![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Mario terdiam mematung. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Hatinya mati rasa. Otaknya tiba-tiba menjadi beku. Sangat sulit bagi sel saraf motoriknya untuk mengirim impuls agar memberikan tanggapan terhadap rangsangan, memerintahkan tangannya bergerak membuka pintu yang tertutup rapat - tepat di depan mata elangnya.
Entah berapa lama dia seperti itu. Menghiraukan rasa kebas yang mulai menjalari seluruh tubuhnya. Di tengah hiruk pikuk manusia yang beraktifitas gaduh di belakangnya. Dirinya malah merasa berada di tempat kesunyian. Seakan telinganya menjadi tuli seketika. Tak mengizinkannya mendengarkan segala jenis keributan di lorong rumah sakit ini.
Semua ini karena ucapan Chase beberapa menit yang lalu. Sukses membuat pikirannya - yang awalnya sudah sangat kacau balau menjadi semakin kusut. Bahkan mungkin, bila dihantam dengan masalah lainnya. Dia akan menjadi gila betulan, karena tak sanggup lagi menanggungnya.
Davina sembuh dari amnesianya. Ya, itulah kenyataan pahit yang diterimanya. Takut dan gelisah - sudah pasti mendominasi batinnya. Bagaimana nantinya menghadapi sang istri di balik pintu ini?!
Astaga! Mengapa cepat sekali ini berlalu. Baru sebulan mencecap rasa bahagia. Tapi kini ...
Mario mengusap wajahnya. Haruskah berterima kasih, atau malah merutuki ingatan Davina yang telah pulih. Di sisi lain dia bahagia Davina sembuh. Namun disisi lainnya ... Berharap Davina terus terjebak dalam amnesianya.
*This Is Your Baby*
Bunyi hantaman terdengar begitu kuat di salah satu ruang inap rumah sakit. Sekuat tenaga Davina melempar bantal. Dan itu tepat sasaran, menabrak keras ke tubuh Mario. Nyeri dan sakit dirasakannya secara bersamaan. Menyebar ke seluruh tubuh. Sempat merasa sesak napas. Akibat hantaman bantal tersebut tepat mengenai jantungnya.
Bisa saja dia menghindar dari terjangan bantal tersebut mengingat gerak responnya sangat baik. Namun yang terjadi. Malah sebaliknya. Tetap diam bergeming di tempat. Pasrah. Seolah menerima kemarahan sang istri.
Sementara Fabian--satu-satunya yang menjadi saksi hidup di dalam ruangan---hanya mampu terngangga tidak percaya. Di luar dugaannya. Ketika melihat pintu terbuka dan muncul sosok tampan Mario. Kala melihat wajah suaminya, Davina bereaksi begitu keras. Bagai singa mengamuk, seolah-olah Mario adalah musuhnya yang mesti dienyahkan dari muka bumi ini.
Astaga! Fabian mengerjap. Hanya bisa simpati tanpa menolongnya sama sekali terhadap pria yang penampilannya sudah tidak serapi dari sebelumnya. Pengacara muda ini bisa menebak ending yang akan terjadi di antara pasangan muda ini. Bila melihat reaksi marah Davina beberapa detik yang lalu, pasti akan menemui jalan buntu.
"Sebaiknya aku pergi."
Keluar adalah satu-satunya jalan terbaik yang dipilih oleh Fabian. Membiarkan keduanya bebas berbicara tanpa adanya pihak ketiga yang memanasi. Diletakkannya map ke atas meja nakas - baru saja diambilnya dari mobil beberapa menit yang lalu. Atas permintaan Davina, membawa dokumen ini ke ruangannya.
Baik Mario dan Davina tak ada yang menyahuti ucapan Fabian, keduanya saling berpandangan dalam pancaran aura yang jelas berbeda. Fabian menghela. Meski mesin pendingin di ruangan telah diatur dalam suhu minus. Tetap saja hawa panas mendominasi ruangan.
Fabian beringsut pelan ke arah pintu. Melewati Mario---tanpa menyapa atau pun memberikan senyum---pergi begitu saja. Sepeningggal Fabian dari ruangan. Suasana panas makin terasa mencekik.
"Kutebak ... kau kemari untuk memintaku membebaskan Mommy-mu, kan! Dasar bedebah sialan!"
Untuk pertama kalinya dalam membuka percakapan, setelah tiga hari tak bertemu. Mario langsung disemprot dengan bentakan keras dari sang istri, bahkan volume suaranya sudah full meninggi. Dari ucapan Davina, tergambar jelas suasana hatinya saat ini.
"Kalau kau meminta itu, Rio! Maka enyahlah dari ruangan ini!"
Mario mengembuskan napas. Ia tertunduk. Menatap hampa bantal yang tepat mendarat di kakinya. Dirinya tak bisa berucap apa pun lagi. Memang benar yang dikatakan Davina. Salah satu alasannya datang kemari karena ibunya.
Akan tetapi ... alasan terbesarnya, tentu saja melihat kondisi Davina. Menilik sosok manisnya mampu meneriakinya. Itu artinya sang istri baik-baik saja. Hatinya pun lega. Hingga kegelisahan di dalam hatinya pun berkurang - walau hanya sedikit.
"Kenapa diam, Rio?"
“ .... ”
"Ck! Ternyata benar tebakanku. Bedebah, sialan!"
Bugh
Untuk kedua kalinya, benda bulat panjang berwarna putih itu tepat mengenai dada bidangnya. Kembali dirinya sulit bernapas, akibat hantaman keras guling tersebut. Seperti sebelumnya, sama sekali tak berniat untuk berlari menghindar. Membiarkan Davina meluapkan seluruh amarahnya. Ya. Dia memang pantas mendapatkan semuanya atas perlakuan buruknya selama ini.
"Ingat baik-baik, Rio!" Davina melemparkan tatapan membunuhnya. "Untuk Mommy tercintamu! Walau nyawaku di ujung tanduk sekali pun. Aku takkan mencabut atau pun meminta keringanan hukuman!"
Mario menengadah, menatap sendu wajah manis Davina. Matanya begitu nyalang. Emosinya terpancar jelas dari auranya yang membara, seakan mampu membakar benda di sekitarnya. Bahkan nyamuk pun terasa enggan untuk menyedot darah Davina saat ini.
Davina mendengkus keras. Membuang pandangannya keluar jendela. Sepertinya, tak sudi memandang berlama-lama wajah Mario di ruangan ini.
"Terkecuali, bila Mommy-mu mampu mengembalikan nyawa kak Lana, membuatnya hidup kembali. Barulah kucabut tuntutanku!"
"Aku tahu, Vin. Mau dikata apa lagi. Mommy yang salah." Akhirnya Mario berucap dengan suaranya yang serak. Mengembuskan napas. Ia berjongkok dan memunguti dua bantal di kakinya. Lalu meletakkan benda tersebut di atas ranjang, bersamaan dirinya duduk di sisi sang istri.
"Kesalahannya sangat fatal," imbuh Davina tajam.
"Kau benar. Terima kasih tak menuntut balik nyawa Mommy."
"Ck! Seharusnya dia menyesali perbuatannya, bukan berusaha untuk menyusahkan kalian. Membujukku mencabut tuntutan." Davina menggeram. "Dan itu takkan mungkin terjadi," lanjutnya sengit.
__ADS_1
"Vina."
"Apa lagi?! Jangan mendesakku! Bedebah!"
Mario diam sesaat. "Kudengar dari Chase, ingatanmu sudah pulih kembali."
Rahang Davina mengeras. Meski sudah tahu diawal---ketika Fabian menceritakannya---tetap saja ia terkejut. Rasanya berbeda bila yang berbicara itu langsung dari belah bibir Mario sendiri.
Sudah saatnya mengakhiri semuanya. Tak ada lagi yang disembunyikan. Tak ada lagi akting kepura-puraan di antara mereka. Serta tak ada lagi sebuah kebohongan yang tercipta.
"Vina, karena kau sudah ing---"
Plak!
Satu hantaman keras dari telapak tangan Davina mendarat di pipinya. Kepala Mario berdenging. Telinganya seketika tuli mendadak. Sangat keras Davina menamparnya. Bahkan sengatannya mampu menembus ke ulu hatinya.
Sebegitu marah dan sakitnya Davina hingga langsung tersalurkan dari hantaman telapak tangannya. Tak dipungkiri, walau Davina berada di posisi istri, menjadi pihak yang lemah, menjadi pihak yang disakiti, tetapi bila sudah sakit hati dan marah tindakannya bisa seperti pria.
Plak!
Satu hantaman lagi, telak mendarat di belah pipinya yang lain. Jiwa Mario pun seakan berada di awang-awang meninggalkan raganya. Tak mampu untuk bereaksi apapun lagi. Pikirannya seketika kosong. Tamparan Davina sukses membuatnya mati rasa.
Tubuh Davina bergetar. Deru napasnya naik turun. Samar rona kemerahan terlihat jelas di telapak tangannya. Saking kerasnya mengayunkan tangannya di kedua belah pipi Mario hingga tercetak jelas lima jari di sana.
Sementara Mario masih diam terpaku, Davina beringsut turun dari tempat tidur. Mencoba berdiri meski sempoyongan, seperti ada gempa bumi lokal di ruangan ini. Mengabaikan denyutan sakit di kepala yang kian menusuknya, akibat dari emosinya yang begitu memuncak. Lalu meraih map merah di atas meja nakas. Menelitinya sekilas. Memastikan di sudut perihal surat tersebut, tercantum nama Mario Archielo.
"Ini jawaban atas ingatanku kembali." Davina melempar map itu tepat ke pangkuan Mario.
"Apa ini??" Mario menatap penuh tanya pada istrinya.
"Persetujuan memperbesar payudara," sewot Davina mendelik tajam.
"Eh?!"
Mario menghela. Kembali fokus. Jantungnya berdetak cepat. Hatinya gelisah, terlukis dari jari-jarinya yang gemetaran ketika membuka map merah di pangkuannya. Bayangan buruk menari-nari di pelupuk matanya. Sungguh tak sanggup untuk membukanya.
"Ini ..." Mario terhenyak. Tak mengerjap barang sedetik pun, ketika membaca perihal surat dari map merah tersebut.
"Kita bercerai!" Davina berucap seakan mempertegas kembali isi surat yang berada di tangan Mario. "Sesuai dengan permintaanmu dahulu, aku memperbahuruinya, mengabulkan permintaanmu ... bercerai dariku."
Bruk!
Mario duduk bersimpuh di lantai, tepat di ujung kaki Davina. Menghiraukan surat pengajuan gugatan cerai dari sang istri. Dilemparnya begitu saja. Melayang-layang di udara lalu mendarat dan bertebaran di lantai.
Davina terkesiap akan perbuatan Mario. Namun tak beranjak untuk menggeser tubuhnya. Dikepalkan tangannya begitu kuat.
"Aku tak ingin bercerai darimu, Vin." Mario menolak dengan tegas. Suaranya makin serak terdengar bersamaan menahan sesuatu yang memanas di sudut mata. Hatinya remuk redam. Dunianya runtuh seketika. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya bila tanpa Davina di sisinya.
Dipejamkan mata elangnya sekilas seraya mengepalkan tangan - seakan menggenggam tekadnya, sampai kapan pun tak ingin bercerai. Lalu kembali membuka mata, menatap sendu wajah memerah Davina.
"Kumohon, Vin. Cabut gugat---"
"Katakan itu pada masa lalu kita. Mengapa dulunya kau ingin bercerai dariku!" pekik Davina.
“Jujur kuakui, waktu itu aku memang salah. Tapi kini berbeda. Aku tak ingin bercerai darimu."
"Sudah terlambat!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Kembali Davina memukuli tubuh tegap Mario dengan bantal. Tidak cukup sekali, bahkan berkali-kali memukulnya, sampai hatinya puas.
__ADS_1
"Sekarang aku mengabulkan keinginanmu! Puas kau sekarang!" Davina meraung di tengah napasnya yang tersengal. Terus memukul membabi buta pada Mario. Mengabaikan kepalanya kian berputar-putar. Pusing mulai menyergapnya.
"Aku tetap ingin bercerai!" Gigi Davina bergemeletuk tajam.
"Tidak. Aku tak mau, Vin."
Grep!
Mario memeluk erat pinggang sang istri, wajahnya menghadap tepat ke perut datar Davina. Samar hidungnya mencium wangi tubuh istrinya.
Davina bergetar, terkejut akan sikap mendadak Mario. "Lepaskan aku, bedebah!"
Walaupun Davina membabi buta memukulinya disegala arah. Mario tak mau melepaskannya. Justeru semakin mengetatkan pelukannya, mempererat lingkaran tangannya di pinggang Davina.
"Kubilang lepaskan, arrrgh!"
"Tidak, Vin. Sampai mati pun takkan kulepaskan. Kecuali kau membatalkan perceraian kita." Mario menggeleng, tetap kekeuh dengan pendiriannya. Seteguh pendiriannya untuk tak mau bercerai.
Davina mendesis. Sudut bibirnya tersenyum pahit. Hatinya sakit sekali. Ia menggeleng---menyingkirkan pandangannya yang mulai berkunang-kunang---berusaha agar pandangannya tetap fokus. Sesekali meringis memegangi kepalanya.
"Aku takkan membatalkannya. Cepatlah kau tandatangani itu!"
"Sampai kapan pun takkan kutandangani surat sialan itu," tekan Mario. Ia menengadah, memburu tatapan Davina yang tak mau bertemu pandang dengannya. Terlihat jelas di matanya, wajah Davina semakin pucat.
Mengapa harus jadi begini, disaat Davina masih belum pulih benar, malah minta cerai darinya.
"Kumohon, Vin. Setidaknya pikirkan masa depan bay---"
"Omong kosong! Tahu apa kau tentang memikirkan bayi kita! Apa kau tahu selama ini yang kulalui?"
Mario terdiam. Lagi-lagi kenyataan pahit masa lalu menamparnya.
"Ya, aku salah. Memang salah ... maafkan aku, Vin. Saat itu ... andaikan kutahu kau hamil. Detik itu juga aku akan mencabut gugatannya," jelas Mario parau penuh penyesalan. Kepalanya makin tersuruk di perut Davina.
"Kumohon, Vin. Izinkan aku membayar semua kesalahanku. Izinkan aku kembali padamu. Aku tak ingin berpisah denganmu. Kumoh --- Vina!"
*This Is Your Baby*
"Vina pingsan efek dari sakit kepalanya, karena saraf otaknya belum sepenuhnya bekerja untuk menerima memorinya. Ditambah lagi akibat pemukulan di kepalanya, hingga membuat kepalanya bertambah sakit.” Chase menerangkan hasil pemeriksaannya.
Dokter muda ini meletakkan kembali tangan Davina ke atas perutnya. Baru saja selesai melakukan pemeriksaan denyut nadi. Memberikan alat stetoskopnya pada sang perawat, lalu meraih papan klip berisi catatan medis pasien. Membacanya sekilas dan kembali melanjutkan penjelasannya.
"Kemungkinan sakit kepalanya akan terus terjadi dalam beberapa minggu ini, seiring ingatannya pulih dan benar-benar utuh seperti semula, barulah sakit kepalanya berangsur menghilang."
Chase menoleh, menatap sang adik duduk di ujung sisi ranjang pasien. Sedari awal Davina pingsan, Mario tak beranjak dari sisinya. Bahkan terus menggenggam erat tangan sang istri. Barulah dilepaskannya---hanya sesaat---ketika Chase hendak memeriksa denyut nadinya tadi.
"Jangan terlalu memaksanya untuk sementara ini, Rio. Sabar, ya. Semuanya baik-baik saja." Chase meremat pundak Mario. Memberi semangat.
"Chase. Aku ... aku ..." Mario mengusap wajahnya yang kusut. Beberapa menit yang lalu. Ia terkesiap kaget saat mendapati tubuh sang istri ringan dalam pelukannya. Ternyata telah tak sadarkan diri.
"Kuharap setelah Vina siuman, dia sendiri yang menarik gugatannya," harap Chase, melirik sekilas pada kertas yang dipunguti oleh suster. Terpampang jelas judul dari isi surat tersebut.
Mario mendesah pendek. Merebahkan kepalanya di atas dada sang istri. Mendengarkan detakan jantung belahan jiwanya. Begitu lemah. Mengembuskan napas berat, berangsur-angsur memejamkan mata sembari mendekap erat tubuh Davina.
Saat ini dirinya tak bisa berbuat apapun lagi. Seperti yang dikatakan oleh Chase, dia tak bisa terus-terusan mendesak Davina untuk membatalkan perceraian mereka, di tengah Davina berjuang melawan sakit kepala untuk kesembuhannya.
Hanya satu harapannya. Seperti yang dikatakan pula oleh Chase. Berharap, saat Davina sadar kembali. Ia mengubah pikirannya. Menarik sendiri gugatan cerainya. Ya, hanya itulah harapan terakhirnya. Jalan satu-satunya.
Sekarang aku bisa apa lagi, Vin. Aku tanpamu tak ada artinya. Jangan pergi dari sisiku. Kumohon ....
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1