This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Percaya


__ADS_3


"Kumohon jangan pergi! Biarkan aku menebus semua kesalahanku." Mario berbisik tepat di telinga gadis ini, napasnya berembus pelan di bahu sempit Davina, membuat hentakan irama jantung gadis ini mendadak berhenti seketika. Akibatnya, peredaran darah yang dipompa keseluruh tubuhnya ikut tersumbat.


Deru napas Davina naik turun, menampakkan emosinya yang memuncak. Tangannya mengepal, giginya gemeretak menahan amarah.


Sedang Mario, makin mengeratkan kedua tangannya di bahu dan pinggang ramping Davina. “Maafkan aku Baby. Ak---”


“Hentikan! Jangan diteruskan lagi. Aku muak mendengarnya!” Davina membalik kasar tubuhnya, hingga pelukan Mario di tubuhnya ikut terlepas begitu saja.


Kemudian Davina menatap nyalang Mario yang tak berdaya di depannya.


“Maaf?! Kau bilang maaf? Seharusnya maaf itu ditujukan untuk kakakku, bukan padaku!” teriak Davina melengking, volume suaranya naik beberapa oktaf. Wajah putihnya dipenuhi warna merah menahan amarah.


“Asal kau tahu, semua ucapan penyesalanmu takkan membuat kakakku Lana hidup lagi! Percuma saja, meski kau menangis meraung sekali pun. Ke mana saja kau selama ini, ha!” lanjut Davina berapi-api.


Jari telunjuk Davina tepat mengarah ke dada bidang Mario. Menunjuknya, seakan menusuk-nusuknya tepat di jantungnya. Andai bisa merobeknya, sudah tentu Davina robek hingga berdarah.


Dan tusukan jari gadis ini, seolah sampai ke jantung Mario, membuat darahnya berdesir halus. Mario mengembuskan napas, mengacak rambutnya frustasi. Mengapa Davina selalu mengaitkannya dengan kakaknya. Sementara dirinya sama sekali tak melakukan kesalahan terhadap perempuan itu.


Apa yang sebenarnya dikatakan keluarga Davina hingga gadis ini mengira kalau dirinya punya hubungan dengan kakaknya, dan lebih buruk lagi, bayi yang digendong Davina sekarang ini adalah anaknya dan perempuan itu.


Di sisi lain, anggota keluarga Archielo yang sedari tadi menjadi penonton dan pendengar setia, begitu terkejut dan bingung secara bersamaan. Mereka saling bertukar pandang tak mengerti.


Mario bersalah dengan perempuan yang bernama Arlana?


Mengapa Davina berkata seperti itu?


Serta sikap Davina yang acuh pada mereka membuat mereka bertanya-tanya. Sosok Davina yang mereka temui setahun lalu itu ... sangat berbeda dengan Davina yang sekarang ini. Seolah mereka memang tidak pernah saling kenal satu sama lainnya.


“Bayi siapa itu Rio?”


Davina melirik sekilas pada orang yang menyela pembicaraannya dengan pria berengsek di depannya ini. Ia perkirakan lelaki paruh baya itu adalah ayah dari Mario. Terlihat dari pembawaannya yang begitu tenang, tak terpengaruh akan kehadirannya di sini. Berbanding terbalik dengan dua wanita yang bersamanya turun dari mobil tadi. Ekspresi terkejut sedari tadi terus menghiasi wajah mereka.


Davina kembali menatap Mario penasaran. Apa yang akan dikatakan oleh pria ini tentang darah dagingnya sendiri, mengakuinya atau malah sebaliknya.


“Tentu saja anakku dan ...” Mario menjawab tanpa memandang keluarganya, bola matanya hanya memandang lurus ke bola mata Davina,


“...dan Vina,” lanjut Mario. Pernyataannya sungguh membuat keluarganya terperanjat kaget. Terlebih Davina, terperangarah dan terheran-heran secara bersamaan.


“Bukan, Baby El anak kak---”


“Maafkan aku, Mom, Dad, dan Lily. Masuklah!” perintah Mario, segera memotong cepat ucapan Davina, juga tak memberikan kesempatan untuk anggota keluarga lainnya mengajukan berbagai pertanyaan, dan malah akan membuat suasana semakin runyam. Dia tak ingin memperkeruh masalahnya bersama Davina.


Dengan sosok manis ini hilang ingatan saja membuatnya serba salah. Haruskah senang atau sedih. Senang, setidaknya memberi jalan padanya untuk memperbaiki kesalahannya. Dan sedih, ketika sosok ini tak mengingat siapa dirinya, terlebih pada bayi mereka sendiri.


“Tapi Ri---”


“Sayang, biarkan mereka berdua berbicara bebas.” Ayah Mario segera menarik tangan istrinya.


“Kau juga Lily.” lanjutnya sambil menarik kedua tangan perempuan tersebut, menyeretnya masuk ke mansion, yang sepertinya kedua perempuan ini masih ingin mengajukan pertanyaan pada Mario atau pun Davina. Sebelum berlalu dari hadapan Davina, kedua perempuan itu memberikan tatapan sengit menusuk pada gadis ini.

__ADS_1


Davina memutar bola mata atas tanggapan dua perempuan tersebut. Dia tidak peduli. Toh, tak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. Kedatangannya kemari hanya memberitahukan pada pria berengsek ini, bahwa selama ini dia punya seorang anak yang ditelantarkannya bersama kakaknya. Begitu saja melepas tanggung jawabnya. Lalu setelah semuanya beres, dirinya akan kembali ke desa.


“Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa Baby El adalah anak kita?” tanya Davina sengit.


Mario tak menjawab, mata bulatnya jatuh pada koper di samping Davina, lalu kembali menatap bayi lucu---juga menatap polos dirinya---dalam dekapan erat sosok manis ini.


Seketika mata Davina membelalak, rahangnya mengeras. Tanpa disangkanya, Mario sontak mengambil alih Baby El dari tangannya.


“Hey, berengsek! Kembalikan Baby El!” Davina mulai berteriak panik, memukul-mukul lengan Mario. “Kembalikan keponakanku, atau akan kulap---”


“Lapor saja pada polisi, atau presiden sekalian. Aku tak peduli. Baby El juga anakku,” balas Mario tak kalah sengitnya, membuat darah Davina terkesiap sampai ke ubun-ubun.


“Sialan!”


“Teruslah memaki. Sekarang kau pilih, ikut aku, atau kau berpisah dengan Baby El.” Mario memberikan pilihan, tanpa menggubris Davina yang mungkin saja akan membunuhnya saat ini juga. Mario segera masuk ke cadillac one, yang di mana sebelumnya anggota keluarganya memakai mobil mewah ini.


Davina menggeram lirih. Buru-buru masuk ke cadillac one tersebut. Tak ada pilihan lain, selain mengikuti ucapan Mario. Sungguh dia tak ingin berpisah dari Baby El walau sedetik pun. Dia telah berjanji pada orang tuanya akan kembali ke rumah mereka bersama Baby El, apa pun yang terjadi. Termasuk Mario, takkan dia biarkan pria berengsek ini mengambil alih keponakannya.


Sudut bibir Mario menyeringai tipis, melirik Davina yang mau tak mau harus mengikutinya. Kini duduk di sampingnya. Setelah semuanya aman, barulah Mario menyuruh supirnya, mengantarkan mereka ke kondominium miliknya yang terletak di zona metropolitan, ibu kota Vancouver.


“Kembalikan Baby El.” Lagi Davina meminta pada Minho, bahkan menarik-narik lengan Mario. Namun hasilnya nihil. Pria bermata bulat itu semakin mengerahkan kekuatannya di tubuh bayi tersebut.


“Sebenarnya apa maumu?” hardik Davina mulai putus asa, sungguh kesabarannya makin menipis. Andai Baby El tak berada di tangan Mario, mungkin saja dirinya telah pergi dari sini seraya menghadiahi beberapa bogeman mentah ke tubuhnya. Walau dia tahu kekuatannya tak sepadan dengan Mario, namun setidaknya membuat sedikit pria ini syok tidak masalahkan.


“Mauku?!” Mario memiringkan kepala, sudut bibirnya tersenyum tipis tak kentara.


“Kita kembali bersama-sama lagi,” lanjutnya serius sambil mengusap pipi gembul Baby El, tanpa menatap Davina sama sekali.


“Jangan bertele-tele. Aku tahu, untuk mengambil alih Baby El, kau berani menciptakan kebohongan lainnya. Trikmu itu terlalu murahan!” hardik Davina menatap tajam pria di sampingnya.


Sedangkan Mario terkaget-kaget akan Davina menuduhnya begitu, padahal ucapannya itu memang benar. Davina masih tetap menjadi istri sahnya, walau dia mengakui tega mengusir Davina dari mansion Archielo.


“Menciptakan kebohongan lainnya? Aku berbicara yang sesungguhnya, Vina.”


Davina mendesis sinis. “Geez, alasan! Kau keterlaluan. Setelah memperkosa kakakku dan mencampakkannya, kini kau ingin bersamaku hanya untuk mengambil alih Baby El. Kau benar-benar licik.”


Mario tertawa sumbang akan tuduhan Davina. “Aku memperkosa kakakmu? Oh jadi ... keluargamu tak jujur soal Baby El, dan kejadian selama dua tahun belakangan ini yang menimpamu?”


Eh? Dahi Davina berkerut. Tentu saja keluarganya berbicara jujur. Bukankah selama ini memang Mario yang memperkosa kakaknya dan mencampakkannya. Apalagi selain dari itu?


“Dengar baik-baik Davina Oswald--- tidak, Davina Archielo! Sebenarnya kau adalah istriku. Kita telah menikah. Kau tahu penyebabnya? Karena aku telah memperkosamu, bukan kakakmu.”


 


Plak


 


“Cukup! Jangan berbicara bohong lagi! Grrr!” Rahang Davina mengeras. Hatinya sungguh mendidih serta sakit secara bersamaan, sebegitu bencikah Mario pada Arlana hingga berani berbicara bohong seperti itu.


Menggunakan kelengahan Mario sebagai kesempatan emas, Davina mengambil alih Baby El ke tangannya. Namun sayang sekali. Seharusnya kesempatan ini menjadi semakin lengkap, bila saja sang supir menuruti perintahnya untuk menghentikan Cadillac One, agar dirinya bisa kabur dari mobil ini bersama Baby El. Kendati demikian, dirinya puas Baby El telah berada di tangannya.

__ADS_1


Mario terpaku. Tamparan ketiga kalinya ini semakin menyengat sampai ke ulu hatinya. Merobek-robek hatinya menjadi kepingan-kepingan kecil tak bersisa.


Tangan Mario terkepal erat.


“Kau tak percaya akan ucapanku?” Sekali lagi Mario bertanya memastikan bahwa gadis ini benar-benar tidak percaya padanya, terlebih meyakinkan hatinya sendiri, sangat terluka ketika Davina tak mempercayai ucapannya.


“Tentu saja tidak percaya. Aku lebih mempercayai ucapan kedua orang tuaku dari pada mulut berengsekmu itu!”


Mario meremat kedua tangannya, menenangkan jantungnya yang bergemuruh hebat. Dia tak menyalahi Davina yang begitu mempercayai ucapan keluarganya dibandingkan dirinya. Hanya saja menyayangkan sikap keluarga Davina yang membohongi gadis ini tentang kejadian dua tahun belakangan ini.


Inikah balasan yang setimpal untuknya?


Dahulu, dengan kejam dia mengusir Davina seminggu setelah kematian nenek Erika tanpa mengetahui kalau Davina hamil anaknya.


Dan kini ... setelah Davina muncul kembali di hadapannya setelah dia merenungi semua kesalahannya. Harapannya seketika pupus sudah. Ternyata Davina sudah tidak mengingatnya lagi. Ingatan Davina kembali jauh sebelum gadis ini mengenal dia dan keluarganya.


Beginikah cara Tuhan menegur sifat kasar dan sikap bejatnya selama ini. Dengan cara mengikis semua ingatan Davina tentang pernikahan mereka, tentang dirinya di mata Davina. Tak ada yang tersisa lagi tentang semua itu.


Mungkin juga Tuhan lebih sayang pada Davina. Dengan menghilangkan ingatannya, maka menghapus kenangan buruk itu di hidup Davina. Agar sosok manis ini tak menderita lagi di masa depan.


Pada akhirnya Mario harus menebus semua dosa-dosanya di masa lalu pada Davina. Memulai semuanya dari nol lagi. Belajar mencintai. Belajar bertanggung jawab, dan belajar menghargai hidup seseorang.


Kali ini, kesempatan emas yang Tuhan berikan padanya takkan dia lepas lagi. Walau jalannya takkan mulus---tak semudah dirinya membalik telapak tangan---akan ada penolakan keras dari Davina padanya.


"Hey! Perintahkan supirmu untuk berhenti!" Davina menggamit lengan Mario yang tengah termenung itu.


"Hey! Kau deng---"


"Aku bukan suruhanmu! Kalau bisa perintahkan saja sendiri." Mario menjawab cepat. Sudut bibirnya terangkat ke atas, menyeringai tipis.


Davina mendengkus. Ingin rasanya dia menendang pantat pria berengsek di sampingnya ini, pergi jauh dari penglihatannya.


"Sialan! Kalau bisa, sudah dari tadi aku pergi dari sini. Dasar pria bereng---"


"Berhentilah memakiku Baby, atau pilih---"


"Pilih apa heh!" Tantang Davina. Dia tak takut lagi bila Baby El sudah aman di tangannya.


Mario terkekeh geli melihat tampang Davina yang siap siaga.


"Tentu saja--- Kucium bibirmu itu!"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2