This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Tidak Disangka [2]


__ADS_3


 


Davina berjalan mengikuti Ravi dari belakang seraya memandang punggung lebar pemuda itu. Gadis ini hanya diam saja tanpa mengajukan pertanyaan. Bagai robot mengikuti ke mana arah Ravi membawanya. Keduanya terus melangkah menaiki lift apartemen. Beberapa menit kemudian. Mereka telah berhenti di depan pintu dengan Ravi yang segera membuka pintunya.


"Masuklah, Vin---"


"Astaga Ravi, ke mana saja kau. Mengapa baru mun...cul."


"Ya Leo be...nar, eh?? Si-siapa dia, Rav?"


Belum sempat Ravi berbicara, ucapannya terpotong oleh pertanyaan dua pria di depannya. Pemuda ini tidak menjawab. Begitu saja melintasi teman-temannya dan bergegas menarik tangan Davina. Sama bengongnya dengan kedua pria di depannya.


Kedua pria itu pun setia mengikuti langkah Ravi yang membawa Davina - langsung menuju ke kamarnya.


"Ravi, jelaskan siapa dia? Pulang-pulang ke asrama, kau malah membawa gadis manis dan seorang bayi."


"Benar yang dikatakan Keenan, apa dia selingkuhanmu dan anak gelapmu?" timpal Leo.


"Diamlah, Leo!" bantah Ravi dingin, terus menarik tangan Davina.


Sementara Davina, melotot akan ucapan teman-teman asrama Ravi. Mengiranya dia selingkuhan Ravi. Serta Baby El adalah anak mereka? Yang benar saja. Sudut bibir Davina nyaris tertarik ke atas ingin tertawa. Mirip dari mananya Baby El yang manis dengan wajah urak-urakan Ravi? Seketika Davina meringis.


"Aih, ketus sekal---"


"Leo, kau tidur di kamar Keenan saja malam ini ya," potong Ravi cepat dan menutup kasar pintu kamarnya.


 


Brak


 


"Sialan. Dasar roommate kurang ajar!" teriak Leo marah di balik pintu.


Davina hanya mematung akan kejadian-kejadian tadi dan mendengarkan teriakan umpatan kekesalan dari teman-teman Ravi.


Kembali gadis ini mengangga lebar dengan mata terbelalak. Menatap kondisi kamar tidur di depannya - seolah-olah baru saja terjadi gempa bumi lokal.


"Maaf. Sangat berantakan sekali, Vina." Ravi tercengir lebar menyadari akan reaksi Davina.


"Eh?" Davina tersadar dari rasa terperangahnya. Buru-buru dengan gugup menambahkan ucapannya, "ah ... y-ya tak apa-apa kok ..."


Davina tersenyum canggung sambil menatap Ravi yang segera membereskan pakaian di atas ranjang - menggulungnya jadi satu lalu dilemparkannya lagi ke lemari? Davina menggaruk kepala akan aksi ajaib pemuda itu.


Ravi kemudian berbalik. Tercengir semakin lebar ketika Davina memperhatikan kegiatannya tadi.


"Maklumi saja ya, Vina. Malas cuci. Lagi pula hanya satu kali dipakai, he he he ..." Ravi mengusap tengkuk, jadi serba salah tingkah.


"...istirahatlah di sini. Aku keluar sebentar, menemui teman-temanku dahulu," lanjutnya seraya menutup kembali pintu kamarnya.


Davina mengedikan bahu. Maklumi saja. Namanya juga kehidupan anak band di asrama. Mungkin saja isinya ... dihuni laki-laki--- jorok? Gadis ini meringis membayangkannya.

__ADS_1


"Baby El, untuk sementara ... kita tidur di sini malam ini," bisik Davina lembut sambil menidurkan Baby El ke atas tempat tidur. Cukup bersih dari tempat tidur satunya. Davina terka, tempat tidur kusut di sebelahnya, pasti milik Ravi. Sedangkan yang rapi ini milik temannya,--- mungkin, itu hanya tebakannya saja. Mengingat Ravi tadi mengambil baju berserakan dari tempat tidur di sana.


 


Cklek


 


"Vina, aku mandi di kamar sebelah, ya. Teman-temanku sudah kuusir semuanya di asrama ini. Jadi, kau bisa bebas melakukan apa pun. Tak usah sungkan-sungkan, oke." Ravi berujar panjang lebar. Tanpa menunggu jawaban dari Davina, pemuda itu menutup kembali pintu kamarnya.


Astaga! Tidak usah sampai mengusir temannya segala, kok. Aku juga tidak keberatan, Davina membatin seraya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian irisnya beralih ke jam dinding, pukul sembilan malam. Gadis ini menguap kecil, lalu merebahkan tubuhnya di samping Baby El.


"Baby El. Do'akan saja semoga kakaknya Ravi, bisa membantu kita memberikan alamat Mario Archielo." Davina bergumam sembari menepuk lembut butt Baby El, sebelum akhirnya gadis ini pun benar-benar terlelap ke alam mimpi.


Davina tersentak kaget dari tidurnya. Terkejut mendengar suara bel pintu, terus-menerus berbunyi tanpa henti. Tak adakah salah satu penghuni asrama membuka pintu itu? Ke mana Ravi?


Davina melirik ke jam dinding, pukul sepuluh malam. Dia tidur sudah satu jam lamanya. Gadis ini menggigit bibir. Dia ragu. Apakah dia saja yang membuka pintu asrama tersebut? Bolehkah? Kalau misalnya dia diamkan saja suara bel yang mengaum itu, bisa-bisa Baby El ikut terjaga dan menangis.


Baiklah, Davina memutuskan untuk membuka pintu asrama. Kebetulan kamar yang ditempatinya di lantai satu. Berjalan beberapa langkah saja, Davina telah berada di ruang tamu. Dan segera membuka pintunya.


"Astaga, Ravi. Mengapa baru sekarang kau mengatakan, kalau sak---"


 


Degh


 


Davina mengerutkan dahi. Meraba dadanya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kuat ketika memandang pria bermata bulat di depannya. Kini pria itu juga diam membeku - menghentikan ucapan panjangnya, terpaku menatapnya.


"Oh, kakak akhirnya datang juga." Ravi menyela keterpakuan Davina dan pria asing di depannya.


Eh, kakaknya Ravi? Davina secepatnya berbalik. Menatap Ravi yang menyenderkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Sementara matanya, menatap tajam mata elang kakaknya.


"Ravi ..."


Astaga, jantungku, Davina seketika meraba dadanya manakala mendengar suara berat pria di sampingnya. Hampir saja membuat jantung gadis ini melompat ke luar dari tubuhnya. Suaranya begitu serak, serta menahan perasaan kompleks. Entahlah. Davina terka, pria itu sangat syok sekali akan sesuatu.


Kembali dahi Davina berkerut dalam.


Rasanya, aku pernah dengar suara berat ini, sungguh sangat tak asing di telingaku.


Tapi di mana, ya?


Davina mengusap-usap keningnya, mencoba mengingat sesuatu.


"Yup! Kalau kutelepon, mengatakan aku baik-baik saja. Kakak takkan mau datang ke sini. Jadi kubilang saja kalau lagi sakit."


Eh? Kerutan di dahi Davina semakin beranak pinak saat mendengar jawaban ketus dan dingin Ravi. Ada apa antara Ravi dan kakaknya yang bermata bulat ini. Sepertinya sedikit tidak akur. Bila dibandingkan dia dengan kakaknya, Arlana. Mereka sangat rukun dan saling menyayangi.


"Ravi ..."


Bulu roma Davina merinding saat kembali mendengar suara itu. Gadis ini tertegun kala ditatap ambigu oleh kakak Ravi. Meski pria ini memanggil Ravi, namun matanya menatap intens dirinya.

__ADS_1


Jangan lupakan, aura dominasi yang kuat di sekitarnya, membuat seseorang tidak bisa berkutik di depannya. Sekilas Davina menangkap pandangan sayu di iris abu-abu itu.


"Ya, aku membantu Vina mencari alamat seseorang," ujar Ravi mengalihkan pembicaraan yang tidak dimengerti Davina sebelumnya.


"Alamat seseorang?"


"Kurasa kakak yang lebih berhak memberikan alamatnya secara langsung."


Eh? Davina menggaruk kepalanya mendengar jawaban ambigu Ravi.


"Vina mencari alamat Mario Archielo, untuk memberikan sesuatu ... hadiah natal, mungkin?" sambung Ravi, sudut bibirnya menyeringai samar.


"Hadiah? Untuk---"


Davina memiringkan kepala, hanya mendengarkan percakapan ambigu kakak beradik itu. Sungguh aneh. Apalagi ketika kakak Ravi diam, tak melanjutkan ucapannya, malah tiada henti menatap dirinya.


"K-kata Ravi, a-anda bisa membantuku, m-memberikan alamat Ma-Mario Archielo ..." Tiba-tiba saja Davina diserang rasa gugup luar biasa ketika berbicara langsung dengan sosok pria bermata bulat di depannya ini.


Davina menelan ludah manakala pria itu hanya diam saja. Entahlah, gadis ini tak mengerti akan diamnya karena apa.


"Ayolah kakak, berikan saja alamatnya!" Ravi menyela.


Pria itu mengembuskan napas. Merogoh saku di balik jas hitamnya. Mencabut satu kartu nama di dalam dompetnya.


Untuk kesekian kalinya Davina mengerutkan dahi menatap kartu nama Mario Archielo pada pria itu.


Eh, mengapa banyak sekali kartu nama itu dengan pria bermata bulat ini?


Siapa dia sebenarnya?


"Ini," ujar pria itu dingin sambil menyodorkan kartu nama pada Davina.


"Terima kasih." Davina tersenyum lega takkala mendapati kartu nama itu - sama persis yang hilang dicuri tadi.


Pria itu berbalik menatap tajam Ravi. Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Kau Ravi, pulanglah! Setahun lebih kau tak menginjak mansion kita. Chase merindukanmu, juga Bella, Daddy dan Mommy."


"Ya, aku tahu itu." Ravi menjawab acuh.


Kembali kakak Ravi berbalik menatap ambigu Davina. Sangat sulit gadis ini artikan dari pandangannya itu.


"Vina ... aku penasaran. Hadiah apa yang kau berikan untuk seseorang itu." Pria tampan bermata bulat itu berbisik lembut, membuat sekujur tubuh Davina meremang dan lemas seketika.


Beberapa detik Davina terpaku, hanya menatap bingung punggung lebar pria asing itu. Gadis ini memiringkan kepala kala pria itu mengetahui namanya.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like, vote dan komentarnya biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di next chapter 🤗💜💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2