This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Jangan Menangis


__ADS_3


Tubuh itu terseok-seok, berjalan tertatih-tatih disepanjang lorong hotel yang sepi melompong. Mungkin saja wedding reception di ballroom telah berakhir beberapa jam yang lalu. Di mana anak tertua dari pemilik The Arch Hotel ini, Chase Archielo melangsungkan resepsi pernikahannya bersama Marrie Abbott.


Persetan dengan semua itu. Davina tak peduli lagi. Yang dia butuhkan saat ini segera berada di kamar mandi. Menangis sepuasnya di sana. Menumpahkan semua rasa sakit hatinya. Tangannya gemetaran ketika akhirnya mencapai pintu kamar mandi umum hotel.


Berangsur-angsur tubuhnya merosot, bersamaan suara isakan keluar dari cela bibir cherry tersebut. Davina menjambak rambutnya frustasi, lantas memukul-mukul lantai keras tersebut. Tak peduli bila tangannya akan terluka. Ia hanya ingin melampiaskan semua rasa sakit dan kekesalannya. Sungguh sangat perih di hati dan tubuhnya secara bersamaan.


Dua jam dirinya tertahan di dalam kamar hotel. Dia kesal dan marah akan efek obat tidur tersebut padanya, hingga membiarkan begitu saja Mario Archielo menggagahinya, merasakan tubuhnya tanpa perlawanan sama sekali darinya. Seakan-akan tubuhnya pasrah di bawah kendali pria berengsek itu. Memperkosanya sepuasnya.


“Pakai ini ...”


Suara baritone tiba-tiba saja menyela tangisannya. Davina menengadah. Tanpa disadarinya telah mendapati pria tinggi dengan wajah songong di depannya. Melihat keangkuhan wajah pria ini, seakan kembali mengingatkannya akan wajah arogan milik Mario. Akibatnya Davina menolak keras saputangan yang disodorkan kepadanya.


“Tidak usah repot-repot. Terima kasih banyak.” Davina menjawab ketus dengan suara seraknya. Buru-buru menghapus air matanya. Davina pikir di kamar mandi paling ujung ini, takkan mengundang perhatian orang lain. Justru sebaliknya, kini dirinya dipergoki menangis oleh pria asing ini.


Sudut bibir pria itu terangkat ke atas, tersenyum tipis, hingga memudarkan sedikit keangkuhan di wajah tampannya.


“Tidak usah sungkan. Pakailah. Aku tak tega melihat gadis semanis dirimu menangis, entah apa sebabnya.”


“Tak ap---” Perkataan Davina terputus, tanpa disangkanya pria itu menghapus air matanya.


“Nah, sekarang sudah kotor kena air matamu. Sepenuhnya, silahkan dipakai.” Pria itu lagi-lagi tersenyum, kini duduk sejajar dengannya. Lantas menjejalkan saputangan polos berwarna biru ke tangan Davina yang tertegun.


“Mengapa menangis?” tanya pria ini.


Davina tak menjawab. Toh bukan urusan pria ini untuk mengetahui alasannya menangis.


“Karena diputusin pacar? Atau karena pacar selingkuh?” terka Pria itu, menjawab sendiri pertanyaannya.


Lagi, Davina hanya diam. Ia enggan untuk membuka bibirnya.


“Benar dugaanku? Hari begini masih menangisi orang semacam itu. Ck! Payah!” Pria itu mencibir, membuat Davina memandang lekat pria di depannya. Wajah songong itu sungguh terbalik dengan sifatnya. Ternyata pria ini banyak mengoceh, suka mencampuri urusan orang lain.


“Lain kali bila kita bertemu lagi, kuharap melihat senyummu, bukan air mata itu,” ujar pria itu sembari memutar tubuh kokohnya.

__ADS_1


Davina termangu menatap punggung lebar pria tinggi itu, menghilang di balik pintu kamar mandi. Gadis ini mendesah pendek. Ada rasa malu di hatinya kala dipergoki ketika menangis. Selama ini ia selalu tampil begitu tegar dan kuat di depan umum. Tak pernah sekali pun memperlihatkan tampilan luarnya yang begitu rapuh. Tapi kini ...


Davina mendesah pendek lantas membuka saputangan yang digenggamnya. Seketika rahangnya kembali mengeras. Di sudut saputangan ini, ada ukiran nama Ravi Archielo. Lagi, nama keluarga Archielo membuatnya ingin muntah, apalagi bila mengingat nama pria berengsek itu.


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


Gadis manis itu mendudukkan butt-nya ke sebuah kursi taman hotel. Wajahnya menengadah ke atas. Menatap ke langit malam yang pekat. Mengembuskan napasnya, lalu kembali menunduk. Beralih menatap ujung sepatu kets-nya. Lagi, untuk kesekian kalinya cairan bening itu merembes di sudut matanya manakala tak kuasa menahan rasa sakit hatinya.


Harga dirinya terkoyak-koyak saat dilecehkan oleh seorang Mario Archielo. Dan pada kenyataannya, dia masih perawan. Belum tersentuh oleh pria mana pun. Itu yang menambah luka di hatinya makin mengangga lebar.


Bagaimana bila dirinya hamil?


Pria berengsek itu?


Masih berani berharap dengan kelakukan bejat pria itu akan bertanggung jawab padanya?


Davina meremat saputangan itu di tangannya menjadi tidak berbentuk. Dengan gemetaran kembali menghapus airmatanya yang menganak sungai, seolah tak pernah kering di pelupuk matanya yang bengkak.


Dahi Davina berkerut samar saat mendapati bayangan seseorang menghalangi cahaya bulan di depannya. Ketika dia menengadah---tanpa disadarinya---seorang nenek memandanginya begitu lekat - dari ujung kaki ke ujung kepala, tak ada yang dilewatkannya, bagaikan dirinya dari mahkluk luar angkasa. Lalu mata nenek itu beralih menatap saputangan dalam genggamannya.


“Mengapa nak? Kau patah hati oleh pemilik saputangan itu?” terka nenek itu dengan suaranya yang lembut.


Davina menautkan kedua alisnya, lantas menggeleng cepat.


“Tidak bukan orang ini. Hanya saja ...” Davina memutuskan sejenak kata-katanya sambil menyeka air matanya. Susah payah ia berbicara di tengah isak tangis yang membelunggunya.


“...nama keluarganya yang sama itulah yang membuatku menangis.” Jujur Davina. Entah mengapa, saat ini dia butuh teman untuk mendengarkan curahan hatinya.

__ADS_1


“Maksudmu ... Mario Archielo?” tebak nenek itu lagi. Davina mengangguk lemah, membenarkan.


Nenek itu mendesah pelan, membuat Davina semakin mengerutkan keningnya akan reaksi nenek ini.


“Apa yang dilakukannya padamu?” tanya nenek itu ingin tahu. Sungguh pertanyaan nenek ini justru mengingatkannya akan sosok setengah jam lalu ditemuinya - Ravi. Suka mencampuri urusan orang lain.


Davina memandang lekat iris nenek ini. Entah kenapa membuatnya terhipnotis untuk berkata jujur pada sosok tua renta ini.


“Apa Nenek akan percaya padaku bila aku berkata jujur?” Davina berkata ragu-ragu untuk membicarakan masalahnya. Menggigit bibirnya begitu kuat.


Pantaskah dia membongkar aibnya sendiri di depan orang asing ini. Akan tetapi, hati kecilnya berteriak untuk berbicara jujur saja. Hitung-hitung untuk menenangkan hatinya sendiri. Jujur. Dia tak sanggup untuk menanggung penderitaannya malam ini sendirian.


“Tentu saja aku percaya, Nak. Kulihat kau gadis yang jujur.”


Davina mengembuskan napas lega saat mendengarnya.


“Aku ...” Gadis ini semakin kuat menggigit bibirnya. Tangannya saling bertautan - meremat satu sama lainnya.


“...aku diperkosa oleh Mario ...” Davina tertunduk, tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Lagi, dia menitikkan air mata.


Gadis ini melirik melalui ekor matanya, melihat reaksi nenek di sampingnya ini. Sangat terkejut. Tentu saja semua reaksi orang akan terkejut mendengar ceritanya. Semua takkan percaya, Mario memperkosa seorang gadis? yang notabene bagi seorang Mario, wanita sendirilah yang akan merangkak ke kakinya tanpa perlu mengotori reputasinya seperti ini.


Lalu, ketika dia pulang ke tempat asalnya nanti ... bagaimana reaksi kedua orang dan kakaknya begitu mendengar dia diperkosa oleh seorang Mario Archielo?


Tidak. Davina menggelengkan kepala. Ia tak ingin berpikiran jauh untuk sementara ini. Tak ingin membuatnya jadi makin stress sendiri. Dan sepertinya, dia berniat akan berhenti bekerja di restoran milik Ty. Lebih baik menenangkan diri dahulu dari ingar-bingar ibukota Vancouver. Terlebih melupakan kejadian menyakitkan ini dari hidupnya.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2