This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Kau Tak Tahu Apa Yang Kurasakan


__ADS_3


Alis tebal Mario bertautan saat merasakan tubuhnya sedikit bergerak. Meski hanya gerakan kecil, cukup membuat dia terjaga dari tidur ayam. Matanya terbuka dan segera beradu pandang dengan mata bening---jauh sebelum sosok ini pingsan---memancarkan sorot emosi dan terluka.


"Jauhkan kepalamu dari tubuhku!" tegur Davina mendelik tajam.


Buru-buru dipalingkan pandangannya ke luar jendela. Tak ingin Mario menatapnya dengan tatapan sendu begitu, supaya tak menggoyahkan niat awalnya, susah payah dia bangun selama dua tahun ini. Butuh waktu lama melaksanakan niatnya untuk mengabulkan keinginan Mario. Bahkan dirinya harus menundanya dulu sampai Baby El lahir ke dunia. Dan kembali terhambat karena dirinya amnesia.


Mario mengembuskan napas. Segera bangun dari dada sang istri. Sekilas telinganya mendengar dengan jelas jantung Davina berdebar kencang. Jauh di lubuk hatinya, ia berharap debaran dada itu menunjukkan bahwa Davina masih ada rasa untuknya - walau itu hanya kemungkinan kecil.


"Vin, apa kau sudah memutuskannya?" tanya Mario dengan perasaan was-was. Bibir bawahnya bergetar. Takut apa yang akan meluncur dari belah bibir Davina selanjutnya.


Davina mendengkus. Berkata dengan dingin. "Sudah berapa kali kubilang, aku tetap pada pendirianku."


"Tapi, Vin---"


"Apa kau dengar ucapanku tadi, Rio! Sudah kubilang dari awal, aku ingin kita bercerai."


Astaga! Mario mengacak rambutnya. Menatap frustasi pada wajah merah sang istri. Tidakkah secuil saja, di hati yang rapuh itu ada rasa goyah untuk mempertahankan rumah tangga mereka yang sebentar lagi akan hancur ini.


"Vin --- Astaga! Mengapa harus seperti ini," gumam Mario mendesah keras frustasi. Perlahan berdiri dari sisi Davina. Beringsut berjalan menjauhi ranjang, mendekati sisi jendela lainnya - membelakangi sang istri.


Dipejamkan matanya. Hatinya kembali remuk redam. Astaga. Kembali pria muda ini mengacak-acak rambutnya. Bila perlu sampai botak sekalian.


Kenapa malah jadi begini?! Dulunya dia yang ingin bercerai dari Davina. Kini Tuhan mengabulkan permintaannya, di saat dia tak ingin mengulangi lagi kesalahannya yang sama.


Arrrgh ... Rasanya dia ingin menjerit bagai orang gila, namun hanya mampu mengepalkan tangan. Irisnya memandang hampa ke luar jendela rumah sakit.


"Vin, kumohon. Berpikirlah sekali la---"


"Tidak! Sekali bilang tidak, tetap tidak. Kau ..." suara Davina terdengar serak saat menjeda kalimatnya. Sebegitu kuatnya meremat selimutnya, bersamaan cairan panas mulai berdesakan keluar dari sudut matanya.


"...kau tak tahu apa yang kurasakan saat ini, hiks ..." Davina terisak hingga membuat hati Mario yang mendengarnya ikut merasa pilu.


"Kupikir ... jalan satu-satunya untuk sementara ini adalah berpisah. Menjalani kehidupan masing-masing. Aku ingin menyembuhkan hati yang luka ini ... terlalu banyak kau menggoresnya, hiks, maaf akan keputusanku ini, Rio ...”


Pria itu tertunduk dalam mendengar penuturan Davina. Tak sanggup lagi untuk berucap - lidahnya begitu kelu. Serta tak mampu bertindak apa pun lagi. Dia pasrah.


Vina ....


*This Is Your Baby*


[Delapan bulan kemudian ....]


Sosok manis itu hanya diam bergeming, berdiri mematung di sisi jendela---sengaja dibuka lebar---sembari menengadah ke arah langit berwarna orange. Menikmati indahnya sunrise. Beberapa saat lagi sang surya---sebagaimana tugasnya---mulai menyinari seisi bumi.


Davina mendesah, hidungnya berkerut serta kelopak matanya terkulai. Terlihat jelas kelelahan akibat kurang tidur. Ah, tentu saja. Sebab dia sudah tak berminat lagi untuk memejamkan mata, akibat mimpinya yang selalu berulang-ulang tentang kejadian beberapa bulan yang lalu. Dan kembali ia mengingat ucapan Mario.


Wanita muda ini terpaku menatap punggung lebar Mario. Tanpa dia sadari. Itu untuk terakhir kalinya dirinya melihat sang suami - sesuai keinginannya. Sebelum benar-benar pergi dari hadapannya. Dia mendengar jelas suara serak Mario berucap;


"Baiklah, kukabulkan keinginanmu, kita berpisah untuk sementara ..."


Davina menghela. Ya. Itulah jalan yang dia pilih hingga kini. Dengan cara menjalani kehidupan masing-masing dalam waktu yang tak ditentukan. Entah sampai kapan. Dia hanya ingin Mario mengerti. Bersabar menunggu luka hatinya sembuh.


Cklek!


"Nah itu Mommy ..." Suara lembut ibunya menggema ke seluruh kamar.

__ADS_1


Wanita muda ini mendesah pendek. Sudah berapa lama dia melamun? Mengerling sekilas ke luar jendela. Matahari pagi telah bersinar dengan indahnya.


Davina menoleh ke belakang. Ibunya sedang menggandeng tangan mungil Baby El. Oh tidak. Sepertinya ... dia harus membiasakan memanggil sang putra dengan sebutan kakak El. Agar putranya tahu, bahwa sebentar lagi ...


Astaga! Berangsur tangannya mengelus perut buncitnya, sekitar delapan bulan usia kandungannya. Sungguh disayangkan. Di saat dia ingin berpisah, ada lagi penghalangnya seperti dulu. Saat ingin mengajukan surat cerai itu, dia malah dinyatakan hamil seminggu ...


"Mommy ..." panggil Baby El dengan nada ceria.


"Kemarilah, Kakak El ..."


Davina berdecak senang. Sudut bibirnya mengembang, memperhatikan tumbuh kembang Baby El. Sudah bisa berjalan meski tertatih-tatih, serta mulai belajar mengoceh, terutama sudah fasih memanggilnya Mommy.


Davina merentangkan tangannya, bersiap menerima Eleanore dalam pelukannya. Balita itu masih berjalan tertatih-tatih dituntun oleh sang nenek. Rambut pendeknya acak-acakan dan memakai piyama bergambar ikan nemo.


β€œMommyyy.”


"Astaga, Kakak El."


Davina terkesiap kaget manakala Eleanore melompat ke dalam pelukannya. Terkikik senang. Menggusel-gusel di lehernya. Sedikit wanita muda ini merinding merasakan sejumput anak rambut lebat Eleanor menusuk kulitnya.


"Sudah minum susumu, Kakak Eleanore ... Archielo?!" tanya Davina menatap lekat kedua bola mata Eleanore.


Errr ... sungguh. Di saat dia mati-matian tak ingin mengingat orang itu. Justeru sebaliknya. Semakin besar Eleanore, semakin banyak pula kemiripan yang nampak. Bahkan Eleanore yang baru berumur setahun lebih ini sudah mewarisi sifat buruk orang itu. Selain bersikap keras, juga suka sekali tidur.


Geez, menjengkelkan. Like father, like son, Davina bersungut dalam hati seraya mengelus pucuk kepala putra pertamanya.


*This Is Your Baby*


"Aku pergi kerja dulu, Mom." Davina berpamitan pada Nyonya Oswalden.


Wanita muda ini berhenti di ambang pintu. Irisnya menatap lekat wajah tua sang ibu yang menggendong putra pertamanya. Wanita paruh baya itu menghela napas, sebelah tangannya mengusap lembut perut buncit Davina - di balik blazer yang menutupi kaus kebesaran di tubuhnya. Sengaja agar tak terlalu nampak di luar.


Tidak seperti dulu. Di kehamilan pertamanya, Davina bersembunyi selama hampir sembilan bulan di rumahnya. Tapi kini, dia bebas keluar. Kemana saja, tanpa takut ada yang mencelakainya lagi. Sebab, dia bersama ibu dan putranya telah menetap di negara Jepang. Sangat jauh dari keluarga Archielo, terlebih dari Mario.


Hanya satu penyesalannya saat meninggalkan negara Kanada. Ayahnya wafat karena jantungan. Begitu terkejut saat mendengar Arlana dibunuh oleh Roxanne dan Darrel. Beliau tak menyangka pemuda yang sudah mereka anggap keluaga sendiri malah menusuk mereka dari belakang.


"Vin, kau belum izin dari bosmu? Kandunganmu sudah makin besar ini," desah ibunya khawatir.


Davina menghela. Mengusap lembut punggung tangan wanita yang paling dihormatinya ini, sedang mengelus perut buncitnya. Diperhatikannya begitu lekat penampilan ibunya. Semenjak mereka menetap di negara yang terkenal akan teknologi mutakhirnya ini. Ibunya selalu memakai pakaian tradisional Jepang; salah satunya kimono, dengan memilih motif sederhana dan tidak terlalu ribet. Hingga dalam dua hari saja, tanpa bantuan siapa pun, ibunya sudah pandai memakai sendiri kimononya.


Ketika melihat wajah ibunya dipenuhi aura bahagia, bibir Davina melengkung membentuk senyuman manis. Lega dia rasakan. Dirinya ingat betul beberapa bulan yang lalu. Saat mengutarakan niatnya untuk menetap di Jepang. Dia pikir sang ibu akan menolak keinginannya.


Ternyata sebaliknya. Wanita paruh baya itu menyambut baik hal tersebut. Dan tak butuh waktu lama bagi ibunya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, yang pada dasarnya memang termasuk pecinta segala jenis berbau khas negeri sakura ini.


"Sebentar lagi, Mom. Sekitar dua mingguanlah, aku mengajukan cuti hamil. Kalau cuti sekarang, bagaimana biaya hidup kita sehari-hari nantinya, eum?" Davina terkekeh menyembunyikan perasaan khawatirnya, agar sosok ibunya ini tak terlalu mencemaskannya.


"Lagian ya, Mom ... bosku itu galak. Katanya kalau aku tak datang sehari, gajiku akan dipotong. Gawatkan Mom, bisa-bisa tabungan untuk biaya persalinan bakalan berkurang," bisik Davina, tetap mempertahankan setengah senyuman di wajahnya.


Dalam hati Davina meminta maaf pada sang bos---sekaligus sahabatnya---yang sangat baik hati terhadapnya, Ty Arley. Padahal, berkat Ty Arley-lah dia bisa pergi ke Jepang. Menawarkannya untuk bekerja kembali di restoran (dulunya Davina bekerja di resto Ty bagian admin hingga terjadilah insiden dia dijebak oleh rekan-rekan jahatnya), namun kali ini posisinya di bagian dapur. Menjadi assisten koki. Dulunya Davina tidak bisa memasak. Tapi demi pekerjaan itu, akhirnya dia kursus memasak.


Yaaa, mengingat sifat cerobohnya tidak berubah. Hingga kini pangkatnya tidak naik-naik. Tetap menjadi assisten koki. Ups! Sepertinya ... bakalan menjadi assisten koki abadi bumil satu ini. Davina mengerucut sebal kala mengingat pekerjaannya.


"Soal biaya, sebenarnya kau tak perlu khawatir, Vin ..." Sang ibu bergumam hingga menyeruak dalam lamunan wanita muda ini. Ucapan wanita paruh baya ini sukses mengundang kerutan di dahi Davina.


"Maksud Mommy?!" tanyanya.


"Eh??? Aaah ... tidak. Tak ada, Vin. C'mon, katanya bosmu itu galak. Bisa-bisa disemprot kalau kau terlambat."

__ADS_1


Davina mencebik ketika ibunya malah mendorong dia berjalan menuju teras. Padahal dirinya ingin sekali mendengar penjelasan ibunya.


Kenapa tidak harus mencemaskan biaya hidup?


Memangnya siapa yang akan memberi mereka dana?


Tetapi bila ditilik lagi. Ibunya selama ini tak pernah meminta uang belanja harian padanya. Kadang saat dirinya pulang dari bekerja, semuanya keperluan rumah tangga sudah lengkap bahkan sampai persediaan susu Eleanore segala, serta susu hamilnya pun juga sudah tersedia. Setiap dia tanya, darimana ibunya dapat uang. Beliau selalu menjawab 'kadang kita tak perlu mencari tahu, siapa yang telah berbaik hati mengirimkan ini semua'.


Dan setelah itu, nama-nama kandidat muncul dalam pikiran wanita muda ini. Siapa orang yang telah mengirimkan semua barang tersebut. Dari nama Mario, Fabian, Ravi, Ty, atau Marrie. Dan menurutnya satu nama yang paling cocok jadi tersangka yaitu Ty Arley. Ya, karena pria itu mengetahui kehamilannya saat ini. Sedang Fabian? Sudah lama ia tidak bersua lagi semenjak Roxanne masuk penjara. Ravi? Adik iparnya juga sama. Marrie? Sama juga. Begitu pun dengan Mario ... Davina menggeleng samar.


"Mom--- " ucapan Davina terpotong oleh suara klakson. Ty Arley melambaikan tangan padanya saat menurunkan kaca jendela mobilnya, tepat berhenti di depan pagar rumah.


"Nah, kan ... itu sudah dijemput. Pergilah. Bye-bye Mommy ..." ujar Ny. Oswalden sambil tersenyum tipis. Ia melambaikan tangan Eleanore pada putrinya. Davina tersenyum lebar. Sebelum pergi, ia mengecup kedua pipi gembul Eleanore.


*This Is Your Baby*


"Kau tak ingin ambil cuti lebih cepat, Vina?"


Untuk kedua kalinya, pertanyaan seperti itu Davina dengar dari mulut yang berbeda pagi ini. Dia menoleh sekilas pada Ty yang menyetir di sampingnya. Meski Ty seorang bosnya, pemuda itu selalu mengantar jemputnya. Seringkali dia melarang sang boss untuk tidak mengantar jemputnya, karena dia takut akan gosip-gosip di sekitar.


Cukup pengalaman pahit dulu. Dia dijebak sesama rekannya, hingga berbuah Eleanore lahir ke dunia. Tapi sepertinya, di Jepang ini sedikit berbeda, terkhusus di tempat restorannya bekerja. Tak ada satu pun pegawai di sana yang memasang wajah tak suka padanya.


"Kalau kau ingin cuti silakan saja, Vin. Tak usah sungkan. Bahkan aku akan memberimu biaya tambahan --- bila kau mau," sambung Ty tanpa menoleh pada Davina, tetap fokus menyetir.


"Eung, tak usah. Lagipula aku masih kuat bekerja," balas Davina menghela sembari mengelus perutnya. "Bila berada di rumah saja. Bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku. Biaya hidup sekarang makin mahal,” lanjutnya seraya mengelus alis simetrisnya. Dialihkannya pandangan keluar jendela. Bila pagi begini, sama seperti di kota-kota pada umumnya, jalanan kota Tokyo padat merayap oleh pejalan kaki maupun kendaraan.


"Vina ..."


"Hm?" balas Davina dengan bergumam, bersamaan telinganya menangkap Ty berdeham sekilas.


"Bagaimana dengan Rio?"


Davina diam sejenak seraya menarik napas. Dielusnya dengan sayang perut buncitnya. Untuk kehamilan keduanya ini ... sama seperti kehamilannya yang pertama. Hingga kini Mario tidak mengetahuinya. Dan dia tak berniat untuk memberi tahu pria itu. Dia juga tak berniat untuk meminta pertanggung jawaban dari Mario - meski jelas-jelas, dia tahu Mario punya andil besar dalam hal ini.


Samar Davina mendengkus sebal. Andaikan saja waktu itu dia tak hilang ingatan dan kedua orang tuanya tak menutupi hal sebenarnya. Mungkin dia takkan datang kepada Mario, menyodorkan Eleanore pada pria itu, dan terlebih takkan hamil lagi seperti ini.


"Vin ..." Ty menjeda kalimatnya, menurunkan kecepatan laju mobilnya saat melintasi zebra cross. "...kau tak ada niatan untuk kembali lagi dengannya?" tanya pemuda ini sangat hati-hati.


Davina tertunduk dalam sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Jauh di lubuk hatinya, dia tak ingin seperti ini. Menjadi single parents untuk Eleanore dan calon anak keduanya kelak bukanlah pilihannya. Dan mengingat rasa marahnya lebih mendominasi, hingga rasa lainnya terhadap Mario jadi tertutupi.


Davina mendesah, mengerling keluar jendela. Entah sampai kapan begini. Sementara kurang lebih sebulan lagi dia akan melahirkan.


Haruskah kejadian yang pertama terulang kembali?


Eleanore lahir tanpa kehadiran Mario. Lalu yang kehamilan kedua ini ....


"Beri tahu saja Rio, Vin." Suara serak Ty seakan menjawab rasa bimbang Davina saat ini.


"Jangan membuatnya terus-terusan berkubang dalam penyesalan," lanjut Ty mengusap lembut puncak kepala Davina - layaknya seorang kakak.


"Meski kalian berpisah sementara. Setidaknya, beri dia kesempatan menunjukkan pada anak keduanya, bahwa dia seorang ayah yang bertanggung jawab."



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.

__ADS_1


__ADS_2