This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Eklampsia


__ADS_3


 


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu sangat tepat disematkan untuk seorang Mario Archielo. Dari sekian banyaknya sifat buruk yang ada dalam diri sang ibu---Roxanne---sifat egoislah yang diwariskan langsung kepadanya, ternyata hal tersebut sangat berpengaruh ketika dirinya mengambil keputusan.


Dalam kamus Mario, tidak ada kata menyesal setelah mengambil tindakan. Namun, siapa sangka. Kejadian pada malam empat tahun yang lalu, membuatnya merasakan menyesal karena telah mengambil tindakan secara egois. Hanya karena tidak ingin terikat dalam pernikahan bersama Davina, dirinya tega melayangkan gugatan cerai--ternyata berdampak pada masa depan keduanya.


Malam ini, sifat egoisnya terulang kembali. Semata-mata tak ingin menuruti keinginan Davina--menangkap ikan di kolam--dirinya mengabaikan panggilan sang istri yang membutuhkan bantuannya.


"Rio, kenapa teriak---ya, Tuhan! Vina!!" teriakan panik sang mertua, menyadarkan Mario dari terpakunya, mematung ketika melihat Davina terduduk di ujung tangga dengan napas tak beraturan, serta keringat bercucuran. Belah bibirnya terus merintih kesakitan. Dan yang lebih menakutkan baginya, banyak darah yang mengalir di kedua belah paha sang istri, merembes, membasahi gaun hamilnya ....


"Rio, kenapa malah bengong! Bawa Vina ke rumah sakit, dia pendarahan!"


 


 


 


 


❁ This Is Your Baby ❁


 


 


 


 


"Hiks ... Riooo ..." Davina terus berteriak sekaligus menangis tersedu-sedu menahan sakit di perut buncitnya, bagai diaduk-aduk oleh tangan tak kasat mata sampai ke ulu hatinya.


Sementara Mario, terdiam pucat. Dia terlalu syok, hanya mampu menatap bingung pada wajah sembab Davina yang kesakitan menghadapi meja operasi. Karena perut Davina yang terbentur akibat terpeleset di tangga, hingga mengalami pendarahan. Mau tak mau bayinya harus dikeluarkan dan segera diselamatkan.


Awalnya Davina menolak keras untuk operasi. Butuh waktu sepuluh menit baginya mempertahankan keinginannya, mengabaikan permohonan Mario dan ibunya yang khawatir pada kondisinya. Sungguh. Dirinya ingin melahirkan secara normal--seperti melahirkan anak pertamanya dulu, Baby Eleanore. Akan tetapi, karena kali ini kehamilannya mengalami masalah serta dengan bujukan Mario. Mau tak mau dirinya harus merelakan melahirkan secara caesar.


"Rio, bi...la terjadi a...pa-apa pada bayi...nya, kau ... yang pertama ka...linya ku...sa...lah...kan..." lirih Davina, kemudian berangsur-angsur matanya mulai terpejam, seiring kegelapan mengambil alih alam bawah sadarnya.


"Aku tahu. Maafkan aku, Vin ..." jawab Mario berbisik parau dengan bibir bergetar menahan sesak di dada. Digenggamnya begitu erat tangan Davina yang terkulai. Pandangannya tiada henti menatap wajah pucat sang istri yang terpejam, sementara hatinya penuh dengan penyesalan, sangat menyesali tindakannya yang tak pernah dewasa dalam mengambil keputusan.


Kalau begini, mereka berdua sama saja. Davina keras kepala dan dirinya juga egois, hingga tanpa sadar yang menjadi korban adalah mahkluk kecil lainnya--di dalam perut Davina.


 


 


 


 


❁ This Is Your Baby ❁


 

__ADS_1


 


 


 


Tik! Tik! Tik!


 


 


Entah mengapa, mendengar detak-detak jarum jam yang menempel di dinding ruang operasi, bercampur dengan suara-suara benda tajam dari alat medis---terdengar begitu lantang---hingga menambah suasana menjadi menegangkan, membuat Mario berada di ruangan yang sama, tak bisa bernapas dengan benar. Berkali-kali dia mengembuskan napas ke udara, menghalau detakan jantungnya, ikut berdegup-degup kencang menunggu para tim dokter selesai melakukan pekerjaan mereka.


Entah berapa lama waktu yang dilewati oleh Mario dengan perasaan tegang dan cemas. Kini, detik-detik mencemaskan itu terbayarkan dengan tangisan bayi yang menggema lantang memenuhi ruang operasi, bahkan sang mertua sedang menunggu bersama Eleanore di depan pintu, ikut menyeruak masuk.


"Lihat, Sayang. Kau berhasil melewati semuanya ..." lirih Mario dengan tubuh bergetar, menahan perasaan lega dan haru sekaligus.


"Terima kasih, Vin ..." bisiknya mengelus punggung tangan sang istri; terkulai dalam genggamannya, pancaran mata elangnya berkaca-kaca, menatap sendu wajah pucat Davina--sedari tadi masih setia memejamkan mata indahnya.


"Selamat Mr. Arquette, bayinya berjenis kelamin laki-laki, serta sangat sehat."


Minho cepat menoleh ke belakang ketika suara dokter muda perempuan menyela perhatiannya dari sang istri. Ditatapnya bayi laki-laki dalam gendongan sang dokter, tanpa sehelai benang, memperlihatkan kulitnya yang kemerah-merahan. Tak ada yang lebih membahagiakan dan mengharukan bagi Mario, manakala melihat bayi kecilnya meringkuk nyaman di dada Davina. Sebelumnya, bayinya menangis begitu kencang.


"Kau dengar, Sayang. Bayinya sehat-sehat saja. Dan tak terjadi apa-apa padanya," ujar Mario parau mengelus pipi pucat Davina yang mendingin, sedangkan tangannya yang lain, mengelus punggung lemah bayinya.


"Kakak El, akhirnya, kau mempunyai teman bermain!" Sang mertua berkata penuh suka cita sambil menyeka air matanya. Sedari tadi dirinya hanya memperhatikan interaksi penuh mengharukan di depannya tanpa berbicara. Sudut garis bibirnya yang keriput itu tersenyum, memandang cucu keduanya, begitu nyaman dalam dekapan hangat Davina.


“Mr. Archielo.” Sang dokter menyela, ketika Mario sibuk memperhatikan bayinya bersama sang istri.


“Ya?” jawab Mario dengan suara seraknya.


Kedua alis tebal hitam Mario bertautan, menatap lekat wajah sang dokter yang mempunyai darah asli Jepang, juga menatap ke arah sang istri--secara bergantian.


"Hanya saja?" ulangnya penuh tanya. Jantungnya mulai berdegup kencang seiring kegelisahan menyerang seluruh tubuhnya.


Sang dokter mengembuskan napas tak kentara, menatap mata elang Mario; memancarkan ketakutan dan kecemasan di dalamnya, tanpa berkedip terus memandangi wajah pucat Davina.


"Kita tunggu sejam lagi, efek dari obat bius regional nyonya Davina akan menghilang, dan mungkin ... bila beruntung, eklampsia tak terjadi pada nyonya Davina, dirinya akan sadar. Tetapi, bila nyonya Davina mengalami eklampsia ...”


(Read; Eklampsia adalah masalah serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang tonik-klonik atau bahkan koma. Eklampsia merupakan akibat yang ditimbulkan oleh pre-eklampsia. Faktor-faktor yang dapat berperan terjadinya eklampsia meliputi: masalah pada pembuluh darah, faktor otak dan sistem saraf (neurologis), pola makan serta gen - Sumber; Wikipedia Indonesia dan beberapa blog yang berkaitan.)*


"Maksud, Dokter?" tanya Mario tak mengerti dengan istilah medis yang barusan didengarnya.


"Sebelumnya, nyonya Davina pernah mengalami cidera otak hingga amnesia, kemudian berlanjut sering sakit kepala saat kehamilan, maka kemungkinan nyonya Davina mengalami pre-eklampsia. Dan karena proses melahirkannya dengan dibius ... ada kemungkinan pre-eklampsia nyonya Davina menjadi eklampsia, itu artinya---" Sang dokter mengambil jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya.


"---artinya ... nyonya Davina bisa mengalami koma setelah ini."


 


 


 


 

__ADS_1


❁ This Is Your Baby ❁


 


 


 


 


Bugh!


 


 


Bugh!


 


 


"Hentikan, kak Rio! Kau menyakiti tubuhmu sendiri." Ravi sekuat tenaga menahan tubuh Mario, menjauhkannya dari jangkaun tembok ruang tunggu operasi. Sepuluh menit yang lalu, ibu Davina meneleponnya. Menyuruhnya menyusul ke rumah sakit, bukan untuk melihat keadaan Davina, tetapi menenangkan Mario yang begitu frustasi.


"Tidak. Jangan halangi aku, Rav." Mario berontak keras ketika Ravi memaksanya duduk di kursi panjang. "Aku memang pantas mendapatkannya, bukan Davina. Arrrgh ..." Mario menjambak rambutnya, hatinya begitu kesal. Akibat dari masa lalu pahit mereka--kembali menimpa kepada Davina.


“Seharusnya aku yang ada di posisi Vina. Seharusnya yang tergeletak tak berdaya di atas meja operasi, bukan Vina. Arrrgh!!”


‘Karena nyonya Davina pernah mengalami amnesia, kemungkinan nyonya Davina bisa koma ....'


Lagi, ucapan dokter terngiang di telinganya. Sungguh dia menyesal. Andaikan saja, Davina tak pernah dicelakai oleh Roxanne, mungkin semua ini tak berbuntut panjang sampai sekarang.


“Sekarang Vina ... arrrgh!”


 


 


Puk!


 


 


Ravi menepuk pundak Mario. Meremasnya begitu kuat, memberikan dukungan moril pada sang kakak.


"Jangan pesimis begitu, kak Rio. Masih ada harapan. Kita tunggu setengah jam lagi. Mungkin ada ke ajaiban yang terjadi untuk kalian berdua."



 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter terakhir 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2