![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
Kegelapan masih betah menyelimuti. Walau fajar telah datang, cahayanya nampak redup. Kalah dari pekatnya musim dingin. Mario mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap kembali wajah damai yang bersandar di dadanya. Tertidur lelap dalam rengkuhannya. Mata elangnya sekilas mengerling pada box bayi di belakang Davina. Sudut bibirnya tersenyum tipis. Andai Davina tahu apa yang dilakukannya semalam. Mungkin sosok ini berang padanya. Karena dalam pelukannya sekarang, bukan lagi Baby El, melainkan dirinya-lah.
Tangan Mario mengerat di pinggang ramping Davina. Kepalanya tersuruk di persimpangan bahu dan leher putih itu. Menyesap aroma yang menguar di tubuh serta rambut wanita-nya. Sesekali tangannya menepuk lembut punggung sosok manisnya yang menggeliat kecil. Mencari posisi yang nyaman dalam rengkuhannya.
Satu hal Mario sadari. Selama ini dirinya tak pernah memperhatikan, atau malah tak pernah merasakannya seumur hidup. Bila membuka mata pertama kalinya. Mendapati sosok yang dicintai dalam pelukan. Memandangi lekat wajah yang dicintai. Bisa menimbulkan efek bahagia yang begitu dahsyat untuknya. Ia berharap. Waktu janganlah cepat berlalu. Agar dirinya bisa berlama-lama merasakan hal yang sama seperti ini setiap paginya. Terbersit sesal singgah di hatinya. Mengapa tak dari dulu dia merasakan hal seperti ini.
Jari-jari panjang Mario menyusuri lekuk-lekuk wajah Davina. Merasakan halusnya kulit yang bersentuhan langsung dengan jarinya. Menciptakan sensasi gelenyar di dalam tubuhnya. Ia semakin berani mengeksplorasi wajah Davina dengan jarinya. Mengusap keningnya, menyentuh kedua alisnya, menjepit hidungnya, mengelus bibir cherry pink itu berlama-lama. Berulang kali dilakukannya. Hingga tak disadarinya, perbuatannya mengusik ketenangan sang pemilik wajah. Berangsur-angsur, kelopak di balik bulu mata indah itu terbuka dan membelalak.
"Dasar **** mesum!!" Seketika Davina menendang Mario.
Tak sempat Mario mengelak dari tendangan Davina. Butt pria ini sukses berat mencium lantai dingin di bawah tempat tidur.
Brak
Bersamaan pintu terbuka lebar, Davina melompat dari ranjang. Secepat kilat memeluk dan mengusap-usap kepala Mario. Roxanne dan Lily muncul di ambang pintu dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi, Rio!"
"Kakak?"
"Hubby," timpal Davina.
"....." Mario terpaku akan perlakuan Davina. Berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Memanggilnya Hubby - untuk kedua kalinya. Mengusap-usap kepalanya yang menempel di dada wanita manis ini. Menciumi dahinya. Memeluknya dengan erat. Samar pria ini mencium aroma khas Davina.
"Rio?"
"Kakak?"
Mario tergagap dari kesiapnya. Ia berdeham. Mengembalikan raut wajah dinginnya di depan ibu dan adiknya.
"Mommy, Lily. Kalian mengganggu saja." Mario berucap datar. Memasang raut wajah keberatan, menyamarkan senyum sumringahnya.
"Padahal baru mulai season ketiga di lantai," lanjutnya. Mengabaikan tatapan membunuh di atas kepalanya. Sekalian saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Baby, kita teruskan kemesraannya. Abaikan saja mereka. Ayo, cium lagi dahiku.” Mario tercengir.
"Baiklah, Hubby." Davina menjawab dengan gigi gemeletuk samar. Di bawah tatapan tajam Roxanne dan Lily, Davina mencium kembali kening Mario. Seketika hati Mario berbunga-bunga bahagia.
"Aih, kupikir tadi apa." Lily bersungut kecewa. Tak sesuai ekspektasi yang diharapkannya. Berharap melihat Davina diperlakukan kasar oleh Mario. Namun malah sebaliknya. Acara lovey-dovey di pagi hari.
"Ck! Tontonannya sama sekali tak menarik." Roxanne mencibir. Berputar badan. Meninggalkan sepasang suami istri ini.
"Baby. Sekalian elus juga buttku. Karena yang sakit di sana, bukan kepalaku." Mario berbisik. Menatap Davina yang masih setia mengelus-elus kepalanya.
"ASTAGA!" Davina tersadar apa yang dilakukannya. Mendorong keras tubuh Mario darinya. Melompat kembali ke atas ranjang. Menyusup cepat ke dalam selimut.
"Elus pantatmu? Mau dicakar, huh?" lanjut Davina mendelik tajam.
Mario terkekeh geli. Beringsut bangkit menahan ringisan. Untuk kedua kalinya Davina mendorong tubuhnya sekuat tenaga.
"Tentu saja tidak, Baby. Ah, lupakan saja." Mario membuka kenop pintu.
"Perasaan tadi ... ada yang memanggilku, Hubby?" Mario menaik-turunkan alisnya. Geli melihat wajah wanita-nya yang memerah.
"Kenapa semalam tak mengunci pintunya, hah!" pekik Davina memutar arah pembicaraan.
"Kelupaan, Baby. Lagipula tak masalah. Kecuali, kalau kau ingin berolahraga malam denganku. Baru kukunci pintunya." Mario mengedipkan mata. Kekehan puas tercetak di bibir sensualnya. Meninggalkan Davina yang melempar bantal di balik pintu yang tertutup rapat.
*This Is Your Baby*
__ADS_1
"Ya ampun, Rio! Lagi-lagi kau yang memasak?" Roxanne bersedekap dada. Memandangi punggung lebar putranya. Memasak di balik counter dapur.
Mario mengangkat bahu - tanpa menoleh sama sekali pada Roxanne. Tetap melanjutkan memotong sayuran hijau. "Tak apa, Mom."
"Tak apa? Bagiku ini masalah, Rio. Mana Davina! Ini tugasnya sebagai istri. Menyiapkan masakan dan keperluan suaminya."
Mario menghela napas pendek. Roxanne tak sadar akan ucapannya sendiri? Selama ini, dia belum pernah melihat ibunya memasak untuk ayahnya dan anak-anaknya. Sepenuhnya diserahkan pada asisten rumah tangga.
"Mom, Vina lagi mengurus Baby El di kamar."
"Kalau begitu tunggu saja, Rio. Mommy tak mau melihatmu seperti pembantu Davina." Roxanne berkata kesal. Menarik kasar kursi di belakangnya. Duduk bersilang.
"Nah, ini orangnya," sinis Roxanne. Memperhatikan Davina yang mengabaikannya. Mendudukkan Baby El di kursi khusus bayi.
" Davina, gantikan Rio memasak. Kau Rio, menyingkirlah dari sana!" Roxanne memberi perintah pada Davina.
"Eh? Menggantikan Rio memasak?"
"Pakai tanya lagi. Itu tugasmu!" Roxanne mencibir ekspresi Davina. Terkejut, baru menyadari kehadirannya di ruangan ini.
"Mommy, sudah kubilang tak apa-apa. Baby, sebaiknya kau man---"
"Tidak bisa, Rio. Kau tak boleh memanjakannya. Dia makin keras kepala padamu. Dan akhirnya menginjak harga dirimu," bantah Roxanne sengit. Melemparkan tatapan membunuh pada Davina.
"Tapi, Mom, Vina belum pandai memasak. Biarkan saja dia kursus belajar memasak dahulu." Mario memberi alasan. Itu ada benarnya. Davina jadi teringat omelan ibunya. Jadi ini yang dimaksudnya. Menyuruhnya untuk belajar memasak.
"Bagiku, Vina bisa memasak atau tidak. Itu tak masalah," lanjut Mario mengangkat kedua belah bahu.
"Cukup, Rio! Kau tak usah membela dan melindunginya. Dan kau, Davina, tunggu apa lagi. Cepatlah memasak!" Roxanne mendesak Davina.
"Mom---"
"Mommy tak mau dengar pembelaan darimu, Rio!!" Roxanne mulai gerah.
"Baiklah, aku yang memasak." Davina mendorong tubuh Mario keluar dari balik counter dapur. Pria ini menyerah. Meski hatinya berat, menyerahkan Davina mengendalikan dapurnya.
*This Is Your Baby*
"Astaga! Rio, bisa kau hentikan Davina. Lama-lama dapurmu akan hancur." Roxanne menatap nanar antara dapur dan putranya. Mario sedang bermain bersama Baby El dalam pangkuannya, di sofa ruang keluarga. Sementara Lily baru saja bangun dari tidurnya. Terganggu akan kegaduhan di pagi buta. Bagai suami istri yang sedang bertengkar hebat. Melempar dan menghancurkan benda-benda dapur.
"Aku tak bisa menghentikannya, Mom." Mario mengangkat bahu. "Siapa tadi yang menyuruhnya memasak," sindirnya halus.
"Aish." Roxanne menggerutu, tak sanggup lagi berkata-kata. Membiarkan saja suara gaduh di dapur berhenti dengan sendirinya.
Sejam kemudian, sunyi senyap. Tak ada lagi suara berisik di dapur. Roxanne menghela napas lega. Meraba perutnya yang juga keroncongan.
"Perhatian semuanya. Masakan sudah siap! (=^▽^=)"Davina muncul. Di balik wajahnya yang penuh dengan remahan tepung, ada senyum aneh menghiasi.
*This Is Your Baby*
__ADS_1
Mario tertawa keras dalam hati, nyaris sakit perut. Melihat ekspresi wajah ibu dan adiknya. Rahang mereka mengeras menatap hidangan di atas meja. Mengingatkannya akan pengalaman pertama kalinya di rumah Davina. Sudah sedari awal dia katakan, bahwa Davina masih perlu kursus belajar memasak. Tapi, ibunya malah keras kepala.
Mario memberikan Baby El pada Davina. Mengecup bibir wanita-nya sekilas. Inilah kesempatannya. Davina tak bisa marah padanya. Karena si manis terjebak sendiri akan ucapannya. Menunjukkan cara mencintai di depan ibu dan adiknya. Sedang Davina terkesiap karena Mario berani mencium bibirnya. Namun, apa daya dia tak mampu melarangnya.
"Morning kiss, Baby." Mario mengedipkan mata. Mengelus puncak kepala Davina. Sementara Roxanne dan Lily terbelalak untuk kesekian kalinya, akan tingkah Mario yang tak biasa.
Davina mengerling pada dua wanita itu. Mendengkus keras padanya. Dalam hati Davina terkekeh puas akan reaksi keduanya. Kali ini, ia takkan membiarkan dua wanita ini merusak hubungannya dengan Mario - seperti di masa lalu.
"Hubby, aku lapar. Tapi tak mungkin kita makan yang ini, kan." Davina merengek manja. Menarik-narik ujung kaus Mario.
"Bagaimana kalau kita sarapan di luar saja, Baby?" Mario makin semangat. Bahkan merengkuh Davina ke dalam pelukannya. Bahagia mengambil alih suasana hatinya. Tersulut akan panggilan sayang Davina padanya.
"Mau~ Mau~"
Telinga Mario mengembang lebar. Senyumnya tercetak jelas di belah bibirnya. Jantungnya menggila akan respon manja wanita-nya. Memutar tubuh Davina. Mendorongnya lembut. Berjalan backhug menaiki tangga. Meninggalkan Roxanne dan Lily dengan wajah masam. Tak pernah sama sekali mereka menemui hal tersebut di masa lalu.
"Mom. Jujur! Aku ingin sekali kak Rio kembali seperti dulu. Bersikap dingin pada Davina. Mengabaikannya. Bukan sebaliknya pada kita." Lily mengerucutkan bibir. Terduduk lesu. Menahan perih perutnya yang kelaparan. Gadis ini meringis melihat masakan di atas meja makan. Gagal mereka sarapan pagi ini.
"Mom, sepertinya usaha Mommy harus lebih keras lagi." Lily berbisik. Melirik kanan-kiri di sekitarnya.
"Mommy tahu, Lily. Biarkan Mommy berpikir." Roxanne mengurut pelipisnya. Apa yang salah dengan tindakannya. Padahal dia bahagia Davina hilang ingatan. Takkan mengganggu keluarga Archielo lagi. Tapi sebaliknya yang terjadi. Arlana malah mendorong Davina kembali ke keluarga Archielo.
Gadis itu padahal sudah mati---
"Mommy, Lily lapar." Lily merengek, menarik-narik ujung gaun Roxanne. Membuyarkan rencana-rencana yang Roxane tersusun di kepalanya.
*This Is Your Baby*
"Jangan cemas, Baby, aku ada di sisimu." Mario berbisik lembut. Mengusap punggung sosok manisnya. Pria itu menyadari, Davina menghela napas lega setelah keluar dari ruang makan.
"Kita sudah tak di depan mereka lagi. Lepaskan tanganmu." Davina menggeliat kecil, berharap Mario melepaskan backhugnya. Lagipula, rasanya jadi tambah berat dan lama menaiki tangga bila seperti itu.
"Tidak. Panggil aku Hubby, seperti tadi. Baru kulepaskan." Sudut bibir Mario menyeringai.
Davina memutar bola mata. "Baiklah."
"Arrgh! Baby, aku minta dipanggil Hubby." Mario mengerang tertahan. Tangannya memegangi perutnya yang disodok dengan sikut Davina. Bukan ini yang diharapkannya.
"Baby, mulai dari sekarang. Kau membiasakan memanggilku seperti itu," lanjut Mario tersenyum lebar di tengah rasa sakitnya.
"Sampai matamu jadi segaris. Baru kupanggil, Hubby." Davina menjulurkan lidah. Terkekeh senang. Melangkah cepat menaiki tangga. Meninggalkan Mario yang menatap sayu punggungnya hingga hilang di balik pintu. Resah mendominasi hati Mario. Selalu begini. Bila dia sendirian. Rasa bersalahnya akan menguap naik kepermukaan. Menohoknya.
Mario berbalik. Ekspresinya makin dingin menatap ibu dan adiknya - entah kapan sudah berada di belakangnya. Kerutan samar hadir di dahinya. Dalam sepersekian detik. Mata elangnya cepat menangkap kilatan senyum ganjil Roxanne.
"Kami ikut kalian sarapan di luar."
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1