This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Besok Saja Hukumannya


__ADS_3


Sudut bibirnya tiada henti mengembang. Mario tersenyum bahagia. Begitu indah senyumnya. Mencerminkan suasana hatinya saat ini.


Dia menengadah memandang lekat hamparan langit luas nun jauh di atas kepalanya dengan bertaburkan ribuan bintang berkelip-kelip. Menemaninya menikmati malam penuh ketenangan. Sembari memejamkan kedua matanya, merasakan desiran angin berembus menyapa kulit kecoklatannya. Kedua alisnya bergerak-gerak seiring pikirannya mulai mengembara, kembali melayang pada kejadian setahun lebih itu ....


Andaikan saja ...  hari itu Davina tak datang padanya, lalu menyodorkan Baby El, serta mengatakan kalimat yang tak pernah disangkanya ....


Andaikan saja ... Arlana tak memberikan petunjuk soal ayah kandung Baby El pada Davina ....


Andaikan saja ... Roxanne---ibunya---tak membenci Davina, hingga membuat sosok manisnya mengalami kecelakaan dan menyebabkannya hilang ingatan ....


Mungkin saja ... jalan hidup mereka hingga detik ini akan berbeda.


Takkan ada sebuah kebohongan yang tercipta hanya demi Davina kembali padanya.


Takkan ada kisah yang berlanjut di antara mereka berdua.


Karena dia tahu ... Davina akan membiarkannya begitu saja, melepaskan tanggung jawab atas kesalahannya selama ini. Membiarkannya tak pernah tahu bahwa selama ini dia punya seorang bayi laki-laki lucu, Baby Eleanore, anak mereka.


Mario menarik napas dalam-dalam dan diembuskannya perlahan-lahan, secara bersamaan membuka irisnya yang memantulkan warna abu-abu.


Ya. Semua itu hanyalah perandaian yang sekelumit menjadi nyata. Dan sebuah kemungkinan yang tak pernah terjadi. Hingga detik ini, dia tetap bersama dengan sosok yang mengubah jalan hidupnya, mengubah sikapnya, serta mengubah rasa sesal menjadi rasa cinta.


Mario berbalik. Menatap pintu kamar balkon yang terbuka lebar di depannya. Segera mata elangnya tertuju pada satu sosok  dengan perut buncit---bersemayam calon anak keduanya---yang tertidur damai di atas tempat tidur bertipe super king itu.


Davina. Wanita manis itu, dengan segala keindahan yang dimilikinya, adalah belahan jiwanya, cinta sejatinya. Takkan dia lepaskan sampai kapan pun. Takkan terulang lagi kesalahan bodoh yang pernah dia lakukan di masa lalu. Takkan pernah lagi!


 


 


 


 


❁ This Is Your Baby ❁


 


 


 


 


"Apa?!!"


Sontak Mario membuka kelopak mata begitu lebar. Mengalihkan ponsel ke sebelah kiri, ketika tangan kanannya meraba-raba meja nakas - menghidupkan lampu. Cahaya menyilaukan seketika memenuhi area kamar - yang tadinya remang-remang menjadi terang benderang.


"Benarkah Chase?! Kau tak sedang menggigau, kan?!" Mario bertanya nyaris berteriak. Tak percaya. Seakan dia sedang bermimpi saat ini. Di tengah malam buta begini, jauh-jauh dari kota Vancouver, Kanada. Chase meneleponnya hanya untuk berbagi kebahagiaan yang kakaknya rasakan saat ini. Marie postif hamil.


"Wow, selamat Chase." Mario berujar penuh semangat. Nampak dalam nada bicaranya begitu bahagia dan gembira. Sontak menutup mulut. Buru-buru melirik cepat pada sosok yang masih tertidur pulas di sampingnya.


"Akhirnya ... Setelah tiga tahun dalam penantian. Kalian diberi juga kepercayaan oleh Tuhan," lanjutnya sembari mengecilkan suaranya di sela-sela mengelus punggung sang istri - menenangkannya. Sosok manis ini mulai terganggu tidurnya karena teriakannya tadi. Sudah menjadi kebiasaan Davina sejak hamil. Takkan bisa tidur nyenyak kembali ketika ada orang yang berisik di sampingnya.


Benar saja. Selesai dia menutup telepon, mengakhiri percakapannya bersama Chase. Saat itu pula, mata Davina terbuka lebar, beradu pandang dengan mata elangnya.


Glup!

__ADS_1


Mario meneguk ludah. Oh astaga! Dia lupa. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Hukumannya masih berlanjut dari sang istri. Justeru kini menambah singa betinanya makin mengamuk, karena telah mengganggu acara tidurnya.


"Mr. Riooo!"


 


 


 


 


 


❁ This Is Your Baby ❁


 


 


 


 


"Asdfghjk ..."


Entah untuk keberapa kalinya, umpatan tak jelas keluar dari belah bibir Mario saat ini. Dia terus meracau, terngangga dengan mata tak berkedip. Memandang nelangsa pada kolam yang baru saja dikurasnya sore kemarin. Sekarang hanya menyisakan dua ekor ikan nila di dalam kolam yang lumayan luas ini--- hn! Lumayan ... menguras tenaga, menangkap ikan tersebut hanya menggunakan jaring kecil.


"Vin? Kau bercandakan?" Mario meneguk ludah, menatap memelas pada jaring kecil di tangannya. Jaring yang biasa digunakan sang mertua menangkap kupu-kupu ataupun serangga buat Eleanore, ketika bermain di taman halaman rumah mereka. Diletakkannya jaring tersebut kedekat kakinya, sembari mengembuskan napas berat.


"Tidak!" Davina menggeleng cepat. "Apa aku kelihatan bercanda?" sambungnya dengan balik bertanya serius. Menunjuk ke wajahnya sendiri tanpa ada ekspresi sama sekali di sana.


"...ini sudah larut malam, Sayang." lanjutnya menghela napas tak kentara. Meraih tangan Davina dan mengelus punggung tangan itu dengan lembut. Menyalurkan rasa hangat di kulitnya yang membeku.


"Besok pagi saja ya hukumannya dilanjutkan. Oke, Sayang." Mario berkata serak. Menyunggingkan senyuman lebar - berupaya membujuk sang istri agar tak jadi menghukumnya.


"Tidak! Tidak! Tidak!" Davina berteriak sengit, membantah cepat seusai mengibaskan tangannya dari genggaman Mario.


Dia kesal. Sudut bibirnya menekuk ke bawah. Mencebik. Sesekali menggigiti bibir cherry-nya bersamaan memasukkan kedua tangan ke saku mantel tebalnya. Samar mulutnya mengeluarkan suara desisan - menahan hawa dingin yang berembus di sekitarnya dan menerpa wajahnya.


"Siapa yang duluan menggangu tidurku tadi ..." katanya menggerutu sebal. Menyibak poninya ke samping - menjuntai menghalangi pandangannya itu. Buru-buru memasukkan kembali tangannya yang kedinginan akibat menyentuh rambutnya.


"Aku tau, Vin. Tapi--- Huft, lihatlah!" Mario menarik tudung mantel berbulu itu kembali ke posisi semula - di kepala Davina.


"Kau kedinginan begini, besok pagi saja ya dilanjutkan,"


Lagi, Mario berusaha membujuk Davina. Tak sengaja ekor matanya mengerling ke air kolam yang beriak tenang. Sontak dia menggigil, seakan merasakan dinginnya air kolam itu telah menyentuh kulitnya. Menggeleng tak kentara. Dengan lembut menepuk bahu sang istri.


"Ayo, Sayang! Kita kembali ke kamar, lebih baik kita tidur la---"


"Tidak akan! Sebelum hukumanmu dilaksanakan!" Davina mulai meninggikan valume suaranya. Sontak mengibaskan rangkulan Mario yang berusaha membawanya kembali ke kamar.


"Astaga, Vina!" Mario mulai mengerang frustasi. Hingga kini, satu sifat sang istri yang belum bisa ditoleransinya, sikap keras kepalanya.


"Ayolah Mario! Tangkap satuuu saja ikannya, ya, ya..." Mohon Davina sambil menangkup kedua tangan di depan dada.


"Aku ingin makan ikan goreng dengan saus tiram," lanjutnya merengek. Menarik-narik ujung mantel Mario--- mirip Eleanore, ketika batita itu menginginkan sesuatu padanya.


Sementara pria bermata elang ini hanya diam bergeming, menatap datar wajah manis sang istri. Tak mempankah rayuan Davina kali ini? Davina menggembungkan pipinya. Huft!

__ADS_1


"Riooo! Kau tahu?!"


"Ya?"


"Saat ini aku sedang mengidam ikan goreng lho, he he he." Davina menyengir lebar seraya mengelus perut buncitnya.


"Jadi Mr. Ri---Awww! Bodoh! Kenapa kau malah menyentil keningku!" Davina berteriak keras.


"Dasar bedebah siluman!" makinya memberikan tatapan membunuhnya, lalu menginjak keras kaki sang suami di sela-sela mengelus keningnya yang di sentil Mario tadi.


"Errgh! Vin-na ..." Balik Mario yang mengerang.


"Itu balasan dariku, Mr. Rio!" Davina cepat-cepat menutup mulut, menahan tawa geli ketika Mario tertunduk mengelus kaki. Meringis kesakitan.


"Astaga, Vina! Kau itu seperti buku yang terbuka." Mario menghela napas pendek. Kembali berdiri tegak. Dengan kedua tangan terlipat di atas dada menatap serius sang istri. "Kau tak pandai berbohong, Vin."


Davina segera menghentikan tawanya. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?!"


Mario mendesis samar. "Ck! Aku tau kau tak lagi mengidam, Vin. Jadi ..."


"Kyaaa, turunkan aku Riooo."


Tanpa banyak bicara lagi, Mario mengangkat tubuh berisi Davina, membawanya dengan bridal style, kembali masuk ke rumah mereka. Menghiraukan teriakan-teriakan protes dari sang istri. Mengabaikan tangan Davina yang terus memukuli tubuhnya. Menendang kakinya ke segala arah. Terus berontak dari gendongannya.


"Ayolah, Rio! Tangkap satu ikan untukku ya, ya, ya."


"Besok pagi kubelikan kau 10kg ikan, sampai tak sanggup lagi memakannya," balas Mario, mengencangkan dekapannya di tubuh sang istri.


"Tidak mau, aku ingin kau tangkap sendiri!!"


"Aduh! Aku tak dengar apapun!" Goda Mario seraya menendang daun pintu di belakangnya, terus berjalan melewati dapur menuju tangga.


"Riooo, ini permintaan anakmu lho, dia ingin makan ikan goreng!"


"Bukan permintaan bayinya, tapi kamu yang mau, Vin." Mario menyeringai. Berulang kali mencuri kesempatan saat sang istri---sedari tadi---meracau. Terus-menerus menciumi bibir cherry yang mengerucut itu.


"Riooo! Aku ingin kau menjalani hukumanmu sekarang juga!" usai berkata, buru-buru Davina menutup mulut rapat-rapat,  memutus rantai ciuman bibir Mario ke bibirnya.


"Siapa yang mau menjalani hukuman di tengah malam buta begini, Vina!" Mario mendengkus sebal, kesal akan ucapan Davina, serta kesal akses ciumannya ditutup secara sepihak.


Davina membelalak. Naik pitam ketika mendengar kekesalan sang suami. Secepat kilat menarik rambut pendek bagian belakang Mario.


"Geez, dasar kingkong! Bedebah mesum! 💢"


"Arrrgh, jangan tarik rambutku, Vin!"


"Grrr! Tak peduliii! Biar botak sekalian! 💢"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2