![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
“Kenapa hanya dipelototi saja Mr. Rio? Silahkan dimakan, jangan sungkan-sungkan. (=^▽^=)”
“Eh? Eung ...” Mario hanya bergumam tak jelas. Berkali-kali mengusap tengkuknya. Haruskah dia menolaknya, keberatan dengan hasil kreasi masakan sosok manis-nya? Ditatapnya tanpa mengedipkan mata sama sekali pada makanan---nyaris hangus---tepat di depannya. Jadi Davina tak main-main, benaran mau memberikannya makanan ini padanya? Mario mengedipkan mata bulatnya, tak percaya.
Pria ini meringis samar, memandang lekat kentang goreng kukus miliknya. Lalu beralih menatap Davina; juga menikmati menu sarapan yang sama dengannya. Makanannya kelihatan lezat dan sangat berbeda jauh dengan miliknya.
Kenapa bisa berbeda begitu? Mario membatin berkali-kali sambil mengembuskan napas berat.
“Nah, quiche-nya sudah jadi,” teriak ibunya Davina datang menyela dari belakang Mario.
“Woah, akhirnya menu yang ditunggu datang juga.” Davina berujar semangat, matanya berbinar ketika ibunya meletakkan sepiring besar makanan tersebut. Tak berbeda jauh dengan Davina. Mario menarik napas lega, setidaknya dia masih bisa memakan makanan lainnya, selain makanan tak berbentuk di depannya ini.
“Yup! Makan yang ban--- Astaga! Kenapa makanan itu ada denganmu Rio!”
“I-itu ...” Mario menggaruk tengkuknya. Matanya menatap lurus ke arah Davina. Sosok manis itu memicing tajam padanya.
“Vina! Bukankah Mommy menyuruhmu membuangnya?! Mengapa kau berikan pada Rio? Bagaimana kalau dia sakit perut karena masakan gagalmu ini!” Wanita paruh baya itu mengomel, segera beranjak berdiri dan merampas makanan hangus tersebut.
Davina berdecih kesal. “Ck! Biarkan saja, Mom. Sepertinya dia suka. Buktinya dia tak protes.”
“Tidak boleh begitu, Vina. Makanya, kau harus belajar memasak. Biar bisa menghidangkan makanan yang layak untuk Rio.” Ibunya bersungut, kembali duduk setelah membuang makanan hangus tersebut ke kotak sampah.
“Hn, buat apa, Mom. Lagipula tak ada hubungannya juga dengan Dia.” Davina menggerutu kesal. Lagi-lagi ibunya mengaitkan dia harus memasak demi Mario. Meski dia tahu alasan yang sebenarnya.
“Tentu saja ad---”
“Hush! Jangan ribut! Tak baik banyak bicara saat makan.” Sang kepala keluarga akhirnya menyela pembicaraan---saling tak mau kalah---antara istri dan putrinya. Tanpa ada bantahan, keduanya menuruti ucapan kepala keluarga mereka. Diam dan tenang menikmati makanan mereka. Begitu pula dengan Mario, hanya menjadi pendengar ketika kedua pasang ibu dan anak ini saling berselisih ucapan membicarakannya.
“Vina.”
Davina mendongak, menatap mata elang ayahnya ketika memanggil namanya. “Kenapa, Dad?”
“Setelah sarapan dan membantu Mommy beres-beres. Ada hal penting yang ingin Daddy bicarakan padamu di ruang tamu.”
“En ...” Iris cokelat Davina langsung beralih menatap Mario, berpura-pura menyantap sarapan paginya. Samar Davina bisa menangkap kegelisahan dalam diri pria itu.
*This Is Your Baby*
__ADS_1
Davina sudah menduganya dan tak terlalu kaget, ketika akhirnya ke dua orang tuanya berkata jujur padanya. Bahwa Baby El---dalam dekapannya---adalah anak kandungnya. Dan juga Mario adalah suaminya. Sosok manis itu menarik napas dalam-dalam bersamaan memejamkan kedua matanya. Berusaha mengendalikan emosinya. Meski dirinya sudah mengetahuinya jauh sebelumnya. Namun, pada kenyataannya. Itu tetaplah terasa sakit di hati. Terutama dia tak tahu mengapa orang tuanya tega membohonginya.
“Mengapa? Mengapa baru mengatakannya sekarang, Dad? Mommy? Bahwa Baby El adalah anakku dan Mario ...” lirih Davina begitu serak sembari membuka matanya, sementara tangannya mengerat mendekap Baby El.
“I-itu ...” Kedua orang tua Davina tak mampu berbicara. Haruskah mereka mengatakan jujur, bahwa mereka berbohong demi Davina sendiri. Sebagai orang tua, mereka tak sanggup melihat putrinya kembali menderita.
“Aku!”
Semua mata beralih ke sumber suara serak dan berat; menyela pembicaraan tersebut. Mario mengepalkan kedua tangannya. Menarik napas dalam-dalam sebelum diembuskannya kembali. Saatnya untuk menciptakan kebohongan lainnya, sesuai ke inginan orang tua Davina sendiri.
“Akulah yang menyuruh ke dua orang tuamu dan Arlana berbohong.” Setelah mengatakan kalimat paling menyakitkan itu. Dunia Mario rasanya akan runtuh. Sungguh dia tak ingin berbohong. Namun, apa daya. Dia juga tak ingin, Davina kembali mengingat pengalaman pahit menyesakkan itu - akibat ulahnya sendiri.
“Apa?! Kau menyuruh mereka berbohong?!” Davina menggeram, mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya memuncak. Dia marah mengapa Mario sampai tega melakukan semua ini padanya.
Sungguh tak menyangka di balik orang tuanya membohonginya, ternyata Mario-lah yang memang mengendalikannya. Oh, jadi ini sebabnya. Mengapa orang tuanya dan Arlana begitu sulit untuk mengatakan siapa ayah kandung Baby El padanya.
“Mengapa? Mengapa, kau tega melakukannya padaku Mario! Ternyata kau memang ****. Kalau bukan kak Lana yang membuka semua ini, mungkin rahasia ini takkan terbuka,” lanjutnya getir dengan suaranya yang kian serak dan volume suara kian meningkat, napasnya pun semakin tak beraturan.
Semua terdiam. Memang benar. Kalau bukan sosok Arlana yang berbicara, mungkin mereka takkan sampai ke titik ini.
“Vina! Jangan memaki Rio seperti itu ...” Ibunya mengelus lengan kurus Davina. Mencoba menenangkan emosi putrinya, serta merasa bersalah pada Mario yang menutupi kejadian sebenarnya, atas perintahnya dan suaminya sendiri.
“Mommy bilang jangan memaki Mario? Oh astaga! Dia ****, Mom! Dia tega meninggalkanku entah karena apa, lalu kemudian menyuruh Mom, Daddy, dan kak Lana untuk berbohong. Bukankah sepantasnya dia diseb---”
“Itu semua karena kamu sendiri!”
“Apa?! Karena aku?!” Mata Davina membulat sempurna mendengar tuduhan Mario padanya. Tak jauh berbeda dengan kedua orang tua Davina, sama terkejutnya. Namun dalam artian yang berbeda. Mereka bertanya-tanya, cerita bohong apa yang dikarang oleh Mario pada putrinya kali ini.
Mario tersenyum tipis akan reaksi Davina, membuatnya jauh merasa rileks dan tenang.
“Ya, karena kamu ...” tekan Mario, sengaja menjeda kalimatnya. Mengganti posisi kakinya, menumpuk kaki kanannya ke atas kaki kirinya, lalu meneruskan kembali ucapannya yang tertunda.
“...mungkin kau tak ingat lagi kejadian sebenarnya. Sebetulnya, setahun yang lalu kau kabur dari mansionku, karena merajuk padaku. Dan pergi kembali ke rumah orang tuamu di sini.”
Rahang Davina mengangga nyaris jatuh. Lalu mendengkus keras mendengar faktanya. Rasanya dia masih belum menerima kenyataan ini. Ternyata dirinya-lah penyebabnya? Masa sih? Davina menggaruk kepala, tak percaya.
Mario menyeringai melihat wajah Davina yang shock berat tersebut. Dalam hati dia sangat berterima kasih pada sepasang nenek dan kakek, ketika berada di dalam kereta waktu itu. Berkat mereka yang menggoda Davina dan dirinya, membuatnya terinspirasi dan mengaplikasikan ucapan mereka menjadi sebuah kebohongan yang sempurna.
Sementara orang tua Davina berdeham-deham kecil mendengar ide Mario. Jauh di luar perkiraan mereka.
__ADS_1
“Lalu untuk apa aku kabur?” desak Davina ingin tahu, masih tak terima fakta yang sebenarnya.
“Waktu itu kita bertengkar hebat. Kau ...” Mario memejamkan mata. Tak sanggup untuk berkata yang selanjutnya. Namun ini harus diselesaikannya.
“Aku? Kenapa?”
“Kau menuduhku berselingkuh dengan wanita lain. Padahal itu tak benar sama sekali.”
“Hn, mungkin saja benar. Buktinya aku kabur. Tak mungkin aku pergi begitu saja tanpa ada penyebabnya.”
“Vina, yang dikatakan oleh Rio benar. Mommy yang jamin itu. Foto yang kau lihat waktu itu hanyalah rekayasa keluarga Rio.” Ibunya menyela, mendukung kebohongan Mario.
“Rekayasa keluarga Mario?”
“Ya. Sebetulnya keluarga Rio memang tak menyukai kehadiranmu di keluarganya.” Wanita paruh baya itu memicing tajam pada Mario.
Mario membuang wajahnya ke arah lain. Ya, apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya memang benar. Keluarganya tak menyukai Davina, dan itu tak dikarang-karang. Hanya saja, penyebab Davina pergi dari mansionnya dalam konten lain. Faktanya, dialah yang mengusir Davina. Bukan Davina yang kabur.
“Keluarganya tak menyukaiku?” tanya Davina lebih ke tertuju untuk dirinya sendiri. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin siang. Ketika dirinya menginjak teras mansion keluarga Archielo. Dan bertemu dengan mereka. Jadi itukah sebabnya, kedua wanita di keluarga Archielo itu memandangnya begitu sinis. Karena benci akan kehadirannya.
Tapi ... mengapa bisa membencinya? Apa alasannya? Atau jangan-jangan mereka menikah diam-diam? Apakah dia dan Mario saling mencintai di masa lalu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar-putar di benaknya. Dan Davina butuh segera jawabannya, untuk meredakan rasa nyeri berdenyut di kepalanya. Entah mengapa, mendengar keluarga Mario begitu membencinya, membuat kepalanya serasa ingin pecah, seakan memaksanya untuk mengingat kejadian di masa lalu.
“Di masa lalu apakah kita saling mencintai?”
“Ya, tentu saja kita saling mencintai. Kalau tidak untuk apa kita menikah ...” Mario tertunduk, terdiam saat mengatakan hal yang bertentangan dengan realitanya.
“Hanya saja. Karena masalah foto itu, kau marah besar padaku, tanpa mengetahui bukti sebenarnya, kau pergi dariku. Kemudian aku menjemputmu pulang kembali ke mansion kita. Namun kau menolak ajakanku. Kau keluar dari mobil, berlari dan ... kecelakaan tak terhindarkan. Kau akhirnya mengalami amnesia, dan melupakan aku dan Baby El dalam kehidupanmu.”
Tangan Mario mengepal erat, sakit membayangkan Davina memang benar-benar melupakannya dan Baby El, dan itu tak dibuat-buatnya sama sekali.
“Maka, demi menghindari trauma kecelakaan dan membuatmu tenang kembali, aku menyuruh kedua orang tuamu untuk berbohong. Hanya memantaumu dari kejauhan. Menunggu kau benar-benar sembuh dari amnesia-mu ...”
Mario menghela napas pendek, dan mengernyit samar.
Dan saat itu terjadi ... ketika kau mengingat kembali semuanya. Maka ucapanku hari ini adalah palsu belaka. Dan kesalahan terbesarku sebenarnya adalah mencampakkanmu bersama janin yang kau kandung saat itu, Baby Eleanore Archielo.
Maafkan aku Vina, atas kebohongan ini dan juga kesalahanku. Bila di masa depan ingatanmu kembali utuh, aku sungguh-sungguh meminta maaf untuk hari ini. Mungkin takkan sempat kuucapkan lagi. Yang kutahu pasti, kau akan terluka karenaku ....
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1