The Valkyrie

The Valkyrie
KELOMPOK BINTANG HITAM


__ADS_3

Bintang Hitam adalah satu-satunya kelompok penjahat yang ada di dunia ini. Kelompok ini sudah ada sejak era Valkyrie sebelumnya. Anggotanya dianggap sebagai makhluk terbengis dan terkejam yang pernah ada.


Pernah suatu ketika, Bintang Hitam berhadapan dengan dewa-dewi. Dikabarkan pertarungan mereka hampir seimbang, membuat seluruh dunia takut pada mereka.


Anggota Bintang Hitam berasal dari berbagai kaum yang merasa haus akan kejahatan. Tiap kali ada yang bertemu dengan mereka, maka pembantaian akan terjadi.


Namun, keberadaan mereka hilang begitu Valkyrie sebelumnya meninggalkan dunia, seolah mereka ikut mendekam dalam kegelapan.


"Aku mendengar kabar dari penduduk kota. Salah satu dari mereka sempat melihat Bintang Hitam saat berburu di hutan," cerita Fu.


Chia menimpali, "Apa kalian tahu apa yang terjadi? Uuh, sangat mengerikan. Si Pemburu itu pulang dengan sayatan sana-sini di tubuhnya."


Fu mengangguk. "Kami sempat melihat keadaan si Pemburu itu. Lebih seperti mayat hidup yang kehilangan akal. Sepertinya ia trauma," katanya.


Seraphine bergidik ngeri. Dia mengusap-usap tubuhnya agar perasaan merinding itu hilang. "Aku jadi takut kalau seandainya kita bertemu kelompok itu," ujarnya sambil menunduk.


"Tenanglah, Sera. Selama tiga hari ini kau sudah berlatih dengan Gemini. Pasti kemampuanmu meningkat. Jangan pikirkan Bintang Hitam. Itu hanya rumor," timpal Rain yang sedang menyusun kayu bakar untuk memasak.


Ya. Sudah tiga hari lamanya setelah kejadian si Tuan Pedang. Kelimanya melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Semalam, mereka sampai di Kota Bulan Sabit. Mereka memilih untuk menetap di padang rumput yang ada di kota itu beberapa saat.


Dinamakan Kota Bulan Sabit karena kota ini termasuk ke dalam wilayah sang Dewi Bulan, Artemis.


Pagi harinya, si Kembar Gemini diminta Rain untuk terjun ke kota, mencari informasi, dan mendapatkan bahan makanan. Dari mana uangnya? Tenang, Rain yang menyediakannya.


"Aku memiliki cukup banyak Drachma. Pakai saja. Kalau kita memerlukan lebih banyak, nanti kita atur," kata Rain saat ditanya dari mana makhluk kecil itu mendapat uang.


Drachma adalah mata uang dunia Valkyrie. Berbentuk seperti koin berlapis emas. Satu Drachma bisa membeli beberapa sayuran. Jika kau memiliki lima Drachma, kau akan bisa membeli pedang.


Menuruti permintaan Rain, Si Kembar Gemini pergi begitu matahari terbit. Dengan mengantongi beberapa jeruk, keduanya menelusuri Kota Bulan Sabit itu.


Mereka sempat mendengar perbincangan penduduknya. Tinggal 10 hari menuju ujian Valkyrie dimulai.


"Ini ... daging hewan?" Seraphine mengangkat seikat daging sapi dari kantong belanja mereka.


"Iyalah. Kau pikir daging apa? Manusia?" sindir Chia tertawa, "Kita bukan kanibal, dan yang kau angkat itu daging sapi kualitas terbaik di kota, Nona."


"Wow, aku baru pertama kali melihat daging yang diikat seperti ini," gumam Seraphine


"Nona, jangan katakan kalau kau juga belum pernah memakan daging?" Fu menimpali begitu ia selesai menyalakan api.


"Kau tahu Sera bagaimana, Fu. Selama ini kita kan hanya memakan buah," sahut Rain.


"Wah, wah, si Kembar sudah kembali? Apa saja yang kalian dapatkan?" Suara khas laki-laki itu datang dari belakang Chia.

__ADS_1


"Huh! Jangan berlagak seolah kau pemimpinnya, hai Tuan Pedang," kesal Fu.


"Ck! Namaku bukan Tuan Pedang. Hentikan panggilan itu! Aku punya nama sendiri, Bocah Fu."


"Bocah?! Kau--"


"Jangan mulai lagi, kalian berdua. Aku lelah jika setiap waktu kalian bertengkar seperti ini." Seraphine melerai keduanya. "Selamat datang, Mil. Kau tak lupa memetik buah pesananku, 'kan?"


Mil, alias si Tuan Pedang membuang muka saat ia beradu pandang dengan Fu. Laki-laki itu diminta mengumpulkan buah-buahan oleh Seraphine.


"Sudah kupetik semua buah yang aku temui, Gadis Angin," jawab Mil, "Tapi buah pir yang kau sebutkan ciri-cirinya padaku tadi pagi tak ada."


Seraphine mengangguk mengerti. "Tak apa. Ini sudah cukup untuk persediaan kita," katanya.


Mil kemudian duduk bersandar di batang pohon. "Tadi aku mendengar hal menarik. Bocah Fu, kau menyebutkan kelompok Bintang Hitam, 'kan? Tadi aku juga bertemu dengan mereka di hutan," lapor Mil.


Mengabaikan panggilan yang membuatnya kesal itu, Fu lebih tertarik dengan Mil yang bertemu dengan Bintang Hitam. "Hei, kau bertemu, tapi masih baik-baik saja?"


Seraphine, Chia, juga Rain yang kini sedang membakar daging sapi juga menoleh pada Mil.


Mil mengendikkan bahunya tak peduli. "Entahlah. Mungkin mereka tak punya keinginan untuk melukaiku. Mereka hanya berkata, 'Kali ini kami lepaskan, tapi jika aku melihat wajahmu lagi, nyawamu milikku.' Itu perkataan pemimpin mereka," jelas Mil.


"Kau ... tidak takut berhadapan dengan Bintang Hitam, Mil?" tanya Seraphine.


"Sudah, sudah! Kita hentikan pembicaraan mengerikan ini. Dagingnya sudah matang!"


--o0o--


Di balik kegelapan hutan ...


"Master, Anda yakin melepas laki-laki itu begitu saja?" Seorang gadis bertanya pada sosok yang memakai jubah hitam.


"Tak apa. Dia tak akan membahayakan kita. Lebih penting lagi, kau harus terus berlatih untuk ujian Valkyrie menyebalkan itu. Rebut takhtanya, dan kita akan berkuasa sepenuhnya! Hahaha!"


Gadis itu menunduk dalam. "Sesuai keinginanmu, Master."


"Bagus! Nah, sekarang kau kembali saja. Jangan sampai Dewi Cinta itu tahu tentangmu yang menjadi mata-mata. Pergi!"


Gadis itu menyeringai. "Baik, Master!"


Sepeninggal gadis itu, sang master kembali tertawa. "Sebentar lagi, sebentar lagi dunia ini akan menjadi milikku! Valkyrie bodoh! Tak akan aku biarkan kau bangkit!"


"Heh, ini akan seru melihat wajah dewa-dewi itu putus asa! Kegelapan ... pasti akan menang!"

__ADS_1


--o0o--


"Apa perlu kita menetap di kota ini, Yien?"


"Tak perlu. Kita akan beristirahat sejenak di sini. Sorenya kita berangkat lagi, An."


Yien dan An, keduanya juga terus melanjutkan perjalanan mereka. Selama perjalanan, Yien menceritakan tujuannya mengikuti ujian Valkyrie pada An.


"Aku hanya ingin diakui olehnya, An," kata Yien waktu itu.


"Dan siapakah dia? Pasti orang yang berharga bagimu bukan?"


"Ya, sangat berharga. Rain lebih berharga dibanding apa pun."


Awalnya, An tak mengetahui identitas sebenarnya dari Yien, tapi begitu Yien bercerita, An sangat terkejut. Tak disangka bahwa Yien adalah saudari kandung Valkyrie sebelumnya.


Kalau Yien adalah saudari Yang Mulia Valkyrie sebelumnya, aku tak bisa menebak berapa umurnya sekarang, pikir An waktu itu.


"Hei, An, kau tahu nama kota ini?" Pertanyaan Yien menyentak An dari lamunannya.


"A-ah, aku juga tak tahu. Mau kutanya pada wanita itu?" jawab An sambil menunjuk seorang wanita yang menjual daging.


Yien hanya mengangguk, lantas An berlari kecil ke tempat wanita itu.


Yien termenung. Kalau aku tak salah, tinggal 10 hari sampai ujian Valkyrie itu. Rain, aku tak sabar bertemu denganmu ....


Tak membutuhkan waktu lama, An sudah kembali ke tempat Yien berdiri. Gadis itu terlihat membawa seikat daging.


"Bagaimana?"


An tersenyum. "Ini Kota Bulan Sabit! Ah, bibi itu memberi kita ini saat aku berkata akan memburu binatang untuk makan siang. Ini daging sapi kualitas terbaik di kota ini, katanya," celoteh An.


Yien manggut-manggut. "Baik. Kalau begitu, kita akan cari tempat yang nyaman untuk beristirahat. An, kau punya Drachma?"


An merogoh kantongnya. "Tak banyak. Apa kita akan ke penginapan?" tanyanya sambil memperlihatkan koin Drachma.


Yien kembali mengangguk. "Aku merasa harus memulihkan punggungku karena terlalu sering tidur di atas tanah atau di batang pohon. Ayo kita cari yang murah saja!" ajak si Gadis Pemburu itu.


"Baik!"


Saat itu, Yien belum menyadari bahwa Rain dan teman-temannya ada di Kota Bulan Sabit.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2