This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Tetap Tutup Mulut


__ADS_3


 


Davina menutup pelan pintu kamarnya. Ditatapnya punggung lebar Mario yang membelakanginya, menghadap cermin memperhatikan penampilannya - seperti biasa yang dikenakannya sehari-hari, pakaian jas formal untuk ke kantor.


Sekilas Mario menoleh. Bibirnya terangkat ke atas, melemparkan senyuman menawan pada sosok manis ini. Lalu kembali menghadap cermin.


"Kau jadi pergi membeli perlengkapan Baby El, Vin?" tanyanya seraya mengancingkan satu-persatu kemeja putih bergarisnya, ketika sang istri lewat di belakangnya sembari menggendong bayinya.


"Tak jadi." Perempuan manis ini menjawab singkat. Ditempatkannya Baby El di box bayi.


"Kenapa?" Mario memutar tubuh. Mata elangnya memperhatikan sang istri memberikan Baby El mainan elastis ke tangan mungilnya.


"Aku bisa mengantar dan menemanimu bila kau mau," imbuhnya. Iris abu-abunya terus mengikuti gerakan Davina, kini berbalik dan berjalan ke arahnya.


"Nanti saja, aku bisa pergi sendiri," sahut Davina. Nada suaranya terdengar sedikit dingin di telinga Mario. Tak ayal membuat pria ini mengerutkan keningnya akan sikap sang istri. Ia jadi teringat ucapan Roxanne tiga hari yang lalu. Memburunya. Terus bertanya, apakah ada yang aneh dalam diri Davina setelah mereka selesai berhubungan badan di malam harinya.


"Maksudku, sekalian saja ... aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Aku bisa membelinya ketika diperjalanan nanti." Buru-buru Davina mengoreksi ucapannya kala menyadari kerutan samar di dahi sang suami.


"Kau ingin pulang ke rumah orang tuamu? Tapi ini belum akhir pekan, Vin." Mario menatap lekat sang istri - membenahi dasinya. Sesuai janjinya pada Davina, setiap hari sabtu dan minggu, mereka pergi mengunjungi orang tua Davina. Tetapi ini belum akhir pekan, masih hari rabu.


"Memang." Perempuan manis ini menghela napas pendek. Menepuk dada suaminya - menyingkirkan debu di jasnya. "Daddy semalam sudah mengadakan pesta ulang tahunnya," tambahnya.


"Lalu?"


"Kurasa kita tak perlu lagi menginap di mansion ini."


Alis Mario bertautan ingin menanyakan sesuatu. Tetapi urung dilakukannya karena telah didahului sang istri.


"Bukankah kau akan pergi keluar kota selama tiga hari? Jadi sebelum kembali ke tempat kita, aku ingin menginap saja di rumah orang tuaku. Boleh, kan?" Davina menengadah, menatap mata besar Mario yang juga menatapnya.


Pria itu tampak berpikir sejenak, menimbang sesuatu dalam pikirannya. Kemudian mengangguk samar. "Kuizinkan. Lebih baik kau menginap di rumah orang tuamu, daripada sendirian di sini."


Mario akhirnya setuju. Mengizinkan sang istri pergi. Diraihnya tubuh Davina dan memeluknya sekilas. Dikecupinya dahi dan bibir sosok manisnya secara bergantian. Tak pernah sekali pun merasa bosan. Malah sudah menjadi candu untuk terus mengecupnya. Bagai obat-obatan terlarang. Bila sekali dicecap maka takkan pernah ingin berhenti. Setiap hari dilakukannya. Andaikan tak menjamah bibir menggoda sang istri rasanya ada yang kurang. Sangat berbeda dengan dirinya dua tahun silam. Ah, Mario selalu menyesal bila mengingat kelakuannya dahulu.


"Aku pergi kerja dahulu,” pamit Mario mengacak rambut almond Davina. Memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu.


"Siang ini aku berangkat ke rumah orang tuaku."


Mario kembali memutar tubuhnya---membelakangi pintu---menghadap sang istri. Sekilas diam mematung. Entah mengapa dia punya firasat tak enak saat Davina ingin pergi ke rumah orang tuanya kali ini. Seakan mereka akan berpisah selamanya setelah ini. Sangat keberatan.


"Kalau begitu kuantar ke rumah orang tuamu.” Mario berkata parau dan berat hati. Meski hatinya berteriak agar sang istri tetap tinggal. Tapi secara bersamaan juga tak mampu menolak keinginan Davina pergi.


"Eh? Bukankah kau juga akan pergi keluar kota hari ini?" Salah satu alis Davina tertarik ke atas. Dalam hati berkeberatan diantar Mario. Sangat. Manik coklatnya menatap pria itu, bagai model sedang melakukan photoshoot - berdiri gagah di depan pintu.


"Memang benar..." Mario mendesah panjang, menatap sayu iris cokelat Davina. "...tapi itu malam nanti. Jadi masih sempat mengantarmu."


"Oh begitu." Davina mengangkat kedua belah bahu - tak keberatan. Lebih tepatnya tak ada pilihan lain. "Baiklah, sambil menunggumu menjemputku siang ini, aku berkemas dahulu."


“Oke.”


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


Mario memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah minimalis, milik orang tua Davina. Rumah sederhana bercat putih. Di sekelilingnya hanya berpagar kayu dengan tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Halamannya yang tak terlalu luas, nampak begitu rapi dan bersih. Sangat indah dipandang mata dengan adanya aneka macam bunga yang ditanam sendiri oleh ibu mertuanya. Nyonya Oswalden.


"Vina?" Panggil pria muda ini. Ditatapnya perempuan manis ini dengan perasaan bingung. Ya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah mertuanya, mereka tak pernah berkomunikasi.

__ADS_1


Hal itu mengingatkannya kembali---untuk pertama kalinya---ketika mengajak Davina pergi dari rumah mertuanya kekediaman pribadinya. Bahkan waktu sejam yang mereka habiskan dalam perjalanan hanya diisi saling diam-diaman. Suasananya jadi canggung. Serba salah jadinya. Mau berbicara, seolah dirinya berbicara dengan angin. Sebab yang diajak bicara hanya diam tak menanggapi.


Sekalinya Davina bicara ketika memintanya berhenti di tengah jalan untuk membeli keperluan Baby El. Setelah itu kembali diam-diaman, hingga sampai ke rumah mertuanya. Hal itulah berhasil mengundang tanya di benaknya.


Ada apa dengan sosok manisnya ini? Kenapa sikapnya jadi berubah - sedikit dingin padanya.


"Vina? Kau mendengarku?" Lagi pria muda ini memanggil sosok manisnya. Kali ini diiringi dengan tepukan lembut di bahu sang istri. Menyadarkan perempuan manis ini dari lamunannya.


"Kita sudah sampai." Ingatnya ketika tak ada jawaban sama sekali dari belah bibir cherry itu. Diabaikannya keberatan di raut wajah manis sang istri saat membantu melepaskan sabuk pengamannya.


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Tiga hari lagi aku ke sini." Mario berbisik serak.


"Aku pasti menjemputmu," sambungnya seraya memeluk erat tubuh ringkih sang istri. Menggigit bibirnya. Menekan perasaannya. Tak mau berpisah. Tak ingin melepaskan pelukannya. Sungguh berharap ada lem yang mengikat tubuh sang istri di tubuhnya.


Sejam setelah beristirahat dan berbincang-bincang bersama ayah mertuanya. Mario memutuskan untuk segera kembali ke ibukota Vancouver, sebab dirinya juga harus berangkat ke kota lain, terkait pekerjaannya. Tak kalah pentingnya. Memantau pembangunan hotelnya di kota Ontario. Sempat merutuk dalam hati. Pekerjaannya pasti membutuhkan waktu tiga hari lebih. Itu artinya berdampak pada penjemputan Davina dan waktu pertemuan mereka juga ikut mundur.


Sedang Davina hanya diam. Tak menjawab sepatah kata pun. Apa mengiyakan atau tidak ucapan Mario.


"Kau marah padaku?" Mario menatap cemas kedua iris cokelat Davina. Respon diamnya sang istri mengingatkannya pada awal-awal pernikahan mereka. Dimana mereka berdua tak saling peduli. Seketika hatinya jadi gundah.


Davina tersentak manakala menyadari sikapnya. Berdeham sejenak, lalu menyunggingkan senyumannya seperti biasa.


"Tidak."


Mario menghela napas pendek. "Aku tahu kau lagi marah. Entah karena apa." Disibaknya poni sang istri, samar gurat-gurat bekas terbentur karung pakaian di keningnya masih terlihat. Mengusap bekas memar tersebut. Tak ada ringisan lagi di belah bibir Davina ketika menyentuhnya. Sudah sembuh.


"Kenapa, Vin? Kau bisa bicara padaku, adakah yang mengganjal hatimu?"


"Tak ada." Begitu singkat Davina menjawabnya.


Lagi, Mario menarik napas, sangat sesak sekali. Seakan udara di sekitarnya ikut mencekiknya. Tak mengizinkannya untuk menghirup oksigen saat mendengar nada bicara sang istri - begitu dingin padanya. Keningnya sekilas berkerut. Posisi mereka seakan tertukar. Dulu dia yang dingin pada Davina, tapi kini sebaliknya.


"Baiklah. Kuharap kau baik-baik saja sampai aku menjemputmu, Sayang."


Mario melingkarkan kedua tangannya di pinggang Davina. Sekali lagi, untuk terakhir kalinya memeluk istrinya. Tidak. Ini bukan terakhir kalinya. Takkan ada terakhir kalinya sampai kapan pun. Pria muda ini menggelengkan kepala.


"Pergilah. Sudah sore. Perjalanan dari sini ke kota butuh waktu lama. Aku takut kau ketinggalan pesawat." Davina melepaskan pelukan Mario. Mendorong tubuh sang suami menjauh darinya - menyisakan jarak di antara mereka.


Mario menarik napas. Hatinya berdenyut sakit. Sikap Davina seakan menolak sentuhannya. Untuk memastikan sekali lagi, tangannya berlari menyentuh rambut almond perempuan manis ini. Ia menghela napas lega. Hanya perasaannya saja. Davina tak menyingkirkan tangannya di atas pucuk kepalanya. Mungkin saja karena terbawa suasana hati Davina yang sedang ...


"Apa?" Ketus Davina tiba-tiba. Merasa tak nyaman dipandang sebegitu intensnya oleh Mario. Apalagi dengan mata elangnya itu.


"Vin, jangan-jangan kamu ..."


"Ya?" Davina menelan salivanya, begitu gugup. Apa sebegitu kentara sikapnya berubah? Hatinya jadi ketar-ketir.


"Ada apa denganku?" tunjuk Davina pada dirinya sendiri.


"Kau ... hamil, Vina?!"


Rasanya ada barisan kodok menari balet di depan Davina mendengar ucapan konyol suaminya. Wajahnya mendadak jadi datar. Hati yang awalnya cemas - takut kalau ketahuan. Tiba-tiba saja ingin tertawa. Lucu, mana bisa langsung hamil. Toh mereka melakukannya belum sampai seminggu. Davina berdeham, melotot tajam pada Mario yang menyengir - telah semeter menjauh darinya. Pintar Mario menghindari kemarahannya.

__ADS_1


"Hamil nenek moyangmu! Geez ... kupikir tadi apa--- sudahlah lupakan saja." Davina menghela napas pendek. Nyaris keceplosan berbicara, beruntung Mario tak mendengar ucapan terakhirnya tadi.


Perempuan manis ini menatap lekat punggung lebar Mario, ketika pria itu perlahan berjalan menjauh dari rumahnya. Perasaannya tak berbaca untuk saat ini. Entah apa yang di pikirkannya.


"Vina. Jaga bayi kita,--- bila terjadi sesuatu padamu atau Baby El, segera telepon aku. Oke?" Mario berbalik ketika membuka pagar kayu - sekali lagi mengingatkan sang istri. Ia tersenyum kecut menatap Davina yang berdiri di teras. Lagi-lagi hatinya gundah dan sakit melihat raut wajah sang istri kembali seperti sedia kala. Datar dan dingin seperti tadi.


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Astaga!" Davina terkesiap kaget. Mengelus dadanya---nyaris copot jantungnya---melihat ayahnya bersidekap, baru saja menutup pintu rumah. Sangat menyeramkan ekspresi ayahnya, seperti hulk yang mengamuk di kota.


"Jujur pada Daddy. Ingatanmu sudah pulih kan, Vina."


Davina diam. Meski tak dijawab ayahnya sudah tahu. Ternyata perasaan orang tua tak bisa dibohongi. Seberapa keras menyimpan sikapnya masih saja ketahuan.


"Lalu, apa yang kau lakukan setelah ingatanmu pulih, Vina?" Ayahnya menatap Davina yang berjalan santai melewatinya.


"Kenapa Daddy dan Mommy membiarkan Rio berkata bohong padaku." Alih-alih menjawab, Davina malah balik mengeluarkan perasaannya. Berhenti di meja telepon ruang tamu. Menatap kecewa pada ayahnya.


Ayahnya terhenyak. "Ini demi kebaikanmu, Vina. Kam---"


"Daddy tahu? Rasanya sakit sekali hati ini setelah tahu Rio berbohong padaku."


"Daddy paham perasaanmu, Nak. Tapi kami juga punya alasan lainnya. Kami lakukan agar kau tak sakit hati saat mengetahui sikap buruk Rio selama ini. Kami ingin kau menata kembali kehidupan barumu bersam---”


"Rio. Begitu, kan, Daddy? Lalu sekarang apa?!" Davina menatap wajah menua ayahnya.


"Sama saja, kan, Daddy. Malah jadi bertambah sakit setelah aku ingat kembali," tambahnya getir dengan suaranya yang begitu serak.


Ayahnya terdiam. Keputusan mereka memang salah. Seharusnya jujur saja diawal, meski mungkin Davina akan sakit hati. Tapi setidaknya, tidak sesakit seperti yang Davina rasakan saat ini.


"Maafkan kami, Vin---"


"Tak apa, Dad. Sudah jadi bubur juga. Tak bisa diulangi lagi." Davina menarik napas pendek. Takkan sanggup ia marah besar pada kedua orangtuanya.


"Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan pada Rio? Berpisah? Rujuk kembali?" tanya ayahnya lagi. Ia tahu maksud kepulangan putrinya kali ini. Ada rencana yang telah disusunnya. Ya. Jauh sebelum Davina hilang ingatan. Rencana itu sudah tersusun. Namun naas ketika Davina amnesia. Rencana itu jadi terhambat.


Davina mengepalkan tangan. Setelah ingatannya kembali keputusannya sudah bulat. Menyelesaikan semua masalahnya. Termasuk Mario dan Roxanne jadi agenda terbesarnya.


"Ada. Kumohon kali ini pada Daddy, hormati keputusanku. Jangan berbicara pada siapa pun soal ingatanku pulih kembali."



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2