![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Davina tak tahu lagi harus bertindak atau berbicara seperti apa untuk saat ini. Berkali-kali dia menghela napas tak kentara. Sesekali mencuri pandang pada dua orang. Persis duduk di depannya sedang memilih menu sarapan. Kini dia, Mario, Roxanne dan Lily, serta Baby El dalam pangkuannya, sedang menyantap sarapan pagi di cafetaria, tak jauh dari kawasan apartemen mereka sendiri.
Setelah selesai berganti baju, Mario mengejutkannya dari belakang. Mengatakan kalau ibu dan adiknya ikut mereka sarapan di luar bersama mereka. Keberatan. Tentu saja. Davina sangat keberatan akan kehadiran dua orang tersebut. Itu artinya, dia harus kembali bermanis-manisan dengan Mario di depan mereka. Padahal untuk saat ini. Ia malas untuk berucap manis, atau pun menunjukkan perilaku manja pada pria yang duduk tenang di sampingnya ini.
Namun, kehadiran dua wanita ini. Membuat Davina mau tak mau, harus kembali melakukan sikap seperti yang terjadi di ruang makan - sejam sebelumnya.
"Maaf, Baby. Sabar ya, aku tak bisa menolak mereka," sesal Mario berbisik. Mencondongkan tubuhnya. Lebih mendekat ke arah Davina. Pria itu menggenggam tangan Davina. Mengelus jemarinya di bawah meja.
"Ck! Bukan urusanku!" Davina berbicara ketus. Ikut berbisik sambil melototkan mata. Mengibaskan tangannya, mengalihkannya ke atas meja. Melarikan irisnya ke arah Roxanne dan Lily, sibuk memilih menu sarapan. Kadang kedua pasang ibu dan anak ini, berdebat menentukan pilihan menu makanan. Sepenuhnya kedua wanita itu yang menentukan menu pilihan yang akan mereka makan pagi ini. Jadi tak terlalu memperhatikan apa yang dilakukannya bersama Mario. Mungkin, atau dua wanita ini pura-pura sibuk?
"Kau keberatan mereka ada bersama kita?"
Davina memutar bola mata.
"Tidak," jawabnya pendek. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Mario tersenyum geli melihat tingkahnya. Wajah manisnya yang tertekuk ke bawah, membuatnya sangat kentara sekali. Bila dirinya tampak keberatan diganggu acara makannya. Bagai seseorang yang kesal ketika acara kencannya gagal total. Mario mengetuk bahu Davina, hingga wanita manis itu kembali menatapnya sebal. Menaikkan salah satu alisnya.
"Jangan cemberut begitu. Senyum sedikit, Baby." Mario menarik lebar kedua belah pipi Davina hingga bibir cherrynya pun ikut tertarik. "Nah, begitu. Lebih manis, kan."
Tapi bibir yang ditarik oleh Mario tadi, kembali seperti semula. Menekuk.
"Ck! Sebenarnya kau juga bahagia, kan. Bisa cari-cari alasan untuk menyentuhku."
"Astaga! Istriku memang pintar." Mario mengedipkan sebelah mata. Pria ini terkekeh menutup mulut dengan sebelah tangannya. Lalu menopang dagu, menikmati wajah kesal Davina yang dipenuhi rona kemerahan.
"Geez, tentu saja aku pintar." Tanpa sungkan Davina memuji diri sendiri. "Eh, jangan diambil Baby El." Buru-buru Davina menarik salah satu sendok dari jangkauan Baby El.
"Maaf, Baby. Lain kali kita makan secara private sepuasnya," keluh Mario menyesal. Mengelus puncak kepala Davina.
"Sudah kubilang tak pe-du-li. Kapan pun tak makan secara private, tak masalah," balas Davina datar. Sebenarnya dalam hati, Davina jengkel akan skinship sedari tadi yang dilakukan oleh Mario. Bisa tidak, pria mesum ini tak menyentuhnya ketika berbicara. Itu membuatnya terganggu dan risih. Namun, apalah daya. Dia tak bisa menolak. Sebab sedari tadi, dua wanita di depannya. Meski fokus menatap menu-menu di depan, namun ekor mata mereka melirik tajam ke arahnya.
"Benarkah tak masalah?" Mario menurunkan tangannya dari puncak kepala Davina. Sudut bibirnya mengembang. "Nanti malah ada niatan, seperti yang waktu itu."
"Ck! Jangan samakan dengan yang waktu itu. Tak ada niatan lainnya lagi." Kedua belah pipi Davina bersemu merah. Ucapan Mario justru menjurus kepermintaannya waktu itu. Akhirnya dia sendiri yang terjebak sendiri dengan ucapannya. Davina gusar. Ingin sekali menjambak rambutnya. Kesal pada dirinya sendiri.
"Hm, semoga saja tak ada niat lainnya ya, Baby, seperti katamu." Mario berucap ambigu, mengelus rahangnya menahan tawa geli.
Perhatian Mario beralih ke ponsel yang bergetar di sampingnya. Pria itu menatap sekilas Davina; mengelus-elus dagu mungil Baby El. Lalu kembali fokus menggeser tombol jawab. Manager hotelnya menelepon. Seperti biasa. Mengingatkan jadwalnya. Apalagi sudah dua hari ini dia meliburkan diri. Tentunya dokumen-dokumen perjanjian dengan mitra lainnya telah menumpuk di atas meja. Menunggunya untuk diperiksa.
"Kalian sudah memesan?" Davina bertanya pada Roxanne dan Lily, sementara Mario sibuk membicarakan masalah kantornya di telepon. Roxanne dan Lily telah selesai beradu pendapat. Dan sepertinya keputusan mereka mencapai mufakat. Roxanne memanggil pelayan. Memberikan menu-menu yang dipesan pada waitress cantik berambut pirang di sampingnya.
"Tentu saja. Kami takkan membiarkan kau yang memilihnya." Roxanne berkata ketus. Irisnya memandangi punggung waitress yang membawa menu pesanan mereka, hingga menghilang di balik dapur.
__ADS_1
"Kalau kau yang memilihnya, tentunya takkan sama selera kami," sambung Roxanne.
"Yup! Tentu saja, Mommy. Level kita jauh berbeda dengan dia," imbuh Lily. Mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Jujur, perutnya sudah melilit menahan lapar.
Sudut bibir Davina terangkat ke atas. Siap mencibir. "Memang berbeda. Memilih menu yang hanya seberapa itu saja butuh waktu mengalahi kecepatan larinya siput."
Roxanne dan Lily melotot tajam.
"Baby El, kalau kita yang jualan. Pelanggan kita bakalan kabur kalau menyerahkan mereka jadi pelayannya. Miriskan, Baby El, kita bisa bangkrut dalam sekejap," ucap Davina ironi. Mengelus pipi Baby El yang memainkan kancing sweaternya.
Kedua wanita itu makin menggeram mendengarnya.
"Kau lihat waitress cantik di sini, Lily." Roxanne berkata tanpa menatap Lily, lebih memilih menatap balik tajam sosok manis di depannya. Kini, Davina dan Roxanne saling perang tatapan tajam. Tak mau kalah berpendapat.
"Hu'um, kenapa, Mom?"
Roxanne menatap sekilas pada Mario yang masih sibuk berbicara di telepon. Tak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan pada Davina.
"Mommy heran saja sama kakakmu, Rio. Bisa-bisanya memilih wanita tak jelas ini. Padahal banyak loh wanita cantik di sekitarnya," sindir Roxanne. Menyelipkan helaian rambut pendeknya ke telinga. Menyesap santai segelas air putih sembari menunggu hidangan datang.
"Setuju. Kak Rio lagi buta kali ya, Mom, hingga bisa salah pilih begitu," sahut Lily menyeringai.
Roxanne mengangguk, membuat mimik wajah cemberut sedih dibuat-buat. "Kau benar, Lily. Mommy prihatin sama kakakmu. Semoga saja dia cepat sadar kembali. Huft."
Keduanya menghela napas. Sedih. Seolah mereka kehilangan benda paling berharga di hidup mereka. Tak berapa lama, tiga pelayan datang menyiapkan hidangan, bersamaan Mario selesai berbicara di telepon. Meletakkan kembali ponsel di sampingnya. Kening pria ini mengkerut saat menatap ekspresi sang istri. Wajahnya sangat merah. Bukan tersipu malu ketika dia menggodanya, melainkan emosinya yang nampak ke permukaan. Tangannya menggenggam erat sendok garpu di sebelahnya.
Lalu iris Mario beralih menatap Roxanne dan Lily. Tertawa cekikikan sambil menatap tajam Davina. Andai kedua wanita ini memilih memperpanjang ucapan mereka, mungkin garpu di tangan Davina akan melayang ke kening Roxanne dan Lily saat ini juga. Mario menghela napas panjang akan sikap kasar ibu dan adiknya.
"Baby, kau ingin makan apa? Steak mau?" Mario bertanya lembut. Mencoba mengalihkan emosi wanita-nya. Pria itu merengkuh tangan Davina yang bergetar menggenggam sendok. Barulah dilepaskannya ketika sang istri juga melepaskan genggaman sendoknya yang mengerat.
Davina hanya diam tak menyahut. Dirinya sudah tak nafsu lagi memakan hidangan di atas meja. Sebaliknya, dia ingin muntah melihat menu-menu memuakkan ini, seperti melihat wajah dua wanita itu saja. Kini keduanya menyantap tenang sarapannya, seakan tak terjadi sesuatu di antara mereka, ketika Mario hadir di tengah-tengah mereka.
"Hubby~" panggil Davina tersenyum kecut dipaksakan. Roxanne dan Lily ikut menatap ke arahnya.
"Hm?" Mario menyodorkan steak ke depan Davina, setelah memotongnya kecil-kecil.
"Aku ingin ke toilet sebentar. Tolong jaga Baby El." Davina memberikan Baby El pada Mario. Memundurkan kursinya, berjalan tanpa menoleh pada dua wanita di seberangnya. Lebih baik dia mendinginkan kepalanya sebentar, sebelum membalas perlakuan dua wanita itu padanya.
Mario menatap punggung Davina hingga menghilang di balik pintu karyawan cafetaria. Mengalihkan pandangannya, menatap dingin pada ibu dan adiknya. Untuk kesekian kalinya, Mario menghela napas berat. Segera bangkit dari duduknya, mendiamkan Baby El yang tiba-tiba menangis. Padahal dirinya ingin berbicara pada Roxanne dan Lily. Memperingatkan agar menjaga ucapan kasar mereka.
"Cup-cup-cup, jangan menangis, jagoan! Mari kita lihat ikan di sana." Mario menjauhi meja makan, menunjuk ke arah akuarium besar di tengah-tengah cafetaria. Kini tinggallah di meja makan hanya Roxanne dan Lily saja.
"Akhirnya, Mom. Kita punya kesempatan." Lily berbisik bergetar, menarik napas dalam-dalam. Melepaskan sendoknya. Segera merapatkan kursinya ke arah wanita paruh baya di sampingnya. Roxanne hanya mengangguk menyahuti. Meraih tas louis vuitton kesayangannya yang tersampir di sandaran kursi. Tergesa merogoh ke dalam tasnya, sesekali kedua mata wanita itu melirik waspada ke arah Mario, sibuk menenangkan Baby El.
__ADS_1
Keduanya mengangguk dan tersenyum licik. Menatap serbuk putih di kantung plastik kecil dalam tangan Roxanne. Dengan serbuk ini, Davina akan merasakan sakit perut luar biasa. Lily menelan air liur dengan susah payah, terasa sangat menyangkut di tenggorokannya. Wajahnya pucat. Kedua kakinya bergetar. Meski ini bukan kali pertama dia menyaksikan ibunya mencelakai seseorang. Namun tetap saja, seakan dia menaiki roller coaster paling panjang di dunia. Dadanya berdegup-degup kencang tak karuan.
Tak jauh beda dengan gadis muda itu. Bahkan tangan Roxanne mulai gemetaran, saat berusaha membubuhkan serbuk obat itu ke dalam minuman jus Davina.
"Hati-hati, Mom," bisik Lily sambil menggigit bibir. "Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Mommy tahu, Lily. Jangan buat Mommy makin gugup," sahut Roxanne dengan suara tak kalah bergetar dari tangannya.
Bibir kedua wanita itu tersungging senyum senang. Namun itu tak bertahan lama. Jantung mereka berhenti berdetak. Kedua mata mereka membola. Tatapan mereka tertuju pada tangan lainnya. Juga memegang tangan Roxanne.
"Rio." Roxanne tercekat, begitu pula dengan Lily. Keduanya menahan napas saat tatapan dingin sampai ke tulang menusuk pandangan mereka. Mata Roxanne membola seketika.
"Tidak!" Roxanne berteriak histeris kala Mario berhasil merenggut paksa bungkus serbuk tersebut. Meremuknya dan memasukkannya ke kantung saku jeansnya.
"Biarkan Mommy menaburkannya, Rio!" Roxanne Menggapai-gapai tangan kanan Mario.
"Dan membiarkan kalian melukai Vina, begitukah?" Mario berkata sengit dan tajam, membuat dua wanita itu berjengit mendengarnya. Roxanne menggeleng cepat.
"Tidak. Kami tak melukai Davina. Kau tidak tahu saja kegunaan obat itu." Roxanne berkilah. Mengepalkan tangan di atas paha. Dalam hati wanita ini menggeram, lagi-lagi dia gagal mencelakai Davina.
"Kegunaan obat itu? Mommy pikir aku masih anak-anak? Mudah ditipu hanya dari penjelasan Mommy!" Mario menarik kasar kursi di belakangnya. Menimbulkan derit kesat di lantai. Cukup membuat Roxanne dan Lily makin tenggelam dalam getar ketakutan. Kedua wanita itu tak menjawab. Lily menggigiti kukunya. Sementara Roxanne mendengkus. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Astaga, Mommy, Lily." Mario mengusap wajahnya frustasi, kehabisan kata-kata akan sikap ibu dan anak ini. Sebelah tangan kirinya mengerat menggendong Baby El.
"Sebegitu bencikah kalian pada Vina, hingga ingin mencelakainya." Mario berucap serak, sarat akan kekecewaan pada dua wanita ini. Tak menyangka. Dia pikir kebencian dua wanita ini pada Davina hanya sebatas kata-kata kasar saja selama ini. Ternyata, hari ini ibunya tega menyelakai menantunya sendiri.
Mario menarik napas dalam-dalam. Dari kejauhan, ia melihat Davina keluar dari pintu pegawai cafetaria. Lalu kembali beralih menatap tajam ibu dan adiknya. Gigi Mario gemeletuk. Bayangan Davina sakit karena kesalahannya di masa lalu menyeruak hadir di pikirannya. Cukup sekali Davina menderita karenanya. Ia tak ingin Davina menderita kembali karena perbuatan keluarganya saat ini.
"Kuperingatkan keras pada Mommy dan Lily!" Mario berucap dingin. Auranya mampu membuat Roxanne dan Lily mati rasa di tempat. "Cukup hari ini aku melihat kalian ingin mencelakai Vina! Pikirkan itu baik-baik! Sebelum kalian bertindak lebih jauh lagi!"
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes , kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya , oke .
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya .
__ADS_1