisnya.
Fu memejamkan mata, terlihat berkonsentrasi. "Utara ... tidak. Sedikit ke timur. Ah! Tak kusangka, posisi Dahlia tak jauh dari sini!"
__ADS_1
Seraphine melebarkan senyuman. "Benarkah? Apa aku bisa menemuinya besok?"
Fu memasukkan kembali tongkatnya, lalu mengangguk. "Aku akan menemanimu, Nona. Untuk sekarang, kita istirahatkan tubuh dahulu. Hari ini hari yang panjang ...."
"Kalau begitu, aku akan tidur di sebelah Chia. Kau tak keberatan, 'kan?"
"Tak masalah. Aku akan bersama Tuan Pedang. Tidurlah lebih dulu, Nona, Rain. Kami berdua akan berkeliling sebentar," ucap Fu sambil berbalik.
Seraphine dan Rain mengangguk, lalu mengambil posisi di kanan dan di kirinya Chia.
Fu lebih dulu berjalan, sedangkan Mil yang masih berlutut itu menatap Seraphine lekat. "Gadis Angin, aku belum meminta maaf padamu karena tak bisa melindungimu. Maafkan aku. Aku bersumpah tak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi," katanya tegas.
Seraphine tersenyum. "Tak apa, Mil. Jangan pikirkan hal itu lagi. Sebaiknya pikirkan metode latihan baru untukku saat kembali nanti. Oke?"
Mil menunduk dalam. "Sesuai keinginanmu, Seraphine."
"Hehe, akhirnya kau mulai memanggil namaku." Seraphine tertawa pelan seraya mengerjapkan matanya yang mulai memberat.
"Istirahatlah. Semoga malam ini kau bermimpi indah ...."
--o0o--
Beberapa kilometer dari tempat Seraphine dan teman-temannya, ada sebuah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga.
Di tengah taman itu, seorang wanita cantik terlihat duduk sambil asyik membolak-balikkan halaman buku. Angin malam menerpa rambutnya kuat, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya memandang langit.
"Ah ... ini energi milik Fu. Sudah berapa lama, ya? Apa dia mencoba mencariku?" lirih wanita itu.
Wanita itu pun memejamkan mata, menikmati sapuan halus angin malam. "Fu tidak sendiri. Selain Chia, rupanya ada tiga orang yang bersama dengannya. Sylph, jiwa, dan ...."
Buku yang semula terbuka kini ditutupnya. Wanita itu berdiri, lantas tersenyum lebar. "Seorang gadis beraura emas, ya? Fu, sepertinya kau menemukan hal menarik."
Wuuush!
"Nona Dahlia, apa Anda ingin tidur sekarang?" Seorang wanita berpakaian pelayan mendadak muncul.
"Siapkan tempat tidurku. Aku harus menemui tamu penting besok."
"Baik, Nona."
Benar. Wanita yang membolak-balikkan buku itu bernama Dahlia, orang yang dicari Fu, yang akan menjadi pembimbing Seraphine untuk menaklukkan rasa takutnya.
Dialah Aquarius Dahlia, salah satu dari 12 Kesatria Valkyrie.
"Fu, kuharap gadis itu akan menarik."
__ADS_1
To be continue ...