
Matahari terbenam. Terlihat dua orang gadis keluar dari salah satu penginapan di Kota Bulan Sabit.
Salah satunya yang membawa tempat anak panah memasang wajah muram dengan kepala tertunduk. Sedangkan yang satunya membawa busur yang terlihat masih baru.
"Kita langsung pergi? Atau ada yang ingin kau beli sebelum meninggalkan kota?" Teman si Gadis Muram bertanya saat mereka sudah beberapa langkah meninggalkan penginapan.
Si Gadis Muram hanya mengangkat kepalanya sekilas, lantas menunduk kembali.
Teman si Gadis Muram menghela napas. "Jangan mendiamkanku seperti ini, Yien. Atau kita balik saja ke penginapan dan berangkat saat matahari terbit? Kali ini gantungan kipasku yang akan kutukar."
"... tak perlu, An. Lanjutkan saja seperti ini."
An dan Yien, merekalah gadis yang baru keluar dari penginapan itu. Sejak dirinya menangis dalam pelukan An, Yien seolah tak memedulikan sekitarnya. Diam, terus diam, membuat An gemas sendiri.
Bahkan busur baru yang sengaja dibeli An untuk menghibur Yien tak diliriknya. Terpaksa An yang membawa busur itu.
An memang sudah mendengar cerita terkait kejadian tadi, tapi mau sampai kapan Yien muram begini?
Keduanya memang sama-sama tak menyangka akan bertemu Rain, apalagi mengetahui bahwa Rain memilih kandidat lain. Padahal menurut An, Yien-lah kandidat yang persentase terpilih sebagai Valkyrie-nya paling besar.
"Yien, bagaimana kalau kita makan dulu? Hei, sesekali harus makan selain hewan buruan, 'kan?" An mencoba mencairkan suasana.
"Aku ... tidak tahu. Terserahmu saja, An ...."
An kembali menghela napas. Dengan apa lagi dia bisa menghibur Yien? Busur? Sama sekali tak dilirik. Makanan? Nafsu makan Yien sepertinya menurun.
Apa dia harus menampilkan pertujukan di depan Yien?
"Ah." Yien tiba-tiba menghentikan langkahnya seraya mendongakkan kepala. Hal itu membuat An memandang bingung.
"Yien? Ada apa?"
"Bintangnya sudah kelihatan. Bagaimana ini? Rasanya ... aku ingin menikmati malam ini ...."
Gumaman yang masih bisa didengar itu membuat An tersenyum. Ternyata Yien memang membutuhkan waktu, pikirnya.
An menepuk bahu Yien.
"Hei, mau ke padang rumput dulu? Bintangnya akan terlihat lebih jelas dari sana."
--o0o--
"Jangan bercanda! Kenapa tak pernah memberitahuku kalau kau adalah guru Nona Yien, Rain?! Lalu, apa-apaan kau meninggalkannya begitu saja?"
Teriakan Seraphine membuat suasana seketika tegang. Mil dan Fu yang semula masih berlatih tanding sampai menghentikannya. Sedangkan Chia tak tahu harus berbuat apa.
Rain dimarahi Seraphine untuk pertama kalinya.
"He-hei, tenangkan dirimu dulu, Nona. Itu bukan hal mudah bagi Rain. Dia punya alasan--"
"Tutup mulutmu, Chia!" Seraphine membentak si Gadis Gemini. "Ini urusanku dengan Rain!"
Chia refleks melangkah mundur, tak percaya kalau Seraphine yang sedang marah akan sangat mengerikan.
"Rain," panggil Seraphine, "Jika aku tahu dari awal tentang ini, aku tak akan merebutmu dari Nona Yien."
Rain yang baru sadar dari keterkejutannya menggeleng. "Bukan kau yang merebutku! Ini pilihanku sendiri! Ini keputusanku!"
__ADS_1
"Lalu apa yang kau lihat dariku?! Aku lebih lemah darinya, aku baru memulai pelatihanku, bahkan aku tak berani melukai atau membunuh! Dilihat dari mana pun, Nona Yien lebih baik dariku!"
Rain menangis. "Aku tak sejahat itu menilai kalian dari segi kekuatan, Sera! Aku percaya padamu. Aku yakin kau akan memenangi ujian Valkyrie. Hei, aku sudah katakan pada Yien untuk mengejarmu!"
Seraphine tertawa kaku. "Tak masuk akal, Rain. Seorang Nona Yien mengejarku? Saudari dari Valkyrie sebelumnya yang aku hormati itu ... mengejarku?"
"Sera, aku--"
"Cukup. Aku tak ingin kita berdebat seperti ini," potong Seraphine, "Tapi, satu hal yang harus kau tahu, Rain. Aku tak sanggup membawa harapanmu di pundakku."
Setelah itu, Seraphine berbalik dan melangkah menjauh.
"Gadis Angin, kau mau ke mana?!" Mil berteriak begitu langkah Seraphine menjauhi tempat singgah mereka.
"Hei! Langit sudah gelap! Jangan--"
Fu menghalangi Mil yang hendak menyusul dengan sebelah tangannya. "Biarkan. Dia butuh waktu. Kau paham maksudku, 'kan, Tuan Pedang?"
"Ck! Iya, iya, aku paham!"
"Rain? Apa kau ... baik-baik saja?" Si Gadis Gemini mendekati Rain yang terduduk begitu Seraphine berbalik.
"Mungkin ... aku belum bisa menjadi sahabat Sera yang baik."
--o0o--
Malam itu, bulan bersinar terang. Bintang-bintang pun bertaburan, menjadikan langit malam sangat indah. Namun, keindahan itu seakan tak cukup menghibur seorang gadis.
Gadis itu sedang terduduk di padang rumput sambil melihat langit malam. Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai, membuat angin menerbangkannya. Wajahnya sendu dengan jejak air mata di pipinya.
Dialah Seraphine.
"Aku tetap tak mengerti, Rain. Apa kelebihanku sehingga kau memilihku ketimbang Nona Yien?" lirihnya bermonolog.
Dadanya sesak memikirkan itu. Seraphine merasa bersalah. Hanya karena dirinya, Rain rela meninggalkan Yien.
"Hah ...." Untuk ke sekian kalinya dia menghela napas. Seraphine menekuk lututnya, lantas membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Aku rindu hutanku ...."
Srak! Srak!
"Aduh!"
Terkejut, Seraphine mengangkat kepalanya. Dia pikir di sekitarnya tak ada orang, tapi di depannya kini ada gadis yang tiba-tiba datang dari balik semak-semak.
Siapa?
"Eh? Aduh, maaf! Aku tak tahu kalau di sini ada orang," kata gadis itu seraya menangkupkan tangannya.
Seraphine menggeleng cepat. "Tidak. Bukan salahmu. Kebetulan saja kita bertemu," sahutnya, "Oh ya, jika kau mau, kau boleh duduk di sebelahku."
Gadis itu mengangguk, lalu mengambil posisi di sebelah Seraphine. "Hehe, sekali lagi maaf, ya? Aku tak menyangka kalau ada gadis lain yang juga menyendiri di sini. Ini sudah malam, kenapa tak pulang ke rumahmu saja? Siapa tahu keluargamu mencarimu," kata gadis itu.
"Eh? Tidak, tidak, kau salah paham. Aku ... kau bisa menyebutku petualang yang sedang singgah di sini sebentar," jelas Seraphine.
"Kau juga? Hei, aku pun sepertimu! Kami datang siang tadi. Mm, seharusnya kami berangkat begitu matahari terbenam, tapi ada sedikit ... masalah." Gadis itu mengusap-usap tengkuknya.
__ADS_1
Seraphine mengangguk paham. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"
Gadis itu mendongakkan kepalanya sambil tersenyum. "Tak begitu penting, hanya menikmati bintang."
Seraphine sedikit kaget. Entah kenapa, dia merasakan kesedihan pada senyuman itu.
"Hei, bagaimana denganmu?"
"Aku?" Seraphine menunjuk dirinya sendiri. "Ah, aku sedang ingin menyendiri. Tadi aku bertengkar dengan sahabat baikku," ungkap Seraphine.
"Memangnya ada masalah apa? Boleh aku mendengarnya?"
Seraphine memandang ragu. Bolehkah dia bercerita pada gadis yang baru saja ditemuinya?
Melihat tatapan ragu Seraphine, gadis itu berkata, "Jika kau ragu, tak masalah. Aku tak akan memaksamu. Mungkin masalahmu termasuk hal yang tak ingin kau bahas sekarang."
Seraphine tersenyum. Gadis di depannya ini begitu baik. Sepertinya tak apa jika di menceritakan pertengkarannya dengan Rain tadi.
"Mm ... aku tadi bertengkar dengan sahabat baikku. Kami memang baru bersahabat sejak tiga tahun lalu, tapi aku menyayanginya lebih dari apa pun. Dia adalah yang pertama kali mengajakku bicara." Seraphine mulai bercerita sambil memeluk kedua lututnya.
"Aku tak ingat dengan masa kecilku, juga keluargaku. Makanya, dia adalah orang yang paling berharga bagiku. Dia bahkan mengajariku banyak hal tentang dunia ini. Dia begitu baik."
"Tapi kami bertengkar untuk pertama kalinya. Aku bahkan memarahi dan membentaknya. Sepertinya dia sangat terpukul. Padahal aku hanya ingin yang terbaik baginya, tapi malah aku yang menghalangi jalannya. Ada hal yang lebih berharga ketimbang menghabiskan waktu denganku. Aku ... aku merasa bersalah padanya ...."
Seraphine membenamkan wajahnya sambil terisak. "Dia tak mendengar saranku. Dia meninggalkan hal berharga itu. Katanya dia memilih bersamaku. Aku tak mengerti kenapa dia seperti itu. Aku tak ingin kalau dia menyia-nyiakan hidupnya seperti itu," isak Seraphine.
Pundak Seraphine bahkan bergetar, membuat gadis di sampingnya menepuk-nepuk punggungnya.
Seraphine mengangkat wajahnya yang sembab, lalu menghapus air matanya. "Maafkan aku. Seharusnya aku tak menceritakan ini pada gadis yang baru kutemui. Mungkin kau merasa tak nyaman," sesalnya.
Gadis itu menggeleng dan tersenyum. "Aku tak masalah. Bukankah baik meluapkan seluruh rasa sesakmu daripada kau pendam sendiri?" hiburnya.
Seraphine ikut tersenyum. "Terima kasih. Kau gadis yang baik."
Gadis itu tertawa. "Jangan berlebihan. Aku tak sebaik yang kau kira. Sebenarnya, masalahku kali ini hampir mirip denganmu. Jadi mungkin kita bisa saling menguatkan," ucapnya.
"Oh ya? Lalu bagaimana kau mengatasi masalahmu?"
Gadis itu tersenyum, senyum yang sedih. "Aku memikirkan segala hal. Dia guruku yang sudah kuanggap layaknya saudaraku. Sama sepertimu, dia juga meninggalkanku demi muridnya yang lain. Awalnya aku tak terima. Kupikir aku lebih baik dari murid itu, tapi sekarang aku tahu. Guruku pasti punya alasan kuat untuk memilihnya yang mungkin aku tidak tahu," jelas gadis itu.
Seraphine memiringkan kepalanya. "Maaf, aku belum mengerti."
"Intinya, aku bukanlah yang ditinggalkan karena aku lebih baik, tapi aku ditinggalkan karena aku yang sekarang tak akan membuatnya khawatir lagi," jelas gadis itu, lalu menatap Seraphine.
"Aku yakin, sahabatmu pasti sama dengan guruku. Dia memang memiliki hal yang lebih berharga dibandingkan denganmu, tapi dia memilihmu karena kau yang paling membutuhkan dirinya saat ini. Ingat, dia adalah sahabat baikmu selama tiga tahun, apalagi dia sudah percaya padamu. Jadi, jangan merasa bersalah karena menghabiskan waktunya denganmu," lanjut gadis itu sambil menepuk-nepuk pundak Seraphine.
Seraphine merasa disadarkan oleh perkataan gadis itu. Benar juga, pikirnya. Seharusnya dirinya memikirkan semua itu terlebih dahulu, bukan malah bertengkar dan membentaknya.
Aku harus minta maaf pada Rain. Dia pasti sedih. Oh, dan Chia juga. Tadi aku sudah membentaknya.
"Ya ampun! Aku lupa sudah meninggalkan temanku tiba-tiba tadi!" Mendadak, gadis itu bangkit dari duduknya, lalu berbalik hendak pergi.
"Terima kasih sudah menemani malamku kali ini! Aku tak akan melupakanmu jika kita bertemu lagi!" ungkap gadis itu.
"Tu-Tunggu! Sebelum kau pergi, bisakah aku memohon satu hal?" cegah Seraphine yang ikut berdiri.
"Eh?" Gadis itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Namamu. Siapa namamu?"
To be continue ...