![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Mata indahnya telah terbuka sempurna, namun tetap saja ia berbaring malas. Enggan untuk bergerak dari tempat tidurnya. Davina mendesah pendek, setelah memperhatikan lekat di mana dirinya berada. Wajahnya kembali ditutup dengan lengannya ketika cahaya silau lampu mengganggu penglihatannya.
Pikirannya kembali melayang kemarin malam. Merunut kembali ke belakang peristiwa semalam. Pertama, dia mabuk karena kesal menunggui Lily yang juga mabuk. Sebelumnya, Mario menemukannya ketika menonton live show Ravi. Sebelumnya lagi, dia terdampar di club karena diculik. Dan sebelumnya lagi ... dia melarikan diri dari penculikan hingga membentur tiang listrik.
Tiang listrik ... Davina perlahan menyibak poninya. Kembali meringis saat rasa berdenyut dua kali lipat---akibat hangeovernya---bertambah karena bengkak di pelipisnya. Dan rasa sakit itu, benar-benar membangunkannya pada kenyataan. Sebelumnya, dia sangat berharap ini hanyalah bagian dari sekian banyak mimpi buruknya.
"Sialan. Awas saja kalau aku benar-benar menemukan pelakunya. Aku tak segan melaporkannya ke polisi,β geram Davina. Tanpa disadarinya ucapan itu berkali-kali didengungkannya dari semalam.
Sebenarnya, dalam pikirannya terbayang pelakunya. Tetapi dirinya belum punya bukti kuat untuk melaporkannya. Lagipula ini rumit, karena masih ada hubungan kekeluargaan. Memaafkan begitu saja? Namun hatinya sakit. Davina melirik pada pintu yang terbuka. Muncul Mario yang menggendong Baby El, dan meletakkannya di sebelahnya.
"Masih sakit kepala?" tanya Mario tanpa melihat Davina. Memperhatikannya sedang menyelimuti Baby El yang tertidur lelap.
"Baby El semalam tidur dengan siapa?" Alih-alih menjawab pertanyaan Mario, Davina malah balik bertanya. Perlahan bangun, meski kepalanya masih terasa berat. Ingatkan dia untuk tidak---sembarangan---mencomot minuman di atas meja.
"Menurutmu, siapa lagi kalau bukan dengan Rie. Kau ingin Mommy yang mengasuh Baby El?" Mario mengusap punggung Baby El. Berbaring dengan posisi membentuk janin.
Davina mendengkus pendek. Tanpa dijawab juga pertanyaan tadi sudah jelas jawabannya. Roxanne mengasuh Baby El? Yang ada mungkin Roxanne akan mencekik bayinya - bila punya kesempatan. Itu Davina rasakan. Meski Roxanne tak terang-terangan menunjukkan rasa ketak sukaannya pada Baby El.
"Coba kulihat pelipismu, masih bengkakkah? Semalam aku mengompresnya, seharusnya sedikit membaik." Tanpa disadari Davina, Mario telah duduk di sisinya. Tak bisa menghindar lagi, Davina hanya bisa membiarkan Mario menyibak poninya dan meneliti memarnya.
"Bagus, bengkaknya tak membesar lagi." Mario tersenyum tipis. Kembali membenahi poni Davina.
"Itu ada obat, segeralahΒ diminum, agar sakit kepalanya lumayan mereda," perintah Mario, berdiri sambil menunjuk dengan dagunya - pada sebotol air mineral dan setablet obat di atas nampan. Lalu berdiri menuju walk in-closet, mengganti pakaian olahraganya dengan pakaian kerja formalnya.
Davina melirik sekilas apa yang ditunjuk Mario. Menyibak selimutnya. Matanya membelalak. Dia baru sadar apa yang dikenakannya. Seingatnya semalam, pakaiannya masih utuh. Sekarang, sebuah kaos kebesaran menutupi tubuh kurusnya, dan ini bukan kaos miliknya. Satu lagi dia hanya memakai underwear. Tertutupi kaus kebesaran ini.
Yang benar saja. Davina tak bisa berkata lagi. Syok, melihat penampilannya. Kini hanya mampu memandangi kakinya yang penuh ruam-ruam merah. Akibat bergulingan di jalan beraspal semalam.
"Rio, kau juga yang mengganti pakaianku!?" Davina menoleh pada pintu ruang ganti pakaian yang terbuka lebar itu.
"Kau berharap Ravi yang mengganti pakaianmu? Begitu?" Sindir Mario tajam. Tersirat nada cemburu di dalam ucapannya.
Mario membuka kausnya dan melemparnya asal ke lantai. Raut wajahnya berubah sedikit masam. Ia ingat betul semalam. Sepertinya, Ravi tak menyukainya ketika ia menjemput Davina. Meski kemudian, Ravi langsung mengubah ekspresi wajahnya kembali normal.
"Tentu saja tidak--- Ck! Kau juga, seharusnya tak usah repot-repot mengganti pakaianku."
Mario menyeringai ketika membuka pintu pakaian. "Benar, itu yang seharusnya kau katakan saat mabuk semalam. Tapi kenyataannya, kau malah merayuku, memaksaku untuk menggantikan pakaianmu dengan kaus milikku."
Pria ini menahan tawa gelinya. Tentu saja itu bohong. Saat kembali ke mansion, Davina sudah benar-benar seperti kayu mati. Bahkan dicubit sekuat tenaga saja, mungkin dia takkan bangun.
"Apa!!! Tak mung-- aduh, sialan!" Davina mengerang saat denyutan di kepala menusuknya - ketika memaksa untuk berdiri. Dia terlalu kaget dengan penjelasan Mario. Dia sendiri yang menyuruh Mario mengganti pakaiannya? Kemudian semalam dia mabuk, apa dia meracau tak jelas?
"Hey Rio! Semalam aku mabuk, apa aku berbicara yang aneh-aneh padamu?" Davina kembali duduk di sisi ranjang. Buru-buru mengambil satu buah kapsul di atas nampan. Meminumnya, segera mendorongnya dengan air mineral, agar lancar dan tak kesat di tenggorokan.
Mario menghentikan sejenak kegiatannya - mengancing kemejanya. Memandangi serat kayu eboni lemari, tepat di depan matanya.
"Yang katamu, kau terbentur tiang listrik itu?" Mario terkekeh geli sambil mengetuk dagunya. "...lalu kau bergulingan di jalan beraspal? Yang itukah kau maksud?"
Mata Davina membulat. Astaga! Jadi dia benar-benar meracau, hingga membuka sendiri aibnya.
"Apa lagi yang kukatakan." Seakan tertarik oleh rasa penasaran, Davina kini berada persis di belakang Mario, memandangi lekat punggung lebar pria itu. Entah kenapa melihat punggung itu, wajahnya jadi merah padam. Aneh.
"Hm, apa ya?" Mario memutar tubuhnya ke belakang, menatap lekat sang istri.
__ADS_1
"A-apa lagi,β desak Davina, nampak gugup saat irisnya beradu pandang dengan pandangan tajam milik Mario. Ia meneguk ludah, merasakan dirinya terintimidasi di dalam ruangan sempit ini.
"Kau ingin tahu?" Mario bersidekap. Selangkah demi selangkah mulai maju kearah Davina.
Davina hanya mengangguk terbata-bata, kakinya mulai beringsut mundur saat Mario mulai mendesaknya. Hingga akhirnya dia tersudut. Punggungnya menyentuh keras lemari di belakangnya. Berulangkali Davina merutuki kebodohannya. Mengapa malah mengejar Mario sampai ke walk in-closet hanya karena penasaran apa yang diracaukannya semalam.
"Benaran ingin tahu?"
Davina mengerjap sekilas, merasakan deru napas Mario berembus menerpa wajahnya. Dengan jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma wangi tubuh pria ini.
"Sudahlah lupakan saja, bisa kau menyingkir?!" Davina berkata ketus dan menyerah, membuang wajahnya sekilas. Sosok manis ini menyentuh erat lemari di belakangnya saat tubuh besar Mario mengungkungnya, hingga tak memungkinkannya untuk lari menghindar.
"Begitu saja menyerah? Siapa tadi yang begitu penasaran akan kejadian semalam?" Mario menyeringai.
"Yeah, itu tad--- kyaaa, a-apa yang kau lakukan, Rio!" Davina memekik kaget. Matanya melotot takkala merasakan kedua tangan Mario menelusup di area pinggangnya. Menyentak tubuhnya, hingga benar-benar tak ada jarak lagi di antara mereka berdua. Otomatis wanita ini menahan napas.
Mario tersenyum geli akan reaksi sang istri padanya. Lambat laun mendekatkan wajahnya pada wajah manis Davina. Terlihat jelas rona-rona merah yang berpendaran di sana.
Entah mengapa, Davina sontak menutup mata. Mengikuti kata hatinya. Namun, tak terjadi apa-apa. Dia merasakan kalau tubuhnya sedikit beralih, lalu mendengar suara pintu lemari bergeser.
Eh bergeser? Seketika Davina kembali membuka mata. Benar saja. Ternyata Mario menyingkirkannya hanya untuk mengambil pakaian di lemari.
Mario melirik sekilas pada Davina, terlihat jelas raut wajahnya nampak kecewa.
"Kenapa, Baby? Kau kecewa karena tak sesuai harapanmu?" Mario tersenyum tipis sembari memakai jasnya.
Davina mendengkus sekilas. Kembali menatap Mario dengan dagu terangkat, berusaha mengumpulkan puing-puing harga dirinya.
"Tak sesuai harapan?!"
"Yaaah, terlihat jelas di wajahmu..." Mario mengangkat kedua belah bahu. Berbalik menatap intens bibir Davina. "...berharap aku menciummu. Bukan begitu?"
"Si-siapa yang berharap seperti itu, bodoh!" Davina berkilah dengan meninggikan volume suara, menyamarkan rasa gugup dan malunya. Matanya mendelik tajam pada punggung lebar Mario.
Setelah bisa menguasai rasa malunya, Davina segera melangkah menyusul Mario.
"Aw! Sial! Kalau berhenti jangan secara tiba-tiba!" Davina mengumpat keras, memegangi hidungnya. Ini bukan kali pertama hidung Davina berbenturan dengan punggung lebar Mario.
"Kenapa?" tanyanya ketus saat Mario hanya bersidekap menatapnya tajam.
Sudut bibir Mario membentuk seringaian tipis. "Kau ingin kugendong?"
Davina memutar bola mata. "Seumur hidup, aku takkan pernah minta hal kekanakan seperti itu."
"Oh ya? Yakin? Tak ingin mencicipi bagaimana rasanya tidur di atas punggungku yang nyaman."
"Ck! Dalam mimpimu!"
"Hm ..." Mario hanya menggumam. Kembali berbalik dan berjalan keluar dari walk in-closet, meninggalkan Davina dengan seribu pertanyaan dalam pikirannya.
"Eh, tunggu ... jadi semalam. Apa aku meracau minta digendong?" tanya Davina penasaran, terkait Mario yang bertanya seperti itu. Mengejar Mario yang telah berdiri di depan cermin menyisir rambut hitam lebatnya.
Mario diam sejenak, menurunkan sisirnya dan memutar-mutarnya, seakan sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. Lalu menggeleng kecil, membuat bibir Davina mengembang lebar. Tersenyum puas. Lega luar biasa. Seakan-akan sosok manis ini berhasil keluar dari himpitan masalah yang membelitnya.
"Seandainya iya, kenapa mesti malu? Takkan membuat dunia runtuh di bawah kakimu juga, kan," sindir Mario.
__ADS_1
"Geez, memang. Tapi, tetap saja itu memalukan." Lagi-lagi Davina berkilah, membuang pandangannya ke arah Baby El. Masih tertidur lelap.
"Well, terserah kau saja. Asal hatimu senang." Mario mengangkat kedua belah bahu dan meletakkan kembali sisir ke dalam laci.
Davina memperhatikan penampilannya, sedikit mengintip dari pantulan kaca di belakang tubuh Mario.
"Rio ... saat kau mengganti pakaianku. Kau tak mengambil kesempatankan?!" ucapnya memicing tajam.
Kali ini Mario yang menghela napas pendek, memutar tubuhnya. Menatap Davina yang bersidekap. Tampak pahanya yang putih mulus tersingkap jelas ketika baju yang dipakainya tertarik ke atas.
"Maksudmu?" tanya Mario, berpura-pura tak tahu arah pembicaraan sang istri.
"Klise sekali caramu menghindar dari pertanyaanku. Pura-pura tak tahu, huh! Biar kuperjelas. Kau-tak-meraba-raba-bagian-tubuhku-kan." Tekan Davina di setiap kosa katanya.
"Atau mungkin kau diam-diam sudah mencicipi tubuhku, kan!" Setelah mengatakan hal tersebut, Davina ingin mengutuk mulutnya sendiri. Kenapa bisa selicin ikan belut saat mengatakannya.
Mario mengernyit.
Vina. Andai aku tak memikirkan perasaanmu, mungkin saja kau sudah tak bisa bangun dari tempat tidur lagi. Vina, istriku ...
Rasanya Mario ingin tertawa lepas. Entah untuk mengejek dirinya sendiri, atau menertawai sifat naif Davina - tak berubah sama sekali terhadapnya.
"Vina. Kalau begitu kita main tebak-tebakan." Mario menyenderkan tubuhnya di meja rias, sementara tangannya bersidekap.
"Coba kau raba selangkanganmu. Apa sakit di bagian area itu? Kau mengerti maksudku, kan!"
Spontan Davina mengangga, lalu terdiam seribu bahasa. Untuk kesekian kalinya. Pernyataannya kembali dipatahkan oleh argumen Mario. Tentu saja tidak terjadi apa-apa di bagian area sensitifnya. Tak sakit sama sekali. Sudah jelas Mario tak melakukan sesuatu padanya.
"Vina."
"A-apa?" Davina tiba-tiba tergagap, saat disadarinya Mario telah berdiri di depannya. Hanya beberapa senti darinya. Lagi, dia bisa mencium aroma maskulin tubuh Mario.
"Kau mencintaiku?" tanya Mario seakan ingin meyakinkan isi hati Davina sekali lagi. Dia penasaran. Apakah sosok manis ini akan berkata jujur seperti ketika ia sedang mabuk.
Davina membola, tak siap akan pertanyaan Mario yang tiba-tiba.
"Pertanyaan macam apa itu."
"Jawab saja, ya atau tidak."
"Tidak!" Tapi saat mengatakannya Davina melengos, tak berani menatap langsung wajah Mario.
Mario hanya tersenyum tipis, lalu mengusap pucuk rambut almond Davina. Tentu saja ia takkan sakit hati saat Davina mengatakan tidak, karena dirinya sudah mengetahui jelas isi hati Davina yang sebenarnya.
"Vina! Antara jawaban ya atau tidak, itu beda tipis loh. Hati-hati. Suatu saat nanti bisa-bisa kau keseleo lidah ketika menjawabnya lagi."
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes π, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya π€π, oke π.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya π€π.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ