This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Ternyata Masih Ingat Dengan Istri


__ADS_3


Semula niat Davina pulang ke rumah hanya ingin mengambil tas yang ketinggalan di kamar. Tapi saat ingin menaiki tangga, dari arah dapur, telinganya menangkap tawa ceria Eleanore, serta suara lain yang tak asing lagi didengarnya, sudah hampir delapan bulan dia tak melihat wujud pemilik suara itu. Untuk memastikan intuisinya benar atau tidak. Tanpa berpikir lagi, dia pun bergegas ke sana.


Hm? Davina menyipit, menatap lekat sosok bertubuh tinggi atletis, dibalut pas dengan mantel hitam, serta rambut hitam pendek, memunggunginya sembari menggendong Eleanore.


"Ayo Kakak El, beri Daddy jatah chuuu~"


Usai berkata, sosok itu segera berbalik badan. Tepat batita berumur setahun lebih itu menempelkan bibir mungilnya ke bibir Mario, seketika pria bermata elang itu membelalak terkejut menatap Davina berdiri diambang pintu, juga membelalak melihatnya.


Mario meneguk ludah begitu susah payah. Tubuhnya seketika mati rasa, tak mampu untuk bergerak, meski batita yang digendongnya terkikik senang, tak hanya sekali mengecup bibirnya, namun berkali-kali. Sementara sang mertua, sama sepertinya. Hanya bisa diam terpaku, menatap gugup Davina. Tanpa diduga, tiba-tiba sudah berada di dapur.


"Vi-Vina ..., Mom bisa jel---"


"Diamlah, Mom. Aku tak mau dengar penjelasan apapun saat ini," bantah Davina datar tanpa ekspresi, sementara pandangannya tetap fokus menatap Mario.


 


 


Glup!


 


 


Baik Mario dan sang mertua, sama-sama meneguk ludah. Kali ini mereka tak bisa berkilah lagi. Keduanya ketahuan bekerja sama di belakang wanita muda ini.


Terlebih Mario. Bibirnya terkunci rapat, tak mampu lagi berbicara untuk melakukan pembelaan apa pun. Dia sudah tertangkap basah. Memang salahnya. Seketika dia teringat ucapan Ravi. Suatu saat nanti, caranya ini pasti akan ketahuan juga. Ternyata pagi ini adalah hari terakhir dia melakukan semuanya secara diam-diam. Dia menghela. Masih marahkah sang istri padanya?


"Mom-my ..." Suara kecil dari belah bibir Eleanore seketika membuyarkan suasana kaku di ruangan ini. Batita itu segera menoleh, sangat mengenali suara Davina ketika sosok manis itu membuka suara. Eleanore segera berontak dari gendongan Mario.


"Kau ingin ke tempat Mommymu, Kakak El?" tanya Mario. Pria ini mencoba mengalihkan suasana yang begitu tegang. Padahal sebelum dia melihat Davina di ruangan ini, suasana tampak begitu ceria. Dia berdeham sekilas, mengumpulkan semua keberaniannya untuk menghadapi Davina ke depannya.


"Mommy, Mommy ..." Eleanore tampak kegirangan memanggil Davina. Mario tersenyum tipis seraya menepuk lembut butt batita itu ketika makin bergerak liar dalam gendongannya. Lalu menurunkan Eleanore. Membiarkan batita itu berjalan tertatih-tatih menuju Davina.


"Ah, Kakak El, kita keluar yuk! Siapa tahu ada yang menarik hati!" Sebelum Eleanore mencapai tubuh berisi Davina, satu-satunya wanita paruh baya di ruangan ini bergerak cepat. Buru-buru mengambil botol di atas meja pantry, dan segera menggendong Eleanore. Keluar dari dapur secepatnya. Membiarkan sang putri dan Mario berbicara bebas - hanya berdua saja.


Saat sang mertua dan Eleanore tak ada lagi di dapur, suasana kembali menjadi tegang. Mario jadi serba salah tingkah, bingung harus berbuat apa. Sedari tadi Davina tak berbicara sepatah kata pun, hanya memandanginya tanpa ekspresi sama sekali. Dia jadi susah menebak jalan pikiran sang istri saat ini, apakah sosok ini marah atau pun tidak lagi.


Mario mengembuskan napas. Saatnya buka suara. Dia mengelus tengkuk, bersamaan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana slim fitnya, salah satu caranya untuk mengurangi rasa gugup saat berada di dalam suasana kacau begini.


"Vin---"


"Pria bodoh! Ternyata kau masih ingat dengan istrimu ini, hah!"

__ADS_1


“ ..... ”


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Astaga! Apa yang terjadi! Vina!!!"


Ty tersentak, serta merta keluar dari mobil. Tanpa berpikir lagi dia segera berlari ketika mendengar teriakan Davina dari dalam rumah. Baru saja dia disuruh menunggu di dalam mobil. Tetapi mendengar pekikan Davina, dia segera menyusul masuk. Takut terjadi apa-apa pada sosok manis itu, mengingat dia sedang hamil besar saat ini.


"Vin---"


Baru saja Ty membuka pintu rumah, saat itu juga ia melotot melihat Mario berlari ke arahnya. Di belakang Mario, dia melihat Davina mengejarnya sembari menenteng sepatu sneakers.


"Jangan lari kamu, bedebah!"


 


 


Bugh!


 


 


Bidikan Davina tepat sasaran. Ty terbelalak kaget. Mario jatuh tersungkur tepat di kakinya, bersamaan sebelah sepatu sneakers wanita muda itu mendarat empuk di kepala Mario. Pria berkulit putih ini ikut meringis melihat Mario meringis mengerang menahan sakit.


Gila, tenaga bumil satu ini, betulan tak main-main. Rio nyaris sebesar kingkong ini saja bertekuk lutut jatuh di bawah kakiku. Mungkinkah si bumil ini sedang mengandung anak kingkong?


Sudut bibir Ty tersenyum, nyaris tertawa cekikikan. Entahlah, apakah dia harus simpati atau bahagia di atas penderitaan sahabatnya satu ini?

__ADS_1


"Asdfghjkl ... sakit, Vina!" racau Mario berusaha bangun, sembari tangannya menempel ke dinding sebagai tumpuannya.


Sementara Ty mengulum senyum seraya menutup mulut. Memperhatikan Mario berdiri terhuyung-huyung tepat di depannya. Tanpa berusaha untuk menolong Mario, seolah-olah mengisyaratkan pada Mario, bahwa apa yang selama ini dirasakannya, harus Mario rasakan juga. Pagi ini saja, dia sudah mendapatkan tamparan gratis di lengannya dari Davina, belum hari-hari yang telah dilewatinya. Parah.


"Kau bilang sakit?!" suara Davina melengking, menderu terengah-engah dari belakang. Berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perut buncitnya, sementara tangan lainnya memegangi sebelah sepatunya. Wajahnya memerah dan menggeram lirih. Dia kesal. Marah. Dan ingin melampiaskan semuanya, seperti yang dikatakan oleh Ty. Kebetulan sumber kekesalannya, menampakkan batang hidungnya hari ini.


"Lebih sakit mana, antara kepalamu di sepak pakai sepatu ini, atau statusnya digantungin tanpa kepastian, ha!"


"Vina Sayangku, Bukan begit---"


"Nih kalau begitu, rasakan ini!"


 


 


Bugh!


 


 


Bruk!


 


 


"Ya, ampun. Tyyy!" Davina berteriak kaget dan menutup mulutnya. Tak menyangka lemparannya kali ini malah mengenai wajah tampan Ty. Niat awalnya hendak melempar sepatu itu ke kepala Mario. Justru yang terjadi Mario dengan gesit menghindar, hingga Ty yang kebetulan berada di depan Mario kena getahnya. Detik itu juga, Ty KO, terkapar pingsan di tempat.



 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2