This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Menghapus Jejak Kecurigaan


__ADS_3


"J-jadi, ternyata anda yang merencanakan semua ini!"


Roxanne menyeringai. Menatap ekspresi kecewa dan marah sekaligus di wajah cantik wanita muda bernama Arlana. Ya, Arlana, kakak dari Davina Oswalden. Mantan menantunya.


Roxanne tertawa sinis atas rasa syok dalam diri Arlana. Tentu saja Arlana akan terkejut. Sangat jelas kupingnya mendengar percakapan dua orang di depannya. Roxanne melakukan percobaan pembunuhan terhadap adiknya, Davina.


Arlana mengepalkan tangannya. Tidak cukupkah keluarga Archielo membuat adiknya menderita. Hamil karena diperkosa. Diberi tanggung jawab namun diabaikan. Lalu mengusirnya ketika tak ada lagi yang mempertahankannya.


Kini ... dalang kecelakaan tiga bulan lalu Roxanne-lah penyebabnya. Membuat Davina berada diambang antara hidup dan mati. Bahkan yang membuat parah amnesia Davina juga Roxanne. Wanita licik itu bekerjasama dengan Dr. Markus. Baru detik ini Arlana ketahui bahwa Dr. Muda yang menangani kecelakaan Davina waktu itu atas perintah Roxanne jugalah.


Ternyata semua ini. Sedari awal memang telah diatur oleh wanita licik itu. Seolah-olah selama ini Davina adalah korban tabrak lari.


Pandangan Arlana jatuh pada pria yang pernah mengisi hatinya. Darrel Tompson. Pria yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh kedua orang tua dan adiknya.


"Darrel? K-kenapa?" tanya Arlana pahit. Sungguh sangat syok sekali. Tak menyangka bahwa selama ini Darrel yang dikenalnya bukanlah sosok baik-baik.


"Mengapa kau melakukan ini padaku ..." Arlana tak mampu lagi berbicara. Ternyata Darrel mendekatinya hanya untuk mematai-matai keluarganya saja. Lebih tepatnya mematai-matai adiknya---Davina---atas perintah Roxanne.


"Tentu saja karena uang, huh. Darrel lebih tertarik akan uang yang kujanjikan." Roxanne bersidekap, menatap wajah pucat Arlana di bawah sinar bulan.


"Arlana. Kau pikir Darrel mendekatimu karena cinta? Ha ha ha ... apa itu cinta bagimu dan adikmu itu? Bulshit," lanjut Roxanne meludah ke samping hingga membuat Arlana berang.


Bugh!


"Arrgh, sialan! Beraninya kau." Roxanne memekik kaget, menatap nyalang Arlana yang berani menampar pipinya dengan tas murahannya itu.


β€œKau memang pantas mendapatkannya, Roxanne." Arlana menyeringai. Tanpa berpikir lagi Arlana segera berbalik. Berlari menjauh. Ia tahu, sangat berbahaya baginya seorang diri berada di parkiran bersama dua manusia iblis terkutuk itu.


Terus Arlana berlari menyusuri jalan. Sial baginya. Tak ada satu pun taksi yang lewat saat ini. Sementara dirinya harus segera pergi sejauh mungkin dari Roxanne dan Darrel.


Tiba-tiba saja jalan dengan pencahayaan minim yang dilewatinya menjadi terang benderang. Belum sempat ia mengelak. Tubuhnya telah dihantam bagian depan mobil mewah di belakangnya. Ia terpental beberapa meter, begulingan di jalan dengan darah mengalir deras di sekujur tubuhnya. Satu hal, sebelum kegelapan mengambil alihnya. Ia melihat Roxanne dan Darrel keluar dari mobil tersebut, dan menghampirinya.


"Dia sekarat." Lapor Darrel membalik tubuh Arlana terlentang.


"Hm, sebentar lagi ia akan mati. Tak mungkin bertahan. Telepon saja keluarganya. Lakukan seperti yang kita lakukan pada adiknya ..."


*This Is Your Baby*

__ADS_1


Roxanne dengan santai menyesap wine yang senada dengan warna bibirnya. Matanya lurus memandang dinding di depannya. Ia tak bisa tidur, memikirkan tantangannya pada Davina tadi sore. Ternyata dirinya malah tenggelam dalam lamunan akan kejadian beberapa bulan yang lalu.


Roxanne melirik sekilas pada jam dinding. Berdetak keras menemani kesunyian di dalam kamar mewahnya ini. Sudut bibirnya menyeringai. Menurut Dr. Ahli Terapis, dengan Davina bersetubuh kembali pada Mario, bisa saja memicu kembali ingatannya pulih karena trauma masa lalunya yang pernah diperkosa muncul kembali kepermukaan.


Bagi Roxanne ini sebuah taruhan. Bisa ya, bisa tidak. Bila tidak, itu bagus, namun bila itu ya, maka akan menimbulkan bencana baginya. Dan secepatnya ia harus melenyapkan Davina.


Huh. Saat ini Davina mungkin sedang merayu Rio. Seperti perempuan ****** di pinggir jalan. Merengek untuk berhubungan badan.Β 


*This Is Your Baby*


"Kau yakin dengan ucapanmu, Vina? Kau ingin hamil?" Mario kembali bertanya. Suaranya begitu serak terdengar karena menahan hasrat untuk bercinta. Tiba-tiba saja gairahnya naik kepermukaan. Aliran darahnya melaju cepat ke otaknya. Mengirimkan sinyal untuk tak menolak permintaan sang istri. Tiada angin, tiada hujan, tibat-tiba saja Davina menginginkannya untuk bercinta malam ini.


Davina mencengkram erat rambut Mario. Memejamkan mata, kembali berbisik di telinga suaminya. Ini adalah pilihannya. Bila nanti ia harus menahan rasa sakit itu kembali. Ia akan menerima risikonya.


"Ya, aku yakin." Kepala Davina menggusel di leher Mario.


Dan Mario harus mengucapkan terima kasih pada istrinya ini. Berkat tindakan intimnya, semakin membuat Mario tak mampu mundur dan menolak permintaan sang istri.


Pria muda ini menggeram tertahan sembari berusaha menetralkan suaranya agar terdengar jelas.


"Vina. Bila kau ingin mundur dan belum siap, silakan saja. Jangan paksa dirimu. Aku tahu, ini pasti ulah Mommy lagi, kan?" ucap Mario. Meski hati kecilnya berkata lain. Bertolak belakang. Ingin rasanya segera membanting tubuh sang istri ke atas kasur empuk di sampingnya. Segera menindihnya, menciuminya tanpa ampun.


"Jujur. Ini memang ulah ibumu. Tapi ..."


Dagu Davina terangkat, mencoba mempertahankan harga dirinya yang nyaris hilang di depan Mario. Seumur hidup, baru kali inilah ia meminta sang suami menyetubuhinya. Ditatapnya lekat wajah tampan Mario persis di depan wajahnya. Posisinya masih tetap sama seperti beberapa menit yang lalu. Koala Hug.


"Ini juga keinginanku. A-aku ingin mengenang seperti apa kita melakukan persetubuhan di masa lalu. Apakah aku liar? Pasif?"


Selesai berbicara, tangan Davina terkepal---di belakang tubuh perkasa Mario---menekan perasaan terdalamnya. Iris coklatnya memandang dalam bola mata berwarna abu-abu kelam itu, seakan menyimpan banyak rahasia darinya. Ya, Davina rasa memang begitu.


"Lagipula, aku ingin merasakan ... bagaimana rasanya saat tubuh kita menyatu bersama. Pasti rasanya sangat indah sekali." Sudut bibir cherry Davina tersenyum lebar, menyembunyikan rasa sakitnya yang kembali menyeruak.


Mario terdiam. Lidahnya tiba-tiba kelu. Seakan ada tangan tak kasat mata meremat ulu hatinya. Pilu rasa hatinya ketika sang istri mengatakan hal yang bertolak belakang di masa lalu mereka. Tak ada kenangan manis secuil pun ketika tubuh mereka menyatu. Yang ada hanyalah sebuah isakan dan kesakitan dari belah bibir Davina ketika ia tanpa ampun menembus tubuh rapuh istrinya ini.


"Rio? Kenapa? Apa kau menolakku?"


Mario tergagap. Ditatapnya wajah Davina yang berubah sedih dan kecewa saat mengatakan hal tersebut. Ia menggeleng pelan dan tersenyum lebar. Ya. Di sudut hatinya yang lain menyemangatinya. Inilah kesempatannya. Ia bisa mengubah segalanya. Masa lalu adalah masa lalu. Takkan bisa diulang lagi. Yang mesti di pikirkan adalah masa depan. Memperbaikinya dan menghapusnya dengan sebuah kenangan manis.


"Vina." Mario berjalan ke arah tempat tidur. Mendudukkan Davina di sisi ranjang. Berlutut di depannya. Diraihnya tangan ramping itu, dan di genggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Kurasa ... tak perlu lagi mengenang masa lalu kita seperti apa. Saat ini ... kita mulai kembali dari awal. Aku pastikan, malam ini adalah salah satu kenangan manis untuk kita kenang di masa depan."


Mario mencium lembut punggung tangan Davina hingga sosok manis itu bergetar. Wajahnya merah merona. Tersipu. Apalagi ditatap seintens itu oleh iris abu-abu kelam di depannya. Pandangannya seakan terkunci di mata elang nan tajam itu, tak mampu lagi untuk mengalihkan pandangan ke arah lainnya.


"Satu hal yang harus kau tahu, Vina. Percayalah padaku!"


*This Is Your Baby*


Udara malam terasa begitu dingin menusuk sampai ke tulang. Namun itu takkan terasa bagi sepasang manusia di dalam ruangan dengan cahaya terang menyinari. Diliputi hawa panas, menyeruak di udara yang dihasilkan oleh tubuh dua insan yang sedang bergumul di atas tempat tidur.


"Please, Vina. Jangan terlalu banyak bergerak. Jadilah penurut, dan diam sejenak," pinta Mario sembari menggeram di tengah rasa frustasi hasratnya.


Mario menatap wajah merah merona di bawahnya. Tangan kanannya memegang tangan Davina, menaruh di atas kepalanya. Berharap sosok manisnya tak terlalu banyak menggerakkan tubuhnya.


Davina mendengus, melotot tajam pada mata elang penuh nafsu milik suaminya. Lalu memukul pelan tubuh yang begitu perkasa di atasnya ini.


Pria muda ini menarik napas, mengecup sekilas bibir Davina. Tersenyum menenangkan.


"Cobalah jangan terlalu tegang begitu, Vin. Tenang. Tarik napas. Dan percaya padaku, oke," ujar Mario saat mendapati wajah sang istri menjadi begitu pucat. Ia tahu Davina ketakutan.


Bola mata Davina bergerak gelisah. Sejujurnya. Dia memang takut. Ya. Rasa takut itu tiba-tiba menghinggapinya ketika ia mengingat kenangan masa lalunya. Rasanya, seakan dia mengulang kembali peristiwa itu.


Bedanya di sini. Mario bersikap lembut dan gentleman.


Davina memejamkan mata dan menarik napas. Lalu mengangguk. Mengiyakan. Memberi isyarat pada pria ini agar melanjutkan kembali kegiatannya.


"Jangan menangis, Vin. Nikmati dengan tenang, ikuti alur saja," bisik Mario lembut di telinganya. Menyeka airmata Davina yang tanpa disadari telah mengalir di pipinya. Lalu mengecup bergantian kelopak matanya yang menutup erat itu.


Davina mengangguk pelan. Membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Tak ada yang perlu ditakuti. Semua telah terjadi. Terlebih, dia rela melakukan ini demi bisa menghapus jejak kecurigaan Roxanne padanya.


Dan saat ini, yang mesti dilakukannya adalah menekan rasa trauma itu agar tak muncul ke permukaan, dan tak membuat Mario curiga padanya.


Sama seperti ia menekan rasa sakit hatinya dalam-dalam. Hatinya terkoyak. Mengetahui bahwa ternyata Mario membohonginya selama ini. Di masa lalu Mario telah menyakitinya, menancapkan luka yang teramat pedih untuknya.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.

__ADS_1


__ADS_2