![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
[Kembali ke masa sekarang ...]
"Ini bayi kita, Baby."
Plak
Tegangan ribuan volt listrik itu menyebar ke permukaan rahang tegasnya. Menghantam rasa kompleks di dalam dada yang menyesak ini. Seketika meleburkan harap dan sesal, menjadikan sepenuhnya keping-keping tak berharga di dalam hati, hingga tiada menyisakan ruang kosong untuk mengisinya kembali.
Demikian rasa kesemutan itu, begitu menyengat ke pipi - menancap di hati dan meninggalkan bekas di sana.
Jari-jari panjang itu meraba bekas tamparan tersebut. Sungguh Mario terkesiap. Terdiam seribu bahasa, meski dirinya telah mengira, bahkan sangat mengetahui insiden ini lambat laun akan terjadi - setelah pertemuannya kembali dengan Davina kemarin malam.
Perjumpaan tak disangkanya dengan sosok manis ini, terlampau mengejutkan dunianya. Terlebih mengetahui sosok yang menjadi sesalannya itu tak mengingatnya sama sekali. Haruskah dia senang atau sedih atas hilang ingatannya sosok ini padanya.
*This Is Your Baby*
Jari-jari panjang itu, meraba-raba dinding di sekitarnya - mencari saklar lampu.
*“WHAT THE FU*K!” Mario mengumpat kasar. Ketika lampu kamarnya telah terang benderang, menyinari seisi kamarnya. Dan saat dia berbalik, mata bulatnya membola seakan keluar dari sangkarnya. Duduk di atas tempat tidurnya, nenek Erika - sang tetua di keluarga Archielo.
Pria ini tak menyangka akan menemui neneknya berada di kamarnya pada tengah malam begini. Biasanya wanita berumur uzur itu telah tidur, paling malam tidur jam sembilan.
“Nenek? Mengapa di sini? Belum tidur?”
“Dari mana saja kau Mario! Tengah malam baru pulang! Bukankah pesta pernikahan Chase telah selesai beberapa jam yang lalu.” Alih-alih menjawab pertanyaan cucu keduanya ini, nenek Erika justru menyemprot pria ini dengan omelannya.
“Ada sedikit pekerjaan yang baru kuselesaikan, Nek.” Mario memberi alasan, berjalan santai memasuki kamar ganti pakaiannya, melepas jasnya dan melemparnya asal ke lantai, lalu mengambil kaus dan celana trening di dalam lemari.
“Lagipula aku bukan anak remaja lagi, harus pulang tepat waktu.” kilah Mario memutar bola mata. Berjalan keluar dari ruang ganti pakaian dengan tubuh bagian atasnya tak tertutupi sehelai benang pun, menampakkan otot-otot perutnya yang keras dan padat.
“Dan aku tak mesti melapor apa pun yang kulakukan pada orang di rumah ini,” lanjut Mario memberikan argumennya, mengedikkan bahunya acuh. Kemudian memakai kausnya, tak ingin angin malam menyerang tubuhnya.
Mata sang nenek memicing tajam, menangkap sekilas bekas goresan berbentuk cakaran di punggung lebar Mario serta gigitan di bahunya - sebelum tubuh itu tertutup sempurna di balik kaus putih polos itu.
“Kau benar. Ternyata kau memang sudah dewasa.”
Mario terkekeh geli akan ucapan neneknya. Memang kadang ajaib neneknya ini. Terlebih lagi sifatnya, layaknya anak kecil, segala keinginannya harus dituruti.
“Tentu saj---”
“Kalau kau tahu sudah dewasa. Seharusnya kau bertanggung jawab pada orang yang telah memberi cakaran padamu itu.”
*This Is Your Baby*
Semua kompak terkejut, seketika ruang keluarga itu menjadi sunyi senyap bagai ada hantu lewat di sekitar mereka. Terkecuali Mario, tetap tenang, karena sebelumnya memang sudah mengetahui kebenarannya. Dia mendengkus keras, tak rela akan keputusan sepihak tersebut.
Lima belas menit yang lalu, nenek Erika mengumpulkan mereka di ruang keluarga. Wanita tua itu memberikan kabar yang sangat mengejutkan. Mendadak, tanpa rencana sebelumnya, sang nyonya besar mengumumkan bahwa cucu keduanya, Mario Archielo akan menikahi seseorang.
Tentu saja semua anggota keluarga menentang keras niat nenek Erika. Baru kemarin Chase---cucu pertama---melangsungkan pernikahannya dengan Marrie. Tiba-tiba saja, tanpa rencana sebelumnya, Mario akan segera menyusul menikah dalam waktu dekat.
Dan lebih pelik lagi, mereka belum pernah melihat calon Mario selama ini, mengingat sifat Mario yang tak mau terikat dalam hubungan nyata. Jangankan untuk melihat secara langsung calonnya, berbicara sepatah kata pun tentang orang yang dekat dengannya saja Mario tidak pernah.
__ADS_1
“Siapa calonnya, Mario?” tanya sang kepala keluarga, Andrew Archielo.
“Bagaimana dengan keluarganya? Apa punya perusahaan besar seperti kita?” timpal ibunya, Roxanne.
“Yup, benar kata Mommy. Kakak kau harus memperhatikan dari mana dia berasal. Jangan asal pilih.” Kini adik bungsu Mario---Lily---ikut-ikutan bicara.
“Nama calonmu?” tanya Chase ikut penasaran.
Yang sama sekali tak mengajukan pertanyaan pada Mario di keluarga ini hanya Ravi. Tetap cuek dan santai. Baginya tak masalah Mario menikah dengan siapa pun. Menurutnya lebih baik segera menikah, agar kakak keduanya ini tak bertindak liar lagi. Hitung-hitung belajar bertanggung jawab dan menghargai hidup orang lain.
Mario mengusap wajahnya, menatap satu-persatu wajah penasaran keluarganya. Mengangkat kedua belah bahunya - acuh.
“Tanyakan saja sama Nenek. Itu keinginannya,” kataya dengan muram.
Mario beranjak dari duduknya meninggalkan seribu ekspresi kebingungan pada keluarganya. Bagaimana dia mau menjawab semua pertanyaan beruntun itu. Sementara dia sendiri saja tak mengenal wanita one night stand itu malam kemarin.
Anehnya, entah mengapa neneknya malah mendesaknya untuk menikahi gadis itu. Geez, menggelikan. Padahal selama ini dia berhubungan pada siapa pun tak pernah menimbulkan masalah sama sekali. Sial sekali. Mungkin semalam pertanda akan dimulai hari-hari penuh kesialan baginya. Harus terbelenggu dalam ikatan pernikahan, yang dia sendiri paling tak suka hubungan semacam itu ....
........
“Shit. Beraninya kau mengatakan Baby El anak kita!”
Suara makian Davina seketika membuyarkan lamunan Mario akan kejadian setahun lebih itu. Dipandangnya redup iris coklat yang memancarkan amarah membuncah dalam sorotannya. Tiada sepatah kata yang terucap dari belah bibirnya lagi.
Terlebih sangat terkejut ketika sosok manis ini menyodorkan bayi lucu ke hadapannya. Tanpa bertanya dia tahu, bayi ini adalah anaknya dan Davina.
Inikah kejutan hadiah yang dikatakan oleh Ravi kemarin malam?
Dan dia benar-benar terperangah akan hadiah tak disangka ini.
“Ternyata kau lebih bejat dari yang kukira. Sungguh permainanmu kotor sekali tuan Mario!” tekan Davina.
Mario tertunduk menatap lantai yang dipijaknya, hanya mendengarkan deru napas naik turun sosok manis di depannya. Kata-katanya begitu telak menghujam ulu hatinya.
“Kau sungguh berengsek! Tak bertanggung jawab pada kakakku Arlana sama sekali. Tega meninggalkannya bersama bayinya seorang diri.”
Degh
Mario mengernyit, batinnya mulai bertanya-tanya.
Mengapa Davina bisa berkata seperti ini?
Mengapa keluarganya tak berbicara jujur saja?
Mengapa harus dirahasiakan dari Davina?
Plak
Lagi, Mario meringis kala satu tamparan lainnya mendarat di pipinya yang lain. Mata bulatnya memandang lekat wajah merah penuh emosi di depannya.
“Dan kau malah mengatakan Baby El anak kita demi bisa menutupi jejak kesalahanmu. Dasar biadab.”
“Tidak seperti it---”
“Cukup! Aku tak mau mendengar apa pun alasanmu hanya demi menghindari tanggung jawab. He.”
Davina tertawa sumbang, menatap tajam mata bulat Mario.
“Sekarang kau bisa bernapas lega. Sebab kedatanganku kemari, bukan untuk meminta tanggung jaw---”
Seketika ucapan Davina terhenti bersamaan suara riuh nan berisik tepat di belakangnya. Davina memutar tubuhnya, menengok pada cadillac one hitam - berhenti tepat di belakangnya.
Satu persatu penumpang di dalam mobil yang dibuat oleh generals motors tersebut keluar dengan ekspresi yang seragam, kompak tertegun bersama. Terlebih bagi dua wanita cantik di dalam keluarga Archielo ini.
__ADS_1
*This Is Your Baby*
“Jangan harap kau bisa menjadi anggota keluarga kami hanya karena kau menikah dengan Mario.”
Davina mengepalkan tangannya. Lagi dan lagi, suara Roxanne--- mertuanya---mengingatkannya setiap hari siapa dirinya di keluarga ini.
“Ya, Mommy benar. Entah apa yang dilakukannya hingga telah memperalat nenek yang seperti anak kecil itu. Tiba-tiba saja menikahkanmu dengan kak Mario tanpa sebab,” celetuk Lily, adik iparnya.
Seperti biasa, kedua perempuan ini selalu mencari cela untuk membuat Davina tak betah di keluarganya.
Davina mengembuskan napas, menatap datar ibu mertuanya dan adik iparnya. Pagi ini, di meja makan hanya mereka bertiga saja yang menyantap sarapan. Hingga kedua perempuan itu bisa leluasa memakinya.
Sementara Mario, suaminya sedang tak berada di mansion ini. Davina tak tahu pergi ke mana pria itu. Seperti biasa, laki-laki itu tak pernah peduli dan selalu acuh padanya, sama persis yang dilakukan oleh kedua perempuan di depannya ini.
Tidak, bagi Davina, semua di keluarga ini memang tidak peduli akan kehadirannya di sini. Kecuali nenek Erika.
Ya. Berkat keinginan konyol Ny. Erika-lah. Selama sebulan ini, Davina tinggal di keluarga Archielo. Setelah seminggu dirinya kembali ke keluarganya, tiba-tiba saja---entah dari mana mendapatkan alamat rumahnya---nenek Erika menjemputnya. Memintanya untuk segera menikah dengan Mario. Hanya karena bertanggung jawab padanya. Jelas dia menolaknya berkali-kali. Tetap saja nenek Erika memaksa.
Andai dia tahu ceritanya akan jadi begini. Sungguh menyesal dia bertemu dengan nenek Erika di malam itu. Terlebih telah menceritakan bahwa dirinya telah diperkosa oleh Mario, yang ternyata nenek Erika adalah nyonya besar di keluarga Archielo.
“Hey, mau ke mana. Davina!” Roxanne tertawa mengejek, menatap remeh punggung ramping Davina, pergi dari ruang makan.
“Hm, tentu saja ke kamarnya, Mom, mengadu pada keluarganya di telepon,” timpal Lily menyeringai.
“Kau benar, Lily. Atau menelepon ayahnya, mengatakan sudah berapa aset yang dikumpulkan oleh Davina diam-diam di keluarga ini.”
Sialan! Kuping Davina panas mendengar fitnah tersebut. Siapa yang mengumpulkan aset, huh? Malah sebaliknya. Kalau bukan nenek Erika yang menahannya di sini, tentu dia telah lama pergi dari sini. Berharap, selama hidup tak pernah mengenal keluarga ini.
Davina mengepalkan tangan. Berjalan makin cepat menaiki tangga. Berharap telinganya tak mendengar suara-suara sumbang di dalam ruang makan itu lagi.
Dugh
Davina meringis kala bahunya bersinggungan keras dengan benda keras - hampir membuatnya mundur itu.
“Ah, maaf Vina, tak sengaja.”
“Tak apa.” Davina menjawab dingin, mengusap bahunya yang disenggol tas gitar milik adik iparnya---Ravi---yang lebih tua setahun darinya ini.
Ravi memiringkan kepala, menatap lekat punggung ramping Davina. Terlihat jelas sikap tak ramah yang ditampakkan Davina karena terbawa suasana hatinya yang buruk. Tak perlu Ravi mencari sumbernya, sayup-sayup telinganya mendengar suara tawa sinis dari ruang makan.
Ravi menghela napas. Sebenarnya dia merasa kasihan pada Davina setelah mengetahui alasannya menangis waktu itu, yang ternyata diperkosa oleh Mario. Memang kakaknya bertanggung jawab, namun hanya sekadar formalitas semata saja. Dan kehadiran Davina yang mendadak itu, malah tak disukai oleh keluarganya. Jangankan Davina, dia sendiri saja muak dengan sifat angkuh keluarganya ini.
*This Is Your Baby*
Davina ...
Semua kompak menutup mulut. Berkali-kali mengedipkan mata. Tak percaya dengan apa yang dilihat mereka. Sosok yang setahun lebih tak mereka jumpai, kini berdiri di depan mereka dengan membawa seorang bayi yang begitu mirip dengan Mario.
Mengapa Davina bisa berada di sini?
Bukankah gadis ini tidak berhubungan lagi dengan mereka, sebab Mario telah menceraikan Davina seminggu setelah kematian nenek Erika.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜.
__ADS_1