The Valkyrie

The Valkyrie
KESATRIA VALKYRIE


__ADS_3

"Sepertinya mereka akan menginap di sini," bisik si Jubah Putih.


Si Jubah Putih yang mengintai dari atas pohon segera turun begitu si Jubah Biru datang membawa beberapa ikan. Mereka sempat terpisah untuk menyiapkan makan malam.


"Bagaimana situasi mereka? Ada kesempatan mengerjai?" tanya si Jubah Biru sambil mulai menyiapkan ikan untuk dibakar.


"Sayangnya tak ada kesempatan. Sylph itu sangat awas pada sekitarnya," jawab si Jubah Putih. "Oh, ada sungai dekat sini? Kau menangkap terlalu banyak ikan, Fu."


Si Jubah Biru tertawa. "Aku lapar mengikuti mereka seharian, Chia. Oh, ini ikanmu."


"Cepat matikan apinya!"


Serempak keduanya menoleh ke sumber teriakan.


"Hei, itu suara Sylph itu! Apa yang terjadi?" Si Jubah Putih segera melihat dari balik pohon.


"Oh tidak! Itu serigala!" Si Jubah Biru panik.


Sementara Rain dan Seraphine, keduanya tak sadar tatapan panik penguntit mereka. Fokus mereka hanya untuk keselamatan dari serigala.


"Sera, kau masih memakai tasmu?" Rain bertanya. Matanya awas mengawasi pergerakan kelompok serigala itu.


"I-iya, masih aku pakai--"


"Ambil balok kayu di tasmu! Kau bisa mengangkatnya? Pukul serigala jika mereka mendekatimu!" potong Rain.


Cahaya kebiruan muncul dari telapak tangan Rain, diikuti aliran udara menerpa kuat.


"O-oke. Ba-bagaimana denganmu, Rain?" Tangan Seraphine gemetar mengangkat balok kayu yang ia ambil dari tasnya.


"Aku akan mengusahakan jalan untuk kabur. Ikuti aba-abaku, Sera."


Wuuushh!


Angin yang cukup kuat menghempas beberapa serigala di depan mereka. Itu adalah kekuatan kaum Sylph.


"Ukh! Banyak sekali mereka!"


Sedang Rain sibuk, Seraphine tanpa sadar melangkah mundur menjauhi Rain.


"Sera! Sekarang!" Rain menoleh ke belakang. "Sera--"


"Ra-Rain ... aku takut ...." Seraphine dikelilingi serigala, memisahkannya dari tempat Rain.


Grrrr!


Rain mengepalkan tangannya erat. "Sera! Tunggu aku di situ! Jangan biarkan serigala itu berhasil menerkammu!"


Tepat saat itu, cahaya kebiruan milik Rain semakin bersinar. Daun-daun pohon sampai terkumpul bersama angin yang meliuk-liuk mengenai serigala.


Crassh!


"ARGH!"


Rain terpental. Serigala itu berhasil menorehkan luka di punggungnya.


"Rain!" Seraphine berteriak panik, hendak memaksakan menerobos serigala.


"Jangan! Diam di sana! Aku--"


"RAIIIN!"

__ADS_1


BUM!


"Butuh bantuan, hai Nona?"


Mata Seraphine melebar. Dua sosok anak kecil dengan warna jubah berbeda tiba-tiba datang dari atas, seolah-olah mereka datang dari langit. Tanah yang mereka pijak sampai terbenam dalam, menyebabkan kawah cukup besar.


"Chia! Kau urus yang di sana! Aku akan menolong Sylph yang dibawa serigala itu!" Si Jubah Biru melesat mengejar serigala yang membawa tubuh lemah Rain.


Ya. Si Jubah Biru dan Putih langsung merangsek maju begitu Seraphine menjauhi Rain. Jarak antara tempat mereka dengan tempat Seraphine dan Rain cukup jauh sehingga mereka terlambat datang.


"Si-si-siapa ka-kalian?" Seraphine gemetar mengangkat balok kayu begitu si Jubah Putih tiba-tiba di dekatnya.


"Kami?" Si Jubah Putih mengeluarkan tongkatnya. "Nanti saja perkenalannya! Sylph yang bersamamu itu bisa menjelaskan."


Seraphine masih gemetar menatap si Jubah Putih.


"Hei, Nona, berlindung di belakangku. Dan singkirkan balok itu. Itu tak berguna jika dipakai olehmu," ucap si Jubah Putih.


Siiing!


Angin ribut langsung mengenai para serigala begitu si Jubah Putih melambaikan tongkatnya.


CRAK! CRASH!


"A-a ...." Tubuh Seraphine bergetar hebat menyaksikan pemandangan di depannya.


Para serigala yang mengelilingi Seraphine terbunuh dalam sesaat. Aroma darah langsung menguar, menusuk indra penciuman Seraphine.


Pluk!


Seraphine jatuh terduduk. Selama hidupnya, ia tak pernah menyaksikan adegan pembunuhan, apalagi itu dilakukan oleh anak kecil berjubah putih itu.


Si Jubah Putih menurunkan tongkatnya, menghela napas. Ia berbalik pada Seraphine yang terduduk.


"Bisa berdiri?"


--o0o--


Drap! Drap! Drap!


Lelaki tampan bernama Garbera itu menggebah kudanya. Beberapa menit lalu, saat matanya hendak terpejam, sengatan listrik datang ke pikirannya, membuatnya sontak terbangun.


Tanpa memberitahu bawahannya, Garbera segera meninggalkan kediamannya.


"Kekuatan ini .... Pasti tidak salah! Ini si kembar Gemini! Rupanya mereka sudah terbangun," gumam Garbera.


Lelaki tampan itu mempercepat laju kudanya, meninggalkan jejak di padang rumput itu.


"Aku harus cepat!"


--o0o--


Sinar mentari menyoroti wajah Seraphine. Gadis itu mengernyit. Matanya mengerjap terbuka.


"Sudah ... pagi?" Seraphine mengucek matanya sambil mengumpulkan kesadaran. "Rain ... kenapa tak membangunkanku-- RAIN!"


Gadis itu bangkit dengan raut cemasnya. Ingatan tentang kejadian semalam kembali menerpanya.


Seraphine menyibak selapis kain yang menyelimutinya. "Rain! Aku akan menemukanmu! Rain!"


"Sudah bangun?"

__ADS_1


Seraphine menoleh, mendapati si Jubah Putih yang menolongnya semalam. Kakinya cepat menghampiri anak kecil itu. "Di mana Rain? Di mana sahabatku?!"


"Wow, wow, tenanglah," kata si Jubah Putih sambil melepas cengkeraman kuat Seraphine. "Sylph itu baik-baik saja. Saudaraku sedang merawatnya. Ikut aku."


Tanpa banyak ucap, Seraphine mengikuti si Jubah Putih.


"Oh, Sera? Kau sudah bangun?" Itu suara Rain.


"Rain!" Gadis itu menghambur tubuh mungil Rain ke dekapannya. Cairan bening mengalir turun dari matanya.


"Maafkan aku ... maafkan aku yang terlalu lemah ini," isak Seraphine.


Rain mengusap pipi Seraphine lembut. "Ini bukan salahmu, Sera. Aku yang tak waspada pada sekitar. Tak apa, hanya luka gores. Untungnya sayapku tak terkena," hibur Rain.


Sementara menyaksikan adegan mellow kedua sahabat itu, si Jubah Putih dan Biru duduk di hadapan mereka.


"Bagaimana kondisi kalian? Fu hanya bisa mengobati sedikit, kuharap kalian baik-baik saja," kata si Jubah Putih.


Seraphine mendudukkan Rain, lalu menoleh pada duo berjubah itu. "Aku baik-baik saja. Sepertinya Rain juga. Terima kasih," katanya.


"Syukurlah." Si Jubah Biru terlihat merogoh kantongnya. "Ini hadiah dari kami sebagai permintaan maaf dan terima kasih," lanjutnya.


Rain mengernyit bingung. "Permintaan maaf? Terima kasih?"


"Iya. Terutama untukmu, Nona. Kami beberapa tahun ini tinggal di dekatmu dan mengawasimu, tapi tak pernah memberitahumu," sahut si Jubah Putih.


Seraphine memandang heran. "Aku tak mengerti maksud kalian."


"Maksud Chia, Nona adalah orang yang membangunkan kami dari tidur panjang. Mungkin Nona tak menyadarinya, tapi tak sembarang orang yang bisa membangkitkan kami," jelas si Jubah Biru.


Mata Rain sontak melotot. "Jadi, kalian adalah ...!"


Duo berjubah itu saling pandang dan tersenyum lebar. "Sepertinya kau mengerti, Sylph! Yah, itu wajar karena kau adalah anak dari tangan kanan Yang Mulia era lalu."


"Aku tak percaya bisa bertemu kalian secepat ini!" Rain menutup mulutnya. "Ibu sering mengisahkanku tentang kalian sewaktu kecil! Sejak kematian ibu, aku selalu berkelana hingga akhirnya bertemu Sera tiga tahun lalu," ucap Rain.


Si Jubah Putih mengangguk. "Ya, kematian ibumu adalah hal menyedihkan bagi kami setelah kematian Yang Mulia."


"Oh, oh, kalau aku tak salah, kalian pasti--"


"Tunggu!" Seraphine mendadak bangkit dengan kesal. "Aku tak mengerti arah pembicaraan kalian! Uukh!"


Rain tertawa. "Maafkan aku, Sera. Aku terlalu bersemangat karena bisa bertemu mereka," katanya.


"Dan? Siapa mereka?"


Rain mengepakkan sayapnya, menunjuk satu per satu dari duo berjubah itu. "Yang berjubah biru namanya Fu. Dan yang jubah putih adalah Chia," jelas Rain mengenalkan mereka.


Si Jubah Biru mengangguk. "Aku Fu ..."


"... dan aku Chia." Si Jubah Putih melanjutkan.


"Kami adalah Gemini Fuchia. Salam kenal, Nona kandidat!"


Seraphine melongo. "Gemini? Bintang kembar itu?"


Fu mengangguk. "Benar. Kami salah satu dari 12 rasi bintang. Kami sudah ada sejak era Valkyrie pertama. Jika Valkyrie meninggalkan dunia ini, maka kami para rasi bintang akan memilih tidur panjang atau hidup di tempat terpencil."


"Lebih singkatnya, kami adalah kesatria Valkyrie, Nona!"


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2