![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
"Sampai kapan, kita harus tinggal di sini?"
Davina menyenderkan tubuhnya di pintu sembari bersidekap menatap Mario. Keluar dari ruang walk in-closet dengan piyama biru muda membalut tubuh proporsionalnya. Wajahnya tampak segar. Rasa lelah seharian bekerja di hotel hilang seketika saat tubuhnya diguyur dengan air hangat.
"Bukankah sudah kuberitahu sebelumnya, bahwa kita akan tinggal di sini selama sebulan." Mario berjalan ke arah meja rias. Lalu mengambil sisir dalam laci. "Bila kau lupa,” sambungnya.
Maunya begitu ...
Davina mengembuskan napas pendek, menatap jari-jari kakinya. Tentu saja pertanyaannya tadi hanyalah sebuah bentuk interpretasinya terhadap suara hatinya yang sedang dirundung kesal. Baru seminggu dia di mansion, hatinya sudah belingsatan ingin pulang ke kediaman sendiri.
"Kenapa memangnya, Baby?" Mario menatap wajah cemberut istrinya dari pantulan kaca. Seakan bisa membaca suasana hati Davina, Mario melanjutkan ucapannya dengan serius.
"Tadi aku tak makan bersama kalian. Apa Mommy dan Lily menyinggung perasaanmu?" Mario meletakkan kembali sisir ke dalam laci. Membalik tubuhnya.
"Tidak ..." ... hanya belum saja kelihatan, lanjut Davina dalam hati. Karena makan malam tadi ada Ravi di antara mereka. Coba saja Ravi tidak ada. Tentunya, kejadian sarapan di cafetaria beberapa minggu yang lalu akan terulang kembali. Meski begitu, seperti biasa. Tetap saja lirikan tajam dari dua wanita itu tertuju padanya setiap saat. Mampu mengubah suasana hatinya seketika.
Mario menarik napas pendek. Diamnya Davina cukup membuatnya mengerti. Perlukah dia kembali memperingatkan dengan keras ibu dan adiknya itu? Bila saja mereka masih berucap kasar pada istrinya.
"Baby, tak usah kau tutupi. Kau bisa lapor padaku kapan saja, oke." Mario mendekati tempat tidur berukuran king itu. Duduk di sisi istri manisnya.
"Ck! Bodoh! Siapa juga yang akan menutupi kelakuan mereka. Mereka bahkan tak berucap sepatah kata pun padaku selama ini ..." ... hanya lirikan sinis saja, tambah wanita ini dalam hati.
Mario menghela napas lega mendengarnya.
"Um ... Rio, Bisakah kita tak menginap di sini?" Davina menatap lekat garis rahang tegas suaminya ini.
Mario menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Baby. Itu akan melukai perasaan Daddy."
Davina mencebik.
"Vina, aku tahu kau tak nyaman di sini." Mario menarik tubuh ramping istrinya dan memeluknya. "Hanya butuh bersabar sedikit lagi untukmu, ya,” bisik Mario sembari melepaskan pelukannya, lalu mengecup sekilas dahi Davina yang dipenuhi garis-garis kerutan samar.
Davina terdiam sejenak. Menghela napas pendek. Lalu melotot sebal.
"Kenapa, Baby?" Dahi Mario berkerut dalam ketika istrinya menyentak bibirnya, menjauh darinya. Padahal dia berniat ingin memanfaatkan suasana. Mengecup bibir cherry itu.
"Kau ... sudah kubilang jangan menyentuhku seenaknya." Davina memukul lengan Mario.
Pria ini terkekeh, meski bibir istrinya melontarkan penolakan. Namun, wajahnya mengingkari.
"Baby. Kau lucu, mana ada suami istri tak saling menyentuh, kan aneh jadinya." Mario berdeham kecil. "Lebih baik kita tidur saja. Sudah malam, kasihan Baby El. Nanti dia terbangun."
"Aih, jangan paksa aku." Davina menjerit, berontak ketika suaminya membaringkan tubuhnya dengan paksa. Lalu Mario menyusul membaringkan tubuhnya di sisi wanita manis ini.
"Hey! Kau tidur di sana, bukan di sini!" Davina melotot seraya menunjuk sisi seberang tempat tidur.
"Tidak, Baby! Di sini lebih nyaman. Kalau di sana, aku takut nanti Baby El terjepit oleh tubuh besarku."
Davina memutar bola mata. "Alasan. Kubilang menjauh!"
Mario hanya diam bergeming. Memejamkan mata bulatnya, tak menggubris ucapan istrinya lagi.
"Aih, pura-pura tak mendengar. Sialan!" Davina membalik tubuhnya, memunggungi Mario. Lebih baik dia memeluk bayi berusia lima bulannya. Baru saja wanita ini terpejam. Namun sedetik kemudian matanya kembali membelalak. Segera melarikan pandangannya ke arah perutnya. Di sana ada sepasang lengan yang melingkar erat.
"Grrr, kenapa malah memelukku, begundal mesum!"
"Ssst! Diamlah, Baby. Nanti bukan hanya Baby El saja yang terbangun. Teriakanmu juga berpotensi mengundang Mommy dan Lily ke kamar kita." Mario berbisik tepat di telinga Davina. Semakin menenggelamkan kepalanya di persimpangan leher dan bahu istrinya. Menyesap sepuasnya aroma sosok manisnya.
Davina melotot. Ingin berbalik, tetapi tubuhnya telah ditahan oleh Mario dalam rengkuhannya.
"Tapi, tetap saja ..." Davina mendengkus sebal.
"Hey! Kau mengunci pintunya, kan!" Wanita muda ini menyikut perut berotot Mario. Menggerakkan tubuhnya, berharap napas berat pria ini tak terlalu dekat dengan telinganya.
"Hm ... tak tahu, Baby. Aku tak mengeceknya."
__ADS_1
Davina membelalak. Kembali dirinya mengingat peristiwa di pagi hari beberapa minggu yang lalu.
"BODOH! KUNCI PINTUNYA!"
"Kenapa memangnya, Baby? Kau ingin berbuat mesum denganku." Mario menyeringai.
"Mesum pantatmu!”
*This Is Your Baby*
"Oh ..."
Davina menghentikan langkahnya di samping meja makan super luas. Di depannya ada sosok manis yang membelakanginya. Istri dari kakak iparnya, Marrie Abbot.
"S-sore kakak ipar, Marrie."
Davina memutuskan untuk menyapa duluan. Meski dengan terbata-bata. Ada rasa canggung dan segan untuk menyapa Marrie. Karena selama ini mereka tak pernah berbicara satu sama lainnya. Jarang sekali Marrie ada di mansion ini. Bahkan, hanya untuk makan satu meja dengannya saja begitu susah terealisasi.
Davina rasa bukan teruntuk pada Marrie saja, Chase dan ayah mertuanya, Ravi, serta Lily, sangat jarang sekali kumpul bersama di meja makan terkait pekerjaan masing-masing. Begitu pula dengan Mario, hanya saja untuk sarapan suaminya tak pernah absen menemaninya.
Marrie menoleh sekilas. Lalu berbalik kembali dan mematikan mesin juicernya. Menuangkan juice campuran buah apel dan pir ke dalam dua buah gelas berkaki.
Memang tak dipungkiri, kalau mereka di masa lalu tidaklah terlalu akrab. Sepengetahuannya, seminggu dirinya menikah dengan Chase. Mario menyusul menikahi sosok manis ini. Namun sangat disayangkan. Tiga bulan sesudahnya, sebulan kematian nenek Erika, Mario malah mengusir Davina.
Dan seminggu yang lalu juga, dia dan keluarga besar suaminya ini. Dikejutkan akan pengumuman Mario. Meminta mereka untuk tidak terlalu banyak bercerita soal masa lalu keduanya.
"Kakak ipar tak ke butik?" Davina memberanikan diri bertanya lebih, mengingat respon balasan Marrie tadi. Begitu ramah.
Marrie terkekeh, membawa dua buah gelas ke arah meja. Di mana Davina masih berdiri canggung. Bagaikan terkena hukuman di masa sekolah.
"Tak usah terlalu formal begitu, Vina. Cukup panggil aku dengan Marrie saja, atau Rie saja." Marrie menyunggingkan senyum manis. "Huft. Aku lagi malas saja ke butik. Tak ada yang menyenangkan untuk hari ini,” lanjutnya seraya mengangkat kedua belah bahu.
Marrie menyodorkan satu gelas juice ke hadapan Davina. "Untukmu."
"T-terima kasih, Rie." Davina berkata canggung.
"Tak usah sungkan. Duduklah," balas Marrie, menatap Davina yang masih berdiri kaku di sampingnya.
"Ugh ... baik." Davina menurut, segera duduk. Iris coklatnya menatap lekat sosok Marrie yang menikmati juicenya. Segaris senyuman hadir di belah bibir wanita muda ini. Hatinya menghangat akan respon Marrie. Benar yang dikatakan Mario. Masih ada keluarganya yang baik padanya.
"Biar aku saja yang menggendong Baby El, Vin."
Marrie menahan lengan Davina, ketika sosok manis ini mendudukkan bayinya di atas meja makan. Meja yang cukup menampung dua puluh orang saling berseberangan. Biasanya ada kursi khusus bayi. Namun, karena di mansion ini tak ada bayi, maka Davina meletakkan bayinya di sana.
"Eung ... kalau Rie tak keberatan." Davina berkata tak enak.
"Omong kosong. Kita, kan keluarga." Marrie meraih Baby El dari tangan Davina. "Nah, silahkan buat susunya, Vin." Wanita ini tersenyum lebar.
"Astaga! Kenapa kau makin menggemaskan, jagoan!" Marrie menusuk pipi Baby El. Begitu gemas pada bayi ini.
"Awww ... Baby El. Boleh kugigit sedikit pipimu ini, eum?"
Marrie meraup gemas pipi gembul Baby El ke mulutnya. Seakan ingin menggigitnya. Tak ayal wajah Baby El mulai memerah dengan mata berkaca-kaca. Mengerjapkan mata bulatnya, menatap sosok Marrie. Bahkan bibirnya yang mungil bergerak-gerak mencebik. Melihat ekspresi Baby El, tawa Marrie pecah memenuhi ruangan.
__ADS_1
*This Is Your Baby*
"Eh?! Ke mana Vina, Rie?"
Mario menghentikan langkahnya menaiki tangga. Menatap lekat kakak iparnya. Duduk di sofa sembari menggendong Baby El.
"Oh, kau sudah pulang, Rio." Marrie menoleh ke belakang sofa. Menatap Mario berdiri di undakan pertama dengan pakaian formal melengkapi tubuh atletisnya.
"Tadi dia bilang pergi ke luar sebentar." Marrie mengangkat bahu. Menyingkirkan remot yang digigiti Baby El.
"Pergi sebentar?" Mario bergumam. Kegiatannya terhenti saat merenggangkan dasinya. Keningnya berkerut samar. Hatinya mulai merasa tak nyaman.
Mario tidak melanjutkan ucapannya, segera menaiki tangga tergesa-gesa menuju kamarnya. Saat membuka pintu. Kamarnya tampak lengan dan sepi. Ia melempar jasnya ke sofa. Terus melenggang memasuki walk in-closet. Menggeser lemari pakaian. Lagi-lagi gerakannya terhenti ketika membuka kancing kemeja putihnya. Pikirannya kembali melayang pada Davina.
"Shit!" Pria ini mengumpat. Entah untuk apa. Yang pasti hatinya gelisah. Meraih ponselnya di dalam saku celana, mendial nomor telepon Davina. Menjepit ponselnya ke pipi, lalu menyingsing lengan kemejanya batas siku, sembari menunggu jawaban di seberang telepon, Mario kembali lagi ke ruang keluarga.
"Rie. Tepatnya sebentar itu sejak kapan?" tanya Mario lebih detail.
"Tadi sore. Dan ini sudah malam, kau saja sudah pulang ..."
Shit!
Mario kembali mengumpat keras, tak lagi mendengarkan ucapan Marrie. Balik lagi menaiki tangga. Sekali lagi mendial nomor telepon istrinya yang kesekian kalinya. Lagi-lagi yang menjawab seorang operator di seberang telepon.
"Kenapa kau matikan ponselnya, Vina." Mario mendesah. Hatinya makin resah kala gagal melacak ponsel Davina.
Langkah pria ini terhenti di depan kamar orang tuanya. Sayup-sayup Mario mendengar suara Roxanne yang marah-marah.
"Anak ini memang tak bisa diandalkan! Kenapa malah tanding mabuk-mabukan. Bukan itu yang Mommy perintahkan---"
Roxanne menoleh cepat. Matanya membelalak melihat Mario membuka paksa pintu kamarnya. Namun sikapnya segera kembali normal.
"Kenapa Rio?" tanya Roxanne berdeham.
Mario bersidekap dan memicing tajam. "Mommy berbicara dengan siapa?"
"Oh ini ..." Roxanne kembali menatap ponselnya. Baru sadar sambungannya belum terputus. "Ravi, kalau begitu kau bawa pulang Lily--- oh kalau itu, Mommy tak mau tahu urusannya. Terserah. Yang pasti kau harus mengutamakan adikmu untuk pulang. Bukan lainnya!"
"Ravi?" Mario mengernyit mendengar nama Ravi disebut Roxanne. Apalagi cara berbicara Roxanne membuat Mario menyadari sesuatu.
"Ya, Ravi." Roxanne menarik napas. "Lily mabuk di tempat Ravi sedang live show."
"Ri-Rio, kau mau ke mana?" Roxanne menatap bingung punggung Mario yang membelakanginya. "Kau ingin bicara apa sama Mommy?"
Mario tak menggubris lagi ucapan Roxanne. Dalam benaknya, dia tahu di mana Davina berada saat ini.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1