![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Mata indah dengan iris cokelat bening itu terus memancarkan pandangan suram, sama seperti raut wajahnya yang muram. Memandang lekat wajah yang terpahat indah persis di depan bola matanya. Tak berkedip sama sekali, walau napas beraroma wangi yang berembus teratur menerpa wajah manisnya. Ia tak goyah. Sudut bibir Davina tertarik sedikit ke atas. Hanya sedikit, meski berat untuk membentuk senyuman tipis di wajah manisnya, kala mengingat kejadian tadi.
Betapa Mario begitu menikmati setiap inchi tubuh mereka menyatu. Terlihat jelas dari wajahnya yang memancarkan perasaan bahagia. Umpama seorang striker yang berhasil membobol gawang lawan yang memang diincarnya sedari awal. Kini, Mario tertidur begitu lelapnya. Rasa puas tercetak jelas di wajah tampannya, sembari memeluk tubuh telanjang Davina di balik selimut dengan eratnya. Pria ini kelelahan setelah tiga jam mereka selesai berhubungan badan.
Sementara sosok manis ini ... ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Davina menghela napas berat. Memandang sayu kelopak yang masih terpejam erat itu. Perlahan menurunkan tangannya yang terhenti di udara, menertibkan tangannya yang nakal itu kembali ke tempat semula. Nyaris saja ingin menyentuh pahatan wajah yang hampir sempurna ini. Sebenarnya tak masalah untuk menyentuh ... andaikan saja tak ada retak di hati ini, mungkin Davina sudah bebas menyentuhnya.
Rio, kenapa kau lebih memilih membohongiku daripada memilih jujur padaku ...
Davina mengerjap sekilas, menahan cairan bening yang memanas di sudut matanya. Hatinya sakit dua kali lipat ketika ingatannya pulih kembali. Jauh lebih sakit sebelum ia hilang ingatan ...
"VINA!!!"
"Kau baik-baik saja, Vina?!โ
"Vina, please. Ucapkan sesuatu. Jangan membuatku cemas ..."
Davina menutup kedua telinganya. Memaksa matanya untuk terpejam saat suara panik Marrie menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Mendesaknya untuk mengingat kembali kejadian ketika dirinya jatuh dari tangga, hingga membuat ingatannya perlahan-lahan kembali pulih sedikit demi sedikit ....
Dia meringkuk. Wajahnya pucat. Tubuhnya menggigil hebat memeluk lututnya. Keningnya berdenyut menyakitkan, setelah menabrak karung pakaian yang begitu keras. Pikirannya kacau. Kepalanya seakan mau pecah, ia tak sanggup menahannya hingga airmatanya perlahan jatuh berderai.
Lalu, puing-puing memori masa lalunya, perlahan merangsek masuk menyerang otaknya. Memaksanya untuk kembali mengingat kilas masa lalunya yang menyakitkan itu...
"Sakit sekali kan, Vin? Kalau begitu kita ke rumah sakit ..."
Davina membuka matanya. Menatap sekeliling ruangan. Ucapan Marrie menyentaknya agar bangun dari kejadian beberapa hari yang lalu. Menghentikan gerak-geriknya yang gaduh. Tak ingin Mario menyadari keadaan dirinya yang kacau saat ini, hingga membuat Mario curiga padanya.
Dengan hati-hati Davina melepaskan tangan Mario yang melilit di pinggangnya. Menyibak selimut. Menahan napas agar gerakannya tak terlalu gaduh. Tubuh telanjangnya menggigil, bulu kuduknya merinding ketika kakinya menyentuh lantai yang begitu dingin.
Sekuat tenaga Davina membekap mulutnya, bersamaan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya menusuk-nusuknya. Ia menekan kuat telapak kakinya, menginjak lantai menjaga keseimbangan agar tubuhnya tak jatuh merosot. Wanita muda ini melotot sekilas pada pelaku yang membuatnya jadi seperti ini.
Bedebah sialan! Bisa-bisanya dia tidur tenang menampakkan wajah puasnya padaku setelah memasukiku berkali-kali. Dasar monster hijau lumutan. Sshh ...
Davina mendengkus. Berjalan tertatih-tatih memasuki kamar mandi. Tempat teraman baginya saat ini, disaat ingin menumpahkan seluruh isi hatinya di sana.
*This Is Your Baby*
Davina meringkuk sembari memeluk kuat lututnya. Wajahnya dibenamkan di antara kedua kakinya. Membiarkan air dari shower meluncur dengan derasnya. Menampar-nampar punggung mulusnya. Berharap masa lalu kelamnya jatuh berguguran bersamaan kucuran air yang mengalir di sekujur tubuhnya. Menghanyutkan semua puing-puing masa lalu yang menyakitkan itu, menyingkir dari hidupnya.
__ADS_1
Davina menggeletuk merasakan air sedingin es menyapa kulitnya, tetapi tak mampu meredamkan rasa panas di kepalanya yang membara. Meski tubuhnya sudah membeku, ia sama sekali tak berniat beranjak dari posisinya - menjauh dari pancuran shower. Sama seperti kenangan masa lalunya, seakan tak ingin hengkang dari otaknya saat ini. Terus mendesaknya untuk mengingatkannya kembali ...
Davina melenguh, giginya beradu menahan dingin yang meresap ke kulitnya sampai ke ulu hatinya. Tak hanya seluruh tubuhnya yang kebas, hatinya pun kebas saat bayang-bayang masa lalu itu mencengkram sakit hatinya.
Tak ingin mati beku, karena dirinya sadar masih banyak hal yang harus dilakukan setelah ingatannya pulih kembali. Perlahan Davina mematikan shower. Menyelimuti tubuh ringkihnya dengan bathdrobe, berjalan tertatih-tatih kembali ke tempat tidur berukuran king itu.
Menatap sekeliling kamar. Mendesah pendek. Kamar inilah yang menjadi saksi bisu ketika Mario melayangkan pertama kalinya surat gugatan cerai itu padanya. Lalu iris cokelatnya, menatap lekat wajah lelap Mario di depannya.
Hhh ... Kau sungguh hebat Rio. Kau sanggup memutarbalikkan fakta. Kau karang cerita seolah-olah akulah yang bersalah padamu.
Aku yang menggugat cerai karena kesalahpahaman sebuah foto, heh? Pantas saat kuminta bukti itu kau tak sanggup memperlihatkannya.
Dan kau bilang kita menikah karena saling mencintai? Nyatanya pernikahan ini terjadi karena kau memperkosaku.
Rio kau ********. Saat aku amnesia, aku percaya padamu kita saling mencintai meski hati ini meragu.
Dan kini, kau memang benar-benar ********. Beraninya masuk tanpa izin ke dalam hatiku dan tinggal nyaman di hati yang retak ini ...
Davina memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang ketika bergelut dengan pikirannya. Sempat menahan napas kala Mario menarik tubuhnya dan jatuh ke dalam pelukan hangat sosok ini. Ia menggigit bibirnya, menggeram kecil. Ingat! Hatinya masih marah dan terkoyak. Tak mudah untuk membalik suasana hatinya semudah membalik telapak tangan.
Tunggulah Mr. Rio yang terhormat. Aku takkan diam saja atas perlakuanmu ini. Akan kuberi kau pelajaran berharga dalam hidupmu ...
Davina menyentil alis lebat Mario hingga pria ini meringis, mengerutkan dahi dalam tidurnya.
*This Is Your Baby*
Wanita itu meremat kuat mantel berbulunya. Jantungnya berdetak kencang tak karuan. Tubuhnya bergetar. Apa ini? Lima bulan ia mengubur tindakan jahatnya. Melupakannya. Dia hidup dengan tenang. Lalu kini, bagai kotak pandora yang terbuka ...
Roxanne menatap lekat mata cokelat itu, rambut almond itu, bibir cherry itu ... wajah itu ...
Sosok ini ... mimpi buruknya ...
"Dengarkan semuanya. Aku akan kembali pada Vina ..."
"Arrgh." Roxanne berteriak, membuka matanya lebar-lebar. Napasnya tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran. Ia menatap nanar sekeliling ruangan. Menghela napas lega. Mimpi itu lagi. Setelah beberapa bulan ia tak memimpikannya. Namun kini. Mimpi itu hadir kembali. Setelah wanita manis itu kembali ke keluarga Archielo.
"Dan kenapa Mommy sangat membenci Vina? Apa salah Vina pada Mommy?"
"Kalau ada asap, tentu ada api. Kurasa Mommy tahu maksudku, kan ..."
__ADS_1
Roxanne menggigiti selimutnya. Mengusap wajahnya. Lantas membenamkan wajahnya ke bantal. Kata-kata Mario terus berputar-putar di pikirannya.
Kau benar Rio. Mommy membenci Davina karena akulah yang menyebabkannya kecelakaan hingga nyaris tewas dan amnesia. Satu penyesalanku. Mengapa aku tak sekalian saja membunuhnya waktu itu, seperti aku melenyapkan Arlana, agar tak meninggalkan jejak di kemudian hari.
*This Is Your Baby*
"Vin?! Vina ..."
Davina merasakan tubuhnya berguncang, bagai ada gempa bumi lokal. Ia melenguh, napasnya keluar tak beraturan. Dengan paksa membuka kelopak matanya - seakan ada lem yang melekat erat di pelupuk matanya. Samar dia melihat wajah tampan Mario---diliputi kecemasan---tepat di depan wajahnya yang memerah.
"Kau sepertinya demam, Vin." Mario berujar dengan suara seraknya yang terdengar begitu khawatir. Tangan besarnya menyibak poni sang istri, lalu mendarat di dahinya. Pria muda ini meringis merasakan kulit telapak tangannya begitu terasa panas.
"Kenapa bisa demam? Apa semalam aku bermain kasar?" tanya Mario heran, menatap cemas pada iris cokelat bening yang meredup itu.
Davina menggeleng pelan, menyingkirkan tangan Mario di dahinya. "Tidak, kau tak kasar,--- hanya saja kau seperti orang kesetanan yang tak pernah puas dengan satu kali ronde." Davina menyindir akan kelakuan Mario semalam.
Dan tak mungkin juga bilang pada Mario, bahwa dia meriang karena ulahnya sendiri. Membiarkan tubuh ringkihnya di bawah pancuran air dingin semalaman.
"Maafkan aku." Mario berucap penuh penyesalan, merasa tidak enak hati, meski sudut bibirnya tersenyum senang.
"Tapi kurasa ... kau tahu sendiri, Vin. Mana bisa aku menahan nafsuku. Yeah ... kau tahulah, sebagai pria dewasa yang telah lama sendiri. He he he." Mario terkekeh sembari menggaruk tengkuknya.
Davina memutar bola mata sembari mencibir, "aih, dasar mesum-- ke-kenapa melihatku seperti itu?!" Alis wanita muda ini bertautan. Buru-buru menaikkan selimut batas dagunya saat seringaian ganjil menari di sudut bibir sang suami.
Kepala Mario menggusel di rambut almond Davina, membuat perempuan manis ini bergidik. Pria muda ini mendekatkan bibirnya di telinga sosok manisnya seraya berbisik;
"Cepat sembuh, Sayang, agar kita bisa melanjutkan misimu tiap malam ..." Sengaja Mario meniup telinga sang istri---menggodanya---lantas melanjutkan ucapannya;
โMenghamilimu!โ
Selesai berkata, Mario secepat kilat melompat dari tempat tidur. Sebelum dirinya mendapatkan tendangan gratis dari singa betinanya yang sedang sakit ini.
"Jerrk ... berengsek! ๐ข Dasar otak mesum! Menyesal aku berbicara seperti itu!"
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes ๐, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya ๐ค๐, oke ๐.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya ๐ค๐.
__ADS_1