This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Mansion Keluarga Archielo


__ADS_3


 


Ravi membuang napas dalam-dalam lantas keluar dari balik meja pantry. Di tangannya membawa dua gelas yang berbeda isi minumannya. Segera menuju kursi makan, di mana gadis yang baru di tolongnya kemarin malam duduk termenung.


"Mengapa terburu-buru sekali, Vin?" Ravi menyodorkan segelas teh hangat di hadapan gadis manis ini.


“Um, t-terima kasih.” Davina berujar sungkan.


"Tak usah sungkan begitu. Anggap saja rumah sendiri," balas Ravi tersenyum tipis.


"Bagaimana kalau besok atau lusanya saja?" tawar pria yang mempunyai wajah songong ini. Namun bila mengenal pemuda ini lebih jauh lagi, akan sangat berbeda dari ekspresi wajahnya itu. Ravi menarik kursinya dan menatap wajah Davina yang diliputi perasaan gelisah.


"Tidak bisa, Rav. Aku tak mau menunda waktu lagi." Davina mendesah pendek, memandang kepulan asap di cangkir tehnya. Sosok manis ini hanya terpekur seraya memutar-mutar badan cangkir tehnya. Sesekali mengerutkan keningnya ketika perasaan kompleks menderanya.


Begitu pula dengan Ravi yang mendengar keputusan Davina yang tak bisa diganggu gugat lagi. Hanya terdiam tak menyahut, tak ada komentar apa pun lagi. Pemuda ini meraih kopi hitamnya dan segera menyesapnya sambil menghela napas panjang. Dia kembali mengingat akan pagi ini saat Davina mengutarakan niatnya untuk segera pergi dari asrama ini. Sontak menyebabkannya terperangah mendengarnya.


Davina beralasan cepat-cepat pergi dari sini karena ingin menemui ayah kandung Baby El, setelah alamatnya diberikan oleh pria bermata bulat semalam. Pria yang membuat Davina berpikir; bahwa ada orang lain yang sangat mirip dengan Baby El, selain ayah kandungnya.


Sudut mata Davina mengerling pada Ravi, hanya diam menikmati minumannya. Kira-kira sejam lebih mereka berdua habiskan dalam keheningan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Lagipula ... aku tak ingin menyebabkan teman-temanmu itu terlalu lama diusir olehmu." Davina bergurau, menyunggingkan senyum tipis seraya mengedipkan mata. Suara lembutnya menggaung di ruang makan yang luas ini.


"Bisa saja kau,Vin. He he he.” Ravi balas terkekeh kecil.


“Mereka tak keberatan bila kau lama tinggal di sini--- Setidaknya, mereka ada hiburan tersendiri menatap wajah manismu bila dibandingkan dengan tampangku ini," lanjutnya.


"Astaga, kau terlalu jujur soal wajahmu, Rav. He he he." Davina berucap usil sambil menutup mulutnya, ikut terkekeh geli. Sedang Ravi menggaruk kepalanya, salah tingkah serta malu.


"He he he ... yaaa mau bagaimana lagi. Teman-temanku saja sering bercanda seperti itu."


"Tapi kau masih masuk kategori tampan loh, Rav.” Davina mengedipkan sebelah matanya.


"Wow, terima kasih. Aku senang bila kau masih menganggapku pria tampan. He he he." Ravi tercengir lebar.


"Huh, kalau begitu kutarik lagi kata-kataku," ujar Davina pura-pura cemberut.

__ADS_1


Keduanya saling melempar senyum geli, memecah perasaan canggung di antara mereka. Davina kadang heran sendiri. Bertanya-tanya dari semalam. Mengapa bersama Ravi perasaannya begitu akrab. Sungguh aneh, padahal Davina baru beberapa jam saja mengenal sosok Ravi. Namun, seakan-akan dia telah mengenal Ravi dalam waktu yang lama.


"Baiklah bila itu keputusanmu. Mau kuantar ke alamat yang kau tuju itu?" Ravi menghentikan tawanya, kembali berkata serius.


Davina menggeleng cepat. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Rav. Aku tak mau merepotkanmu lagi."


"Tidak, aku tak keber---"


"Benaran, Rav. Tak usah, sungguh. Aku tak ingin ada beban nantinya." Davina memberikan senyum kikuk. Sementara Ravi mengeratkan genggamannya di badan cangkir yang dipegangnya saat mendengar penolakan halus gadis manis ini.


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


"Maaf, Miss. Kita sudah sampai sesuai alamat yang kau berikan."


Gadis ini merogoh saku coat-nya, lantas menyodorkan beberapa lembar uang dollars pada sang supir. Bergegas turun dari taksi.



Iris cokelat Davina menatap lekat bangunan di depannya. Mansion ini besar sekali. Atau ini istana? Sekali lagi gadis ini mengecek kembali kartu nama di tangannya. Bila saja dia salah baca. Ternyata tetap sama. Alamatnya sama persis yang tertempel di sebelah bel pintu tersebut dengan yang ada di kartu nama ini.


"Saatnya bertemu dengan ayah kandungmu Baby El." Davina tersenyum kecut, menepuk puncak kepala bayi mungil ini.


Menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya ke udara yang dingin. Berkali-kali Davina lakukan demi mengurangi rasa nerveousnya. Mendadak Davina diserang rasa cemas luar biasa. Terlebih pada jantungnya yang kian berpacu cepat. Bahkan tanpa disadarinya, bulir-bulir keringatnya perlahan-lahan mulai bermunculan satu-persatu. Sangat gugup sekali.


Sungguh, Davina tak tahu. Apa yang akan terjadi setelah pintu ini terbuka di depannya. Sesuai rencananya semula, Davina akan menyodorkan Baby El pada pria bejat itu. Gadis manis ini rasa, sekali lihat dirinya akan tahu siapa ayah kandung Baby El di balik pintu ini.


Mengingat ucapan security di depan pintu gerbang tadi. Bahwa penghuni mansion untuk sementara ini tinggal sendirian, di tengah keluarganya sedang pergi berlibur akhir tahun. Dengan kata lain, di mansion ini ... hanya dihuni oleh sosok Mario Archielo saja. Akan sangat mudah mengenalinya.


Davina mengeratkan mantelnya, serta mantel milik Baby El pada tubuh mungilnya. Tubuh keduanya hampir membeku di tengah suhu ekstrim melanda kota Vancouver yang hampir setiap tahunnya mengalami cuaca seperti ini.

__ADS_1


Tangan Davina gemetaran hebat kala memencet bel pintu. Bahkan tanpa disadari Davina, jarinya terus menempel di bel tersebut, hingga bel tersebut berbunyi nyaring berulang kali. Seolah gadis ini sangat tak sabaran, ingin segera bertemu pada pemilik mansion klasik dengan warna putih mendominasi ini.


 


Cklek


 


Davina terlonjak kaget, sangat terkejut ketika pintu tersebut terbuka lebar di saat dirinya berjuang menenangkan perasaan gugup luar biasa melandanya.


Inilah saatnya, memperlihatkan Baby El pada pria bejat tersebut. Tanpa menengadah dan tanpa menatap langsung sosok di depannya. Karena Davina yakin, tanpa melihat sosok bejat dan tinggi di depannya ini, pria itu adalah ayah kandung Baby El - Mario Archielo.


"Mario Archielo, ini bayi kandungmu ..."


Perlahan Davina mendongak, penasaran bentuk rupa wajah ayah kandung dari Baby El. Seketika tubuhnya menegang. Rahangnya mengeras kaku. Serta pupil matanya melebar.


Sosok pria bejat di depannya, sudah tentu adalah ayah kandung Baby El. Sangat terlihat jelas dari kemiripan 99% wajah Baby El dan pria ini. Terlebih Davina yakin kali ini, bahwa sosok ini adalah ayah kandung Baby El setelah kemarin malam mereka bertemu.


"T-ternyata kau ... Mario Archielo, kakak dar---"


"Ya, aku Mario Archielo. Baby ..."


Sontak Davina menahan napas. Tanpa diduganya sama sekali, pria bejat--- tidak, sekarang pria berengsek ini punya nama - Mario Archielo, memeluknya begitu erat bersama Baby El. Sukses membuat gadis ini terkesiap di tengah dahinya mengkerut dalam akan kalimat terakhir Mario padanya, Baby?


Dan di detik berikutnya, dunia Davina seakan runtuh di kakinya. Lagi, tanpa disangka-sangka. Bibirnya telah diraup oleh bibir Mario, meski hanya beberapa detik saja, mampu membuat Davina kehilangan kata-kata.


Bahkan ketika Davina dalam rengkuhan tubuh kokoh Mario. Davina tetap dalam mode tertegun, diam bergeming.


Hingga akhirnya suara serak dan berat itu mengalun di telinganya, membisikkan sebuah kalimat;


"Ini bayi kita, Baby.”



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2