
Kratak kratak ... sshhh ...
Suara kayu yang terbakar itu menemani malam Seraphine dan Rain. Karena mereka berangkat agak sore, alhasil malam cepat menjemput, menyebabkan keduanya bermalam di alam terbuka.
"Hei, Rain ... tidak masalah kita tidur di luar begini?" Seraphine bertanya ragu.
Gadis itu memang terbiasa tidur di alam terbuka sejak kecil, walau semenjak kedatangan Rain membuatnya membangun rumah sederhana, tapi itu di hutan tempatnya terbangun. Berbeda dengan hutan yang kini mereka singgahi.
Hutan ini terasa mencekam.
"Tak apa, Sera. Kalaupun ada binatang buas, kita akan mengatasinya," jawab Rain lugas sambil melemparkan beberapa ranting kecil ke bara api.
Seraphine memeluk tubuhnya takut. "A-aku tak pernah melihat binatang buas, Rain. Ba-bagaimana jika mereka benar-benar datang?"
Rain menyeringai. "Maka itu kesempatan bagus. Kau bisa mulai memupuk keberanianmu," ujarnya, "Hei, ke mana antusiasmu saat kita keluar dari hutanmu itu, hm?"
Ya. Begitu Seraphine keluar dari hutannya, rasa kagum seketika menyelimutinya. Pemandangan padang rumput yang luas dengan beberapa bunga liar yang tumbuh itu membuat mulutnya tak pernah berhenti berdecak kagum.
Bahkan Rain harus beberapa kali menengok ke belakang demi memastikan gadis itu tetap mengikutinya.
Namun, saat malam menjemput bertepatan dengan memasuki hutan yang baru, antusiasme Seraphine perlahan menyurut.
Rain menghela napas lelah melihat getaran di tubuh Seraphine. Entah gadis itu takut atau kedinginan, Rain hanya langsung menyerahkan sebuah mantel.
"Nng?" Bingung karena baru pertama melihat mantel, Seraphine menatap Rain heran.
"Ini namanya mantel, berguna untuk menghangatkan tubuhmu. Selama ini kau tak pernah kedinginan karena hutanmu menyayangimu, tapi kita berada di lain tempat sekarang. Pakailah," jelas Rain.
"Um." Dibantu Rain, Seraphine merekatkan mantel itu ke tubuhnya.
"Nah, sekarang kita makan."
Rain melesat mengambil persediaan buah mereka yang sengaja dibawa. Baru saja Seraphine hendak menerima jeruk dari Rain, makhluk kecil bersayap itu menarik tangannya.
"Sera, sebelum itu, aku harus mengatakan hal penting padamu," ucap Rain serius. "Apa yang akan kau lakukan jika persediaan buah kita habis? Dengan apa kita mengisi perut jika lapar?"
"Eh? Dengan apa? Aku tinggal mencari buah lagi, 'kan? Kenapa kau bertanya itu?" Seraphine bingung.
"Hah .... Tak semudah itu mencari buah di dunia luar, sahabatku. Dengar, jika persediaan kita habis, kita harus berburu," cetus Rain.
Seraphine sontak bangkit. "Apa? Berburu?! Tidak! Aku tak mau! He-hewan-hewan itu ... biarkan mereka hidup!" sentaknya.
"Tak bisa, Sera! Mulailah belajar membunuh makhluk lain! Ini demi keselamatanmu saat ujian nanti!"
Seraphine menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku ... belum siap."
Rain berdecak. "Jangan keras kepala, Sera! Kau--"
Grrrrr ...
Telinga Rain berkedut. "Hah? Cepat matikan apinya!" Sontak Rain berteriak panik.
Seraphine gelagapan menyiram air ke bara api itu, menyisakan asap dari sisa-sisa kayunya.
"Cepat, Sera! Kita pergi!"
Rain tak sabaran mendorong punggung Seraphine menjauh. Gadis itu tersandung-sandung berlari meninggalkan tempat mereka tadi.
"Oh ti ... dak ...."
Groaarrr! Rraaaurrr!
__ADS_1
Terlambat. Keduanya terkepung di tengah sekelompok serigala.
--o0o--
"Hei, kau sudah dengar beritanya belum?"
"Berita tentang kandidat spesial itu, ya?"
"Benar! Katanya ada lima kandidat yang dipilih oleh kaum pelayannya Yang Mulia Valkyrie. Itu lebih banyak dari sebelumnya yang hanya dua kandidat!"
"Oh ya?"
"Iya! Dan di antara kelimanya, ada satu yang super spesial! Kau ingat siapa kaum yang menjadi tangan kanan Yang Mulia?"
"Sylph? ... Tunggu! Apa itu artinya satu kandidat ini dipilih oleh kaum Sylph? Tak mungkin!"
"Kaum Sylph?"
Perbincangan kedua pelayan itu terhenti. Suara serak itu menginterupsi mereka.
"Bisa perjelas pembicaraan kalian?" Seorang lelaki tampan yang terkesan dingin itu mendekati pelayannya.
Kedua pelayan itu langsung membungkuk hormat. "Tu-Tuan Garbera!"
"Jadi?" Lelaki tampan bernama Garbera itu mengangkat salah satu alisnya.
"Ka-kami hanya mendengar kabar burung itu dari pelayan di istana dewa-dewi. Ada seorang kandidat yang dipilih oleh Kaum Sylph," jawab pelayan, masih membungkuk.
"Hoo? Siapa gerangan gadis itu? Dari wilayah mana asalnya?" tanya Garbera lagi.
Kedua pelayan saling pandang, saling menyikut. Mereka hafal karakter tuan mereka yang terkenal sangat tegas.
Keduanya gelagapan, serentak menjawab, "Tuan! Kami sebenarnya tak ingin mengatakannya, tapi kandidat itu tak diketahui asalnya! Tidak dari wilayah dewa-dewi maupun wilayah para kaum!"
"Hah? Apa kalian sedang mengerjaiku? Bagaimana bisa gadis itu dikatakan kandidat?! Bahkan dia bukan dari wilayah Sylph?!"
Kedua pelayan itu menunduk semakin dalam menerima seruan Garbera. "Ka-kami tak berani mengerjai Tuan."
Salah satu dari mereka melanjutkan, "Kandidat itu dipilih oleh Sylph bersayap biru, Tuan! Kami tak berbohong!"
Mata Garbera sontak melebar. Lelaki tampan itu terlihat sangat tak percaya. Namun, sedetik kemudian, tawa milik Garbera membahana di sana.
"Tu-Tuan?"
"Hahaha!" Garbera mengusap wajahnya, lalu menyeringai. "Menarik. Menarik! Aku akan menemuinya untuk membuktikan kelayakannya!"
Pelayan itu kembali saling pandang melihat Garbera meninggalkan mereka. Keduanya berani bersumpah tak pernah melihat ekspresi seperti itu pada tuan mereka.
"Apa ... Tuan Garbera masih waras?"
"... Sepertinya tidak."
--o0o--
"Bunga merah merona, seperti jiwaku gembira ...."
Nyanyian yang terdengar dari kamar mandi itu membuat beberapa orang terheran.
"Apa terjadi hal baik pada nona?" Salah seorang wanita berpakaian pelayan bertanya.
"Kau tahu 'kan kalau nona dipilih sebagai kandidat untuk Legenda Valkyrie itu? Dewa Hades memilihnya," balas temannya.
__ADS_1
Para pelayan itu terkejut. "Dewa Hades benar-benar memilih nona? Dengan ... sifat nona yang temperamental itu?" bisik mereka.
"Percayalah. Aku juga sulit memercayainya."
"Hah ... semoga nona tak mengacau saat ujian Valkyrie itu. Apa yang dipikirkan Dewa Hades sih?"
"Entahlah. Yang aku dengar, Dewa Hades diharuskan mengirim minimal satu kandidat untuk Legenda Valkyrie itu. Dewa Zeus yang menyuruhnya karena selama ini Dewa Hades nyaris tak pernah mengirim kandidat."
"Ukh ... kasihan Dewa Hades. Karena terpaksa, beliau sampai memilih nona."
Kriiieett ...
Pintu kamar mandi terbuka. Gadis yang memakai jubah mandi itu berjalan sambil bersenandung ria, terlihat menikmati hidupnya saat ini.
Sejak terpilihnya ia sebagai kandidat Valkyrie, fasilitas yang didapat berkembang pesat. Ia yang dulunya hanya menerima kehidupan biasa kini diperlakukan bak orang penting. Hal sama terjadi pada seluruh kandidat dari dewa-dewi.
"Aah ... Tuan Hades akhirnya memilihku," kata gadis itu, "Tak sia-sia aku menuruti semua pelatihannya selama ini, ufu!"
Pelayan yang melihat kelakuan aneh itu tersenyum kecut. Seorang dewa yang dipanggil 'Tuan', itu hal mengejutkan.
"Apa kalian lihat-lihat?! Menurut kalian, aku aneh, ya? Hah?!" Gadis itu memekik.
"Ti-tidak, Nona."
"Huh, aku mau tidur. Bawakan baju tidurku!" perintah gadis itu melambaikan tangannya.
Tanpa banyak bicara, para pelayan menyiapkan baju tidur dan ranjangnya. Setelah rambutnya tersisir rapi, gadis itu menghempaskan dirinya di ranjang.
"Barang-barangku sudah siap, 'kan?"
Pelayan mengangguk, menerbitkan seulas senyum di bibir gadis itu.
"Aah ... besok aku akan berangkat ke istana Dewa Zeus bersama Tuan Hades .... Senangnyaaa ...."
Helaan napas terdengar pelan dari para pelayan. Baru sebentar nona mereka bersikap aneh dan baik, sedetik kemudian langsung marah-marah tak jelas. Eh, ternyata ... berubah lagi.
"Selamat malam, Tuan Hades .... Aku akan senang memimpikanmu."
Para pelayan tertawa kaku tanpa suara sambil meninggalkan kamar gadis itu.
Dewa Hades yang malang ....
--o0o--
Srekk ... srekk ...
Suara semak-semak itu memecah keheningan malam. Sepasang kaki jenjang tak sengaja menginjak ranting kecil, menyebabkan suara lain.
Seorang gadis dengan busur beserta anak panah di punggungnya itu waspada terhadap sekitarnya. Matanya nyalang menoleh kanan-kiri, mencari sesuatu yang janggal.
Sedetik kemudian, helaan napas terdengar pelan.
"Sepertinya tak ada bahaya. Aku bisa bermalam di sini."
Gadis itu bersandar di batang sebuah pohon. "Ah, tinggal berapa hari sampai ujian Valkyrie dimulai? Aku harus mengikutinya."
Mata gadis itu terpejam.
"Rain ... tunggu aku ...."
To be continue ...
__ADS_1