This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Menantang atau Ditantang


__ADS_3


"Davina! Kenapa bisa berada di kediaman pribadi Rio!"


Alih-alih menjawab ucapan sinis ibu mertua - Roxanne. Davina lebih menyukai mengamati lekat-lekat wajah tak bersahabat kedua wanita di depannya ini. Mengerutkan dahi, bukan karena sikap perilaku kasar mereka padanya. Namun, pertanyaan yang dilontarkan oleh Roxanne-lah jadi penyebabnya. Bukankah dirinya adalah istri Mario? Tentu saja dia berada di kediamanan Mario selama ini. Jadi penasaran. Di masa lalu bagaimana dia bersikap pada dua wanita ini. Tapi yang jelas - terlepas bagaimana dia bersikap. Untuk saat ini, ia tak ingin diganggu hidupnya oleh ibu mertua dan adik iparnya.


"Hm ... pertanyaan Mommy mertua sungguh aneh. Tentu saja aku berada di sini, bukankah ini juga kediamanku? Aku ini istrinya Rio!" Davina berkata tegas, membuat kedua wanita di depannya ini mengangga tak percaya akan pernyataan barusannya. Tak disangka sosok manis ini berani menyanggah ucapan mereka.


"Ouch! Sejak kapan kau memanggilku Mommy mertua? Istri Rio? Kediamanmu juga?" cecar Roxanne angkuh dan sinis, wajahnya menampakkan rasa tak suka---ingin muntah---ketika Davina memanggilnya Mommy mertua.


"Iya, seharusnya yang aneh itu kau, Davina. Sejak kapan Kak Rio bersama denganmu di sini," sambar Lily cepat, matanya mendelik tajam pada Davina.


"Kau benar, Lily. Mana Rio, kami ingin bertemu dengannya." Roxanne bergerak maju, tapi langkahnya terhenti di depan pintu saat ada Davina yang menghalangi pintu masuk tersebut.


Davina hanya diam bergeming - memasang wajah datar pada dua wanita ini. Yang sedari tadi dia hanya berbicara pasif dan menjadi pendengar ocehan bagi dua wanita ini. Ya. Ia mengamati semuanya dan menarik kesimpulan. Dari sikap kasar Roxanne dan Lily, sekarang ia sangat yakin. Kalau hubungan dirinya dan dua wanita ini memang benar-benar buruk di masa lalu.


Dan itu artinya, Davina tak perlu bersusah payah untuk bermanis-manisan berbicara pada keduanya. Bila dua wanita ini bersikap baik padanya, maka dia pun akan baik. Sebaliknya, bila keduanya bersikap kasar, maka ia akan mengikuti permainan keduanya.


"Kau dengar, Davina! Menyingkir dari sana, kami ingin lewat!" Roxanne menggeram kesal akan sikap Davina - tak beranjak dari pintu di belakangnya. Makin kesal melihat wajah datar Davina, seolah tak mendengar ucapan mereka.


"Kau pun--- m-mau apa kau ... jangan macam-macam ya sama kami!" gertak Roxanne ketika Davina berusaha memajukan tubuhnya ke arah mereka berdua. Sontak Roxanne dan Lily ikut memundurkan tubuh secara otomatis.


"B-benar kata, Mommy. M-mana kak Rio, bila dia melihat sikapmu, dia takkan tinggal diam saja," sambung Lily sambil merengkuh erat lengan kurus Roxanne. Bahkan bersembunyi di belakang tubuh Roxanne.


Davina tertawa keras dalam hati melihat dua wanita di depannya ini begitu ketakutan, walau masih saja berusaha mencoba untuk membully-nya. Padahal dirinya berniat ingin menggeser tubuhnya ke samping. Dan gerakannya tadi malah di salah artikan - akan memberi mereka pelajaran. Namun demikian, mendengar ucapan adik iparnya---Lily---membuat Davina mengeryit samar.


Mario takkan tinggal diam akan sikapnya?


Apakah di masa lalu Mario membela sikap kasar keluarganya ini?


"Cepat menyingkirlah dari sana, Davina!" bentak Roxanne tak sabaran ingin bertemu dengan Mario, dan mendengarkan penjelasan langsung dari putranya. Mengapa Davina bisa berada di kediaman pribadinya. Padahal selama ini, semua tahu. Tak ada satu pun yang bisa memasuki kondominiumnya tanpa izin langsung dari Mario.


"Kau dengar, Davina, atau kau tuli setelah hilang ingatan, huh!" Kembali Roxanne berkata kasar.


"Benar yang dikatakan Mommy. Akibat dari pikunnya itu, dia jadi tuli dan sepertinya juga bisu," timpal Lily tajam.


Davina menghela napas pendek dan bersedekap dada. Irisnya begitu tajam menatap dua wanita yang bergetar ketakutan itu, namun tetap berani menantangnya. Mungkin dua wanita ini pikir, dia takut pada mereka. Satu hal yang harus Roxanne dan Lily sadari, bahwa Davina berbeda dari wanita di luaran sana - yang mungkin sebagian kecil dari wanita tersebut akan menerima begitu saja takdir mereka, disakiti keluarga pihak suaminya.


Davina takkan menangis mengiba-ngiba di depan mereka, meski mungkin hatinya merasakan sakitnya seperti ditusuk sembilu. Dia takkan menunjukkannya pada dua wanita ini kesengsaraannya - apa pun yang terjadi.  Ya, dia telah belajar pada sikapnya di masa lalu setelah mendengar cerita dari Mario dan ibunya. Kali ini dia takkan terpancing lagi untuk bersikap gegabah akan ucapan dua wanita di depannya ini.


"Mom---ups! Maksudku ... nyonya besar?" sudut bibir Davina menyeringai menatap Roxanne yang menahan kesal di wajahnya akibat ulahnya.


"Silahkan saja lewat. Siapa juga yang menghalangi jalan kalian? Kalian saja yang salah mengartikannya. Apa aku pernah bilang tak boleh masuk?" lanjutnya begitu enteng.


"Kau ..." Roxanne dan Lily kehabisan kata-kata saat Davina berani menyangkal ucapan mereka.


"Kita lihat saja nanti di depan Mario. Apa masih bisa mempertahankan sikap angkuhmu itu." Roxanne berjalan pongah. Menggeser keras tubuh Davina ke samping, bahkan dengan kasar menyenggol bahu sosok manis itu - ketika tubuh mereka bersinggungan.


"Silahkan saja. Aku juga ingin melihat reaksi Rio." Davina mengangkat kedua belah bahu - tak memperdulikan lagi, sikap kasar Roxanne yang menyenggol bahunya dan nyaris membentur keras pintu di belakangnya.


Ya, semua perhatiannya tersita akan rasa penasarannya terhadap Mario. Bagaimana pria itu mengambil sikap terhadap istri, ibu, serta adiknya secara bersamaan.

__ADS_1


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


"Rio. Rio. Di mana kau, Nak." Roxanne melenggang berjalan dari ruang tamu menuju ruang tengah keluarga - diikuti dari belakang Lily dan Davina.


"Mommy? Lily? Kenapa bisa ada di sini?"


"Harusnya pertanyaanmu itu tepatnya ditujukan pada Davina, Rio,” ucap Roxanne kesal saat melihat Mario---menggendong bayi laki-laki mungil---muncul dari ruang makan dan malah melontarkan pertanyaan seperti itu disertai wajah kaget, seolah melihat dia dan Lily dari dunia lain.


"Apa yang sedang kau lakukan di dapur, Rio?" lanjut Roxanne penasaran. Irisnya menatap lekat bayi lucu dan tampan itu dalam gendongan putra keduanya ini.


Mario tak serta merta menyahuti ucapan Roxanne. Sejujurnya dia memang sangat terkejut akan kedatangan tiba-tiba ibu dan sang adik ke kediamannya ini. Padahal, dirinyalah yang berencana akan membawa Davina ke mansion mereka, tentunya setelah dia berkompromi pada keluarganya untuk menjaga bicara mereka selama di depan Davina. Namun kini ... sepertinya Mario harus memutar otaknya kembali - mencari ide lain.


"Rio?" Roxanne menepuk bahu Mario - mengingatkan putranya yang tenggelam dalam lamunannya sendiri.


"Eung ... maaf, Mom." Mario menghela napas pendek. "Aku tadi sedang memasak di dapur," lanjutnya setelah bisa mengusai rasa terkejutnya.


"Yes. Aku masak sendiri," balas Mario cepat, seolah mempertegas rasa syok dua wanita ini.


"T-tak mungkin!" sangkal Roxanne mengurut dahi. Terlalu terguncang Roxanne dan Lily malam ini. Pertama, kehadiran Davina dan bayinya di kediaman pribadi Mario. Lalu kini, Mario memasak? Selama ini mereka tak pernah melihat Mario menyentuh alat-alat dapur.


"Sejak kapan kau mau memasak, Rio? Kenapa mau-maunya disuruh Davina seperti itu. Seharusnya dia yang memasak di sini!" Roxanne berkata sengit, sangat marah tak terima.


"Benar yang dikatakan oleh Mommy, Kak Rio. Bukankah ini kediaman pribadimu, Kak Rio?" timpal Lily sambil melirik Davina. Mengisyaratkan bahwa selama ini Mario memang tinggal sendiri, dan tak ada satu orang pun berada di sini - termasuk Davina.


"...dan seharusnya Kak Rio ..." Lily tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Hanya mampu menarik napas panjang pendek - tak habis pikir dia dengan sikap mengejutkan kakak keduanya ini.


"Astaga Rio! Mommy butuh penjelasanmu." Roxanne menambahi ucapan terputus putrinya - Lily, sembari mengurut pelipisnya yang berdenyut.


"Eum itu ..." Mario melirik cepat ke arah Davina---memicing tajam padanya---juga meminta penjelasan. Ia mengusap tengkuknya. Kenapa masalahnya jadi rumit begini setelah kedatangan ibu dan adiknya secara tiba-tiba.


"Bukan hanya kediaman pribadiku saja, Mom, Lilyi. Tapi kediaman Vina juga." Koreksi Mario terbatuk-batuk kecil---menyembunyikan kegelisahannya---sembari memberikan Baby El ke tangan Davina.


"Dan sejak kapan aku melakukan itu semua? Tentu saja sejak aku menikah dengan Vina." Lagi Mario berdeham kecil - menatap secara bergantian wajah ibu dan adiknya yang mengeras kaku.


"Oh, my goddes!" Roxanne menutup mulutnya tak percaya akan pendengarannya barusan. Mengapa putranya jadi begini? Sejak kapan Mario tunduk pada perempuan ini?


Sedang Davina mendengkus keras akan ucapan Roxanne dan Lily. Menurutnya, dua wanita itu terlalu berlebihan menyikapi soal Mario memasak. Bukankah hal itu lumrah dilakukan - oleh seorang suami yang memasak untuk istrinya? Hitung-hitung menunjukkan rasa cinta dan peduli seorang suami pada keluarganya. Lagipula ini kediamannya juga. Mengingat dia adalah istri Mario. Jadi di sini, tak ada yang saling menguasai dan dikuasai, serta tak ada yang saling diperbudak satu sama lainnya. Meski mungkin Mario yang memiliki hak nama atas kepemilikan tempat ini.


"R-Rio, kenapa kau jadi berubah begini? B-buk---"

__ADS_1


"Dari dulu aku juga bersikap seperti ini, Mom, Lily. Kalian saja yang menanggapinya berlebihan tak percaya,” potong Mario cepat. Ia mulai merasa gelisah dan gerah. Rasanya udara di sekitarnya menjadi panas - di tengah suara mesin pendingin ruangan yang berdesis pelan.


"Eh??" Roxanne dan Lily saling berpandangan tak mengerti.


"Dari dulu bersikap seperti ini?" Roxanne bergumam pada dirinya sendiri. Bukankah Mario dulunya bersikap kasar pada Davina? Jangankan mau memasak untuk wanita itu, yang ada Mario menganggapnya tak ada di sekitarnya - acuh tak acuh sama sekali akan kehadiran Davina.


"Tidak, ini pasti bohong.” Roxanne menggeleng-geleng tak percaya, "Davina! Kau apakan put---"


"Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja. Ayo Mom, Lily." Mario buru-buru mendorong paksa tubuh ibu dan adiknya untuk segera pergi menjauhi Davina. Sebaiknya dia segera bertindak cepat, sebelum Roxanne dan Lily bertanya lebih jauh. Akan semakin memicu Davina curiga padanya, hingga akhirnya permasalahan ini semakin panas dan tak mampu dibendung lagi olehnya.


"Dan kau, Baby. Sebaiknya kau makan dahulu tanpaku." Mario menatap Davina; mendengkus kesal - tak terima akan tuduhan Roxanne yang berhasil menimbulkan tanya dalam benaknya.


"Ayo! Mommy, Lily, ikut ak---"


"Lepaskan Mommy. Mommy belum selesai bicara pada Davina, Rio!" Roxanne berteriak sambil mengibaskan tangan Mario di pundaknya.


"Mom---"


"Biarkan saja Mommy-mu bicara, Rio!" sela Davina tampak kesal hingga membuat Mario terdiam di tempatnya. "Dan nyonya Roxanne, putramu tak kuapa-apakan. Kalau tak percaya, tanya saja sama dia.”


"Mommy, benar yang dikatakan oleh Vina. Ini semua atas keinginanku sendiri." Mario menjawab gugup, susah payah menelan air liur.


"Keinginan Kakak? Kak Rio tak ingat? Dulunya alasan Kakak menikah dengannya kar---"


"Karena kami saling mencintai," serta merta Mario memotong ucapan Lily seraya mendelik tajam, memberi kode agar adiknya ini diam saja tak usah banyak komentar. Dan yang pasti tak memperumit masalah yang ada.


"Tidak mungkin saling mencintai," bantah Roxanne dengan sinis dan menatap tajam Davina. Wanita paruh baya ini ikut memperuncing masalah yang dimiliki oleh Mario. Serta tak ingin membiarkan Davina berada di atas awan akan pernyataan putranya.


Davina mengepalkan tangan, sepertinya mulai ikut panas - terpancing akan ucapan Roxanne.


"Tentu saja kami saling mencintai nyonya Roxanne," tekan Davina menyeringai. Semakin ingin membuat ibu mertua dan adik iparnya syok berat dan terpojok.


Di sisi lain, Mario mengusap wajahnya. Berkali-kali mengembuskan napas kasar - menutupi kegelisahannya. Dia gamang.


"Oh ya, saling mencintai? Seperti apa?" serang Roxanne berkata sinis meremehkan dengan sudut bibir tertarik ke atas.


"Heum, jadi Mommy mer---ah, maksudku, nyonya Roxanne ingin pembuktian, bahwa kami saling mencintai, begitu?" Sudut bibir Davina menyeringai jelas---seakan ingin memperkeruh suasana---membuat Roxanne dan Lily merasakan tak nyaman ketika menangkap seringaiannya itu. Sedang Mario, dahinya berkerut mendengar pertanyaan atau pernyataan Davina.


"Ya! Kami ingin buktinya." Roxanne dan Lily mengangguk cepat. Tentu saja mereka ingin pembuktian nyata. Sekalian ingin membungkam sikap angkuh Davina yang berani menentang mereka. Kali ini mereka yakin. Mario takkan mengikuti keinginan Davina lagi. Sudah cukup perempuan ini bermain-main.


"Mana buktinya, kalau kau dan Kak Rio saling mencintai," desak Lily tak sabaran. Mereka yakin, yang Mario katakan 'saling mencintai' itu hanyalah sebuah keterpaksaan saja.


"Baiklah." Davina menatap Mario yang semakin gelisah. "Kalau begitu, Hubby. Cium aku di depan mereka!"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes , kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 珞, oke .


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 珞.


 

__ADS_1


 


__ADS_2