![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Pria bermata bulat itu mendesah pendek. Entah berapa lama waktu dilewati dengan percuma di kamar ini hanya duduk termangu. Diam membisu sedari tadi di atas ranjang berukuran besar itu. Kepalanya tertunduk lesu menatap jari-jari kakinya yang menapak di lantai, telanjang tanpa alas kaki. Hidungnya terus-menerus mengendus aroma wangi vanilla yang tersebar di kamar bernuansa biru muda ini. Sepertinya, penghuninya baru saja pergi meninggalkan kamar ini, ditilik dari bau wangi yang masih menguar di sekitarnya.
Mata elangnya berkeliling memandang setiap sudut di kamar kosong ini. Lambat laun, sudut bibir sensual itu membentuk senyuman kecut, seakan menertawai apa yang terjadi barusan. Davina kabur darinya. Itulah kenyataannya. Miris, memang. Sosok manis itu tidak mau bersamanya. Bila mengingat semua kejadian tadi, tangan Mario kembali terkepal erat. Meremat kuat seprei berwarna biru yang senada dengan cat dinding di kamar ini.
Ia menggelengkan kepala. Tidak! Dirinya tidak akan menyerah. Melirik sekilas jam beker di atas meja nakas. Masih ada waktu mengejar sosok manis-nya. Mario tahu ke mana tujuan Davina saat ini. Berangsur-angsur sudut bibir seksi pria ini kembali mengembangkan senyuman tipis.
Baby, kau takkan bisa lari dariku lagi. Akan terus kukejar sampai akhirnya kau menyerah sendiri.
*This Is Your Baby*
Sosok manis itu sedari tadi terus-menerus celingukan, memandang awas tempat di sekitarnya. Perasaan gelisah tergambar jelas di wajah manisnya. Was-was selalu merayapinya, sangat takut akan sosok yang dihindarinya akan menemukannya. Tubuhnya terasa sangat pegal, sedari tadi hanya berdiri dengan cemas, akhirnya gadis ini memilih mendudukkan butt-nya di deretan kursi panjang penumpang, menunggu kedatangan kereta listrik yang akan membawanya pulang ke orang tuanya.
Meski dompet beserta uang yang di dalamnya raib dijarah pencuri. Pada akhirnya dia tetap bisa pulang. Beruntung, kemarin malam dia diberi Ravi Archielo beberapa lembar uang. Sungguh, dia sangat berterima kasih atas bantuan besar pria berwajah songong, tetapi hatinya begitu baik itu. Andaikan saja dipertemukan kembali dengan Ravi, akan dia kembalikan uangnya. Ravi memanglah baik. Sangat berlawanan dengan kakaknya, Mario Archielo. Di mata Davina, Mario sangat jahat dan licik. Sungguh dia berharap tidak ingin bertemu dengan pria berengsek itu lagi.
Gadis itu menghela napas pendek. Sesekali menggigiti kedua belah bibir cherry-nya. Iris cokelatnya menatap lurus rel kereta dengan pandangan kosong. Sementara kedua tangannya mendekap erat Baby El. Memainkan boneka kodok di tangan mungilnya, sesekali boneka itu akan digigit oleh bayi laki-laki bermata bulat ini.
Seketika senyuman manis tercetak jelas di wajah Davina manakala kereta yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang. Serta lega gadis manis ini rasakan, karena sosok Mario yang menghantuinya tak menampakkan batang hidungnya. Syukurlah. Dengan langkah ringan Davina melangkah memasuki kereta. Langsung menuju tempat duduk sesuai dengan nomor kursi yang berada di dalam tiket di tangannya. Kali ini Davina memastikan tiketnya aman di dalam saku mantelnya.
“Nah, Baby El, sebentar lagi kita sampai ke rumah kita yang sesungguhnya.” Davina berkata ceria sambil menepuk lembut pucuk kepala Baby El. Irisnya beralih menatap penumpang di depannya.
Lagi-lagi, Davina mendapatkan teman satu kursi bersama sepasang suami istri berumur. Gadis ini tersenyum tipis, sebagai salam pada kedua kakek dan nenek itu. Kemudian mata indahnya beralih menatap sekelilingnya. Suasananya begitu berisik dan padat. Tidak seperti ketika Davina berangkat ke ibukota Vancouver yang sepi penumpang. Kali ini, kereta yang ditumpanginya ramai oleh manusia di dalamnya. Bahkan sepanjang deretan kursi telah penuh terisi penumpang. Bila ingin pindah kursi pun tidak memungkinkan lagi.
Gadis ini melirik kursi di sebelahnya. Kosong, belum terisi. Atau penumpangnya sedikit terlambat. Davina mengedikkan bahu, acuh. Lalu pandangannya teralih lagi pada penumpang di depannya. Sepasang nenek dan kakek itu memperhatikan begitu lekat Baby El.
“The baby is so cute. Boy or girl?” tanya sang nenek, tersenyum gemas pada tingkah Baby El, begitu tenang dan tak rewel. Mengemuti jari jempolnya yang gembul, sementara tangan lainnya memegang erat boneka kodok yang seukuran kepalan tangan mungilnya.
__ADS_1
“Boys. Only boys.” Davina menyunggingkan senyuman manis pada sang nenek.
“Your baby?” Kali ini sang kakek di sebelah nenek yang bertanya, tetap memandangi Baby El tanpa melihat Davina.
Gadis itu sedikit ragu untuk menjawab. Tetapi pada akhirnya tetap menganggukkan kepala. “Yes, he’s my baby ...”
Ketika menjelaskan Baby El adalah anaknya suara Davina hampir tidak kedengaran. Ia mencicit.
“Tak heran dia begitu mirip denganmu.” Sang kakek terkekeh senang akan tebakannya yang tepat.
Davina tersenyum canggung. Mengelus pipi gembul keponakannya. Lambat laun senyuman canggung itu berubah menjadi manis, tiada henti terukir di belah bibir cherry-nya. Entah mengapa, ketika dia mengatakan kalau Baby El adalah anak kandungnya ditambah ucapan sang kakek. Membuatnya merasakan ada ribuan kupu-kupu menggelitikinya. Davina mengernyit sekilas. Apakah ini efek dari ucapan Mario sebelumnya? Yang terus-menerus mengatakan kalau Baby El adalah anak kandungnya? Bukan anak Arlana---yang selama ini dia ketahui---hingga tanpa sadar merasuk ke dalam jiwanya.
Bolehkah dia berharap seperti itu? Baby El sungguhan bayinya. Akan tetapi kenapa rasanya ada yang aneh. Oh, tentu saja. Dia merasa belum pernah mengandung dan melahirkan.
“Mana Daddy-nya?” Pertanyaan tak diduga dari sang kakek membuat Davina bingung harus menjawab dan memulainya dari mana. Ini terlalu jauh yang dipikirkannya.
Gadis ini tertegun cukup lama. Bahkan tak menyadari ada penumpang lainnya telah duduk di sebelahnya bersamaan kereta mulai berangkat. Sekilas Davina mencium aroma mint yang menguar di sampingnya. Serta aura yang mendominasi sekitarnya. Seketika mengingatkannya akan sosok ....
Gadis ini menggeleng. Mengacuhkan pikirannya. Dia lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan sepasang orang tua di depannya ini. “Eung, Kakek, sebenarnya Dad---”
“Kau Daddynya, Nak? Kau mirip sekali dengan bayi ini.”
“Ya, aku Daddy kandungnya ...”
Mendengar suara bass yang---seharian ini---tak asing di telinganya membuat Davina menoleh cepat ke sampingnya. Seketika matanya membulat sempurna. Mulutnya terngangga. Ternyata penumpang di sampingnya adalah Mario Archielo. Mengapa pria berengsek ini bisa berada di sini?
“Baby, aku khawatir pada kalian. Mengapa pergi dariku tanpa izin dahulu, eum?”
Davina terdiam mendengar ucapan penuh penekanan tersebut. Memang kedengarannya lembut. Namun maknanya bagi gadis ini begitu dalam. Tentu saja dia benaran kabur. Davina meneguk air liurnya dengan susah payah. Seolah mulutnya tak memproduksi saliva lagi.
“Dia istrimu?” tanya nenek antusias pada Mario.
“Ya, dia istriku.” Mario menjawab dengan senyum ringan. Seolah memang adanya begitu. Ekor matanya melirik pada Davina yang mematung diam, terkejut akan tiba-tiba kehadirannya.
“I see. Tanpa dijelaskan Kakek sudah tahu,” celetuk kakek itu mengangguk sembari menyenggol lengan sang nenek.
“Baby, mengapa diam?” tanya Mario kembali menekan Davina, membuat gadis ini gelabakan, bagaimana harus bersikap. Haruskah dia memprotes keras bahwa dirinya bukan istri Mario serta ibu dari Baby El di depan nenek dan kakek yang terlalu antusias padanya serta mengingkari akan ucapannya beberapa saat yang lalu. Lagipula kedua penumpang di depannya ini sudah terlalu jauh mempercayai semua ucapannya.
“S-seharusnya aku yang bertanya padamu. Mengapa kau di sini?” Davina bertanya sengit setelah bisa menguasai rasa terkejutnya.
__ADS_1
“Ha ha ha.” Mario tertawa. “Mengapa bertanya begitu, Baby?” lanjutnya. Suara renyah pria ini membuat aliran darah gadis ini naik, seolah mengejek telak dirinya.
Davina mendengkus akan ucapan Mario. Alih-alih menjawab pertanyaannya tadi, malah melempar pertanyaan balik padanya.
“Baby, kau tahu? Aku begitu cemas ketika kau tak berada di kamar kita.” Mario tiba-tiba memeluk erat Davina membuat gadis manis ini sontak terkesiap bukan main. Segera Davina memukul bahu lebar pria ini, berusaha memberontak.
Sedetik kemudian Mario melepaskan pelukannya, lalu melirik pada pasangan tua di depannya. Kini keduanya menahan tawa geli melihat reaksi Davina padanya. Sudut bibirnya menyeringai tipis tak kentara. Itulah yang sebenarnya diinginkannya.
“Maafkan sikap istriku ini, Kakek, Nenek.” Mario berujar sopan, tersenyum lebar pada kakek dan nenek, kini ikut tersenyum pada pria bermata bulat ini.
“Biasa saja anak muda, tak usah meminta maaf,” jawab sang kakek.
“Ya, kami maklum. Biasa kalau istri ngambek, kabur dari rumah dan pulang ke rumah orang tuanya,” timpal sang nenek terkekeh geli. “Aku juga pernah bersikap seperti itu.”
Tawa Mario makin menjadi. Tampak dia bahagia sekali bisa menyudutkan Davina. Sedang gadis ini rahangnya sudah mengeras sedari tadi. Ucapan nenek dan kakek di depannya sudah terlampau jauh dari kenyataan.
“I-itu, seben---”
“Baby, kau masih marah padaku?” Mario berkata ambigu, segera memotong cepat ucapan Davina yang berusaha kembali menyangkal.
“Astaga! Kalian berdua benar-benar pasangan yang mengingatkan kami di masa muda. Lucu dan menggemaskan,” sela nenek cekikikan, menyenderkan kepalanya di lengan sang kakek. Bergelayut manja.
Davina memalingkan wajah ke arah lain, memandang keluar jendela kereta. Kali ini dia tak bisa berbuat banyak atau protes. Sikapnya jadi serba salah. Diam, Mario makin senang. Marah, malahan terlihat layaknya istri yang ngambek. Yup. Amarahnya justru terlihat di mata orang lain seperti dirinya sedang merajuk pada suaminya. Terlebih sikapnya tadi sangat mendukung sekali. Sungguh. Mario memang pintar memancing suasana dan membalik keadaan.
Geez. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu. Davina bersungut dalam hati. Dia marah bukan karena merajuk. Dia marah karena Mario nekad mengejarnya sampai ke kereta. Dan mungkin akan membuntutinya sampai ke tempat tinggal orang tuanyakah?
Astaga! Apa yang ada dalam pikiran pria berengsek ini, sebegitukah ingin mengejarnya? Bila Mario mengejarnya sampai ke rumah. Itu artinya ... dia bisa mengatakan hal sebenarnya pada orang tuanya di depan pria ini tentang kejadian dua tahun belakangan yang sama sekali tidak diingatnya ini?
Bagaimana reaksi orang tuanya bila melihat Mario?
Benarkah apa yang diucapkan oleh Mario tentang semuanya itu?
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1