This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Firasat Buruk


__ADS_3


"K-kau yakin, Vina?"


Davina menatap sepasang bola mata hitam kelam persis di depannya. Beberapa saat yang lalu, pancaran iris hitam itu berbinar ketika mereka bertemu kembali. Kini memudar berganti dengan tatapan tak percaya.


Fabian terkesiap. Tak mampu berbicara - sangat terkejut. Diawal pertemuan pertama kalinya dirinya sudah dibuat terkejut. Tanpa kabar sama sekali, ternyata sosok manis ini telah menikah selama hampir dua tahun. Bahkan sudah mempunyai anak.


Dan kini dirinya kembali dikejutkan oleh wanita muda ini dengan memintanya menjadi pengacaranya dalam mendampingi kasusnya. Dua masalah sekaligus. Salah satu kasusnya, membuatnya tak mampu harus berbicara apa.


"Vin, ku-kupikir ... kau harus memikirkan ulang untuk kasus yang satu ini." Fabian mengembuskan napas panjang. Memasukkan salah satu map coklat besar di samping duduknya ke dalam tasnya bersama barang bukti yang diserahkan Davina padanya.


Fabian yakin---dengan pengalamannya selama menjadi pengacara---bukti yang diberikan oleh Davina, wanita yang bernama Roxanne itu takkan bisa berkelit lagi. Ucapkan selamat datang di penjara, sebagai hunian terakhir dalam sepuluh tahun sisa hidupnya.


Mungkin, penjara itu bisa menjadi hunian seumur hidup bagi Roxanne. Andaikan Davina bisa menemukan bukti yang sangat memberatkan Roxanne. Tapi, dengan masalah percobaan pembunuhan berulang kali---meski tak sampai melenyapkan nyawa---pada Davina, itu sudah menjadi hukuman yang sangat memberatkan untuk dipertimbangkan bagi dewan tertinggi di pengadilan.


"Tak usah berpikir ulang lagi. Pada akhirnya, inilah jalan yang kuambil. Jauh sebelum aku amnesia ..." Davina mendengkus. Marah. Terlihat jelas di raut wajah manisnya yang memerah.


Ia menoleh kiri-kanan, bila saja ada sosok-sosok aneh yang mengikutinya sampai ke blue water cafe ini. Misalnya, orang suruhan Roxanne atau pun orang suruhan Mario. Keduanya sama saja, meski berbeda tujuan.


"Huft, andaikan saja waktu itu Roxanne tak menyebabkanku kecelakaan, mungkin saja aku dan dia---" Davina tak melanjutkan lagi ucapannya, hanya mengepalkan tangannya. Menarik napas dalam-dalam, dan berangsur-angsur mengembuskannya.


"Vina."


Kepala Davina sedikit terangkat memandang lurus, memperhatikan lekat Fabian yang menyeruput kopi hitamnya.


"Kurasa ... lebih baik pertimbangkan lagi keputusanmu yang satu ini." Fabian meletakkan gelas kopinya kembali ke tatakan di atas meja.


Lagi---untuk kesekian kalinya---Fabian berkata, berharap sosok manis ini mengubah jalan pikirannya. Dia rasa, Davina saat ini sedang diliputi perasaan amarah, hingga berdampak pada keputusannya kali ini. Sangat tidak baik mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Itu bisa berdampak buruk padanya atau pun sekitarnya. Termasuk bayi mungil tak berdosa dalam gendongan Davina.


Davina diam. Melengos kesal. Irisnya menyapu pandangan di sekitarnya. Di jam istirahat perusahaan begini, keadaan kafe mulai ramai dipadati para pengunjung.


Dia saja selama ini tak peduli padaku. Untuk apa mempertimbangkan perasaannya. Davina mendengkus dalam hati.


"Setidaknya, pertimbangkan masa depan bayimu, Vin. Kasihan dia,” sahut Fabian berusaha menebak jalan pikiran Davina saat ini. Dipandanganya redup bayi di depannya. Ia mendesah. Bagai mimpikan, dirinya masih tak percaya bila sosok manis ini sudah punya anak.


"A-aku---” Davina mengelus pucuk rambut bayinya sembari menggigiti bibir cherrynya. “---bisa mengurus bayiku seorang diri," katanya begitu getir. Meski hatinya tidak yakin akan ucapannya sendiri.


Fabian terdiam. Diperhatikannya lekat ekspresi wajah Davina yang tampak muram. Terlalu banyak sakit yang dirasakannya selama beberapa tahun ini.


"Ekhem, kita lupakan saja dulu masalahmu untuk saat ini, Vin." Fabian berusaha mengambil alih suasana tegang sedari tadi. Sedikit mencoba mencairkannya.


"Omong-omong, aku belum berkenalan dengan bayimu ini, Vin. Hey! Siapa namamu, Baby Boy?"


Fabian merogoh sesuatu dalam saku celana slim fit biru dongkernya. Kalau tak salah, dia menyimpan boneka minion ukuran kecil, hadiah dari seorang bocah laki-laki---bermata bulat, mirip bayi Davina---yang tak sengaja ditolongnya sebelum datang ke water blue cafe tadi.


"Namanya ... Eleanor Ar--" Davina menghela napas pendek sembari menutup sekilas matanya. "---Oswalden."


Fabian mengerutkan dahi kala mendengar nama belakang keluarga bayi Davina. Kemudian mengangkat kedua belah bahu. Tanpa bertanya dia sudah tahu jawabannya. Diraihnya tangan mungil Baby El, memberikan boneka minion pada bayi ini sebagai salam perkenalan.


"Hallo, Baby El. Salam kenal. Panggil saja paman dengan Uncle Fabian atau Alex. Kalau tak keberatan, dipanggil dengan Daddy juga tak mas--- Arrgh!" Fabian mengadu.


Pria muda ini meringis sembari mengelus dengkulnya yang luar biasa sakitnya ditendang sosok manis di depannya. Ia mendengkus kesal, menatap seringaian di belah bibir Davina yang mengembang.


"Sakit, Vin. Memang dengkulku ini terbuat dari styrofoam apa," gerutunya.


"Tak peduli!" cibir Davina. "Ingat ya, Fabian. Sampai kapan pun kau takkan masuk daftar calonku. Jangan ketinggian mimpinya. Nanti jatuh lho, bisa sakit," ledek Davina sembari menjulurkan lidah.


Fabian mencebik, samar ia menyeringai.


"Begitu ya. Hm! Katakan itu pada masa lalu kita. Kenapa dulunya aku malah jadi pacarmu, hum," serangnya tak mau kalah. Ia tersenyum gemas. Sedari mereka bersahabat di masa sekolah, mereka sering melontarkan candaan seperti ini.


Davina memutar bola mata dan berkilah, "mungkin saja waktu itu mataku sedang rabun, hingga mau menerimamu."


Fabian melotot. "Astaga! Hell. Teganya dirimu, Vin."


Davina mengangkat kedua belah bahunya. Terkekeh geli menatap wajah Fabian yang cemberut sebal. Lucu melihat ekspresinya.


"Huh, Vina. Dari dulu sikapmu tak berubah. Tetap galak." Fabian mencibir. "Pantas saja suamimu tak bet--- ah, iya, iya. Aku akan diam."


Fabian merentangkan tangannya, menahan tangan Davina yang bersiap memukulnya.


"Geez, bicara sekali lagi, kusuntik mati pantatmu pakai jarum suntik sapi. Mau?" Davina mendengkus sebal.


Fabian hanya tertawa renyah di sela-sela menggeleng sekaligus bergidik ngeri, membayangkan jarum sebesar lengan orang dewasa tertancap ke pantatnya.


"Tentu saja tak mau, Vin--- ah, lupakan saja." Fabian berdeham. Berangsur-angsur tawanya mulai mereda. Kembali menatap Davina serius. Diraihnya tangan sosok manis ini, menangkupnya dengan kedua tangannya. Dadanya bergemuruh hebat. Bahagia. Setelah sekian tahun mereka tak berjumpa ... Bisakah....


"Vina. Andaikan kau tak punya masalah seperti ini ... masihkah kau mau menghubungiku?" katanya serius.


 


 

__ADS_1


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


"Mr. Arquette?! Kau mendengarku?!"


Mario tergagap saat kepala kontraktor menepuk bahunya. Astaga. Sudah berapa lamakah dia melamun? Mengembuskan napas pendek. Memaksakan senyuman di belah bibirnya. Menatap canggung pria berumur setengah baya di depannya ini, bertanggung jawab sepenuhnya pada proyek bangunannya. Bisa-bisanya dirinya melamun, di tengah memantau pembangunan hotelnya.


"Maafkan aku ... bisa ulangi lagi penjelasanmu, Mr. Damien?" Mario bertanya serak, mengusap tengkuknya, serba salah.


Mata elangnya memandang lurus pada kerangka besi baja bangunan di depannya. Di tengah hilir mudik para pekerja bangunan yang berseliweran di sekitarnya. Hati dan pikirannya tak berada di tempat. Melayang jauh ke tempat di mana sosok manisnya berada. Ia memikirkan sikap dan wajah dingin sang istri saat mengantarnya ke rumah mertuanya. Kemarin ... Ah. Padahal baru saja kemarin berpisah dari Davina. Dirinya sudah ingin cepat-cepat pulang menemuinya. Hatinya resah.


"Menurut prediksiku, proyek pembangunan hotelnya ... bisa memakan waktu satu tahunan, mengingat hotel yang kita bangun dalam skala besar." Ulang pria paruh baya di samping Mario, kembali menjelaskan.


Mario tertegun sejenak. Melonggarkan helm keselamatan berwarna merah---terasa begitu pengap---yang melekat erat di kepalanya. Mendesah pendek. Menarik napas dalam-dalam, seakan udara di sekitarnya tak mau membagi oksigen padanya.


Pria muda ini gusar. Akan tetapi bukan gusar akan lambatnya pembangunan hotelnya, melainkan suasana hatinyalah yang semrawut. Bingung mau melabuhkan kemana untuk saat ini.


"Tidak bisakah dipercepat lagi? Misalnya saja hanya enam bulanan?" Kedua alis Mario bertautan. Sebenarnya pertanyaan itu tertuju untuk dirinya sendiri. Seakan ingin mempercepat pemantauan pembangunan hotelnya, hingga bisa menjemput sang istri dari rumah mertuanya.


Meski jadwalnya hanya tiga hari berada di kota Ontario. Tetapi, melihat beberapa hal yang harus diselesaikan secepatnya, bisa jadi seminggu dirinya terjebak di sini.


Entah mengapa, hatinya semakin gelisah, seakan waktu seminggu ini bisa mengubah keadaannya bersama Davina. Semenjak datang ke kota ini, jantungnya terus berdegup-degup kencang tak menentu. Seolah ia merasakan firasat yang buruk akan menimpanya.


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Ada apa?" Fabian menoleh. Salah satu alisnya terangkat, menatap lengannya yang ditahan Davina.


Baru saja mereka memasuki mobilnya, berencana mengantar Davina kembali ke rumahnya. Hari ini, adalah pertemuan kedua mereka---setelah kemarin---melanjutkan kembali soal pembahasan kasus Davina. Kali ini, pertemuan mereka hanya berdua saja tanpa ada Baby El. Davina menitipkan bayinya pada ibunya.


"Bukankah itu---" Davina menatap lurus ke seberang jalan, bersamaan seorang wanita memasuki mobil yang sangat dihafalnya, Cadillac One berwarna hitam. Salah satu kendaraan pribadi keluarga Archielo. "---Roxanne? Dan ... kak Darrel?"


Mata Davina membulat, melihat mantan pacar kakaknya Arlana, bersama dengan ibu mertuanya, Roxanne.


"Kenapa mereka bisa saling kenal?" Davina bergumam tanpa mengerjap sama sekali. Ditatapnya lekat Darrel yang telah memasuki Caddilac One itu.


"Fabian! Ikuti mobil itu! Cepat!"


Davina menggamit lengan Fabian, memberi titah untuk mengikuti laju Cadillac One di seberang jalan. Mengepalkan tangannya dengan tetap fokus menatap lekat mobil mewah itu, seakan tak ingin kehilangan jejak mobil dalam pengawasannya.


Sebenarnya, ada hubungan apa kak Darrel dengan Roxanne?


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Ini sisa uang bayaranmu, Darrel. Sebaiknya kau tutup mulut atas semua masalah ini."

__ADS_1


Roxanne meletakkan segepok uang di atas meja. Mendorong kasar uang tersebut ke depan Darrel. Matanya berkeliling menatap rumah kosong yang telah lama tak dihuni ini. Di mana tempat dirinya melakukan transaksi bayaran pada orang suruhannya, termasuk Darrel.


"Satu lagi. Mulai dari sekarang, kita tak punya hubungan apa-apa lagi."


Darrel menyeringai, sudut bibirnya tersenyum miring. "Geez! Setelah Arlana meninggal, dan tak ada jejak apa pun, kau mencampakkanku begitu saja, heh!"


Roxanne melotot. "Kau pikir siapa dirimu, ha!"


"Masih ada Davina di sekitar putramu, Mario." Darrel memperingatkan mengabaikan sindiran tajam wanita paruh baya ini.


"Aku tahu itu, tapi sekarang bukan masalah lagi. Biar aku mengurus hal itu. Untuk sementara, aku bisa tenang, karena dia masih amnesia. Seharusnya obat yang kuberikan waktu itu ...." Dahi Roxanne berkerut dalam. Kembali mengecek tasnya. Seharusnya botol berisi obat perusak saraf yang diberikan Dr. Markus ada di tasnya.


"Mencari inikah, Ny. Roxanne?!!"


Baik Roxanne dan Darrel segera menoleh pada sumber suara, mata mereka membelalak. Sangat terkejut melihat siapa yang berdiri diambang pintu - nyaris rusak itu.


"DAVINA!!"


 


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Awas, Mr. Arquette!"


Brugh!


Mario terkesiap. Dadanya bergemuruh hebat. Tubuhnya gemetar. Ia terpaku menatap besi di ujung kakinya. Nyaris saja dirinya tertimpa besi baja yang jatuh tepat di kepalanya. Mario meneguk ludah. Andai saja Damien tidak meraih tubuhnya ke belakang, mungkin saja dia ...


Ya, Tuhan!


"Kau baik-baik saja Mr. Arquette?" Damien menatap cemas Mario, masih terpaku berdiri bagai patung.


"Kurasa, sebaiknya anda beristirahat total, Mr. Arquette. Semua pekerjaan ini serahkan saja pada kami."


Damien meremas bahu Mario, menyarankan agar sebaiknya pria muda ini beristirahat dari pekerjaannya. Mengingat selama dua hari ini Mario terus-menerus melamun. Bahkan kali ini nyawanya nyaris saja hilang, akibat tak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sungguh berbahaya bila diteruskan.


Mario mengusap wajah pucatnya.


"Bai---" Belum sempat Mario meneruskan ucapannya, ponselnya bergetar. Segera dilihatnya siapa yang menelepon, berharap itu adalah sang istri.


Selama dua hari ini dirinya belum berbicara dengan sosok manisnya, bahkan mereka tak saling menelepon satu sama lainnya. Pernah sekali Mario menelepon. Tapi sayang, Davina tak mengaktifkan ponselnya. Dan kali ini, sepertinya harapan tipisnya benar-benar memudar kala yang tertera nama penelepon di layar ponselnya adalah Chase. Kakak sulungnya.


Ia mengembuskan napas sebelum menggeser tombol jawab di layar ponselnya.


"Hallo, Chase---"


"Rio?! Gawat! Sepertinya kau harus kembali ke Vancouver, sekarang!"


Baru saja detakan jantungnya kembali normal. Mendengar suara panik Chase di seberang telepon, membuat dadanya kembali bergemuruh hebat. Bahkan kembali susah untuk bernapas - walau hanya sesaat.


"A-apa yang terjadi, Chase?" Bibir Mario bergetar, begitu gugup. Seketika wajah dingin Davina---terakhir kalinya mereka bertemu---terbayang di pelupuk mata.


"Mommy--- ah, Vina ... Rumah sakit... ah tidak, tidak, tidak. Sebaiknya kau kembali saja Rio."



=======================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2