
"KYAAA!"
"Suara apa itu?!"
Si Kembar Gemini spontan bangkit dari duduk mereka, lalu berlari ke sumber suara.
"Chia, aku tak salah dengar, 'kan?"
"Tidak," jawab Chia, "Itu suara Seraphine. Apa musuh menyerang? Atau binatang buas lagi?"
"Tak ada waktu memikirkannya! Kita harus cepat!"
Tap! Tap! Tap!
"Sylph! Nona! Apa yang terjadi?" Fu bertanya panik begitu melihat Seraphine yang berdiri membelakanginya.
"A-a ... Fu ... apa yang harus aku lakukan?" tanya Seraphine yang berbalik. Seluruh tubuhnya bergetar. Posisi berdirinya terlihat akan runtuh sebentar lagi.
Chia berdecak, lantas mengeluarkan tongkatnya. "Di mana musuh itu? Baru lengah sebentar, berani-beraninya dia!" seru Chia.
Fu melepas jubah biru yang selalu dikenakannya, lalu memakaikannya pada Seraphine walau kekecilan. Ini seperti kejadian semalam. Apa musuh menyerang?
"Jangan, Chia!" Seraphine menahan tangan Chia saat melihatnya hendak mengayunkan tongkatnya. "Ti-tidak ada musuh di sini, ja-jadi jangan keluarkan kekuatanmu," jelas Seraphine.
"Hah?! Sudah jelas Nona teriak dan gemetaran begitu, tapi berkata tak ada musuh?!"
"Benar, Nona!" Fu ikut teriak. "Dan di mana Sylph itu? Jangan katakan dia diculik--"
"Jangan mengada-ada! Aku baik-baik saja!" seru Rain yang terbang mendekat, "Sera hanya kaget karena melihat benda ini."
Fu dan Chia melongo menatap benda yang dibawa Rain.
Itu sebuah pedang.
Begitu Rain sampai di dekat mereka, entah kenapa, Seraphine langsung melangkah mundur.
"Sera? Ini hanya sebuah pedang. Kenapa takut begitu?" Rain bertanya heran.
"Entahlah, Rain. Tubuhku bergerak mundur sendiri," cicit Seraphine. Tentu reaksi Seraphine membuat bingung mereka semua.
"Lalu, bagaimana pedang ini muncul tiba-tiba di padang rumput ini?" tanya Chia sambil memasukkan tongkat yang ia keluarkan tadi.
Rain mendongak. "Dari atas. Terjatuh begitu saja tepat setelah aku selesai membuka segel angin Sera," jawabnya.
Fu dan Chia ikutan mendongak. "Apa sebelum pedang ini terjatuh kau merasakan sesuatu?" tanya Fu.
Rain menggeleng sebelum meletakkan pedang itu di rumput. "Jika seseorang menjatuhkannya, maka aku akan sadar, tapi aku tak merasakan apa pun," jawab Rain.
Kemudian, makhluk kecil bersayap itu menoleh pada Seraphine. "Dan Sera tiba-tiba seperti ini," lanjutnya.
Chia menepuk pundak Sera. "Ada apa, Nona? Apa kau mengenali pedang ini?" tanyanya hati-hati.
Yang ditanya menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku juga baru pertama kali lihat pedang ini," jawabnya, "Dan perasaan ini ... kurasa ini bukan rasa takut. Bagaimana menjelaskannya, ya? "
Rain dan si Kembar diam mendengar. Seraphine memeluk tubuhnya yang masih gemetar. "Mungkin ... tubuhku gemetar karena terlalu ... senang?"
"...."
"Entahlah, aku tak tahu. Aku hanya mengungkapkan perasaanku!" ucap Seraphine lagi sambil membuang muka. Pasti mereka pikir dirinya aneh, pikirnya.
__ADS_1
Rain tersenyum geli, lantas terbang ke arah Seraphine yang sedari tadi berdiri agak jauh dari mereka bertiga.
"Kau senang karena pedang ini, 'kan? Kalau begitu, ini akan menjadi pedangmu. Bagaimana?" usul makhluk kecil bersayap itu.
"Kenapa harus aku? Pedang itu untuk Fu saja!" tolak Seraphine sambil menunjuk Fu.
Fu lantas mengangkat kedua tangannya. "Aku tak perlu karena aku sudah punya pedang sendiri, hai Nona," tolaknya juga.
"Ka-kalau begitu, Chia yang--"
"Tongkatku sudah cukup."
"E-eh ...." Seraphine gelagapan. Ia menatap Rain dengan tatapan memelasnya.
Mengerti arti tatapan Seraphine, Rain mengendikkan bahunya. "Jelas aku tak bisa. Ukurannya saja sangat besar untukku. Yang tepat memilikinya hanya kau, Sera," cetus Rain.
"Tapi, pedang itu pasti berat."
"Tidak. Buktinya aku bisa membawa pedang itu ke sini."
"Aku tak tahu cara menggunakannya."
"Untuk apa Gemini ada di sini? Mereka bisa melatihmu."
"Ta-tapi, kalau pemiliknya datang--"
"Ya ampun Sera, kau banyak alasan!" Rain melemparkan tatapan kesalnya. "Kalau pemiliknya datang, kau tinggal mengembalikannya. Apa susahnya?"
"Mm ... baiklah." Seraphine menyerah. Ia mengambil napas dalam sebelum memantapkan langkahnya menuju pedang itu.
"Sepertinya Seraphine benar-benar tak menginginkannya. Kau yakin menyerahkan pedang itu? Kita belum tahu apa-apa tentang pedang itu, Rain," ujar Chia begitu Rain hinggap di bahunya.
Fu sedikit menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Rain. "Lalu, tentang segel angin, apa benar kau sudah membukanya? Gadis itu terlihat baik-baik saja," katanya.
Rain terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga tak percaya. Jika aku membuka segel pada tubuh orang lain, maka setidaknya kami akan kehabisan tenaga," jawab Rain, lalu ia memandang telapak tangannya, "Tapi anehnya kami tak begitu."
Wuuush!
"Akh!"
Angin kencang tiba-tiba menerpa mereka. Ketiganya langsung memandang Seraphine yang berjongkok di sebelah pedang itu.
"Sera, apa yang terjadi?" tanya Rain yang mendekat.
"Sylph, jangan!"
Wuuush!
Sekali lagi, angin kuat menerpa mereka semua. Rain terhempas mundur, sedang Chia menangkap tubuh Rain dan Fu menutup pandangannya dengan tangan.
"Apa ini?!" teriak Rain berusaha mengalahkan suara angin.
"Segel angin Seraphine bereaksi terhadap pedang itu! Itu artinya, pedang itu memiliki elemen angin di dalamnya!" Fu menjawab.
"Sera! Kau bisa mendengarku?! Seraaa!" Rain panik melihat pusaran angin yang menghadang di depannya.
Sedangkan Seraphine, gadis itu berada di tengah pusaran angin dan tak mendengar teriakan Rain. Dia hanya memeluk tubuhnya kuat.
"Hah ... hah ... panas ... sakit! Akh! Apa ini? Siapa saja, tolong!" Seraphine menjerit.
__ADS_1
Ya. Seraphine, gadis itu merasa hawa panas yang menyakitkan merasuki tubuhnya. Seluruh tubuhnya berteriak kesakitan, terutama bagian dahinya.
Ting!
Seberkas cahaya putih muncul dari dahinya, tempat di mana segel angin dibuka oleh Rain. Bersamaan dengan itu, pedang yang baru mereka temukan tiba-tiba bersinar dan melayang.
"Sera! Kau bisa mendengarku?! Lawan reaksi itu!"
Samar-samar, Seraphine mendengar teriakan Rain yang tertelan oleh angin kuat ini. "Rain ...."
"Hei, Nona! Jika lebih lama lagi, kita semua akan celaka karena angin ini! Cepatlah!"
"Fu ...."
"Aku tahu kau pasti bisa! Ukh, pusaran angin ini menahan kami untuk menolongmu! Pedang itu mungkin punya jiwa sendiri dan jiwa itu sedang mengujimu!"
"Chia ... uhuk!" Seraphine mengerang, juga terbatuk.
Gadis itu mengangkat kepalanya lemah, menatap pedang yang melayang di depannya. Apa benar jiwa di pedang itu sedang mengujiku? Untuk apa?
Seraphine mengepalkan tangannya kuat. Dia berusaha bangkit walau tubuhnya masih panas dan kesakitan.
"Hei," panggil Seraphine, entah pada siapa, "Temanku berkata kalau ada jiwa di pedang ini. Apa kau jelmaan? Atau jiwa yang tinggal dalam pedang?"
Lama menunggu, berharap ada yang meresponnya.
"Aku tak pernah tahu ada pedang berisikan jiwa. Aku tak peduli dengan tujuanmu, tapi aku tak bisa membiarkanmu melukai teman-temanku ...."
"Diri ini tertarik padamu, hai gadis kecil."
Seraphine tersentak. Dia tak salah dengar, ada yang merespon ucapannya!
"Aku tak mengerti. Apa mungkin kau tertarik dengan segel elemen?"
"... salah satunya, benar. Selama diri ini hidup, tak pernah sekalipun pedang ini menunjukkan bilahnya pada dunia. Namun, kau berbeda, gadis kecil. Hanya dengan terbukanya segel anginmu, kau bisa membuka jalan untuk pedang ini melihat dunia. Kau istimewa dan aku ingin menjadi pedangmu."
Seraphine tetap tak mengerti, tapi ia berkata, "Apa yang ingin kau uji dariku?"
"Kekuatan dari segel angin. Jika kau memenuhi apa yang aku mau, maka aku akan melepaskanmu. Namun, jika kau gagal ...."
Seraphine menunduk. Ia berteriak dalam hati, merasa mustahil menggunakan segel angin. Hei, Rain baru saja membukanya, bagaimana dirinya bisa tahu cara menunjukkan kekuatannya?
"Sera! Apa pun yang terjadi, kumohon bertahanlah!"
Seraphine kembali tersentak, menolehkan kepalanya ke belakang, tempat di mana Rain dan si Kembar Gemini berada.
"Bagaimana, gadis kecil?"
Tersenyum, Seraphine kembali menatap pedang itu. "Aku tak tahu akan berhasil atau tidak, tapi ...."
Srattt!
Pita merah yang selalu dipakai untuk mengikat rambutnya terlepas. Seraphine mengepalkan tangannya yang memegang pita itu, lalu meninju udara ke arah pedang itu.
"Hoo, apa yang akan kau lakukan dengan seutas pita?"
"Lihatlah, akan aku lakukan yang terbaik!"
To be continue ...
__ADS_1