![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
"Berapa kali kukukatan pada Mommy, jangan ganggu DAVINA lagi!"
Roxanne terkesiap di sofanya, bahkan jantungnya nyaris melompat keluar saat mendengar suara teriakan Mario saking kerasnya - memenuhi ruangan berAC full ini.
Beruntung kamar tidur miliknya kedap suara. Jadi, seberapa pun orang berteriak---sekuat tenaga---takkan ada yang mendengarnya. Satu hal lagi, Roxanne sangat bersyukur dalam hati. Andrew, suaminya tak berada di kamar ini, atau lebih tepatnya lembur keluar kota.
"Apa ini sudah jadi hobi Mommy merusak rumah tanggaku?" Mario menatap tajam Roxanne.
Perempuan itu tetap memasang wajah datar, meski sebelumnya dirinya sempat diguncang badai dahsyat. Namun, seakan tak terpengaruh. Roxanne bisa membalik keadaan, seperti Mario. Mungkin turunan dari Roxanne-lah, Mario pandai mengendalikan perasaannya sedemikian rupa di depan lawannya.
"Apa maksudmu, Rio?! Mommy tak mengerti. Merusak rumah tanggamu? Mengganggu Davina lagi?!"
"Jangan berpura-pura lagi, Mom. Aku sudah tahu semuanya."
"Mengetahui soal apa?!"
"Astaga! Lupakan saja, Mom." Mario berucap pahit.
Kali ini Mario kalah dari Roxanne. Ia tak bisa mengendalikan perasaannya, menghadapi Roxanne yang pandai berkelit. Berulang kali pria muda ini mendesah frustasi saat menatap wajah sang ibu baik-baik saja, meski dirinya telah mencelakai sang menantu. Dengan mengirim orang suruhannya menculik Davina.
Dan sikap tak peduli serta angkuh Roxanne, sukses memancing amarah Mario semakin meluap. Terlihat jelas urat-urat halus di tangan Mario ketika mengepalkannya. Ingin rasanya ia meninju seseorang untuk saat ini. Andai Roxanne bukanlah ibunya, mungkin ....
Mario mengusap wajahnya, menurunkan emosinya sedikit. Ya, walau bagaimana pun. Roxanne tetaplah ibu kandungnya, seorang wanita yang rela menahan rasa sakit demi bisa melahirkannya ke dunia ini. Ada pepatah mengatakan, sejahat-jahatnya kedua orang tua padamu. Bagaimana pun juga kau harus tetap menghormatinya.
"Mom, jangan mengganggu Vina lagi! Jangan membuatku menjadi anak durhaka dengan melawan Mommy demi membela istriku!" lanjut Mario, menyiratkan gurat kekecewaan dalam suara seraknya, namun volumenya tak beranjak turun barang sedetik pun.
Roxanne mendengkus mendengar nada frustasi putranya. Dan ia juga tak mengharapkan Mario berbuat demikian, menjadi durhaka padanya.
"Ck! Itu artinya kau tetap memilih Vina, meski Mommy menyuruhmu meninggalkannya!" sindir Roxanne sengit. Sangat tak suka akan tindakan Mario, sebegitunya melindungi Davina.
Mario menghela napas berat. Melonggarkan dasinya yang perlahan-lahan mencekiknya, seakan-akan ikut menekan perasaannya.
"Tentu saja, Mom. Aku bersumpah, takkan meninggalkannya, apa pun yang terjadi."
Roxane mencela keras akan sumpah Mario. Meluncur bebas tanpa dicerna terlebih dahulu. "Kau terlalu cepat bersumpah Mario. Seharusnya kau menimbang lagi siapa itu Davina. Apakah memang baik untukmu."
"Terserah, aku tak peduli." Mario mengangkat kedua tangan. "Dimataku, Vina-lah yang terbaik untuk hidupku."
Roxanne memutar bola matanya.
"Dan kenapa, Mommy sangat membenci Vina? Apa salah Vina pada Mommy?" tanya Mario seakan menyuarakan kembali isi hati Davina ketika mabuk semalam.
"Kalau ada asap, tentu ada api. Kurasa Mommy tahu maksudku, kan." Tekan Mario saat Roxanne tak menjawab ucapannya tadi.
Roxanne terdiam. Sekilas Mario melihat pandangan mata Roxanne yang bergerak gelisah. Memancarkan ketakutan luar biasa.
"Tak ada penyebab apapun Rio. Mommy membencinya karena dia tak sepadan dengan keluarga kita, itu saja."
"Ck! Kuakui Mommy memang pandai berkilah." Mario berdecak. Ia menyerah, tak ingin lagi melanjutkan berdebat dengan Roxanne. Mulai melangkah ke arah pintu.
"...kumohon, Mom. Ini terakhir kalinya, kuminta dengan sangat. Jangan lagi mengusik Vina. Kali ini kuanggap lewat, karena Vina tak mengetahui siapa yang menculiknya." Mario membalik tubuhnya, memutar kenop pintu. Terlihat Lily terkejut di ambang pintu.
"Dan kau, Lily. Jangan sia-siakan masa mudamu dengan mengikuti tingkah buruk Mommy." Nasihat Mario, mengelus pucuk kepala Lily yang diam mematung.
__ADS_1
"Geez, kenapa baru muncul sekarang gadis bodoh!" Pekik Roxanne melempar bantal tepat ke tubuh Lily, ketika gadis itu menutup pintu sepeninggal Mario di kamar ini. Lily mencebik, tak berani membantah.
"Ck! Dasar bodoh. Kenapa malah pakai acara mabuk segala. Kau ini, Lily grrr ..." Ingin rasanya Roxanne mencekik Lily, andai di depannya ini adalah Davina.
Roxanne mengepalkan tangannya begitu erat. Giginya gemeletuk.
Mario, bagimu Davina adalah hidupmu. Namun, bagi Mommy. Davina adalah sumber masalah yang harus segera disingkirkan. Cepat atau lambat.
*This Is Your Baby*
Davina menutup pintu kamar ketika bayinya baru saja tertidur lelap. Membuatnya bisa sedikit bergerak bebas ke sana kemari. Dengan langkah tergesa-gesa menuruni tangga. Perutnya terasa melilit sakit karena kelaparan. Seharian ini dirinya tak makan sedikit pun, melewatkan sarapan dan makan siang. Nafsu makannya hilang seketika bila berhadapan dengan ibu mertuanya.
"Hey, Vina!"
"Ya?" Davina menoleh pada orang yang memanggilnya. Dilihatnya Rie, memunculkan kepalanya di balik pintu kamar.
"Eung ... Bisakah kau membantuku," pinta Marrie. "Well, kalau kau tak keberatan sih. Hanya mengeluarkan sedikit tenaga," lanjutnya membentuk huruf O pada jarinya.
"Boleh. Minta bantuan apa?" Davina kembali menaiki tangga, baru saja dua undakan yang dituruninya. Lalu menghampiri Marrie. Mengeluarkan karung besar dari kamarnya. Tersenyum tipis pada Davina.
"Bantu aku menyeret karung besar ini ke bawah, hingga sampai ke mobilku."
Davina membelalak. Jangan-jangan Marrie ingin---
"Aku bukan kabur, Vina. Karung ini berisi stok pakaian untuk butikku,” jelas Marrie membaca pikiran Davina.
"Oh begitu ya, hehehe, maaf. Aku salah terka." Davina terkekeh malu, mengusap tengkuknya. Marrie mengangkat kedua belah bahunya. Memakluminya. Keduanya mulai bekerja sama untuk menyeret karung besarnya ke bawah.
*This Is Your Baby*
Roxanne terduduk di sisi tempat tidur. Menatap ponselnya yang mati. Baru beberapa detik lalu tersambung ke relasi bisnisnya. Dr. Marcus. Seakan dering alarm peringatan berbahaya untuknya, ucapan Dr. Marcus barusan memberi kode padanya.
"Obat rahasia itu sudah habis masanya."
Ya. Sebuah obat berisi racun, agar saraf otak yang berperan dalam membentuk memori tetap rusak. Mengingat penyakit penderita hanya sementara, namun bisa menjadi permanen. Itu artinya dia harus meminumkan kembali obat itu pada penderitanya. Kalau tidak, lambat laun efek obat itu menghilang, dan si penderita akan kembali sehat.
Roxanne meremuk ponsel di tangannya, seakan benda elektronik tersebut adalah benda lunak. Kembali dia mengingat, kegiatan Mario kepada Davina. Selama beberapa minggu ini. Mario rajin mengantar Davina berobat ke dokter terapis saraf.
Sial, aku harus bergerak cepat mendapatkan obat itu kembali.
*This Is Your Baby*
"Aih. Ternyata, ini karung lumayan berat." Davina menyengir sambil menyeret susah payah karung pakaian itu menuju tangga.
"Tentu saja, Vin. Karena pakaiannya kupadatkan hingga penuh sesak begini,” timpal Marrie. "Hn! Lumayan sih, buat kepala kita bengkak, bila terbentur karung ini."
"Ah! Aku punya ide, kita gelindingkan saja sampai ke bawah. Jadi tak usah kita seret seperti ini." Davina memberi usul.
"Yup! Itu yang selalu kulakukan bila sendirian, Vin."
Keduanya mendorong karung itu. Mulai bergelindingan ke bawah. Kemudian berhenti tak jauh dari dasar tangga. Menyusul Davina dan Marrie menuruni tangga. Di sela-sela menuruni tangga. Berkali-kali perut Davina mengeluarkan bunyi, hingga Marrie yang mendengarnya tertawa.
"Kau lapar, Vin. Nanti kumasakkan kau sesuatu di dap-- ASTAGA VINA!"
*This Is Your Baby*
__ADS_1
Mario menghentikan kegiatannya, membaca pesan masuk email di layar komputernya. Perlahan meraba jantungnya. Tiba-tiba saja berdebar kencang, disertai keringat dingin timbul di dahinya. Mengernyit sekilas, baru kali inilah dia merasakan hal tersebut. Lalu menengadah menatap hampa langit-langit ruang kerjanya. Kedua tangannya menopang kepalanya yang bersender nyaman di sandaran kursi.
Apa ini?! Apa mungkin aku mengidap gejala penyakit jantung?
Sekali lagi Mario meraba dadanya. Dan debaran jantungnya kian meningkat tajam, diiringi rasa sesak, susah sekali bernapas. Mario menggeleng pelan. Menarik napas dan diembuskannya perlahan-lahan. Mengurut sekilas dahinya. Mulai melanjutkan kembali pekerjaannya. Ingatkan ia untuk memeriksakan kondisi tubuhnya saat menemani istrinya terapi saraf ke rumah sakit nanti.
*This Is Your Baby*
"VINA!”
Marrie terkesiap akan kejadian sekilas, baru saja ia menepuk bahu Davina, ketika mereka berada diundakan tangga kelima menuju tangga dasar. Namun, karena tak terlalu fokus. Davina yang memandangi Marrie tak memperhatikan langkahnya hingga dirinya terpeleset. Dan dahinya membentur keras karung berisi pakaian. Marrie berlari menuruni tangga. Menghampiri Davina.
"Kau baik-baik saja, Vina?!" tanya Marrie cemas, membantu Davina duduk bersandar di dinding.
"Vina? K-kau tak k-kenapa-kenapa kan?" Marrie kembali bertanya, saat tak ada jawaban dari Davina.
"Vina, please. Ucapkan sesuatu. Jangan membuatku cemas."
“ ..... ”
"Vina ..." lirih Marrie. Dilihatnya wajah Davina begitu pucat, tubuhnya menggigil hebat sambil memeluk lututnya. Ia menangis? Pasti sakit sekali terbentur karung pakaian ini hingga sosok manis ini mengeluarkan cairan bening di sudut matanya. Ucapannya tadi belumlah kering, bila terbentur karung ini bisa menimbulkan bengkak. Dan hal tersebut membuat Marrie semakin ketakutan.
"Sakit sekali kan, Vin? Kalau begitu kita ke rumah sakit saj---"
"Tak apa, Rie. Aku baik-baik saja." Davina menahan lengan Marrie. Menyunggingkan senyuman lebarnya. Lalu meraba keningnya dan meringis.
"Astaga! Demi celana segitiga superman. Ini benaran sakit, Rie."
Marrie meringis mendengar keluhan Davina.
"...makanya aku menangis. Jangan tertawa ya, kalau aku cengeng." Davina cemberut.
Marrie menggelengkan kepala, baginya ini tak lucu sama sekali. Meski Davina mencoba menutupinya dengan berkata konyol sekali pun.
"Jujur, Rie. Ini sakit sekali. Hiks ..."
Marrie terperanjat kaget saat Davina benaran kembali menangis terisak-isak. Menunjukkan padanya---layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya---memar di pelipisnya. Dan kini juga bertambah di kening.
"Maaf, Vin. Nanti kubantu kuobati ya."
"Tak usah minta maaf, Rie. Seharusnya aku yang berterima kasih." Davina kembali tersenyum lebar secerah matahari. Sebaliknya, hal tersebut mengundang kernyitan bingung di wajah manis Marrie.
Vina aneh. Masa menangis seakan menahan sakit luar biasa. Dan secara bersamaan tersenyum lebar seperti itu.
*This Is Your Baby*
Davina menghela napas pendek, menatap pantulan wajahnya di cermin. Pancaran matanya begitu kosong. Entah apa yang dipikirkannya. Dia menunduk, mengepalkan tangannya.
Sudut matanya memanas. Namun, buru-buru dihapusnya sebelum menjadi buliran nyata dan jatuh berderai. Ia tekan sedemikian rupa agar tak tumpah, layaknya dia menekan perasaannya sendiri.
Kembali Davina menatap pantulan wajahnya di cermin. Mengangkat dagunya tinggi-tinggi, seakan siap menghadapi segala-galanya. Menepuk-nepuk kedua belah pipinya. Tangannya meraba-raba laci, saat dirasa ada yang kurang. Lambat laun sudut bibir cherrynya, membentuk senyuman khasnya.
"Nah, ini baru bagus." Davina terkekeh ketika memandangi poninya diikat ke atas. Meski ruam-ruam kemerahan di dahi dan pelipisnya mengganggu pemandangan mata. Namun, tak menyurutkannya untuk menatap berlama-lama wajahnya sendiri. Melihat pantulan dirinya tersenyum, membuatnya bisa melupakan sejenak permasalahan yang menghimpitnya. Wanita muda ini menghela napas. Tak ada waktu lagi. Cepat atau lambat, ia harus menyelesaikannya.
__ADS_1
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.