This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Bimbang


__ADS_3


Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya. Entah berapa lama waktu terlewati oleh pria bermata bulat itu, menghabiskan waktu hanya memandang lekat diam-diam sosok yang tertidur lelap di atas ranjang empuknya, bersama Baby El dalam dekapannya.


Mata elangnya berkeliling memperhatikan kamar yang hampir didominasi warna kuning dan krem ini. Baru kali inilah, untuk pertama kalinya Mario menjejakkan kakinya di kamar pribadi Davina. Ini juga orang tua Davina yang menyuruhnya tidur di dalam kamar sosok manis-nya. Entahlah, kalau Davina sendiri. Apakah mengizinkannya atau tidak, mengingat sikap apatis wanita muda ini padanya selama dua hari ini.


“Baby ...” Mario berbisik serak menatap sendu wajah manis Davina. Berangsur-angsur dan sangat hati-hati---takut membangungkan Davina dalam tidur nyenyaknya---Mario membaringkan tubuhnya dengan nyaman, di sisi sosok yang mulai mengisi penuh hatinya.


Menarik sosok manis-nya ke dalam dekapannya. Disurukkan kepalanya ke bahu sempit Davina sembari hidungnya menyesap aroma manis vanilla yang menguar di tubuh wanita ini. Mengingatnya dengan kuat, serta menancapkannya ke dalam memori otaknya, akan wangi khas dari sosok manis yang dicintainya.


Sangat dicintainya, terlebih setelah mendengarkan penjelasan orang tua Davina tadi. Serta membuat kesepakatan bila ingin kembali bersama putri mereka. Mario mendesah pendek. Mengelus pipi sehalus sutera sosok manis-nya, bersamaan pikirannya yang mulai mengembara akan kejadian sejam yang lalu ...


-


Bruk


Kedua orang tua Davina terperanjat kaget, takkala Mario berlutut di depan mereka.


“A-apa yang k-kau lakukan R-Rio?!” Suara Ny. Oswalden bergetar, tak siap akan sikap tiba-tiba Mario.


*“Aku mengakui, aku salah, bodoh, **** bejat--- tetapi, kumohon ... izinkan aku membayar kesalahan masa laluku ...” Mario berkata serak, kepalanya tertunduk kian dalam, mata elangnya hanya berani menatap kotak-kotak lantai marmer hijau di bawahnya.*


Sepasang orang tua itu terkesiap. Sungguh tak menyangka bahwa Mario Archielo berani mengakui kesalahannya dan ingin menebus semua kesalahannya.


“Tidak semudah itu Rio! Kau tahu apa tentang penderitaan Vina. Dia bersusah payah mengandung Baby El, hanya bersembunyi mendekam di dalam rumah selama enam bulan sampai melahirkan. Demi menghindari cibiran dan cacian dari tetangga sekitar yang akan tertuju pada kami. Mana ada seorang gadis bisa hamil serta tanpa suami pula. Meski pada akhirnya dia punya suami, namun pernikahan kalian hanya terjadi di atas selembar kertas, tanpa ada pengakuan dari pihak mana pun, termasuk keluarga Archielo sendiri!”


“Sayang tenanglah! Tahan suaramu, kasihan bila Vina mendengar semuanya.” Mr. Oswalden menyela, mengingatkan akan volume suara istrinya, agar jangan terlalu besar.


“Arrgh! Kenapa semua ini harus terjadi pada Vina, hiks ...” Ny. Oswalden menjambak rambutnya menjadi berantakan. Sontak Mr. Oswalden menarik sang istri kepelukannya dan menenangkannya.


“Itu mengapa Tuhan mencabut semua ingatan pahit dari Vina. Tuhan Maha Adil, agar Vina tidak mengingat kembali masa menyakitkan itu lagi hiks ...” racau Ny. Oswalden menumpahkan rasa sakit hatinya.


Tubuh Mario bergetar mendengarnya, tangannya terkepal erat di atas pahanya. Mendengar sebegitu menderitanya Davina, membuat tekadnya makin besar untuk memperbaiki kesalahannya.


“M-maka dari itu, izinkanlah aku mengobati luka hati Vina.” Mario memberanikan membuka suaranya, berusaha berbicara di tengah rasa sakit hatinya yang tertohok.


“Tidakkah kalian mempertimbangkannya dari sisi Baby El? Haruskah kalian membohongi Vina terus-menerus,” lanjut Mario saat tak ada jawaban sama sekali dari kedua orang tua Davina.


“Meski kau harus membayar dengan nyawamu sekalian?! Misalkan aku menyuruhmu lompat dari gedung bertingkat?!” Ancam Ny. Oswalden.


Mario memejamkan mata, mengepalkan erat tangannya. Kali ini dia takkan goyah sedikit pun. “Ya! Aku siap!”

__ADS_1


“Andai aku menyuruhmu memotong urat nadimu saat ini juga, kau siap?!” Seakan tak puas akan jawaban Mario, Ny. Oswalden kembali mengajukan ancamannya sebagai syaratnya. Sungguh, dia tak ingin putrinya jatuh ke lubang yang sama. Berkubang kembali dalam rasa sakit menyesak.


“Katakan padaku! Apa kau bersedia!” ulang Ny. Oswalden lagi, menatap nanar Mario---akan kembali menjadi---menantunya.


“Ya! Aku sangat siap!”


Lama keheningan terjadi kembali setelah Mario menjawab dengan tegas. Mr. Oswalden memandang lekat Mario yang masih setia duduk berlutut di hadapan mereka. Pria paruh baya ini mendesah pendek, tak ada jalan lain. Asal Davina dan Baby El bahagia di masa depan, mereka akan lakukan apa pun caranya.


“Kami ... memaafkanmu Rio. Mengizinkan kau kembali pada Vina, dan mengatakan siapa Baby El pada Vina.”


Mario menarik napas lega mendengar jawaban dari ayah mertuanya. “Terima kasih banyak, Mom, Dad. Aku janji akan membahagiakan Vina.”


“Tentu saja, itu harus! Namun dengan satu syarat kau bisa kembali pada Vina.”


“Apa itu?” tanya Mario memberanikan menatap mata elang sang ayah mertuanya.


“Kami tak ingin kau membicarakan tentang masa lalu pahit Vina padanya. Itu tetap harus dirahasiakan. Kau karang saja bagaimana hubungan kalian di masa lalu, tanpa menyinggung kejadian pahit itu. Kau bersedia?”


Mario mengangguk dengan lemah. Itu artinya dia harus menciptakan kebohongan lainnya? Dan akan terus dibayangi rasa bersalah lainnya.


“Itu demi masa depan Baby El, Rio. Kau harus menerima konsekuensinya.  Bukankah kau tak ingin melihat tumbuh kembang Baby El tanpa formasi keluarga lengkap, tanpa ayah dan ibu kandungnya? Kau tak ingin itu terjadi pada Baby El, kan.” ujar Mr. Oswalden seakan tahu apa yang terjadi dalam pergolakan batin Mario.


Lagi, Mario hanya mengangguk paham, dia tahu konsekuensi yang akan diterimanya di masa depan. Ya, meski suatu hari nanti Davina kembali mengingat kejadian pahit di masa lalunya. Bukan tak mungkin, Davina akan kembali sangat membencinya terhadap perbuatannya di masa lalu.


.....


“Maafkan aku, Baby. Aku berjanji akan membahagiakanmu kembali ...” bisik Mario serak, merengkuh tubuh Davina dan Baby El ke dalam pelukan hangatnya. Semakin lama kelopak matanya kian berat, dan perlahan-lahan mulai tertutup sempurna. Mario akhirnya memilih jatuh ke alam mimpi, menyusul dua sosok yang dicintainya.


Keheningan di kamar kian terasa setelah pria tampan itu jatuh tertidur. Kini hanya suara jarum jam beker berdetak nyaring menunjukkan waktu, berdiri kokoh di atas meja nakas. Menemani kesunyian di kamar dengan cahaya redup menyinari.


Di tengah ketenangan yang menyelimuti, lambat laun kelopak mata yang terpejam erat itu akhirnya mulai membuka. Sedikit demi sedikit, menampakkan iris cokelat indah di baliknya. Davina menggigit bibir. Rasa shocknya masih terasa menyerang batinnya. Bagai mimpi yang tak nyata, kala mengetahui bahwa dirinya adalah ibu kandung bayi yang selama ini dikiranya adalah keponakannya sendiri.


“Baby El, anakku. My little boys ...” lirih Davina, dalam diam mendekap erat bayinya, darah dagingnya sendiri. Sosok manis ini semakin erat menggigit bibirnya, menekan buliran-buliran cairan bening berdesakan ingin keluar di pelupuk mata indahnya. Walau pada akhirnya dia tak mampu membendungnya lagi. Meleleh keluar, bersinar terang di tengah redupnya cahaya lampu temaram.


Sudut matanya melirik pada sosok tampan di belakangnya, mendekapnya dengan erat. Saat ini, Mario adalah suaminya, atau mantan suaminya? Wanita muda ini mendesah. Entahlah dia tak mengingatnya sama sekali, apa yang terjadi di antara dia dan Mario. Apa yang telah dilakukan Mario di masa lalu terhadapnya, hingga mereka bisa berpisah seperti ini. Bahkan orang tuanya pun merahasiakan tentang semuanya. Sungguh dia tak mengerti.


Sekarang, apa yang mesti dilakukannya?


Haruskah menerima Mario kembali? Sementara dia masih meraba-raba akan kejadian yang menimpanya selama dua tahun belakangan ini. Apakah Mario baik padanya atau malah sebaliknya, memperlakukannya dengan buruk?


 

__ADS_1


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


Mario tersentak dari tidur nyenyak, secepat kilat membuka kedua belah matanya lalu mengerjap-ngerjap, membiaskan cahaya terang memasuki retinanya. Seketika dia terdiam, tanpa bergerak sama sekali. Pria ini meneguk ludahnya berkali-kali takkala iris abu-abunya bertatapan langsung dengan iris cokelat milik sosok manis-nya, sedang mengganti popok Baby El.


“Aku bisa jelaskan ... m-mengapa aku bisa tidur di kamarmu, Baby.” Mario memberanikan diri untuk berbicara duluan.


Pria ini mengembuskan napas pendek saat tak ada jawaban sama sekali dari belah bibir Davina.


“Kau marah padaku, Baby?--- memang aku belum dapat izin darimu untuk tidur di kamarmu.” Mario mengusap wajah bangun tidurnya, lalu melanjutkan kembali ucapannya.


“Karena tak mungkin aku tidur di kamar Arlana, maka orang tuamu mengizinkanku agar tidur di kamarmu saja,” jelas Mario menahan napas sesaat. Baru kali ini ia merasakan canggung dan serba salah sejauh ini. Apalagi tak ada respon sama sekali dari Davina. Begitu dingin. Dan sikap dinginnya Davina, malah membuatnya makin tidak nyaman. Apakah wanita muda ini marah atau tidak. Ia lebih suka sosok manis ini melampiaskannya secara langsung seperti biasanya, berkata kasar padanya. Itu akan lebih baik.


“Baby, kumohon katakan sesuatu ...” ujar Mario berharap-harap cemas. Mata elangnya terus mengawasi gerakan Davina; telah selesai mengganti popok baru Baby El, lalu menggendongnya.


“Baby El, ayo kita buat susu untukmu.” Davina tersenyum tipis, menepuk pucuk kepala Baby El tanpa menjawab sama sekali ucapan Mario, sepenuhnya menghiraukan keberadaan Mario di kamar ini.


“Baby ...” lirih Mario memanggil Davina, menatap sendu punggung rampingnya, menghilang di balik pintu bercat krem tersebut. Pria ini mendesah frustasi, mengusap dengan kasar wajah tampannya. Kembali membaringkan tubuh atletisnya ke atas ranjang tak terlalu besar itu. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar. Menarik napas dan diembuskannya dengan kasar. Hatinya resah akan sikap acuh tak acuh Davina padanya. Terlebih untuk pagi ini. Sikapnya sungguh berbeda dari sikapnya yang semalam.


Sedangkan di balik pintu bercat krem tersebut. Davina berdiri lemas. Tubuhnya nyaris bergetar hebat. Sungguh dia bingung bagaimana harus bersikap pada Mario saat ini, setelah mendengar tadi malam hal yang mengejutkan dunianya.


Sekarang yang dia lakukan adalah bersikap sewajarnya, seolah-olah dia belum mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Biarlah Mario dan orang tuanya sendiri yang berkata jujur padanya.


Davina menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pendaran merah merona yang tiba-tiba, tanpa permisi hadir di wajahnya. Hatinya bergemuruh ketika menatap langsung wajah Mario. Itu sebabnya dia buru-buru pergi dari kamarnya, tak sanggup terlalu lama berada di sekitar Mario.


Entahlah ada sesuatu lain hadir di sudut hatinya, mulai berdesir halus. Serta detakan jantungnya mulai tak seirama. Semua hal tersebut dikarenakan dirinya mengetahui; bahwa Mario adalah suaminya, membuatnya jadi begitu kacau balau pagi ini.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2