This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Foto


__ADS_3


Hampir dua hari ini. Bagi seorang Mario Archielo. Ekspresi ketus dan tajam yang didapatkannya dari Davina sudah menjadi hal biasa baginya. Seperti saat ini. Davina berdiri dengan tatapan datar sambil bersedekap dada – di ambang pintu ruang kerjanya. Dilihat dari raut wajah wanita ini, serta bagaimana dia bisa menemukan ruang kerjanya. Mario yakin. Davina telah mengelilingi seluruh penjuru kediaman miliknya ini. Dengan beberapa pertanyaan telah tersusun rapi di dalam otaknya terkait sosok manis ini yang menemukan ketakwajaran di kediamannya.


"Duduklah di mana pun kau suka." Mario tersenyum tipis, memperhatikan Davina yang hanya memakai celana hotpants serta kaus putih polos, dan sandal berbulu yang menghiasi kakinya. Sepertinya sosok manis ini baru selesai mandi. Wangi khas sabun menyeruak di hidungnya di antara pewangi ruangan. Memberikan sensasi tersendiri bagi pria ini.


Davina hanya diam. Dirinya lebih tertarik menatap interior ruang kerja Mario yang tampak asing baginya. Lagi-lagi ia mengerutkan dahi. Setiap melihat sudut-sudut ruangan di kondominium ini. Ia selalu bertanya dalam hati. Mengapa ingatannya tentang tempat ini ... tak ada satu pun yang menyempil dalam pikirannya - walau seujung kuku pun. Sangat aneh sekali.


"Mengingat kau bisa menemukan ruang kerjaku. Kurasa, kau ingin bertanya padaku." Mario beranjak dari kursi kerjanya, sekilas menoleh pada Davina yang telah duduk manis di sofa panjang - tak jauh dari meja kerjanya.


"Tentu saja." Davina menjawab acuh. Irisnya menatap Mario yang mengambil tiga buah minuman kaleng dari dalam kulkas mini - yang terletak di sudut ruangan. Lalu berbalik ke arahnya kembali.


"Sebelum ke pertanyaan penting ..." Mario mendudukkan pantatnya di sofa tunggal. Menyodorkan satu kaleng minuman pada Davina.


"...apakah kau sudah memikirkan untuk mengganti suasana kamar kita dengan yang baru?" Mario membuka botol minumannya dan segera menyeruputnya.


"Ya. Aku sudah memikirkannya ..." Davina menjilat bibirnya. Pandangannya tak teralihkan ke mana pun, hanya terpaku menatap cara Mario minum begitu elegannya. Tidak seperti dirinya yang begitu serampangan. Sosok manis ini menggembungkan pipi. Lagi-lagi dia meratapi sifat cerobohnya.


"...tak banyak yang diubah. Aku hanya ingin gordennya dan seprei ranjang diganti dengan warna kuning. Itu saja," lanjutnya buru-buru mengalihkan pandangannya dari Mario. Sebelum pria itu memergokinya. Terpesona dengan caranya meminum dari kaleng minuman.


Mario mengerutkan dahi bersamaan meletakkan kaleng minuman yang tinggal setengah lagi isinya itu. Pria ini keberatan dengan pilihan warna sosok manis-nya. Kuning? Jauh sekali dengan selera warnanya. Dia suka hitam.


"Aku pilih kuning. Karena suka warnanya," jelas Davina seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Mario saat ini.


"Dan kurasa ... akan lebih baik, dari pada warna hitam mendominasi semuanya, yang akan membuat hati kita rasanya makin suram saja," tambahnya.


Mario menghela napas pendek. Benar yang dikatakan Davina. Warna hitam. Sama dengan kepribadiannya, begitu gelap tak terbaca.


"Apa kau keberatan dengan pilihanku?" Davina memicing tajam ketika Mario hanya diam saja.


"Tak masalah. Apa pun warnanya asal kau nyaman, aku ikut saja." Mario menyunggingkan senyum tipis sambil mengangkat kedua belah bahunya.


Lama keheningan mengisi di antara mereka berdua. Hingga Mario berpura-pura batuk kecil mencairkan suasana.


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku tadi?" Mario mengambil buah jeruk di keranjang buah di atas meja sofa.


"Soal foto."


Mario berhenti mengupas buah jeruk---tinggal setengah lagi---di tangannya. Pria ini mengembuskan napas berat. Dia sudah menduganya. Davina akan melontarkan pertanyaan ini padanya - setelah berkeliling di kediamannya tadi.


"Foto?" Mario berkata ragu-ragu, kembali meneruskan mengupas buah jeruknya.


Davina mencibir keras melihat ekspresi aneh Mario - rupanya tak mampu disembunyikan dengan baik oleh pria ini.


"Jangan berlagak linglung seperti itu. Ck. Bukankah kau ahlinya mengendalikan perasaan seseorang," sindir tajam Davina. Ucapannya tertuju untuk kedua orang tuanya dan Arlana yang tunduk akan segala ucapan pria ini.


Hampir saja Mario menghancurkan buah jeruk dalam genggamannya. Pria ini tersindir secara tak langsung akan perbuatannya di masa lalu. Dahulu. Dialah yang berkata seperti itu pada Davina. Ketika pertama kalinya dia meniduri wanita muda ini.


"Makanlah," Alih-alih Mario menjawab pertanyaan Davina. Pria ini malah memberikan buah jeruk yang dikupasnya tadi pada wanita ini.

__ADS_1


"Jangan ditolak. Sengaja aku mengupasnya untukmu." Buru-buru Mario menyela ketika sosok manis ini akan menolak pemberiannya.


Davina pura-pura cemberut, di balik dirinya mencoba menyembunyikan pipinya yang merah merona karena tersipu. Tak menyangka Mario begitu perhatian padanya. Membaca apa yang diingini oleh Davina tadi. Selain mencuri pandang Mario minum, sosok manis ini ternyata menginginkan buah jeruk yang ada di tangan Mario sedari tadi.


"Terima kasih ..." DavinaΒ  berkata hampir berbisik karena menahan malu.


"Jangan sungkan." Mario tersenyum kikuk di tengah-tengah berjuang untuk mengkhianati kembali hati nuraninya.


"Apa yang ingin kau tanyakan soal foto di sini." Mario berucap serius, menekan perasaan kompleks di hatinya.


Buru-buru Davina menelan buah jeruk di dalam mulutnya sebelum menjawab.


"Mengapa tak ada satu pun foto pernikahan kita di tempat ini? Semuanya hanya foto-foto tunggalmu saja ... tanpa ada aku di sana." Sedari tadi pertanyaan inilah yang ada di ujung lidah Davina. Tapi Mario selalu menghambatnya untuk bertanya.


Mario mengusap tengkuknya, mengalihkan pandangannya dari mata Davina yang memprovokasinya. Bagaimana dia menjelaskannya pada Davina, bahwa dia sama sekali tak menyimpan foto pernikahan mereka atau moment-moment lainnya di sini. Lagi dia harus berbohong kecil untuk yang kesekian kalinya.


"Soal foto ... semuanya habis terbakar olehmu ketika kau marah padaku." Sontak Mario mengalihkan pandangannya yang seakan mengintimidasi dirinya sendiri. Dia tak sanggup menatap lama pancaran mata polos sosok manis ini - ketika dia berbicara sebuah kebohongan.


Davina menutup mulutnya, begitu syok mendengarnya. Benar-benar separah itukah sikapnya di masa lalu? Itu sebabnya juga, ketika mengobrak-abrik rumah orangtuanya, Davina sama sekali tak menemukan satu pun foto Mario. Karena dia telah membakar semuanya-kah?


"T-tidakkah tersisa satu pun foto kita?" Entah mengapa, di lubuk hati Davina yang terdalam, terasa sakit bagaikan ditusuk duri. Seolah-olah dialah yang di sini menjadi korban Mario, bukan sebaliknya.


"Kurasa ada ..." ucap Mario condong berbisik ke dirinya sendiri, berusaha mengingat-ingat soal foto pernikahan mereka.


"Kalau memang ada fotonya ... aku ingin melihatnya!" sambar Davina cepat.


"Ada di mansion keluargaku. Nanti kubawa ke sini."


"Hm ..." Mario menggumam pendek. Dalam hati sangat bersyukur pada nenek Erika. Dahulu dia sempat menyepelekan nenek Erika, yang menyimpan foto pernikahannya bersama Davina di kolong ranjang tuanya. Sekarang dia mengerti, tujuan sang nenek menyimpannya. Ternyata sangat berguna untuknya hari ini.


"Vina." panggil Mario dengan perasaan lega menggelayutinya.


"Ya?" Davina menjawab tak kalah pendeknya,


"Adakah pertanyaan lainnya seputar tempat ini lagi?"


Davina mengerut samar - mencoba berpikir. Kemudian menggeleng kecil. "Tidak ada lagi. Semuanya sudah terjawab."


Ya. Pertanyaan dalam benaknya sudah terjawab semuanya oleh Mario. Meski di hati kecil Davina, masih menyisakan keraguan akan jawaban tersebut. Namun dia sendiri tak bisa menemukan titik temu akan jawabannya itu - terkait amnesia yang dideritanya saat ini.


"Yakin? Tak ingin bertanya lagi?" tanya Mario menyeringai tipis, ada kilatan tersembunyi di iris abu-abu yang berpendar itu. Dan Davina telah menangkapnya dengan baik.


"Tentu saja yakin. Memangnya mengapa?" Davina balik menantang.


Mario terkekeh kecil. Kembali meraih minuman kalengnya dan menuntaskan isinya hingga habis.


"Bila bertanya jangan setengah-tengah. Sekalian kau tanyakan ... mengapa aku memberi pasword pintu kediaman kita dengan nama dan tanggal lahirmu."


Tanpa bertanya Davina telah menemukan jawabannya sendiri. Karena dirinya adalah istri Mario, maka masuk akal Mario memberi kode pasword tersebut. Bukankah begitu?

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu jawabannya. Karena aku istrimu, kan?" Davina meraih kulit jeruk di samping keranjang buah, lantas merematnya. Dia suka melakukan hal seperti itu ... hanya untuk mencium wangi jeruk di telapak tangannya, rasanya begitu segar.


"Adakah alasan lainnya yang masuk akal?" Davina balik bertanya.


Mario diam tak menanggapi. Apakah mengangguk atau menggeleng. Pandangannya lurus ke depan sambil meremuk kaleng minumannya yang telah kosong, kemudian melemparnya ke kotak sampah plastik di sudut ruangan.


Ya ... salah satunya kau memanglah istriku. Tapi ada yang lebih penting lagi dari itu. Namamu dan tanggal lahirmu, aku gunakan sebagai pengingat rasa bersalahku padamu selama ini. Agar aku tak melupakanmu begitu saja.


Bersamaan kaleng tersebut mendarat dengan baik di kotak sampah. Pria itu mengembuskan napas lega. Ya! Mario harap ini kali terakhir Davina bertanya soal kaitannya dengan masa lalu. Dan itu artinya, dia tidak perlu berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Jujur. Dia lelah terus-menerus membohongi wanita ini, dan perasaan takut semakin menghantuinya setiap kebohongan kecil keluar dari cela bibirnya.


Mario berdeham kecil memecahkan suasana hening di ruangan ini. Mengelus tengkuknya sambil tersenyum canggung. "Vina, kau sudah melihat rooftop di sini?"


"Belum." Davina meletakkan kulit buah jeruk yang telah dirematnya ke atas meja, bersamaan Mario menyodorkan minuman kaleng lain kepadanya. Tanpa disadarinya, pria itu telah berdiri di depannya.


"Untuk apa?" tanya Davina tak mengerti.


"Bawalah!" perintah Mario. Setelah Davina ragu-ragu mengambil dua buah kaleng minuman dari tangannya. Mario lantas meraih keranjang buah di atas meja.


"Akan kutemani kau melihat-lihat rooftop," imbuhnya.


"Eung---"


"Di sana pemandangannya indah. Kau pasti suka," rayu Mario untuk menarik perhatian sosok manis ini, agar mau pergi melihat-lihat rooftop miliknya.


Davina menghela napas pendek. "Baiklah."


"Sekalian kau ajak Baby El--- kalau kau mau," tambah Mario mulai melangkah melewati Davina menuju pintu.


"Baby El baru saja tidur nyenyak. Nanti saja membawanya.” Davina menimang minuman kaleng di tangannya.


"Aku tak tega memaksanya bangun." Sosok manis ini mengerucutkan bibir - membayangkan wajah polos bayinya, sementara matanya menatap tajam punggung lebar Mario di depannya.


"Aduh! Kalau berhenti bilang-bilang, bodoh!" Davina bersungut kesal saat hidungnya berbenturan keras dengan punggung lebar Mario. Mendadak pria di depannya ini menghentikan langkahnya.


"Maafkan aku ..." Mario berkata dengan sepenuh hati. Di balik permintaan maafnya itu, selalu ada makna yang bersifat ganda tersembunyi untuk Davina. Ya. Setiap kata-kata maaf meluncur dari belah bibirnya. Pikirannya akan selalu terbayang pada kesalahannya di masa lalu terhadap sosok manis ini.


"Kan, sudah kuperingatkan! Jaga jarak denganku!" Davina menggerutu tak puas seraya mengelus hidungnya. Tak menyadari. Seharusnya, yang menjaga jarak adalah dirinya sendiri - yang berada di belakang Mario.


"Sungguh aku minta maaf--- apa masih sakit?"


"Tidak lagi," sambar Davina cepat, buru-buru menepis tangan Mario yang ikut mengelus hidungnya. Sebelum pendaran merah merona semakin menari-nari di wajah manisnya - kala merasakan jari-jari Mario di kulitnya.


Lama Mario menatap kosong telapak tangannya - setelah Davina mengibaskan tangannya tadi sedikit agak kasar. Kemudian pria ini menggelengkan kepala. Berusaha tak dimasukkan ke hati.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2