![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Setelah semua yang pernah kulakukan padamu.
Kini, di setiap langkahku.
Takkan lagi diriku mengulangi kesalahan yang sama.
Maka, dengarkanlah isi hatiku ini sayang.
Hanya satu pintaku.
Hanya satu inginku.
Terimalah semua kesalahanku.
Semuanya akan kubayar dengan hidup bersamamu.
Selamanya, hanya bersamamu.
-Mario Archielo-
❁ This Is Your Baby ❁
Degh!
Degh!
Detakan jantung Mario begitu seirama dengan jarum jam di dinding ruang operasi. Detak demi detak, jarum panjang itu terus berputar, menghitung mundur bagi seseorang di ruangan ini untuk membuka mata indahnya. Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain, Mario menatap lekat wajah pucat Davina. Terus digenggamnya tangan lemah sang istri sekaligus menciumnya, berbagi kehangatan.
Tik!
Tepat ketika jarum panjang itu ke angka dua belas, Mario semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Davina. Bersiap menyambut kelopak yang terpejam itu, memperlihatkan mata indah di baliknya.
Tik!
Tik!
Jarum panjang itu kemudian melewati angka dua belas, beralih ke angka satu, lalu ke angka dua dan seterusnya, hingga telah lewat satu menit. Namun, kelopak mata itu belum memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak. Sementara, genggaman tangan Mario mulai bergetar. Ketakutan dan kecemasan mulai menyelimutinya.
Dia menarik napas dalam-dalam. Menit demi menit telah dilewatinya, kini sudah lewat setengah jam, dan sang istri tak kunjung membuka matanya.
"Bagaimana, Dok?" Mario bertanya cemas ketika dokter wanita yang menangani istrinya; memeriksa kondisi lemah sosok manisnya.
Dokter itu menghela napas panjang. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita hanya bisa menunggu nyonya Davina---"
"Tidak, ini pasti bohong. Vina takkan koma. Kau bisa dengar aku kan, Sayang ..." Mario mengguncang bahu lemah Davina, berharap sang istri menyadari kehadirannya.
"Bangunlah, Vin. Kau lihat bayi kita? Dia sehat-sehat saja ..." suara Mario makin terdengar parau, sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Tak rela dia melihat Davina harus terbaring lemah di atas ranjang dengan alat-alat medis menopang kehidupannya. Sungguh dia tak rela, bila Davina yang menanggung semuanya sendirian.
"Vin, kumohon bukalah matamu. Aku tahu, aku salah, maka hukumlah aku kembali ..."
Tak ada gerakan yang berarti dari Davina. Sementara, ruangan yang sesak ini terus dipenuhi dengan isakan tangis oleh sang mertua. Sedangkan Ravi, hanya tertunduk terdiam di sisi mertua kakaknya.
"Vin, jangan menghukumku dengan cara ini, aku tak sanggup kalau seperti ini ..." lirih Mario dengan isakannya makin terdengar jelas, merebahkan kepalanya di sisi Davina. Bibirnya terus meracau, menyesali kesalahannya.
"Vin, apapun akan kulakukan. Aku memang salah, hukum aku kembali," pintanya frustasi.
"Vina, kumohon ...."
"Jangan lakukan ini padaku, Vin ...."
"Kumohon ...." lirih Mario berbicara di antara redaman isakannya.
"Yakin mau kuhukum? Takkan menolak lagi?"
"Ya, takkan menolak lagi."
"Dasar pembohong! Buktinya, aku minta ditangkapin ikan, kamunya tak mau menurut."
"Iya, iya kuakui, aku memang salah ..." jawab Mario menggigau, seakan Davina meladeni ucapannya. Tertidurkah dia? Bila ini mimpi, dirinya akan meminta sang istri bangun dari komanya.
__ADS_1
"Hn! Masih belum percaya, berjanjilah lagi."
Mario menarik napas, menekan suaranya yang parau, kali ini lebih serius lagi berkata, "Maafkan ak---" Ketika Mario membuka kedua matanya yang terpejam, dia membelalak tak percaya. Jadi ini bukan mimpi, Davina jelas-jelas telah sadar dari pengaruh obat biusnya, memperlihatkan mata coklat bening itu kepadanya. Berbicara langsung dengannya.
"Vina? Ka-kau ..." Butuh sedetik bagi Mario untuk mencerna semua ini bukanlah mimpi. Dan di detiknya berikutnya, sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum di sela-sela bibirnya yang bergetar.
"Astaga! Terimakasih, Tuhan!" Mario segera menarik tubuh lemah sang istri ke dalam dekapan eratnya, terus di peluknya--memastikan bahwa semua ini bukan ilusinya semata. istri-nya tidak koma seperti yang di prediksikan oleh dokter. Dokter bisa memvonis penyakit seseorang. Namun, bila Tuhan berkehendak lain. Maka semuanya takkan terjadi jua.
"Ingat Mr. Archielo dengan ucapanmu itu!" Akhirnya Davina membuka suaranya, setelah lama membiarkan sang suami menangis sembari mendekapnya dengan erat.
"Ya, apapun itu, akan kukabulkan--asal, kau tak meninggalkanku dengan cara apapun, Sayang," jawab cepat Mario dengan bibir bergetar menahan cairan bening di sudut matanya, agar tak tumpah semakin banyak.
"Terima kasih telah kembali padaku, Vin ..." bisiknya. Perlahan matanya mulai terpejam, bersamaan dirinya meraup bibir plum pucat Davina ke dalam ciumannya. Menyesap bibirnya dengan lembut.
"Vin, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku seperti ini," ujar Mario setelah melepaskan tautan bibirnya dari bibir sang istri. Kemudian kembali memeluk erat Davina, menggambarkan perasaannya saat ini, betapa dia takut ditinggalkan oleh istri tercintanya.
"Ya, aku takkan meninggalkanmu," sahut Davina tersenyum lebar--di balik belakang tubuh suaminya, dia memberikan jempolnya pada sang ibu, Ravi dan sang dokter. Ketiganya pun tersenyum tak kalah lebarnya, akhirnya rencana mereka berhasil. Meski alur rencana mereka sedikit mengalami pergeseran, akibat insiden Davina yang mengalami pendarahan dan terpaksa harus melahirkan melalui operasi caesar.
"Sayang, kau tahu? Aku sangat takut bila kau koma," bisik Mario serak, berkali-kali mengembuskan napasnya. Hingga kini, detakan jantungnya masih berdegup-degup liar. Jauh di lubuk hatinya, rasa takut masih menyelimutinya.
"Hm ... aku tahu. Bagaimana aktingku tadi?" tanya Davina ketika Mario melepaskan pelukannya.
"Akting?" Mario mengerutkan dahi.
"Ya, akting. Sebab .... selamat ulang tahun, Daddy. (=^▽^=)"Davina memberi selamat dengan menyunggingkan senyuman kepuasan.
"....."
"Kenapa, Rio? Kau terhar--aduh! Kenapa menyentilku, bedebah 💢." Segera Davina memukul dada bidang sang suami. "Sakit, bod---" Seketika Davina menghentikan ucapannya, meneguk ludahnya menatap ekspresi Mario, begitu serius serta sedih secara bersamaan.
"Maafkan, aku ..." Davina tertunduk sembari menggigiti bibirnya.
"Vina---" Kembali Mario memeluknya begitu erat. "---jangan buat kejutan seperti ini, kau sungguh membuatku jantungan sampai mati,” akunya berbisik parau, tepat di telinga sang istri.
"Maaf ..." lirih Davina. "Habisnya, rencananya berubah. Padahal mau memberimu kejutan ulang tahun. Tak diduga aku kepeleset dan pendarahan," jelas Davina menghela napas panjang sambil mengelus punggung lebar Mario--menenangkannya. Sekali-kali, bolehkan mengerjai orang yang sifatnya terlalu egois ini.
Lagipula hari ini bertepatan dengan ulang tahun Mario, sekaligus hari kelahiran putra kedua mereka. Tiada yang lebih membahagiakan, bila hari kelahiran ayah dan anak tepat di tanggal yang sama. Suatu keberkahan tersendiri. Maka dari itu mereka memberi kejutan untuk dikenang di masa depan. Terlebih untuk Mario, harus bersikap lebih sabar lagi menghadapi mood istri yang terkadang naik turun sewaktu-waktu.
❁ This Is Your Baby ❁
[Sembilan bulan kemudian]
"Ah, ah ... Vin. Sebentar lagi aku kli---"
"Vina, Mario. Kakak El dan Baby Lucas menangis, minta dibuatkan susu." Suara sang mertua mengalun di balik pintu, membuyarkan konsentrasi Mario yang hendak berkali-kali klimaks malam ini.
Astaga! Davina nyaris tertawa melihat wajah Mario yang mengeras kaku, untuk kesekian kalinya, mereka diganggu ketika sedang asyik-asyiknya berselancar di surga dunia.
"Mom, coba bujuk sebentar keduanya. Lagi tanggung nih." Mario mengerang frustasi, gara-gara mendengar teriakan sang mertua, dirinya urung melakukan pelepasan di dalam tubuh sang istri.
"Tapi ... nak Rio, mereka maunya dibuatkan susu olehmu, sekarang juga," sahut sang mertua lagi.
"Iya, Mom. Aku tahu, tapi ... untuk kal---"
"Hiks... Dad..dy, cuu-cu..."
Seketika Mario bungkam bila yang meminta langsung kakak El diiringi tangisan dari Baby Lucas sebagai penegasnya. Lengkap sudah, dirinya tak bisa menolak dengan alasan lainnya lagi.
Dengan gontai dia turun dari ranjang, tentunya setelah mencabut miliknya dari tubuh sang istri. Sebagai gantinya dia kecup kuat bibir Davina. Kemudian mencomot piyama kimono yang dia lempar asal ke sudut tempat tidur, ketika tak sabaran ingin menggenjot tubuh Davina sebelumnya.
"Ck! Sialan. Kenapa mesti diriku yang dimintai oleh bayi kita, Vin. Padahal jelas-jelas kamu adalah Mommy mereka. Bisa minum langsung dari payudaramu." Mario menggerutu kesal sembari mengikat tali piyama kimononya. Berjalan super lesu, bagai orang yang terkena penyakit kekurangan gizi.
"Jangan mengeluh begitu Mr. Archielo. Mungkin bayi kita ingin mencicipi rasa susu lainnya. Ingat, pertama kalinya membuat susu kental kan memang kamu ..." Davina berkata ambigu, terkekeh menutup mulutnya sembari menarik selimut tebal batas dadanya.
"Jadi, ya ... nikmati saja Mr. Archielo, mereka jadi kebiasaan semenjak masih jadi janin ... maunya susu darimu, adukannya pasti beda dari buatan Mommy-nya, pfttt hahaha ..."
Davina tak bisa lagi mengontrol gelak tawanya, apalagi menatap wajah Mario yang tertekuk masam, tak bisa menyangkalnya.
❁ This Is Your Baby ❁
"Dad-dyyy, cuuu-cu cu ..." celoteh Eleanore menepuk-nepuk meja makan dengan tangan mungilnya, memperhatikan Mario yang berada di balik meja konter dapur, membuat dua susu sekaligus. Sedangkan sang mertua, duduk di samping Eleanore sembari menggendong Baby Lucas yang ikut berceloteh bahasa bayi. Dan Davina?
"ARRRGH, MR. ARCHIELO!"
__ADS_1
"Astaga, Vina!" Segera Mario melepaskan kegiatannya, secepat kilat berlari ke kamarnya. Tak ingin dia menunda waktu, cukup pengalaman pahit dahulu, menjadikan pelajaran berharga baginya. Kini, ketika Davina berteriak memanggil namanya, dirinya langsung menuju ke sosok manisnya.
Cklek!
"Sayang?" panggil Mario ketika membuka pintu kamarnya. Matanya langsung memindai seluruh isi kamar. Tak ada sang istri di dalamnya.
"Hiks ... hiks ... Riooo."
"Vina." Mario melangkah ke arah kamar mandi, kala telinganya menangkap suara Davina yang menangis dari sana.
"Astaga! Kenapa, Vin ...." Mario buru-buru menghampiri sang istri; duduk memeluk lututnya di lantai kamar mandi.
"Vin ..." Mario berujar bergetar dan ketakutan sembari mengguncang lembut pundak kurus Davina. Apalagi kali ini? Sudah lama dirinya tak mendengar Davina menangis.
"Lihat ini!" Davina menyodorkan sebuah alat kecil ke tangan Mario. Ketika Mario memperhatikannya, dia tahu itu test pack. Seketika matanya membelalak lebar manakala melihat dua garis merah di sana.
❁ This Is Your Baby ❁
"Kemari kau Mr. Archielo, jangan lariii!"
"Ampun, Sayangku Vina ... jangan hukum akuuu," teriak Mario tak kalah kuatnya. Berlari-lari Mario di lorong rumah berbahan kayu, dikala sang istri mengejarnya dengan sepasang sepatu bot karet serta keras milik Eleanore. Sepatu bot yang sering dipakai bocah kecil itu ketika bermain hujan-hujanan bersama Davina.
"Bedebah sialan! Seenaknya saja minta ampun, setelah menanamkan kembali benihmu. Dasar raja hutan mesum--nih rasakan sepatu bot kakak El!" Usai berkata, sekuat tenaga Davina melempar sepatu bot di tangannya ke arah sang suami--tak berhenti sedari tadi.
Bugh!
Bugh!
"Arggh ..."
Bruk!
"Asdfghjk ..." umpat Mario bersamaan dia tersungkur di bawah kaki mungil di depannya.
Untuk kedua kalinya, dari pengalaman Davina masih mengandung Baby Lucas, lemparan Davina tepat sasaran ke kepala Mario, kali ini secara beruntun mengenai kepala Mario.
Mario mengerang, mengelus kepalanya lalu menengadah. Pandangannya segera tertuju pada mata coklat jernih milik putra pertamanya, memancarkan puppy eyes di dalamnya.
"Dad-dyyy, cuuu-cu cu..."
"Riooo, urusan kita belum selesai."
"Hiks, cuuu-cu... Dad-dyyy."
"Arrrgh ... siapa pun, tolong hentikan waktunya sebentar!" teriak Mario frustasi mengacak rambutnya. Kepalanya bagai mau pecah mendengar teriakan sang istri dan rengekan kedua anaknya minta dibuatkan susu sekaligus. Sementara, sang mertua hanya tertawa melihat pemandangan di depannya.
Tak pernah wanita paruh baya ini bayangkan akan sampai ke tahap ini. Bicara soal besannya, Roxanne. Kemarin, putrinya, Davina telah mencabut tuntutannya terhadap mertuanya, hingga masa kurungan Roxanne dipercepat. Mereka telah memaafkan kesalahan Roxanne. Lagipula besannya juga akan merasakan bagaimana rasanya jadi Davina sebagai menantu. Ya. Lily anak perempuannya akan menikah. Roxanne akan merasakan sendiri nantinya. Bagaimana bila suatu hari nanti, posisinya di balik oleh Tuhan, putrinya dijahati oleh keluarga suaminya.
Nyonya Oswalden mengembuskan napas, setidaknya saat ini ia bahagia. Sebagai saksi hidup perjalanan putrinya yang manis ini. Davina, setelah sekian lama menderita bersama deraian airmata mengiringinya, hingga mengorbankan nyawa dari sosok yang mereka sayangi--Arlana. Akhirnya, Davina mendapatkan juga puncak kebahagiaannya.
Jalan mereka masihlah panjang. Namun, dia percaya. Cinta Mario pada Davina, akan membuat anaknya selalu bahagia.
Mario akan selalu berada di sisi Davina. Begitu pun Davina sebaliknya. Keduanya takkan pernah berpisah, sampai mautlah yang berhak memisahkan cinta mereka...
Hingga perpisahan itu terjadi.
Tetaplah kau genggam tanganku.
Tetaplah menguatkanku.
Tetaplah berada di sisiku.
Karena cintamu, adalah kekuatan terbesar bagiku.
Terima kasih telah hadir di hidupku.
【Mario & Davina】
The END
Notes;
Akhirnya, sampai juga di chapter terakhir. Terima kasih buat teman-teman yang selama ini, setia dari awal sampai akhir membaca cerita ini. Terima kasih atas supportnya selama ini, baik dari vote maupun komentar. Sekali lagi terima kasih atas partisipasinya. Saranghaeyo semuanya 😍😍😍
Sebagai pengganti cerita, cek aja di profilku. Judulnya I'm Sorry To Hurt You.
Sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya🤗💜.
__ADS_1