![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
“Eh? Kenapa Mommy memasak begitu banyak? Dalam rangka apa, Mom?” Davina memiringkan kepala, menatap bingung pada meja pantry minimalis di depannya, penuh dengan semua bahan-bahan mentah.
“Ada perayaan penting, ya, Mom?” Davina beralih memandang sosok wanita paruh baya itu; mengeluarkan satu-persatu bahan-bahan dari dalam keranjang belanjaannya.
Wanita paruh baya itu menoleh sekilas pada putrinya, menggendong Baby El lalu mendudukkannya di kursi khusus bayi. Lantas berjalan ke belakang counter dapur - hendak membuat susu.
“Tak ada sama sekali, Sayang!” jawab Ny. Oswalden tersenyum tipis, menata semua bahan ke tempat rak-rak khusus sesuai dengan jenisnya,
“Memangnya aneh ya, Vin, Mommy beli banyak bahan-bahan masakan?” gurau wanita paruh baya itu.
Davina terkekeh kecil sembari mengambil tremos dan menuangkan air panas ke gelas; sebelumnya, telah diisi tiga sendok bubuk susu bayi.
“No at all, Mom. Hanya saja--- selama ini, Mommy, kan, belanjanya tak terlalu banyak, hanya beli seadanya saja.”
“Itu karena ada tambahan satu orang di rumah kita, Sayang---”
Seketika mendengar tambahan satu orang, membuat wajah Davina tanpa diundang kembali berpendaran merah merona. Untung saja dia membelakangi sosok ibunya. Kalau tidak, entah ditaruh di mana mukanya. Malu menghampirinya.
“Tapi, Mom, tak perlu juga memasak terlalu banyak, hanya satu orang, kok. Dan juga ... dia tak terlalu istimewa. Kurasa ...” lirih Davina mengedikkan bahu, sedikit ragu-ragu mengatakan di akhir kalimat.
“Hm? Tentu saja istimewa, Sayang! Dia, kan, ayah kandung Baby El ...” Wanita tua itu terdiam sejenak. Mengembuskan napas pendek mengingat sosok Mario pada putrinya.
“Ya, hanya ayah kandung saja, Mom, tak lebih.” Davina mencibir akan sikap Mario pada kakaknya, Ar--- oh tidak! Pada dirinya. Davina mengepalkan tangan. Amarahnya menguap dua kali lipat dari sebelumnya bila memikirkan sikap Mario selama ini. Eh? Omong-omong ... Davina mengerling pada ibunya; memetik daun bayam. Rencananya wanita paruh baya itu ingin membuat quiche, sebagai salah satu menu sarapan keluarga mereka pagi ini
Gadis itu mengetuk-ngetuk bibir cherry-nya sembari keningnya mengerut dalam memikirkan sesuatu. Lalu mengangguk setelah menemukan jawabannya. Yup. Bukankah ekspresi wajah ibunya semalam sangat tak bersahabat pada Mario. Tapi mengapa pagi ini ... ibunya tampak begitu senang akan kehadiran Mario. Terlebih ...
“Mom?”
“Hm ...” gumam wanita paruh baya itu menjawab panggilan putrinya, di sela-sela ia bersenandung.
Davina berdeham sejenak seraya melangkahkan kakinya keluar dari balik counter dapur, dengan membawa sebotol susu untuk Baby El.
“Eung, mengapa Mommy ... tak mengusir pria itu? Dan malah menyuruhnya menginap di rumah kita, juga mengizinkan tidur di kamarku?”
Wanita itu terdiam, menghentikan kegiatannya mengiris jamur shitake. Menghela napas pendek.
“I-itu ... karena sudah malam. Akhirnya, Mom dan Dad sepakat menyuruhnya tidur di kamarmu. Lagipula tak mungkin Mommy menyuruhnya tidur di kamar Lana. K-kau tahu sendiri perasaan Mommy bagaimana ...” lirih wanita paruh baya itu.
“Ya, aku mengerti, Mom.” Davina menarik napas pendek. Diliriknya sang ibu, menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan yang masih kental menggelayuti hatinya. Bukan perkara mudah, merelakan begitu saja sosok yang dicintai pergi dari sisi kita untuk selama-lamanya. Butuh waktu sangat lama mengobatinya.
Bahkan ibunya, masih membiarkan kamar Arlana tetap utuh, tanpa diubah sama sekali tata letaknya. Lebih menyakitkan bagi Davina dan kedua orang tuanya. Hingga kini orang yang menabrak Arlana, tak diketahui rimba identitasnya. Sungguh miris. Mungkin karena alasan itulah orang tuanya menyuruh Mario tidur di kamarnya. Dengan begitu perasaan orang tuanya tetap terjaga, dan tak terlalu tenggelam dalam kesedihan. Davina sangat mengerti itu.
“Dan lagi ... kau tahu sendiri, Sayang! Kamar di rumah kita hanya ada tiga. Kamar Mom, kamu, dan kakakmu. Lalu, Daddy Baby El tidur di mana coba? Selain tidur di kamarmu, kan?”
“Suruh saja tidur di kamar mandi atau di mobilnya sendiri.” Davina menjawab ketus bersamaan dirinya terkekeh geli.
Baby El, bila masalahnya sudah clear, Mommy akan memberimu susu ASI, bukan susu botol ini. Davina berbicara dalam hati sambil mengecupi pipi gembul bayinya kala Baby El begitu serius meminum susunya.
“Ah, kau ini, Vin ...” Wanita paruh baya itu ikut tertawa kecil akan lelucon ketus putrinya.
__ADS_1
“Mom ...”
“Apa, Sayang?!”
Kenapa sikap mommy sangat berbeda dengan yang semalam ....
Ingin rasanya Davina berkata seperti itu. Namun pertanyaan itu hanya terpendam di dalam kepalanya saja.
“Eung ... Mom tak marah sama Daddy Baby El?” tanya Davina hati-hati dan sangat halus. Setidaknya, pertanyaannya tadi, tidak seprontal dalam pikirannya. Iris cokelatnya memandang lekat sosok wanita - duduk di kursi sembari mempersiapkan bahan-bahan untuk sarapan mereka.
Wanita paruh baya itu terkesiap kaget. Meski beberapa menit kemudian, dia mampu mengendalikan kembali rasa kagetnya tersebut. Namun, tak memungkiri tubuhnya sedikit bergetar, dan Davina telah menangkap bahasa tubuh ibunya yang terpengaruh akan pertanyaannya tadi.
“Marah? T-tentu saja marah, Vin. Siapa yang tak marah, tiba-tiba datang menampakkan batang hidungnya kembali setelah sekian lama tanpa ada kabar beritanya ...”
“Lalu ... pagi ini. Eung---” Davina menggigit bibir, rasanya sungguh susah mengatakan sikap aneh ibunya pagi ini. Namun bila hanya ditahannya dalam hati, malah dirinya yang merasa tidak nyaman. “K-kenapa sikap Mom---”
“Sayang! Kau sudah membuat susu buat Baby El, ‘kan?”
Davina mengembuskan napas. See, seperti dugaannya. Ibunya tetap tak mau dirinya bertanya lebih jauh tentang Mario padanya.
“Of course, Mom.”
“Kalau begitu kau bantu Mommy dulu. Bisakah bantu Mommy memasak menu sarapan kita, Sayang?” pinta ibunya, kentara sekali wanita paruh baya ini mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.
Davina menggembungkan pipi. Padahal ibunya sangat tahu. Sosok polos putrinya ini, bukanlah ahli memasak. Jangankan memasak, membantu memasak saja kadang kala ada yang hancur. ~(~ ̄▽ ̄)~
Seorang Davina Oswalden atau ... Archielo? Itu ahlinya membinasakan benda-benda dapur, itulah yang cocok dengannya, sangat klop dengan sifat ceroboh, polos dan sering menghilangkan benda yang ada di tangannya. Untung saja, Davina tak melenyapkan Baby El di tangannya. (=^▽^=)
Seketika, segaris senyum tipis tenggelam di belah bibir cherry-nya. Dada Davina bergemuruh. Tentu saja Davina tak melenyapkan Baby El secara nyata. Namun ... menghapus nama Baby El dari ingatannya, sama buruk dan menakutkannya.
Maafkan, Mommy, Baby El. I’m sorry for that ... (︶︿︶)
Diam-diam Davina mengecup dan memeluk erat bayi dalam gendonganya. Matanya berkaca-kaca menahan sesuatu yang berat di bawah mata indahnya. Wajah sedihnya bersembunyi di balik punggung mungil Baby El. Tak ingin ibunya, melihat wajah sedihnya kala kembali rasa sakit itu merayap di hatinya bila mengingat sosok Baby El terlupakan olehnya.
“Sayang? Kau dengar Mommy?”
“Eh?? Eung ... bantu Mommy memasak, kan?” ulang Davina, tersenyum kikuk dipaksakan.
Wanita paruh baya itu mengangguk. “Yup! Kau bisa memasak hashbrown, kan?”
“Eung ...” Davina menggaruk kepala. Menu itu seharusnya tak sulit. Hanya mencincang kasar kentang, kemudian digoreng hingga matang. Lalu jadilah pancake kentang atau hashbrown.
“Ya, akan ku coba, Mom ... semoga saja hasilnya tak gosong, dan tak merucuni Daddy dan orang itu--- oh, kalau orang itu tak apa-apalah, makan hasil kreasi gosongku.” Davina terkekeh sambil menutup mulutnya, lalu menepuk pucuk kepala Baby El.
“Sayang jangan begitu! Lagipula sudah saatnya kau belajar memasak.”
Davina terperanjat kaget. Ternyata ibunya mendengarkan gumamannya tadi.
“Untuk apa, Mom? Aku, kan single. (=^▽^=)”
“Single ya ... tapi menurut Mommy, masih tetap harus bisa belajar memasak loh.”
__ADS_1
Davina memiringkan kepala. “Why Mommy? Kenapa harus?” Pancing Davina agar ibunya keceplosan berkata jujur. Tapi tak semudah itu. Ternyata ibunya sadar. Dan segera kembali ke topik lainnya.
“Mom rasa, kau harus titipkan Baby El sebentar pada kakeknya, Sayang. Agar kau bisa fokus bantu Mom memasak.”
Davina mengerang tertahan mendengar ucapan ibunya. Dengan berat hati berputar badan. Tubuhnya seketika mematung. Berdiri di belakangnya, Mario Archielo dengan wajah segar khas orang selesai mandi. Samar hidungnya mencium aroma musk maskulin, bercampur sabun beraroma lotus miliknya.
Blush
Sontak wajah manis Davina penuh pendaran rona kemerahan. Menari-nari tersipu malu. Kala pikiran Davina membayangkan, wangi miliknya bercampur dengan milik Mario. Buru-buru Davina menggelengkan kepala berulang kali berusaha menjauhkan pendaran merah merona itu dari wajahnya.
Puk
“KYAAA! Apa yang kau lakukan Mr. Jerk!” Davina berteriak kencang manakala tiba-tiba mendapatkan tepukan dari Mario, tepat mendarat di keningnya. Ibunya melongok melihat adegan tadi.
“Kurasa ... kau sakit, Baby.” Mario terkekeh geli, menyeringai tipis. Terlambat. Ternyata Mario telah menangkap tersipu malu sosok manis ini tadi.
“Grrr ... Tidak! Siapa yang sakit!”
“Itu, apa coba? Wajahmu merah begitu.” Mario berkata telak menggoda sosok ini. Membuat Davina membelalakkan mata.
“Wajahku merah bukan urusanmu! Lagipula jangan seenaknya saja menyentuh keningku.” Davina mengelak. “Kau ke dapur ada urusan apa? Mengapa tak langsung pergi saja dari rumah ini!” lanjutnya tajam.
Lagi-lagi Davina berkata ketus dan apatis, membuat Mario merasakan sakit tak kentara di hatinya. Mengembuskan napas, mencoba memberi ruang pada paru-parunya yang terasa sesak.
“Sayang! Jangan berkata seperti itu! Rio adalah ayah kandung Baby El--- oh kebetulan kau ke dapur Rio. Bisakah kau ambil Baby El sebentar? Vina mau membantu Mommy memasak,” sela Ny. Oswalden, tersenyum tipis pada Mario. Dia tahu, pria muda itu pasti merasakan sakit hati mendengar ucapan kasar putrinya.
“Tentu saja bisa, Mom.” Mario mengambil alih Baby El dari tangan Davina.
Sedang sosok manis itu mendengkus akan ucapan ibunya, sungguh berbeda dari ucapannya yang semalam. Sebenarnya ... apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya dan Mario, sepeninggal dirinya kembali ke kamar?
Wanita muda ini tersentak dari lamunannya, takkala merasakan aliran listrik di punggung tangannya. Sontak sosok manis itu melepaskannya segera - tentunya dengan Baby El telah aman di tangan Mario. Sekilas Davina menegang manakala tangannya disentuh lembut oleh Mario. Mau tak mau, mereka tadi melakukan adegan skinship saat hendak mengambil alih Baby El.
Mario terkekeh geli akan reaksi lambat Davina. Ketika dirinya sengaja sekali menyentuh lama punggung tangan sosok manis itu. Jangan salahkan dia, karena si manis tadi sempat melamun sesaat.
“Apa yang kau pikirkan, Baby? By the way ... you look so pretty, bila lagi marah begitu.” Mario berbisik tepat di telinga Davina, napas mint-nya berembus lembut di daun telinga sosok manis ini, membuatnya nyaris lumpuh seketika.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1