This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Hukum Saja Aku


__ADS_3


"Maaf, Ty! Maafkan aku ..." lirih Davina ketika Ty baru saja siuman dari pingsannya. Wanita muda ini menggigit bibirnya, berkali-kali menangkupkan kedua tangan di dada sambil menunduk. Sangat menyesal pada lemparannya yang malah mengenai Ty, walau itu tak sengaja tadi, dikarenakan Mario menghindar.


Sementara Mario, duduk tenang tak jauh dari tempat sang istri menunggui Ty; berbaring di sofa panjang. Dialah yang membawa Ty tak sadarkan diri ke sofa tadi.


Ty mendesah pendek, berusaha duduk dibantu Davina. Lalu meraba kening sembari meringis. Ternyata masih sakit. Oh astaga! Setidaknya, penderitaanya berakhir hari ini, dan diambil alih kembali oleh Mario.


"Tak apa, Vin." Ty menyunggingkan senyum kecil menawan, menampilkan giginya yang putih bersih. "Aku maklum kamu sebegitu marahnya," lanjutnya sembari melirik Mario.


"Iya, seharusnya dia tak pakai acara menghindar," imbuh Davina menggerutu sebal, buru-buru menoleh ke arah Mario, dan memberikan tatapan tajam membunuhnya.


Mario hanya mengangkat kedua belah bahu. Tak membuka mulut sama sekali, tak berniat melakukan pembelaan. Lebih baik dia diam saja, daripada nanti lebih memancing sang istri marah padanya. Disisi lain, dia juga sedang berusaha membujuk Davina kembali, bakal susah nantinya kalau sosok manisnya masih marah-marah.


"Heum ... yang tadi kulakukan itu, sesuai saranmu, Ty." Davina berceloteh seraya mempoutkan bibir cherrynya. Dia tak sadar, kalau tindakannya itu memancing singa yang duduk di ujung sofa - menggeram hendak menerkamnya dalam sekejap mata. Gemas, juga rindu telah menggunung di dada. Sudah lama tak memeluk sosok manisnya.


Sebagai ganti dari niat liarnya, Mario bertopang dagu sembari menggigit jari telunjuk sendiri seraya mengamati pembicaraan sang istri dan sahabat karibnya. Memandangi bolak-balik keduanya. Dia tak mengerti ke mana arah pembicaraan dua orang ini. Satu hal dia tangkap. Hatinya mulai ketar-ketir. Pasti ini berkaitan lagi dengannya.


"Bagus!" Ty mencubit lembut pipi Davina, sesekali melirik akan reaksi Mario. Pria bermata elang itu membelalak.


Cemburu?


Oh, astaga! Dia saja tak pernah memperlakukan sang istri seperti itu. Ini Ty yang notabenenya bukan siapa-siapanya Davina, malah seenaknya menyentuh pipi mulus itu. Hell. Ingin rasanya Mario ******* hidup-hidup pria berambut undercut itu.


"Daripada menahan sakit terus-terusan, lebih baik lampiaskan saja sama orangnya langsung." Ty terkekeh lagi, kembali melirik Mario, wajahnya begitu merah.


"Heum benar, ini baru permulaan Ty. Lihat saja nanti." Davina melotot tajam pada Mario.


Sedang Mario meneguk ludah. Hatinya mulai merasakan tak nyaman. Berulang kali ia membatin, astaga, ternyata Davina masih marah padaku.


 


 


 


 

__ADS_1


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Jadi, selama ini kaulah yang ada di belakangku? Mempermudah segala urusanku di Jepang ini?" tanya Davina sengit, setelah Ty kembali ke restoran tanpa dirinya. Kini di ruang tamu hanya ada wanita muda ini dan Mario. Sedangkan ibunya, entah ke mana membawa Eleanore jalan-jalan.


Mario terdiam, tak bisa berkilah lagi akan pertanyaan Davina. Memang benar, semua yang dia lakukan atas tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.


"Dan kau juga tahu aku sedang hamil?"


Mario mengangguk cepat, kali ini dia membuka mulut. "Tentu saja. Aku sangat berterima kasih pada kakakku. Kalau tidak Chase yang mengatakan padaku kau hamil, tentu sampai saat ini aku bagai orang bodoh yang tak tahu apa-apa." Beber Mario balik menyindir tajam Davina.


Kali ini giliran Davina yang tak bisa berkutik lagi. Memang benar, sedari awal dia memang tidak berniat untuk memberitahukan perihal dirinya hamil.


"Lalu, kalau kau tahu aku hamil, mengapa tak datang langsung mengunjungiku!" Davina berdalih, berusaha mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Mencoba menyelamatkan harga dirinya. Wajahnya merah padam. Apalagi melihat seringaian terbit di belah bibir Mario.


Davina melengos saat mendengar tawa tipis dari belah bibir Mario. Sialan. Mario memutar semua faktanya. Dan itu memang benar.


"Bodoh, jangan mengalihkan pembicaraan." Tiba-tiba suara Davina melengking tinggi, tak mampu lagi dia mengelak. Sontak menyentak tubuh berisinya - berdiri tiba-tiba.


"Jawab saja pertanyaanku tadi!" lanjutnya disela-sela mengembuskan napas, segera memegangi pinggangnya; terasa kram karena gerakannya yang tiba-tiba berdiri tadi.


"Kau tak apa-apa, kan, Vin?" tanya Mario penuh kekhawatiran, ikut berdiri. Ragu-ragu dia melangkah mendekat, dan pada akhirnya kembali duduk ke tempat semula, saat mendapatkan death glare dari Davina, mengisyaratkan untuk tak mendekat padanya.


Mario mengembuskan napas, menatap cemas pada Davina. "Itu karena, aku takut kau masih marah padaku, makanya aku belum siap menemuimu."


Davina mendengkus mendengarnya. "Kau saja yang kurang usaha, marah tak marah seharusnya datang menemuiku."


Wanita muda ini mencebik, ia menunduk menatap tangannya yang mengelus perut buncitnya, sedikit meringis kala mendapatkan tendangan kecil dari jabang bayinya.


"Iya, aku salah, maafkan aku, Vin!”

__ADS_1


Tak ada jawaban dari belah bibir Davina.


“Kau tak marah lagi padaku, kan, Vin?"


"Pikir sendiri, aku marah atau tidak.” Davina cemberut. Tetap menunduk. Sementara hatinya sudah ingin menangis, dia kesal namun secara bersaman merasakan lega.


Mario menyunggingkan senyuman sembari berdiri. Saat tak ada tanda-tanda reaksi Davina akan marah, dia segera mendekati sosok manis itu; mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak berani menatapnya.


"Kalau kau tanya aku, tentu saja tak marah," jawab Mario jujur. Perlahan memberanikan diri menyentuh bahu sang istri. Mengukur sejauh mana reaksi Davina menolak sentuhannya. Melihat sang istri hanya diam bergeming, Mario tahu, bahwa itu tandanya Davina tidak marah lagi. Dalam sekian detik saja, dengan keyakian di hati, Mario segera memeluk Davina begitu erat.


"Bodoh, kau memang bodoh, hiks," ucap Davina, suaranya begitu serak terdengar, tak kuasa lagi menahan tangisannya. Meluncur begitu saja membasahi mantel hitam milik Mario.


"Kenapa kau tak mengerti, sih, Rio. Kau terlalu lama bertindak, membiarkanku dalam amarahku sendiri, kesal karena menerka-nerka bagaimana hubungan kita selanjutnya, huks," jelas Davina menumpahkan isi hatinya sembari memukul punggung belakang pria bertubuh atletis ini.


"Maaf, Vin. Karena selama ini membuatmu kesal dan bimbang, aku memang bodoh," bisik Mario mengeratkan pelukannya. Sungguh ia menyesal dalam hati akan tindakannya yang tak terlalu berani mengambil risiko dalam bertindak. Padahal Ravi sudah berkali-kali mengingatkannya.


Kendati demikian, ia patut bersyukur. Rumah tangga mereka kembali akur. Davina mau kembali lagi padanya.


"Hukum saja aku bila itu bisa mengurangi kekesalanmu sekarang ini, Vin," bujuk Mario. Diusapnya lelehan cairan bening di pipi Davina. Ia sunggingkan senyuman tipis.


"Hiks, tentu saja. Kau pikir, aku mau berdamai denganmu begitu saja?! Ck! Terlalu mudah," cibir Davina mengerucut, seringai tak kentara hadir di sudut bibir cherry-nya.


Untuk sekian kalinya dan sudah tak terhitung. Hari ini semenjak bertatap muka kembali dengan Davina, Mario meneguk ludah dengan begitu susah payah. Terbata-bata ia berkata seolah takut apa yang ingin disampaikannya pada sang istri.


"Kau ingin menghukumku seperti apa, Vina, Sayangku?"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2