![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
“Ya, Tuhan. Vina!”
Seketika Mario memutar tubuh manakala mendengar teriakan sang istri di belakangnya. Ia membelalak melihat Davina terduduk seraya memeluk perut buncitnya. Takut terjadi apa-apa pada sang istri dan kandungannya, dalam hitungan detik dia melompat dan memeluk tubuh Davina, dan ....
"Arrrgh!"
Mario berteriak sekencang-kencangnya. Melepaskan rengkuhannya di tubuh berisi sang istri. Dia terjerembab jatuh, nyaris mencium lantai.
Sementara Davina tertawa cekikikan, tepat berdiri menjulang di depannya.
"Asdfghjkl ..." Mario mengerang kesal sambil memegangi perut. Baru saja kembali merasakan kejutan listrik di area pinggangnya. Ternyata sang istri menipunya, pura-pura terjatuh.
"Kau curang, Vin!" sungutnya.
"He he he! Itu hukuman dariku, Mr. Pervert!"
Davina terkekeh geli sembari menggoyangkan alat kejut listrik di tangannya. Untuk kadar volume daya listriknya, sudah dia kurangi. Takkan seperti alat kejut listrik kebanyakan, untuk membentengi dari serangan penjahat yang beberapa ribu volt tegangannya.
Kalau untuk hukuman Mario, cukup seperti digigit tawon saja. Memberinya syok terapi singkat. Tentu saja, dia masih sayang sama ayah dari Baby El dan calon anak keduanya ini. Takkan tega dia melenyapkan nyawa Mario.
"Kau senang eum, Vina!" Mario berusaha berdiri dengan sempoyongan.
Davina mengangguk cepat hingga poninya ikut bergoyang lembut. Sama sekali dia tak berniat untuk berbohong.
"Puas sekarang menghukumku, eum," lanjut pria bermata elang ini bersidekap. Sudut bibirnya ikut tersungging senyum tipis akan tawa ceria Davina - senang melihat penderitaannya tadi.
Mario mengangkat bahu. Tak masalah dia kena setrum, serta sedikit menderita akan hukuman dari sang istri, asalkan bisa menyembuhkan rasa sakit hati Davina. Semuanya tak masalah lagi baginya. Dan akan dia jalani semuanya dengan senang hati.
"No no no, belum puas." Davina menggeleng cepat, dan menggoyangkan jari telunjuknya sembari sebelah tangan di pinggang.
Rahang Mario mengeras. "Belum puas?!"
"Ya."
"Lalu, apa lagi?!" Mario bertanya gelisah. Ingin dia kabur lagi dari sang istri, tetapi dirinya dilema. Ia takut kenapa-kenapa dengan kandungan sang istri jikalau masih mengejarnya.
"Hm! Kalau begitu pijat kakiku."
Seketika bibir Mario mengembangkan senyuman lebar. Memijat Davina? Itu artinya, dia bisa menyentuh tubuh Davina yang lainnya. Mario menyeringai puas dalam hati. Sangat tak masalah kalau begitu.
"Tentu saja, Vin! Ayo!" pungkasnya nyaris melompat kegirangan, bahkan bila perlu menggendong sang istri.
Mario berjalan cepat menuju ke arah ranjang, segera menyingkirkan selimut, menepuk-nepuk sekilas tempat tidur dengan kasur empuk di atasnya. Kemudian buru-buru menumpuk bantal dan mempersilakan sang istri bersandar nyaman di sandaran kepala ranjang sembari menikmati pijatan esklusif plus-plusnya.
"Sayang. Siap dengan pijatan dariku!" Mario terkekeh geli. Meremat kedua tangan untuk melenturkan jari-jarinya, sebelum bersiap meremat yang lainnya. Kembali sudut bibir Mario menyeringai mesum. Lalu kemudian ....
Zrrrt!
"Arrrgh. Vina, sakit!" Mario berseru keras.
"Ck! Bodoh! Siapa suruh memijat dadaku, huh!" jawab Davina tak kalah kerasnya, melotot tajam pada sang suami.
"Kubilang kaki! Ka-ki! Bukan da-da! Ck! Dasar pervert!" lanjutnya mencibir akan tingkah Mario.
__ADS_1
"Hn! Iya, ka-ki, bukan da-da ..." Mario tercengir di tengah menahan erangan dan rasa kesal.
*This Is Your Baby*
"Aaah, hm! Hm!" Davina mendesah samar. "Sedikit naik lagi, Mr. Rio!" Kekehnya seraya menutup mulut, sengaja membuat sang suami sengsara.
Sedang Mario, mengerang frustasi. Berkali-kali dia mengembuskan napas berat. Astaga! Sungguh sangat menyiksa keadaan ini.
Bayangkan saja, dia hanya bisa pasrah memijat tubuh berisi Davina yang berbaring di bawahnya, tanpa bisa melakukan apapun. Apalagi mencuri-curi kesempatan. Kalau dia berani menyentuh tubuhnya maka ....
Zrrrt ....
"Pijat yang benar!" Davina mendelik tajam. Melotot pada tangan Mario yang berusaha mencoba naik ke atas pahanya.
"Iyaaa, Vin." Mario menjawab kesal. "Hm ... Vin?"
"Apa?" Davina berkata ketus sembari memejamkan mata, menikmati sentuhan pijatan tangan suaminya. Ternyata Mario pandai juga membuat otot-otot tegangnya menjadi rileks kembali.
"Sudah selesai?!"
"Belum ..."
"Asdfghjkl ... jujur, Vin! Ini benaran tak adil!" Mario mengeluh frustasi, memprotes keras hukuman dari sang istri. Astaga! Ini benar-benar menyiksa batinnya. Dia tak bisa bebas menyentuh tubuh Davina dengan adanya alat kejut listrik---sialan---itu
"Grrr, itu hukuman dariku. Kau keberatan?! Mau kutambah hukumannya malam ini?!" pekik Davina, buru-buru menyingkirkan tangan Mario dari tubuhnya melalui alat kejut listrik. Sontak Mario menghentikan pijatannya, lalu meringis. Cepat dia menggeleng.
"Tidak, Sayang. Jangan ditambah lagi!" Mohon Mario memelas.
"Geeez! Kau enak, tak merasakan hamil. Lihat kakiku bengkak begini, sakit bodoh!" keluh Davina mencebik, menatap jari-jari kakinya yang membengkak.
"Iya, maaf, Sayang. Hn! Itu karena kau keras kepala. Kan sudah dibilang sama Mommy, minta cuti. Kamunya saja yang masih ingin bekerja." Kali ini Mario yang menggerutu, kembali menyentuh jari-jari kaki Davina dan memijatnya dengan lembut.
Wanita muda ini tak menjawab lagi. Dia hanya menghela saja. Mungkin juga sudah lelah karena sudah larut malam. Samar dia menguap.
"Vin?"
__ADS_1
"Ck! Apa lagi?!"
Mario terkekeh kecil, sudut bibirnya menyeringai kecil. "Kurasa ... bibirmu juga minta dipij---"
Zrrrt!
"Asdfghjkl ..."
Lagi-lagi Mario mengumpat sembari mengerang kesakitan. Alat sialan!
"Itu jawabannya ..." Davina terkekeh. Senang rasanya melihat sang suami tersiksa tak bisa menyentuh tubuhnya. Hm! Hukuman yang setimpal bukan?
"Sudah. Fokus saja memijat jari kakiku! Jangan mencuri-curi kesempatan terus," perintahnya. Dan Mario hanya mengembuskan napas berat. Menjalani hukumannya malam ini sampai sang istri puas dan mengatakan berhenti sendiri.
"Rio?"
"Hm? Apa?" Mario balik bertanya di sela-sela dia menguap, namun tanpa menghentikan memijat kaki Davina. Jujur, sekarang dia merasakan mengantuk dan lelah, tak lagi berminat untuk berbuat mesum pada tubuh sang istri.
"Sekarang berhenti memijat, dan peluk saja aku hingga tertidur!" Davina berkata sambil berpaling tanpa melihat ekspresi Mario yang terbelalak kaget.
Dia malu untuk mengungkapkan keinginan kecilnya ini. Semenjak dia mengandung Baby El sampai anak keduanya ini. Sejujurnya, kadang dia merindukan ingin dipeluk oleh tubuh hangat Mario, membuainya hingga tertidur pulas.
"Oke!" Tanpa menunggu Davina marah lagi padanya. Mario segera berbaring dan memeluk erat tubuh berisi sang istri. Mendekapnya begitu erat.
"Nah, tidurlah yang nyenyak, Sayang. Dan juga Baby yang di sini ..." Mario tersenyum sumringah, mengelus perut buncit Davina dengan sayang. Berkali-kali mengecup pucuk kepala Davina. Sementara sebelah tangan lainnya juga mengelus lengan sang istri.
"Rio, jangan ganggu aku. Oke. Kalau ada suara sekecil apa pun, kau kuusir dari kamar ini, ingat itu!"
"Siap, Sayangku!"
Perlahan Mario memejamkan mata dengan bibirnya yang tiada berhenti menyunggingkan senyum bahagia, berharap ini bukanlah delusi sematanya. Seperti hari-hari lain yang mereka lalui sendiri-sendiri. Namun baru saja Mario memejamkan mata, tiba-tiba dia membelalak saat mendengar gedoran di pintu.
"Rio! Kakak El menangis, mau tidur denganmu!"
An;
Sekitar tiga atau empat chapter lagi cerita ini tamat.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1