This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Serius?!


__ADS_3


Saat ini, ingatan Mario belumlah pikun dari beberapa jam yang lalu. Bahkan ingatan itu tertanam sangat kuat dalam memorinya. Davina menolaknya. Sosok manis-nya dengan jelas menghindarinya ketika mereka terbawa suasana di atas rooftop. Bibir Mario nyaris saja meraup bibir cherry Davina - andai wanita manis ini tak berkilah; anak mereka---Baby El---menangis.


Namun kini ... saking terkejutnya Mario akan pendengarannya sendiri. Rahangnya mengeras. Matanya terbelalak. Berkali-kali ia mengelus telinganya, bila saja salah tangkap yang didengarnya. Sungguh dia tak percaya. Davina yang selama dua hari ini bersikap apatis padanya, bahkan sering memperingatkannya untuk menjaga jarak padanya. Dengan sendirinya, meminta dia menciumnya? Bolehkah dia bahagia akan permintaan Davina saat ini?


Mario menghela napas panjang. Entah mengapa di sudut hatinya yang terdalam ada rasa yang mengganjal. Tentu saja, karena saat ini keinginan Davina telah diselimuti oleh amarah, bukan dari permintaan hatinya sendiri. Dan dia tak ingin mencium Davina karena hal seperti itu. Akan tetapi ...


"Rio?"


"Mom, sepertinya ada yang tak digubris ucapannya, tuh. Tentu saja Kak Rio sangat syok akan permintaan anehnya itu," celetuk Lily menyahuti ucapan Davina. Kedua beranak ini tersenyum sinis - menang selangkah dari Davina. Mereka lega. Mario tak serta merta menuruti ucapan sosok manis ini. Mario belumlah berubah sepenuhnya. Tetap mengacuhkan keberadaan Davina.


"Ssst! Kau dengar, Lily? Ada suara retakan hati yang patah," timpal Roxanne semringah. Mengikis ujung jari-jari lentiknya yang dihiasi dengan kutek merah hati pekat. Lily mengangguk setuju.


"Ck! Davina. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan seperti itu. Saling mencintai? Huh!" sindir Roxanne semakin menjadi. Dirinya tak mampu lagi menyembunyikan tawa bahagianya.


"Mommy. Davina sepertinya lagi bermimpi menjadi princess snow white, berharap sang pangeran menciumnya dari tidur panjangnya," sambung Lily sambil terkikik geli menutup mulut.


Davina mengepalkan tangan begitu erat di balik belakang tubuh mungil Baby El - dalam gendongannya. Giginya gemeretak menahan amarah. Satu hal disadarinya. Ternyata Mario memang membela dua wanita ini, daripada memenuhi permintaan dia sebagai istrinya.


Wanita muda ini menarik napas dalam. Membalik tubuhnya, pergi dari sini. Percuma berlama-lama di sini. Mario takkan memenuhi permintaannya. Dirinya sudah kepalang tanggung menahan malu. Salahnya, dia terlalu naif hingga berpikir Mario akan menuruti semua ucapannya.


"Vina," panggil Mario serak, setelah berhasil mengenyahkan lamunannya.


"Lep---"


Tak menunggu lama. Mario menyentak tubuh ramping Davina. Di detik berikutnya, tubuh Davina bersama Baby El telah direngkuh erat dengan posesif oleh Mario.


Pikiran Davina seketika menjadi kosong. Yang dia tahu pasti. Bibirnya telah dijepit oleh bibir Mario. Beberapa kali wanita manis itu mengerjapkan mata. Tawa sinis yang---awalnya---menggaung di ruangan lenyap tertelan sunyi senyap. Menyisakan wajah syok tak percaya dari dua wanita itu.


Mario melepaskan tautan bibirnya. Hanya beberapa detik saja menempel di atas bibir cherry Davina. Sengaja dilakukannya untuk mengendalikan diri - agar tidak terbawa nafsu lebih jauh lagi. Lagipula bukan seperti ini yang dia mau.


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


"Mengapa kalian datang kemari? Ada urusan apa padaku?"


"Jadi, kalau tak ada urusan, kami tak boleh ada di kediaman kakak, begitu?"


"Bukan seperti itu, Lily."


Mario mengusap wajah tampannya. Lantas mengurut pelipisnya yang berdenyut. Akhirnya bisa sedikit menghirup napas lega. Setelah bisa menyeret paksa ibu dan adiknya ke dalam ruang kerjanya. Sementara Davina, disuruhnya makan malam---tanpanya---terlebih dahulu. Tak ingin sosok manisnya kelaparan hanya kerena menunggunya makan bersama.


"Setidaknya beri tahu aku dahulu di telepon." Mario mendesah, melirik secara bergantian Roxanne dan Lily di seberang sofa.


"Beritahu Kakak dahulu? Tumben. Tidak biasanya Kakak seperti ini." Lily berdecak sebal. Menyilangkan kaki jenjangnya hingga rok pendek yang dipakainya tersingkap ke atas, memperlihatkan paha putih mulusnya. Gadis muda ini tak sungkan, walau ada kakak laki-lakinya duduk di seberang sofa.


"Makanya Lily, kalau punya otak benar-benar dimanfaatkan! Jangan hanya berpikir cara merayu pria tampan melulu. Kau tak lihat ada satu makhluk gaib di rumah ini, makanya Kakakmu malam ini kerasukan. Berbicara sopan pada kita." Roxanne melirik tajam pada Mario - bersembunyi di balik wajah stoic-nya, sangat kontras ekspresinya beberapa detik yang lalu.


"Hum, Mommy benar." Lily mengangguk. Meski begitu, tetap saja gadis muda ini cemberut mendengar sindiran sang ibu padanya. Seolah ibunya tidak pernah muda saja. Lily yakin. Sebelum ketemu ayahnya, ibunya juga pernah merayu laki-laki lain buat dijadikan tambang emas - setelah akhirnya ketemu ayahnya sebagai pelabuhan terakhir. Itu juga yang mendasari dua wanita ini - mengapa tak menyukai kehadiran Davina di keluarganya.

__ADS_1


“Syukur kalau Mommy mengerti.” Mario menyela. Melempar selimut---kebetulan ada di sampingnya---pada Lily. "Pakai itu, Lily, agar tidak masuk angin!"


Gadis muda itu memberengut dan menuruti ucapan kakaknya, menyelimutkan ke pahanya.


"Kalian tahu, sekarang Davina mengalami amnesia," sambung Mario, beranjak dari duduknya menuju kaca jendela besar di belakang kursi kerjanya.


"Baguslah dia amnesia. Kalau bisa, teruslah hilang ingatan selamanya." Roxanne berkata sinis. Meneguk minuman bir yang diberikan Lily.


"Mommy, jangan katakan itu." Mario menghela napas pendek. Menarik tali gorden hingga tirai jendela berbahan beludru itu tersingkap - menampakkan langit malam yang mendung tanpa bintang. Musim dingin masihlah betah menyelimuti kota Vancouver di awal tahun ini.


"Karena kalian sudah ada di sini, sekalian saja kukatakan. Mulai sekarang aku kembali pada Vin---"


"Apa!! Jadi kau benaran mau bersama dengannya lagi?" pekik Roxanne terlonjak dari duduknya. Tak terima Davina kembali hadir di tengah-tengah keluarganya.


"Betul. Aku serius. Maka dari itu aku minta, mulai dari sekarang. Mommy dan Lily jaga sikap di depan Vina. Terlebih, jaga mulut kalian. Sebelum Vina amnesia hubungan kami baik-baik saja. Itu yang kukatakan padanya." Mario membalik tubuhnya dan bersedekap dada, menatap tajam bergantian ibu dan adiknya.


"Itu artinya kau berbohong padanya." Roxanne mencibir, tak suka akan jalan yang diambil putranya.


"Sebab aku tak ingin menyesal untuk kedua kalinya, Mom," jelas Mario berargumen.


"Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku. Terlebih sekarang, aku punya tanggung jawab besar pada kehidupan Vina dan Baby El." Mario berkata tegas, lalu beringsut berjalan ke arah pintu.


"Lagipula Baby El cucu kandung Mommy, lebih baik kalian berusaha menerima kehadiran istri dan anakku," lanjutnya memutar handle pintu.


"Satu lagi. Sebaiknya Mommy dan Lily menginap saja di sini. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada kalian. Berbahaya, malam-malam begini kembali ke mansion." Mario menyembulkan kepala dari balik pintu. Kali ini sungguhan keluar dari ruang kerjanya - meninggalkan dua wanita itu yang terbengong-bengong di tempatnya.


"Aih, sungguh tak kusangka, kalau kakak seserius ini akan kembali pada wanita tak jelas itu," gerutu Lily menyingkirkan selimut di atas pahanya. Melemparnya asal ke lantai.


"Kenapa mesti pakai acara tiba-tiba hadir di depan kak Rio, setelah setahun tak berhubungan lagi. Membawa bayi juga," lanjut Lily seolah gadis ini berbicara sendirian di ruangan. Sementara Roxanne menyipitkan mata. Memutar permukaan kaleng bir di tangannya - berpikir keras.


"Mom, pernahkah berpikir kalau Baby El bukan anak kandung kak Rio? bisa saja kan--- aduh, Mommy, sakit." Lily merengek, meringis mengadu kesakitan. Mengusap-usap lengannya yang dicubit Roxanne.


"Aih, Mommy. Mirip saja tak cukup! Bagaimana kalau kita suruh Davina tes DNA?" sanggah Lily. Bibirnya mengerucut akan ucapan sarkas Roxanne.


"Tidak usah. Mommy sudah membuktikannya sendiri."


"Eh? Kapan? Kok Mommy tak bilang padaku?" Lily menggaruk kepala. Ditatapnya sang ibu; memandang lurus ke depan. Sesekali garis-garis kerutan samar terlihat di wajah menua Roxanne - kala mengernyit.


"Hm, kuharap obat yang diberikan dokter Marcus bertahan selamanya." Roxanne bergumam ambigu sembari meremukkan kaleng bir kosong di tangannya.


"Eh? Obat apa, Mom?"


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


"Sudah kembali? Kupikir butuh waktu khusus, melepas rindu pada keluarga tercintamu."


Davina melempar bantal ke arah Mario - baru saja muncul di ambang pintu. Mengingat ucapan Roxanne tak mau kalah tadi, serta sikap Mario, sangat kontras sekali pertentangannya. Di satu pihak berusaha ingin membuka sesuatu, di pihak lain mencoba untuk menutupinya. Ia bisa menarik kesimpulannya. Mario menyimpan banyak rahasia sendirian dan tak ingin diketahuinya. Pikiran Davina bercabang. Manakah yang seharusnya dipercayai ucapannya? Mario, atau Roxanne dan Lily?


Mario menghela napas pendek, meraih bantal - hanya berhasil mendarat di ujung kakinya. "Kenapa? Kau masih marah padaku hanya karena menciummu sekilas?"

__ADS_1


Davina memalingkan wajahnya ke arah lain - asal jangan ke arah Mario yang berjalan menujunya.


"Bukan karena itu. Responmu-lah yang membuatku ingin menampar wajahmu. Dasar pria tak peka! Menyebalkan! Bodoh!" Davina mengeluarkan semua unek-unek di benaknya.


"Maafkan aku." Mario menaruh bantal ke tempatnya semula, disusul duduk di sisi ranjang - di sebelah Davina.


"Aku tak butuh maafmu." Davina mendengkus. Menoleh cepat ke arah Mario. "Sudah lewat permintaan maafmu itu. Karena perbuatanmu terlanjur membuatku malu di depan ibu dan adikmu," lanjutnya ketus.


"Baby---"


"Jangan panggil aku seperti itu." Davina menepis tangan Mario yang ingin meraih wajahnya.


"Vin, aku berbuat demikian karena berpikir--- tidak, dengarkan aku dulu," Mario meletakkan jarinya di bibir Davina, kemudian menarik napas panjang. "Kau yakin dengan permintaanmu tadi?"


Davina terpaku. Begitu risih jari Mario berada di bibirnya. Mengingatkannya akan bibir Mario sendiri di atas bibirnya. Sedikit bernapas lega, Mario menarik jarinya - menjauh dari bibirnya.


"Tentu saja. Bukti bahwa kita saling mencintai," ujar Davina tak yakin di ujung kalimatnya. Keningnya berkerut samar.


"Itulah masalahnya, Baby. Kau tahu artinya saling mencintai?"


Davina diam.


"Tidak hanya menunjukkannya di depan orang-orang dengan berciuman saja. Apalagi ciuman yang kau minta tadi karena di bawah kendali amarahmu. Setelah ciuman itu berakhir, maka tak ada lagi hubungan saling mencintai? Itukah yang kau inginkan?"


Davina bungkam. Menundukkan kepala. Mario benar. Dia memintanya karena terhasut akan ucapan Roxanne dan Lily. Andaikan dua wanita itu tak menyulutnya, belum tentu dirinya akan bersikap seperti itu.


"Baby." Mario menangkup wajah Davina hingga menengadah padanya. "Ada banyak cara untuk menunjukkan pada keluargaku bahwa kita saling mencintai. Setiap hari kita bisa tunjukkan pada mereka kemesraan kita selain berciuman. Tak hanya malam ini saja. Oke?"


Mario mendaratkan bibirnya ke dahi Davina yang hanya diam membisu - mengecupnya begitu dalam. Menunjukkan pada sosok yang dicintainya bahwa dirinya peduli, akan terus melindungi istri dan anaknya. Kemudian bibir Mario telah beralih ke bibir cherry Davina. Meraupnya dan mengisapnya tanpa melibatkan gerakan lidah di dalamnya. Mario hanya ingin memberikan ciuman berkesan untuk Davina, menunjukkan emosinya dan rasa cintanya - selama ini tak pernah diberikannya pada Davina.


"Cu..kup! Aku se..sak." Davina memutuskan ciumannya secara sepihak. Mendorong tubuh Mario menjauh darinya. Buru-buru berbaring membelakangi Mario. Kepalanya menyusup di tubuh Baby El, menyembunyikan pendaran merah merona di wajahnya.


Mario terkekeh geli. Ternyata Davina masih malu-malu. Kendati demikian, dia bernapas lega. Wanita-nya segera memutuskan ciuman mereka. Kalau tidak. Dia tak menjamin hanya sebatas ciuman saja - mungkin akan berlanjut ke tahap yang lebih panas lagi? Mungkin.


"Sudah cukup, eh. Bukankah tadi kau yang memintaku menciummu, Baby? Mau dilanjut lagi, eum?" Goda Mario mengusap bibirnya yang basah. Memutari ranjang besar, berpindah ke sisi tempat lainnya.


"Sudah kedaluarsa." Davina berkata ketus. Serta merta memejamkan mata saat Mario telah berbaring nyaman di seberangnya. Untunglah ada Baby El di tengah-tengah mereka. Wajahnya memanas kala merasakan pandangan intens menusuk dari iris abu-abu itu.


Sudut bibir Mario tersungging senyum mempesona. Jarinya gatal - ingin mengelus kelopak yang bergerak itu. Atau mengecupinya bergantian. Namun itu tak mungkin terjadi. Dan dia tak habis akal agar membuat kelopak itu terbuka untuknya. Ia tersenyum menyeringai.


"Hn! Sayang sekali, Baby. Sudah kedaluarsa, ya. Seharusnya bisa berlanjut sampai pagi. Bila perlu, sekalian olahraga malam membuat adik untuk Baby El."


"Apa katamu? Olahraga malam?! Membuat adik untuk Baby El?! Pantatmu!💢"



AN;


Sebenarnya banyak yang minta diceritain flashback masa lalu Davina sama Mario. Nanti bakalan ada full ceritanya, kunciannya ada pada Davina, pas dia sadar dari komanya. Nah kalau awal mula pertemuan Davina sama Mario, bisa dilihat di chapter 8 (yang pertama). Disana ada flashback mereka berdua. Awal mula pembuatan Baby El wkwkwk


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2