The Valkyrie

The Valkyrie
PERUBAHAN


__ADS_3

Langit masih terlihat gelap saat terdengar suara berisik dari gesekan daun-daun pohon di hutan. Jika diperhatikan lebih dekat, ada sekelompok serigala yang mengejar dua anak kembar berjubah biru dan putih.


"Uwah! Kenapa umpannya harus kita, Fu?!" Si Jubah Putih berteriak sambil berlari seraya menghindari pohon dan ranting di depannya.


Fu si Jubah Biru di sebelahnya ikut berteriak, "Kita harus mengalihkan mereka, Chia! Sampai Seraphine siap!"


"Tak bisakah aku menggunakan tongkatku?!"


"Tak boleh! Kalian hanya harus bertahan!" Laki-laki berambut merah yang melompat dari dahan satu ke dahan lainnya itu menimpali. Tangannya gesit menebas apa pun yang menghalanginya.


"Mil!" Chia si Jubah Putih memelotot. "Kenapa kau di sini?! Bagaimana persiapan Seraphine?!"


Mil menyeringai. "Haha! Tenang saja, Chia! Tuanku itu lebih dari siap. Kita hanya harus menggiring serigala-serigala ini ke padang rumput tempat Seraphine berada!"


"Ukh, kalau ini bukan latihan untuknya, aku tak sudi menjadi umpan!" gerutu si Jubah Putih itu.


Mil hanya tertawa kencang, lantas menoleh ke belakang di mana kelompok serigala yang sengaja mereka giring itu masih mengejar.


Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian Seraphine menaklukkan rasa takut dan berdamai dengan memori kelamnya. Selama itu, gadis yang sedari awal bernetra emas itu menerima pelatihan keras dari ketiga gurunya, yaitu Mil dan si Kembar Gemini.


Sementara itu, Aquarius Dahlia kembali ke kediamannya karena harus bersiap menuju istana Dewa Zeus juga. Sepeninggal Dahlia, tiba-tiba datang seorang Kesatria Valkyrie lainnya, Libra Garbera.


Garbera datang untuk menanyakan cerita lengkap dari pertarungan melawan Bintang Hitam. Laki-laki tampan itu juga menceritakan tentang busur Yien yang hilang.


Mendengar ceritanya, Rain langsung menenangkan Garbera bahwa busur Yien ada padanya. Ya, Rain sudah yakin bahwa busur yang dibeli mereka sebelum pertarungan saat itu adalah busur milik Yien.


Setelah urusannya selesai, Garbera pun kembali ke istana Dewa Zeus.


Berbagai pelatihan pun telah dilakukan oleh Seraphine. Pagi ini, bahkan sebelum matahari memunculkan sinarnya, Mil memutuskan untuk mengetes perkembangan gadis itu. Fu dan Chia bertugas menarik perhatian sekelompok serigala, sedangkan Seraphine akan menunggu di padang rumput. Rain sendiri disibukkan membuat sarapan untuk mereka.


"Ah, itu dia! Nona!" Chia memekik kencang begitu melihat Seraphine yang sudah siap dengan kuda-kudanya.


Mata emas Seraphine terlihat bersinar dengan sorot keseriusannya. Tangan gadis itu mengacungkan pedangnya pada Fu, Chia, dan sekelompok serigala yang berlari kencang ke arahnya.


"Kalau begitu ...." Fu menyeringai begitu jarak mereka semakin memendek. Dalam sekali lompatan, ia dan Chia memberikan ruang agar Seraphine bisa menebas serigala-serigala itu.


"Nona! Kau bisa melakukannya sekarang!" lanjut Fu begitu mendarat di sebelah Mil, tak jauh dari tempat Seraphine.


Seraphine mengambil napas dalam. Dia mengeratkan genggamannya pada pedang sebelum melesat sambil menebas serigala-serigala itu.


CRASH! SRET!


Tak ada ketakutan di matanya. Yang ada hanyalah sorot tajam nan tegas yang membuat mata emas itu semakin terlihat indah.


Wuuush!


Seraphine refleks melompat begitu seekor serigala hendak menerkamnya dari belakang.


"Hehe, kau tak akan bisa menerkamku, Tuan Serigala! Latihanku selama ini lebih dari cukup untuk membunuh kalian!"


Seraphine menggunakan segel angin untuk mendatangkan pusaran angin yang kuat di tengah-tengah kelompok serigala itu. Beberapa bernasib nahas dengan luka sana-sini, membuat mereka langsung tergolek lemah.


Hanya tersisa dua serigala.


Tap!


Gadis bermata emas itu mendarat mulus di depan kedua serigala itu. Matanya dengan cepat melirik Mil. "Mil! Pinjamkan pedangmu!" pintanya.

__ADS_1


"Haha! Pakai sesukamu, Seraphine!" Mil melemparkan pedangnya.


"Tenang saja!" Seraphine menyeringai, mengambil sikap awalan sebelum melompat mengambil pedang Mil.


"Hiya! Rasakan ini!"


JLEB!


Rawrrr!


Teriakan kesakitan terdengar pilu dari dua serigala yang tubuhnya tersayat dalam itu. Darah segar mengalir dari sela-sela lukanya, mengenai rumput di bawahnya.


Seraphine mengibaskan pedang di kedua tangannya, memercikkan sisa-sisa darah yang ada di sana. Pakaian dan wajahnya ternodai warna merah di beberapa tempat.


Plok! Plok! Plok!


"Wah, wah! Kau semakin hebat saja, Nona!" Chia bertepuk tangan riang.


"Usaha yang bagus, Nona. Kemampuanmu sudah berkembang sejauh ini," komentar Fu sambil menepuk ringan bahu Seraphine.


Seraphine tersenyum. "Ini semua berkat kalian juga. Terima kasih sudah melatihku!" Matanya kemudian beralih pada Mil. "Bagaimana, Mil? Apa kemampuanku lulus tes?"


"Yah, tak buruk juga. Aku paling suka aksimu yang terakhir, Seraphine," jawab laki-laki berambut merah itu.


Seraphine mengusap tengkuknya pelan. "Itu hal dadakan yang terpikirkan olehku, Mil. Syukurlah bisa berjalan dengan baik."


Mil tertawa. "Jangan khawatir! Kalau kau gagal, kau tinggal berlatih lebih keras lagi!"


"Memang benar, tapi ...." Seraphine mendongak, menatap sendu pada langit yang mulai mengeluarkan semburat merah.


Fu tersenyum. "Mau bagaimana lagi? Itu sudah kesepakatan kita dari awal, 'kan? Kami melatih hanya sampai kita tiba di istana Dewa Zeus," ucapnya.


"Tapi jangan bersedih, Nona. Kita pasti akan bertemu lagi saat hari penobatanmu sebagai Valkyrie. Kau tahu, saat kau menceritakan bahwa takdir pemilik mata emas dan aura emas adalah menjadi Valkyrie, aku sangat senang! Aku, juga Fu, sudah mengakuimu, Nona!" Mata Chia berbinar saat mengatakannya.


"Aku setuju dengan Chia. Anggap saja bahwa ujian Valkyrie adalah rintangan akhir agar kita bisa bersatu kembali. Aku sepenuhnya yakin bahwa kaulah yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya, Nona," sahut Fu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hei, jangan meremehkan ujian Valkyrie, Fu, Chia." Rain tiba-tiba datang. "Walau menurut kalian kalau Sera ikut ujian hanya sekadar formalitas, tetap saja tingkat kesulitannya sama seperti sebelumnya. Kalau Sera gagal, dia tak akan menjadi Valkyrie," lanjutnya.


"Benar juga ...."


Rain menghela napas. "Sudahlah, daripada memusingkan hal itu, lebih baik kalian membersihkan diri setelah berkeringat. Sera, jangan lupa bersihkan noda darah di pakaianmu itu."


Seraphine mengangguk. "Tentu. Bagaimana denganmu, Rain?"


"Aku akan menata sarapan kita. Cepat! Kita akan berangkat setelah sarapan!"


Mengikuti intruksi Rain, keempatnya kompak bubar untuk membersihkan diri. Rencananya, setelah sarapan berakhir, kelompok Seraphine akan melanjutkan perjalanan akhir menuju istana Dewa Zeus.


Benar. Posisi mereka saat ini berada di Kota Petir Biru, salah satu kota di wilayah kekuasaan sang Dewa Langit. Kota Petir Biru adalah kota terdekat dari istana Dewa Zeus. Kelompok Seraphine memutuskan untuk bermalam sementara sebelum melanjutkan perjalanan.


Beberapa hari telah berlalu, hanya tinggal 2 hari menuju ujian Valkyrie.


--o0o--


"Ayolah, Yien. Apa kau benar-benar tak mau melihat wajah Seraphine? Ujian Valkyrie sudah dekat, tapi kau belum mengenali wajah gadis yang akan menjadi Valkyrie selanjutnya."


An, gadis yang belakangan ini selalu mengikuti langkah Yien itu membujuk. Kakinya menyamakan langkah dengan Yien yang sedang memegang sarung pedang itu.

__ADS_1


"Tidak perlu, An. Aku hanya harus melindunginya. Lagipula, apa kau tak ingat cerita Garbera? Garbera mengatakan bahwa ciri fisik Seraphine adalah berambut cokelat panjang dengan mata emas. Dari sana aku menyimpulkan betapa cantiknya dia," jawab Yien acuh tak acuh.


Saudari Valkyrie sebelumnya itu sudah menerima tugasnya untuk melindungi Seraphine selama ujian berlangsung. Begitu juga An yang menerima permintaan dewa-dewi tentang Asha.


Keduanya terus tinggal di istana Dewa Zeus yang memang terbuka bagi para kandidat hingga hari ini.


An mengembungkan pipinya. "Aku tahu itu, Yien. Dia sosok yang luar biasa. Kata Tuan Libra, busurmu itu disimpan olehnya, 'kan?"


"Disimpan oleh Rain, An. Seraphine yang membujuk Rain agar bisa membeli busurku. Ah, ingatkan aku agar berterima kasih padanya," koreksi Yien.


"Yah, karena busurmu sudah ditemukan, itu alasannya kau beralih ke aliran pedang sampai busurmu kembali ke tanganmu. Apa aku benar?"


Yien mengangguk. "Aku harus bergerak agar tubuhku tak kehilangan sensasi menggunakan senjata." Gadis itu menghentikan langkah begitu sampai di tempat latihan pedang.


"Kalian lama sekali. Aku bosan menunggu." Seorang laki-laki berbaju perang itu menatap An dan Yien kesal. Tangannya memutar-mutar pedang miliknya.


Di sebelahnya ada seorang wanita dengan mawar yang terselip di rambutnya. Wajahnya juga terlihat bosan, sama seperti laki-laki itu.


Merekalah sang Dewa Perang dan Dewi Cinta.


An membungkuk. "Hormat kepada Dewa Ares. Hormat kepada Dewi Aphrodite."


Yien menyusul dengan menunduk sekilas.


"Ya, ya. Kita mulai saja latihannya, Yien, An," balas Ares seraya menekan-nekan daerah lehernya. Dia pun bersiap memulai latihan.


Aphrodite di sebelahnya juga mengambil mawarnya dan memasang kuda-kuda. Sementara Yien dan An siap dengan senjata dan kekuatan masing-masing.


BUM!


Benturan kekuatan Yien dan Ares memulai sesi latihan mereka hari ini.


Sejak menerima tugasnya, Yien dan An sepakat berlatih di bawah bimbingan Aphrodite dan Ares. Keduanya berhubungan dengan Asha dan Seraphine.


Yien sibuk menghindari pedang Ares yang bergerak cepat. Sesekali dia memasang pedangnya untuk perlindungan. Beberapa hari berlatih bersama, rupanya Yien cukup berkembang.


Namun, perbedaan kemampuan berpedang keduanya sangat jauh. Ares dengan mudahnya memukul mundur Yien hingga beberapa meter.


"Apa hanya itu kemampuanmu, Yien?" seringai Dewa Perang itu.


Yien balas menyeringai. "Tentu tidak, hai Dewa Perang. Aku harus menyelesaikan latihanku hari ini, jadi aku akan serius dari awal!"


"Hoo?" Ares terlihat tertarik dengan sikap serius Yien yang jarang ditampilkannya. "Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin cepat menyelesaikan latihan, hm?"


"Kenapa, katamu? Tentu saja ...."


Wuuush!


CLANG!


"Itu karena dua hari lagi menuju ujian Valkyrie!"


Ares semakin melebarkan seringainya melihat pedangnya berhasil dilayangkan jauh oleh Yien.


"Menarik! Kalau begitu, apa aku serius saja?"


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2